Mata Api Putri Campa menahan napas, berusaha keras menyembunyikan rasa panas dalam hatinya. Sudah tak terhitung banyaknya nyinyiran dan cemooh yang dia dengar dari permaisuri, pendamping utama raja brawijaya V yang beberapa bulan ini menjadi suaminya juga. Kalau saja Putri Campai tidak ingat tujuan utamanya berasa di sini, tentlah dia akan menyerang perempuan yang dilanda cemburu itu. Yang Putri Campa tak habis pikir, kenapa dari semua selir sang prabu, hanya dirinya lah yang terus menerus digempur. Kena berbagai tuduhan dan terutama tatapan mata apinya yang membakar. Sembari menahan kalut dalam dadanya, Putri Campa mengemasi satu persatu barang miliknya. Sekarang dia tak lagi punya banyak pilihan. Sang prabu sudah memutuskan bahwa dia harus pergi dari istana Majapahit ini. Meskipun perutnya sudah makin membesar. Mungkin juga justru kehamilan inilah yang membuat permasisuri makin bernafsu menyingkirkannya. Walaupun kalau dipikir-pikir, kenapa harus Putri Campa yang p...
People DEvelopment MAGaZine