colourful journal for beautiful life

Minggu, 10 Mei 2020

Bagaimana perasaanmu jika menjadi Putri Campa?

Bagaimana perasaanmu jika menjadi Putri Campa?

Seorang selir Brawijaya V, Raja Majapahit terakhir, yang harus diungsikan ke Palembang karena sang permaisuri cemburu berat padanya.
Maka dalam keadaan hamil, Putri Campa menyeberangi lautan menuju Bumi Sriwijaya. Beliau dipasrahkan kepada Aryo Damar, putra Brawijaya V dengan seorang perempuan Bali. Alhamdulillah aku berkesempatan menziarahi makamnya di Palembang, juga mengunjungi tempat-tempat di mana dulu Putri Campa tinggal dan melahirkan seorang anak laki-laki yang kemudian diberi nama Jin Bun alias Hasan (kelak kemudian dijuluki Raden Fatah)

Karena itulah Palembang dan Demak memiliki keterikatan yang sangat erat. Saat berziarah ke kawasan makam Ki Gede Ing Suro Palembang, kutemukan stempel Jipan lambang simbol kerajaan Demak ada di salah satu dinding bata pembatas area yang di dalamnya terdapat sembilan makam pemuka dari Demak. Piring-piring keramik Cina yang menempel di dinding-dinding kayu salah satu rumah limas Palembang, mengingatkanku pada piring-piring serupa yang menempel di dinding-dinding masjid Agung Demak.
Ukiran burung Hong atau Phoenix di daun pintunya seketika membawa ingatanku pada hiasan burung hong di beberapa piring putri Campa di Masjid Agung Demak. Juga gentong-gentong Cina di beberapa sudut rumah limas Palembang, mengantarkan memoriku pada gentong-gentong Cina di kawasan makam Masjid Agung Demak.

Sebuah telaga tirta yang dulu menjadi tempat pemandian Putri Campa juga menjadi salah satu destinasi di Palembang. Tidak kujumpai pemandian serupa di Demak, karena memang tidak banyak artefak peninggalan sejarah kerajaan Demak yang masih tersisa kecuali Masjid Agung Demak itu. Di manakah Putri Campa waktu itu tinggal? Masih kucari bayangannya dalam imajinasiku dan mimpi-mimpiku.

Kalau di Palembang, bisa jadi dia menjadi bagian dari para perempuan yang dulu duduk di beranda rumah limas yang berpagar tenggalun. Di mana dia bisa melihat pemandangan dan aktifitas di luar rumah, namun orang luar tidak bisa melihatnya karena terhalang pagar tenggalun serupa jeruji-jeruji ini. Bentuknya mirip juga yang ada di rumah adat Joglo Kudus.

Kubayangkan Putri Campa membawa koleksi piring-piring keramik dan guci-gucinya itu dari Palembang menuju ke Demak, saat akhirnya sang putra saat remaja pergi ke Jawa menemui ayahnya dan mendapat tanah Pardikan Bintoro Glagah Wangi. Keteguhan, kehebatan dan doa Putri Campa tentu saja menjadi salah satu penopang bagi kesuksesan sang putra menjadi pemimpin Kerajaan Islam pertama di Jawa.

Ada enam puluh lima buah piring Putri Campa. Warna dasarnya putih dengan ornamen biru yang dilukis dengan sangat cantik. Semakin dekat kita memperhatikan detailnya, akan makin terasa keindahannya. Piring-piring ini ditempelkan pada dinding-dinding masjid Agung Demak yang berbatasan dengan serambi. Letaknya dekat dengan pintu-pintu masuk ruangan dalam masjid. Jadi ada di sisi utara, selatan juga dekat dengan pintu utama, lawang bledheg yang posisinya di tengah.

Gentong-gentong Putri Campa berwarna coklat kehitaman. Saat ini sudah tidak utuh pada bagian atasnya alias grumpil. Tidak tampak ada warna atau ornamen lain yang menghiasi permukaan gentong ini. Meskipun begitu sungguh tak terhitung nilainya karena merupakan peninggalan masa Dinasti Ming Abad ke XIV. Beberapa gentong saat ini disimpan di museum Masjid Agung Demak, dan ada juga yang diletakkan dekat kawasan makam Raden Fatah. Sebagian masyarakat meyakini meminum air dari dalam gentong ini membuat awet muda, panjang umur, terkabul doanya dan lain sebagainya.
Bagaimana rasanya sejarah tentang dirimu disalah pahami oleh orang orang dengan sedemikian rupa. 
Kenapa ada yang menyebutmu sebagai putri campa, padahal ada putri campa lainnya yang menjadi permaisuri brawijaya v dan justru membuatmu terdepak dari kerajaan majapahit karena kecemburuannya yang sudah tak bisa tertahan lagi.

Memgapa dari semua selir raja brawijaya v, hanya putri cina atau sebut juga sebagai putri campa selir ini dicemburui putri campa permaisuri? Kenapa bukan selir selir yang lainnya?
Apakah karena mereka sama sama berasal dari campa? Champa? Etnis champ yang terkenal kehebatannya dalam berdagang dan memiliki darah pejuang. Punya watak keras yang gigih memperjuangkan impian dan cita cita mereka, bahkan sampai menyeberang samudra dan melanglang buana.

Ataukah karena putri campa selir begitu dicintai, digandrungi oleh raja brawijaya v sehingga putri campa permaisuri merasa terancam. Feeling insecure.

Atau karena putri campa selir mengandung bayi ketiga belas raja brawijaya v. Dan kini memasuki usia kehamilan tiga bulan, sedangkan putri campa permaisuri bahkan belum hamil meski sudah menikah dengan raja brawijaya v selama bertahun tahun.
Mana sesungguhnya penyebab yang paling bemar dan alasan yang paling tepat.
Ataukah semua akumulasi alasan dan sebab itu justru yang membuat putri campa permaisuri tak punya lagi alasan untuk tidak menyingkirkan putri campa selir.

Bagaimana rasanya menjadi seorang Putri Campa yang pernah dicampakkan namun kemudian memetik buah dari kesabarannya? Menjadi bagian dari bi’ah, lingkungan yang bukan saja relijius spiritual saat itu, namun tetap memiliki pride kebanggaan atas identitas diri yang tak lepas dari asal muasalnya, seorang keturunan Campa, Cina.

About the Author

dian nafi

Author & Editor

lulusan arsitektur yang suka jalan-jalan, menulis fiksi dan non fiksi.

0 komentar:

Posting Komentar

 

DeMagz © 2015 - Designed by Templateism.com, Distributed By Blogger Templates