Langsung ke konten utama

Postingan

Menyambut 1 Dzulqa’dah 2026: Momentum Sunyi untuk Memanaskan Jiwa Menuju Idul Adha

Menyambut 1 Dzulqa’dah 2026: Momentum Sunyi untuk Memanaskan Jiwa Menuju Idul Adha Setelah suasana hangat Idulfitri mulai mereda, kalender Hijriah membawa kita memasuki fase yang sering luput dari perhatian: bulan Dzulqa’dah. Padahal, bulan ini bukan sekadar jeda, melainkan ruang sunyi untuk mempersiapkan diri menuju puncak spiritual di Idul Adha. Pada tahun 2026, 1 Dzulqa’dah 1447 H diperkirakan jatuh pada 18 April (versi Muhammadiyah) atau 19 April (versi pemerintah/Kemenag) .  Perbedaan ini merupakan hal yang lumrah dalam penentuan kalender Hijriah, namun tidak mengurangi makna penting bulan ini. Dzulqa’dah: Bulan Sunyi yang Dimuliakan Dzulqa’dah termasuk dalam empat bulan haram (bulan suci) dalam Islam, bersama Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Dalam bulan-bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk lebih menjaga diri—baik dari dosa maupun dari kelalaian ibadah. Makna “Dzulqa’dah” sendiri berasal dari kata yang berarti duduk atau menahan diri . Secara historis, masyarakat Arab meng...

Kenali Pikiran dan Emosi Lewat Seri Neuro

 Kenali Pikiran dan Emosi Lewat Seri Neuro Hidup modern sering terasa cepat, penuh tuntutan, dan kadang bikin kita lupa dengan diri sendiri. Pikiran menumpuk, emosi bergejolak, dan tubuh terasa lelah—tanpa kita sadar. Seri Neuro – Dian Nafi hadir sebagai panduan untuk menjalani gaya hidup yang seimbang, sadar, dan sehat secara mental . Buku-bukunya membantumu memahami pikiran, mengenali emosi, dan membangun kebiasaan positif yang membuat hidup lebih ringan dan bermakna. 📘 Bengkel Jiwa – Undimensioned mengajarkan bagaimana mengatur ritme hidup, menata prioritas, dan menemukan fokus di tengah kesibukan sehari-hari. 📘 Biarkan Aku Gila Sehari Saja memberi izin untuk berhenti sejenak, menerima semua perasaan, dan menyegarkan diri tanpa rasa bersalah. 📘 Depressed membantu memahami stres dan kelelahan modern, memberi strategi untuk menjaga kesehatan mental tanpa mengorbankan produktivitas. 📘 Muslimah Kudu Happy menekankan self-care, kesejahteraan emosional, dan mindfulness da...

Ketika ADHD Bertemu Spiritualitas: Kisah Perjalanan Mencari Kedekatan dengan Tuhan

 Ketika ADHD Bertemu Spiritualitas: Kisah Perjalanan Mencari Kedekatan dengan Tuhan Alya selalu merasa bersalah setiap kali sholatnya bolong. Dzikir hanya bisa dilakukan beberapa menit, tilawah sering tertunda, dan pikirannya terus melompat dari satu hal ke hal lain. Dia tahu Tuhan melihat hatinya, tapi rasanya berat ketika fokus sulit dipertahankan dan energi kadang meluap tanpa arah. Dia bukan satu-satunya. Banyak orang dengan ADHD merasakan hal yang sama: keinginan spiritual yang besar, tapi tubuh dan pikiran kadang sulit mengikuti . Rasa bersalah muncul, motivasi menurun, dan malam Lailatul Qadar yang seharusnya dinanti-nantikan terasa menegangkan. Suatu hari, Alya menemukan sebuah buku yang mengubah cara pandangnya. Buku “ADHD, Spiritualitas, dan Lailatul Qadar” tidak menuntut kesempurnaan, tidak menekankan jumlah ibadah, tapi justru mengajarkan cara realistis membangun ibadah yang konsisten, fokus, dan bermakna . Dari halaman pertama, Alya belajar hal-hal sederhana tapi luar...

Bertumbuh Tidak Hanya Untuk Diri Sendiri, Tapi Untuk Komunitas

Bertumbuh Tidak Hanya Untuk Diri Sendiri, Tapi Untuk Komunitas Kita hidup di masyarakat yang penuh interaksi, harapan, dan ekspektasi. Seringkali, kita terlalu fokus “menjadi versi terbaik” untuk orang lain: menjadi anak yang membanggakan, teman yang selalu hadir, atau anggota tim yang tak tergantikan. Tapi, di tengah semua itu, bagaimana dengan hubungan kita dengan diri sendiri? Mengapa Healing Penting untuk Society Komunitas bisa menjadi sumber kekuatan, tapi juga tekanan. Ketika kita tidak memberi ruang untuk menyembuhkan diri sendiri, luka yang tak terlihat bisa terbawa ke dalam hubungan dengan orang lain. Bertumbuh bukan sekadar memenuhi harapan sosial. Bertumbuh berarti kita cukup sehat secara emosional untuk hadir bagi orang lain. Ketika kita belajar menghargai proses pribadi, menetapkan batas, dan berdamai dengan masa lalu, dampaknya tidak hanya terasa pada diri sendiri, tapi juga pada komunitas kita. Membaca Diri Agar Bisa Bersama Setiap interaksi sosial membawa energi. Tanpa ...

Perisai Diri: Cerita Tentang Perempuan, Luka Sunyi, dan Keberanian untuk Melindungi Diri

Perisai Diri: Cerita Tentang Perempuan, Luka Sunyi, dan Keberanian untuk Melindungi Diri Oleh Dian Nafi Ada seorang perempuan yang selalu terlihat baik-baik saja. Senang membantu orang lain, selalu tersenyum, tidak pernah ingin merepotkan siapa pun. Ia menjalani hidup dengan hati-hati—seakan dunia bisa pecah jika ia membuat kesalahan kecil. Orang-orang bilang dia kuat. Tapi jauh di dalam dirinya, ia sering merasa bingung: “Kenapa aku lelah sekali? Kenapa aku tidak bahagia, padahal tidak terjadi apa-apa?” Yang tidak ia sadari, ia lama hidup dalam tekanan yang tak berbentuk. Kalimat-kalimat manipulatif yang dibungkus perhatian. Permintaan yang terdengar masuk akal, tapi perlahan menguras hatinya. Batas-batas diri yang tipis, lama-lama hilang. Cerita itu, sayangnya, bukan milik satu orang. Ini adalah cerita banyak perempuan. Lalu lahirlah buku ini: Perisai Diri . Dian Nafi menulisnya bukan untuk menggurui. Tidak untuk memberi kuliah panjang tentang psikologi atau teori re...

Akhir Tahun, Menyembuhkan Pelan-pelan, dan Buku yang Menjadi Ruang Aman

 Akhir Tahun, Menyembuhkan Pelan-pelan, dan Buku yang Menjadi Ruang Aman Ada masa-masa ketika dunia terasa terlalu cepat. Terlalu bising. Terlalu menuntut banyak hal dari hati yang sedang belajar pulih. Dan setiap akhir tahun, semesta seperti memberi jeda kecil— sebuah ruang sunyi tempat kita boleh berhenti sebentar, menutup mata, dan menarik napas panjang. Dalam ruang sunyi itulah buku sering menjadi teman terbaik. Bukan untuk memberi jawaban, tapi untuk menemani proses pulih yang tidak pernah tergesa. Karena itu, sepanjang 1–31 Desember 2025 , seluruh buku Dian Nafi hadir hanya Rp15.000 , agar setiap orang bisa punya ruang aman untuk menyembuhkan diri melalui tulisan, ide, dan renungan. Untuk Hati yang Sedang Belajar Tenang Tidak semua luka tampak dari luar. Tidak semua rasa lelah bisa diceritakan. Tapi buku—dengan cara yang lembut—dapat menyentuh bagian-bagian batin yang ingin didengar. Ada halaman yang seakan berkata: "Kamu boleh istirahat." Ada bab yang ...

Membaca Arsitektur Seperti Membaca Teks – Mengapa Kita Perlu Metodologi Semiotika-Hibrida

 Membaca Arsitektur Seperti Membaca Teks – Mengapa Kita Perlu Metodologi Semiotika-Hibrida Arsitektur selalu lebih dari sekadar bentuk. Ia adalah bahasa —bahasa ruang, bahan, bunyi, arah, cahaya, hingga ritual yang menghidupinya. Tetapi selama ini, banyak pembacaan arsitektur hanya berhenti pada level visual: bentuk, gaya, proporsi. Padahal dalam tradisi Nusantara, makna ruang tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari kosmologi , mitos , memori sejarah , dan gestur tubuh manusia dalam ruang itu sendiri. Untuk menjembatani kompleksitas tersebut, buku ini memperkenalkan Metodologi Semiotika-Hibrida —sebuah pendekatan yang menggabungkan: Semiotika Peircean dan Saussurean Fenomenologi Merleau-Ponty dan Heidegger Antropologi ruang Kosmologi lokal Nusantara Narasi kultural dan memori kolektif Dari pendekatan itu, lahirlah sebuah alat baca baru: Kerangka Analisis 9-Lapisan , mulai dari ikon dasar hingga pengalaman eksistensial. Di dalamnya, peneliti diajak melih...