Colourful Journal for Beautiful Life

beautiful journal for colourful life

Minggu, 02 Agustus 2020

Ilmu Komunikasi Untuk Menulis Fiksi

Ilmu Komunikasi Untuk Menulis Fiksi

Tempat Kerja, Tim, Pertemuan Bisnis

baca juga:
Tips Menulis Novel: SUBPLOT
Tips Menulis Novel: PLOT
Tips Menulis Novel: PREMIS
Menarik memang cara kerja memori

Sbnrnya, ini salah satu yg dikerjakan oleh penulis fiksi. Main2 dg ingatan sendiri n ingatan narator/tokoh lewat rekayasa alat2 linguistik.
Sepertinya, belajar ttg cara kerja memori (secara ilmiah) jadi fardhu ain hukumnya buat penulis fiksi. Ini kek sejenis akar utk menentukan respon2 narator/tokoh atas suatu kejadian secara behavioral & psikologikal. Skali2 coba iseng googling: How Human Memory Works


baca juga:
Karakter Dan Plot

Kiat Membuat Hook Novel
Menulis Ide dan Draft
Judul atau Naskah Dulu?
Mahasiswa, Mengetik, Keyboard, Teks

Oiya, ada dua buku dasar Ilmu Komunikasi yg (secara gak sengaja) berpengaruh besar sama cara saya nulis hari ini. Anak Ilkom pasti tau. Brent D. Ruben & Lea Stewart - Communication and Human Behavior; dan Richard West & Lynn H. Turner - Introducing Communication Theory.

Dua buku itu kek jangkar utk gw belajar selanjutnya. Pas kuliah dulu, gw sampai terngangah2
Njrit, teori2 komunikasi ini bisa menjelaskan apa yg selama ini gw anggap terjadi secara begitu saja. Salut buat para penelitinya.
Tau fenomena semacam ini?
Ada orng ngomong sama pacarnya: "Aku mau mandiri, gak usah bantu". Tapi, pas pacarnya sama sekali gak nawarin bantuan, dia ngambek
Sbnrnya apa yg terjadi? Fenomena ini ada penjelasannya dlm Relational Dialectics Theory. Ada polanya. Seru, kan

Startup, Bisnis, Orang Orang, Siswa
baca juga:
Tips Menulis Novel: PERGERAKAN
Tips Menulis Novel: WRITER'S BLOCK
Bagaimana Menghidupkan Adegan?


Atau, fenomena ini: Kamu liat temen sedang sedih. Kamu paksa cerita, dia nggak mau. Akhirnya kamu ngomong ngalor-ngidul. Eh, tanpa dipaksa dia malah cerita. Ini apa? Ini dijelaskan sama Social Penetration Theory
Hampir semua fenomena komunikasi yg terjadi sama manusia, udah dijelaskan bagaimana terjadinya oleh para peneliti. Kita bisa pakai, kalau mau. Tambahannya adlh fenomena2 emosional di balik perilaku yg bisa dipelajari lewat psikologi/psikiatri.
Kamu prnh tau fenomena ini? Ketemu orng di kereta luar kota, dia nanya: Habis ini stasiun apa? Kamu jawab, trus nanya balik: Memangnya mau turun di mana? Dia jawab nama daerah yg sama. Lalu, kamu bisa mulai ngobrol. Ini apa? Ada penjelasannya di Uncertainty Reduction Theory.
Uncertainty Reduction Theory bermanfaat banget utk membangun adegan Meet-Cute yg sering muncul di film2 romantis. Sempet nonton Before Sunrise? Yg dua tokohnya ketemu di kereta? Adegan itu salah satu contoh bagus bagaimana Uncertainty Reduction Theory bekerja dalam konteks.
Pertemuan, Coffee Shop, Orang Orang
baca juga:
Tips Menulis Novel: ENDING
Tips Menulis Novel: NARATOR
Tips Menulis Novel: PANTSER atau PLOTTER

Jadi, kalau kita anak komunikasi dan/atau psikologi, sbnrnya kita udh pegang modal dasar utk nulis fiksi. Dua bidang ilmu ini adalah dasar hampir di semua adegan dalam fiksi. Cara mewujudkannya ke naskah, ya, pakai Ilmu Bahasa.
Sisanya dipenuhi pakai riset khusus tergantung tema. Misal: Ceritanya ttg atlet. Ya risetlah tth kehidupan atlet. Pola komunikasi antar tokoh dan fenomena psikologisnya akan begitu2 aja accross all genre.
Hampir semua fenomena manusia dan bagaimana manusia berinteraksi dg dunianya sudah diteliti sama para peneliti2 hebat di seluruh dunia. Tidak ada fenomena yg benar2 baru. Kita—penulis fiksi—sebenrnya cuma merekayasa & memodifikasi pola2 itu agar sesuai dg tujuan kita menulis.
Ada aksioma dalam Ilmu Komunikasi: Human can not not communicate. Kita tidur sendirian dalam hutan. Berkomunikasi, gak? Tetep berkomunikasi, karena ada satu level komunikasi paling bawah yaitu Intrapersonal Communication—komunikasi dg diri sendiri.

Teori bisa sangat memusingkan. Tapi, pusing adalah konsekuensi logis yg harus diambil oleh semua penulis ketika memutuskan utk menulis. Kenapa pusingnya tanggung2?

temukan penjelasan teoretik ttg bagaimana sebuah fenomena bisa terjadi.

Karena: "Mengapa dan Bagaimana" adalah dua pertanyaan yg PASTI HARUS dijawab oleh seorang penulis fiksi dalam ceritanya.
Tangan, Kebebasan, Ibadah, Pria



baca juga:
Spektrum Karya

Prolog dan Epilog
Kiat Membuat Plot Twist

Menulis Fiksi adalah Aksi Komunikasi. Apa yg trjadi saat kita menulis naskah fiksi? Sebenarnya kita lagi ngapain?
semua orang sudah punya ide dan cerita, tapi tidak semua orang tau bagaimana menceritakannya. Bagian terpenting dr cerita adlh penceritaan
pas mulai belajar sesuatu, kita harus tahu dulu, sbnrnya apa yg sedang dipelajari dan bagaimana cara belajarnya. Sblm belajar, belajar dulu caranya belajar. Klo gak, kita cuma buang2 waktu.
ada banyak cerita yg menyentuh perasaan saat sedang DIBACA. Dan, pertanyaan pertama gw adalah: Apakah perasaan yang sama muncul saat sedang DITULIS? Membaca dan Menulis beda, kan? Waktunya aja beda. Kegiatannya beda. Cenderung dilakukan oleh orng yg beda.
apa hubungan proses penulisan dg proses pembacaan? Jelas, hubungannya nggak langsung. Penulis & Pembaca TIDAK terhubung scr langsung. Ada variabel antara, yaitu: NASKAH. Penulis TIDAK BISA terhubung langsung ke pmbaca. Penulis terhubung langsung sm naskah.
proses menulis-naskah-membaca sbg proses komunikasi. Encoding-code-decoding. Jadi, proses ini gak lebih dari: "proses pembuatan kode oleh penulis untuk menyampaikan pesan kepada pembaca."


baca juga:
Karakter Yang Tidak Hitam Putih
Tips Menulis Novel: DIALOG
Fakta dalam Fiksi

Mahasiswa, Mengetik, Keyboard, Teks

Jadi, cuma ada TIGA bagian besar dari proses penulisan yang sekiranya perlu diperhatikan penulis: 1. Proses analisis sasaran komunikasi; 2. Proses Pembuatan Kode Linguistik; 3. Proses pengiriman kode. Apapun mediumnya (novel, puisi, cerpen, dsb), modelnya PASTI selalu itu.
Di zaman ini, tiga tugas di atas disederhanakan: 1. Tugas Analisis Pembaca dilakukan Editor. 2. Tugas Pengiriman Naskah dilakukan Pemasaran Penerbit. Artinya? Tugas UTAMA penulis HANYA di proses penciptaan kode. (Walau, sering ada hal non-utama yg dibebankan ke penulis jg)
Gw suka sama hal2 yg sederhana (walau gw jg menemukan, sering utk bertindak sederhana, kita harus mulai dg proses berpikir yg rumit). Termasuk saat gw belajar menulis. Sampai level tertentu, kalau sesuatu rumit, cenderung ada yg salah, baik dlm sistemnya atau pemahamannya.
Gw berkali2 ikut workshop menulis. Dan gw malah sering menemukan glorifikasi kerumitan dunia menulis. Apa yg sebenarnya membuat rumit? Dari hasil pengamatan gw sebagian besar kerumitan itu justru muncul dr hal2 yg gak ada hubungan sama proses menulis. Alias: MITOS.

Dan hampir semua mitos yang saya temukan terkait dengan satu hal: PERASAAN. Misal: Perasaan Penulis berhubungan sama cara pbaca menginterpretasi naskah. Dan, writer's block. Dua itu saya anggap sebagai mitos yg seharusnya dipecahkan.


baca juga:
Tips Menulis Novel: Tanda Kutip
Tips Menulis Novel: ADVERBIA
Tips Menulis Novel: EMPATI dan GESTUR
Tips Menulis Novel: Manajemen Kepenulisan

Makanan, Minuman, Orang Orang, Dewasa

Untuk secara fokus mempelajari cara membuat kode linguistik (menulis), semua mitos2 yg ada perlu dibuang dulu. Mitos2 menganggu proses pembelajaran itu. Karena, sering penulis malah fokus sama mitosnya. Like: Perasaan Patah Hati membuat tulisan lebih bagus. Gw: Hah? How come?
Mau seribu kali patah hati, kalo kita gak bisa bangun struktur dan kalimat yang bisa MENIRU model situasi patah hati, ya gak akan bisa dideteksi pembaca. Plus, dg pbaca yg makin skeptis (saking banyaknya tulisan macam ini), tanpa teknik yg baik, patah hati jd meaningless.
Artinya: penulis bukan cuma terbeban dg kemampuan untuk mempelajari dan menggunakan teknik menulis untuk mengirimkan pesan. Melainkan, kemampuan untuk menggunakan teknik2 yg ada dg cara2 BARU. ATAU, kita akan terus menemukan tulisan2 berbeda yg terasa sama saja
Ini serius. Kalau ada yg merasa Patah Hati-nya sangat luarrrr biasa sampai merasa bahwa cuma dia yg bisa merasa seperti itu dan orang akan tertarik membaca krn itu. Percaya: Patah Hati selalu sama saja. CARA nulisnya yang perlu berbeda. Dan, ini PENTING.
Penulis bukan sedang berlomba2 siapa yg lebih dalam patah hatinya, melainkan MELAWAN KLISE dg menggunakan teknis menulis hingga mhasilkan karya yg bisa dipertanggungjawabkan. Dan inilah salah satu hal yg perlu diperjuangkan oleh penulis lewat pembelajaran yg gak akan selesai.
baca juga:
Tips Menulis Novel: REALITAS FIKSI
Tips Menulis Novel: POV
Kiat Mencipta Adegan
Sedih, Gadis, Kesedihan, Patah Hati



baca juga:
Minder Setelah Baca Buku Bagus?
Tips Menulis Novel: KLIMAKS
Fiksi atau Non Fiksi
sumber: wisnucuit

About the Author

dian nafi

Author & Editor

lulusan arsitektur yang suka jalan-jalan, menulis fiksi dan non fiksi.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Demagz © 2015 - Designed by Templateism.com, Distributed By Blogger Templates