colourful journal for beautiful life

Minggu, 12 Juli 2020






Guru Kreatif Di Dunia Maya

Aku senang banget ketika tahu di hari pertama tahun ajaran baru ini nanti, ternyata guru-guru anak-anakku mulai lebih kreatif dibandingkan saat masa-masa awal pandemi kemarin. Mungkin karena terlalu mendadak, dan kita tahu semua orang padha dasarnya tidak siap, selama tiga bulan pembelajaran dari rumah alias learning from home itu anak perempuanku hanya mendapat tugas via google class yang berupa soal-soal yang musti dijawab via google form. 

Anak laki-lakiku sama juga, mengerjakan soal-soal via google form yang link-nya dikirim via whatsapp group. Duh, nyaris tidak ada pembelajaran sama sekali. 

Nah, tahun ajaran baru ini rupanya guru-guru dan sekolah mulai berbenah. Kemarin anak perempuanku sudah simulasi menggunakan zoom. Besok guru akan mendemonstrasikan sesuatu, malam ini anak-anak diberi bocoran materi pdf dan diminta download aplikasi filmorago. Ini untuk pelajaran bahasa Indonesia lho. Yuhuu.... pasti akan seru. Semoga seru beneran ya besok Senin tuh. Aku ikut nggak sabar menantinya. 


Sempat aku bahas memang tentang online learning dan remote learning ini.
Ada peluang besar banget utk courses ngajarin cara online learning dan remote learning. That's totally different from traditional/conventional learning/teaching

Ini mustinya tugas mas menteri nadiem makarim and friends sih. Tapi gak yakin juga kalau mereka sdh bisa ngajarin atau nggak nya. Karena kayaknya ya cuma mas menteri aja yang sudah advanced. Yang lain masih sama-sama belajar juga.

Remote learning isn’t working. Teachers are burned out. Parents are stressed out. Students are “zoomed” out. What’s going on?

Jadi kayak gimana online learning dan remote learning, juga seperti apa sih Guru Kreatif di Dunia Maya

Ada banyak sekali jawaban yang mungkin bisa kita gali 
Beberapa di antaranya adalah:

- Guru harus juga menjadi seorang entertainer, yang bisa menghibur. 

Agar anak-anak tidak teralihkan pada hal-hal lain yang lebih menghibur, entertaining, seperti games, youtube dan tontonan lain yang tidak mendidik.

Guru kreatif tidak boleh membosankan, apalagi bosan. Hehehe

- Konten edukasi yang disajikan menarik dan membangkitkan keingintahuan serta semangat belajar bagi anak-anak

- Ada berbagai Tools yang saling mendukung di mana anak-anak tidak hanya menonton dan mendengarkan tapi juga berinteraksi

Audio Visual tentu sangat mendukung dan disukai. 

Gunakan berbagai game dan aplikasi  yang mensupport pelajaran. Kalau perlu ciptakan game dan aplikasi baru tersendiri. tentu akan menjadi tambahan kredit nilai bagi guru kreatif di dunia maya. 

Agar interaktif, cari berbagai tools lain yang bisa mendukung upaya ini. 

Sudah pasti sih, guru di masa sekarang ini memang harus terus belajar agar makin kreatif dan inovatif.

- Ada sistem untuk monitoring atau mengevaluasi hasil capaian anak-anak sepanjang belajar dan setelah belajar

- tinimbang menyajikan full materi, baru menguji. lebih baik dalam setiap kesempatan sesi, langsung  adakan  take away atau proyek atau tugas kecil agar anak-anak langsung bisa mempraktikkan atau mempresentasikan idenya, guru memberikan feedback yang mereka butuhkan

- Meskipun online atau remote learning, pendekatannya haruslah tetap humanis. Karena yang berhadap-hadapan, berkomunikasi dan berinteraksi sesungguhnya sama-sama manusia

- Bisa dengan sistem struktur  mentoring 1:1 atau 1:7 

Menurutmu, apalagi tips dan kiatnya bagi guru kreatif di dunia maya dalam online remote learning ini?


Guru Kreatif Di Dunia Maya

Guru Kreatif Di Dunia Maya Aku senang banget ketika tahu di hari pertama tahun ajaran baru ini nanti, ternyata guru-guru anak-anakk...
Metode Etnografi Untuk Riset Bahasa

Zoominar Leiden Research Field


Baca juga:
Zoominar Leiden FieldNote: Penelitian Sastra
Zoominar Riset Etnografi: Riset Media Massa
Menulis Riset dengan Metoda Etnografi: Riset Hukum, Legal



Periset kenal promotor dlm penelitian sebelumnya, bisa mjd jalan utk dpt beasiswa s3. Dia gercep, melihat peluang dan memanfaatkannya dg baik.
Sangat penting untuk membuat perencanaan sblm terjun penelitian ke lapangan: background, time slot, alat, fokus, output, penyimpanan data di mana, detail rencana dll

yg paling penting: mau menghubungi siapa, tinggal di mana, transportasinya apa, berapa lama, butuh biaya brp, mau ambil data apa saja,alat audio/video dll butuh 1-3 hari di lapangn utk kenalan,cari informan, bawa benda2 kecil sbg hadiah utk informan,beri reward sesuai kontrbusi


bawa surat pengantar yg memberi kekuatan legal bagi researcher
kdg uang lebih berarti bagi informan drpd hadiah2 kecil pendekatan: natural speech(tanpa settingan) produksinya berbeda dg stage/dipanggungkan metode participacy observatoris tinggal bersama, ikut kegiatan harian

pakai audiorecorder yg digantungkan d leher semakin kecil alat,semakin bagus nyaman dipegang,mdh disimpan ketika tujuan penelitian lebih spesifik,baru dipanggungkan, spy stimulus bisa jalan ada konsekuensi saat pengambilan data cari posisi tepat utk perekaman,jgn yg byk noise

notebook & bolpen ethical approval, concern form di leiden ada concern form tertentu dibedakan antara penelitian lapangan dan linguistik concern form bisa disertakan dlm perekaman, tanya apakah bersedia utk jd bahan penelitian,jika bersedia dilanjutkan
jika tujuannya baik, kemungkinan besar tdk ada penolakan jika melakukan kesalahan, perbaiki butuh keterbukaan stimulus kit yg dipersiapkan, saat di lapangan disesuaikan dg keadaan/situasi
12 bulan 2 bulan pendekatan awal 8 bulan pengambilan data 2 bulan konfirmasi pengolahn data mentranskripsi rekaman pakai elan otografis atau fonetis, tergantung tujuan penelitian penerjemahan dibantu language assisten/penutur asli
analisis mana yg fonem, klausa, frase dst: pakai flex produk penelitian bisa bermacam2, video, buku dst meta data bertujuan utk merekam apa saja yg sdh diperoleh bermanfaat saat butuh tracing nama, jenis file,kpn diambil,length,info, age, gender, dst

data2 bisa dimasukkan ke apendix, archive,atau lampirkan kalau diupload, bisa utk bukti jika ada yg ingin mengkonfirmasi pembimbing akan ikut memilih data mana yg mau ditampilkan. biasanya dipilih yg paling rapi
penelitian yg bertujuan utk mengetahui makna bahasa dan juga interaksionisme simbolik antar pengguna bahasa itu, apakah harus dengan metode etnografi? bisakah dilakukan dengan pendekatan fenomenologi?
teori conversation analysis mengkaji interaksi antar manusia melalui bahasanya pendekatan tdk hrs antropologi/fenomenologi tergantung tujuan penelitian metode etnografi sangat kaya. bisa dg pendekatan fenomenologi
lebih dari 700 bahasa daerah. lebih dari setengahnya ada di indonesia timur. keberagaman lebih tinggi ada 2 rumpun bhs besar. austronesia dan non(sering disebut bahasa papua) rumpun bhs papua sulit dikelompokkan keluarga2 bahasanya

jika tdk ada konfirmasi, bisa kena undang2 privasi di eropa perlu keluwesan, social skill, tdk boleh kaku, tiba2datang minta rekaman, hrs etis, ngobrol dulu, membuat informan nyaman dulu ada paradox info jk ujug2 kelihatan bawa perekam 2 jam=0,5 jam basabasi, 1,5jam wawancaranya

ciri2 bhs austronesia; SPO, pronomina/kata ganti orang pertama mirip2 ada leksiko statistik, kemiripan kosakata, di atas 70% dianggap dr keluarga yg sama bhs oerata kemiripannya di bawah 20% dibanding 23 bahasa lainnya

bahasa= jendela banyak hal bagus jika ada penelitian lebih bnyak ttg bahasa

Metode Etnografi Untuk Riset Bahasa

Metode Etnografi Untuk Riset Bahasa Zoominar Leiden Research Field Baca juga: Zoominar Leiden FieldNote: Penelitian Sastra Zoominar...

Kamis, 09 Juli 2020

Kenapa Tuhan Cancel




Pernah mengalami cancellation? Dijanjikan sesuatu lalu batal?

jadi ingat lagu didi kempot kan? (lagu yang mana coba?:D)

hahaha


apa yg sebenarnya terjadi ketika kita batal menerima karunia/anugrah yg tadinya sempat mampir/ditawarkan pd kita?

dulu pernah ketika seorang teman menanyakan hal ini, dan kuforward ke seorang kyai, beliau memberikan amalan dan doa. (tapi skrg lupa persisnya, soalnya sdh lama banget) kalau gak salah, telapak tangan kanan ditaruh ke bawah dada dekat ketiak kiri (posisi jantung?) sambil baca..

surat2 apa ya? lali aku. hiks. surat al ikhlas? alfalaq? annaas? al insyiroh? ayat kursi? atau apa ya?

hadeuh.... beneran lupa.

balik ke pertanyaan awal 

knapa Allah cancel?

cancellation itu 

bisa jadi krn perbuatan buruk kita, entah itu dosa, maksiat dan semacamnya 

bisa jadi disebabkan kesombongan, ghurur, merasa mampu dst 

bisa jadi krn saat kita overshare, jd ada yg kurang senang/hasad dst (inget cerita nabi yusuf yg menceritakan mimpi pd ayahnya dan menimbulkan hasad/dengki di hati saudara2nya yg lain)

bisa jd krn ingin memberi kita pelajaran 

bisa jd krn menyelamatkan kita dari kerusakan/kehancuran yg akan kita alami jika dilanjutkan? 

atau mungkin sebenarnya teaser yang kita pernah dapat itu sebagai hiburan saja dari Allah hehehe. Semacam biar kita semangat hidup gitu. jadi belum beneran ingin ngasih. hohoho. ngarang puol.

apalagi yg mungkin menyebabkan cancellation ini?

mungkin juga karena kurang sedekah?
mungkin karena kurang tulus?
mungkin karena niatnya tak cukup baik?

BTW

Kita gak punya kekuatan apa apa untuk meruntuhkan, untuk membatalkan, untuk menyelesaikan segala masalah, segala sesuatu, segala hal yang sudah terlanjur kita lakukan, tapi kita punya Allah, yang maha besar, yang lebih besar dari itu semua. 


Jadi, mari berdo'a pada-Nya.

Kenapa Tuhan Cancel

Kenapa Tuhan Cancel Pernah mengalami cancellation? Dijanjikan sesuatu lalu batal? jadi ingat lagu didi kempot kan? (lagu yang mana coba?:D)...

Selasa, 07 Juli 2020

Kuliner Demak Yang Harus Dilestarikan

Demak Kota Wali | You'll Never Walk Alone

Beberapa hari lalu grup penulis arsitek ngomporin supaya kami segera kunjungan lapangan ke lasem juli ini. Aku tertarik karena ingin ngrasain lontong tuyuhan. Kayak gimana sih rasanya.

Kuliner indonesia ini memang beragam dan semuanya menggoda. Apa makanan tradisional khas daerahmu yang musti dipreservasi? Kalau Demak, ada krophokan, pecel lele, sego ndoreng, bubur coro, rangin, bakso balungan. Ini menurut pengamatanku sih.

Btw, pecel lele kayaknya bukan Demak saja ya yang punya.
Bakso balungan juga sih, tapi bakso balungan Demak tuh terkenal enak banget.
Kata ibuku, rangin juga bukan khas Demak saja.
Nah, kalau bubur coro beneran kuliner yang asalnya dari Demak. Begitu menurut ibuku (yang aslinya justru dari Solo, tapi kelahiran Magelang:D) tapi sudah ngoyot di Demak puluhan tahun.
Tapi beneran. Bubur Jamu Coro, Kuliner Legendaris dan Menyehatkan dari Demak, bahkan sudah pernah menjadi headline sebuah koran nasional. jadi seratus persen betul. 



KROPOKAN
Ada yang tahu? Kalau Nasi Krophokan adalah Menu Kesukaan Raja Demak? Aku pernah membacanya di suatu tempat.

Ada yang bilang kropokan itu ndas wedhus. Tapi ada yang bilang kropokan itu bahan dasarnya bandeng. nah lhoh.
Terusss, ada yang bilang kropokan itu sebenarnya khas Kediri. Hohoho, mana yang bener nih. harus ada penelitian tentang ini.

Ini dia bahan dan cara pembuatannya. 


ini dia BAHAN utamanya:
1 ekor ikan bandeng
2 sendok makan mentega atau margarin

ini untuk BAHAN SAUS KECAP:
3 siung bawang putih, haluskan
4 sendok makan kecap manis
1 sendok teh gula pasir
3 buah cabai rawit
3 sendok makan air matang

Ini untuk bahan PELENGKAPnya :
l buah jeruk limau, potong-potong
5 siung bawang merah, iris tipis-tipis 

CARA MEMBUAT KROPOKAN BANDENG :
1.  Siapkan ikan, diamkan selama lima belas menit, lalu lumuri dengan margarin sampai rata, kemudian panggang di atas bara api ya.Atau di dalam oven (200 derajat Celsius) sampai matang. Tandanya  bandenga jadi berwarna kecoklatan.

2. lalu kita membuat saus kecapnya: caranya haluskan bawang putih, gula, dan cabai rawit, lalu tambahkan kecap manis dan air matang, lalu  aduk rata.

3. Terakhir, sajikan kropokan bandeng ini bareng  saus kecap, jeruk limau, dan bawang merah.

Selamat mencoba!

Kuliner Demak Yang Harus Dilestarikan

Kuliner Demak Yang Harus Dilestarikan Beberapa hari lalu grup penulis arsitek ngomporin supaya kami segera kunjungan lapangan ke lasem j...

Minggu, 05 Juli 2020

Mengikuti Perdebatan RUU PKS


Dua hari ini banyak penyintas yang akhirnya speak up. jadi ingat movement #metoo beberapa bulan lalu, tapi yang barusan ini justru lebih mengalir massif meski tanpa hestek. Kebanyakan orang, terutama perempuan, ternyata mengalami pelecehan sejak dari masa kecilnya, masa kanak-kanaknya. waduh kalau diangkut semua ceritanya ke sini, tidak akan muat. 


Dari semua speak up itu,  beberapa di antaranya ada yang memberikan alternatif-alternatif solusi, platform-platform terkait yang berguna (lembaga/komunitas untuk pengaduan, healing dst) dan riset-riset rujukan.

**
BUTUH UU YANG KOMPREHENSIF
undang2 penghapusan kekerasan seksual adalah yang paling saya tunggu selama ini kalau perlu pemerkosa dihukum mati, pelaku pelecehan dibui, pelaku kekerasan seksual dipenjara sesuai kejahatannya itu jelas yang sekarang jadi polemik adalah ternyata ada yang kurang lengkap dlm RUU itu

contoh nih: kalau sama2 konsen,pelaku tidak bisa kena pasal hey halloooo, banyak wanita yg dimanipulasi, ditipu, di-gas-lighting, di-distorsi lapangan (kalau ikut istilah walter isaacson di biografi steve jobs), shg sbnrnya tdk konsen tapi mjd spt konsen ini juga hrs kena pasal

juga pasal2 yg jadi polemik perdebatan di timeline terkait dg 'interpretasi agama' dan semacamnya. hal2 yg bias atau perlu perbaikan 'redaksional' dll, bisa dirembug, dicari solusi terbaik UU yg melindungi perempuan hrs jadi, dg tetap memerhatikan segala aspek yg komprehensif

Kurasa 89% perempuan pernah mengalami pelecehan, kekerasan seksual dll, bhkn mgkn lebih, 98%? 50% nya pernah kepikiran utk menghabisi peleceh/pelaku kekerasan seksnya. Suasana riuh timeline, sdkt byk membangkitkan kemarahan dan luka2 yg susah payah selama ini disembuhkan

39% nya mungkin pernah kepikiran utk bunuh diri. Pelecehan yg diterima dari masa kanak2 bisa mencengkram sepanjang hidup. Trauma dan kerusakan mental. Ya, hrs ada undang2 utk mencegah tjdnya pelecehan,kekerasan seksual Bbrp ayat yg bias bisa dikaji dan diperbaiki
Banyak predator berkeliaran dan santai berulang kali melakukan kejahatannya karena ya merasa aman, sebab tdk ada undang2 yg bisa menjeratnya. Sdh ada UU aja dilanggar apalagi gak ada UU nya Tapi pertanyaan2 terkait RUU yg dirasa bisa membuat pernikahan ambyar,coba cermati

mungkin ada 67% lelaki bajingan yg menjadi peleceh, predator, pelaku kekerasan seksual? dan mungkin sebagian dari 33% yg beres itu bisa jadi ada yg melindungi dua istri yang menyayangi dan menghormati satu sama lain, berikut anak2 mereka rukun saling membantu.

Itulah paradoks kehidupan. Life Paradox.

**
Sekarang aku sedang menulis novel tentang penyintas gaslighting, manipulasi, pelecehan, kekerasan seksual. Doakan semoga lancar dan bagus ya.
**

BANGUN KOMUNITAS YANG MENDUKUNG PENYINTAS

Nah, di tengah-tengah kemarahan yang dipicu oleh banyak pengakuan para korban yang mengalami trauma dan juga para penyintas ini, semalam aku menemukan sebuah konsep menarik yang ditawarkan oleh sekelompok orang. mengingat bahwa sulitnya Undang-Undang Penghapusan Kekerasan seksual ini ditetapkan, belum lagi kalaupun sudah ada UU -nya, tetap saja orang-orang melanggar, menyuap untuk bisa lolos dari hukuman dan seterusnya. Atau sudah dihukum tapi kambuh dan kumat lagi.

So here it is their alternative solution .

tentu kita berhak marah thd kasus2 kekerasan seksual. tapi bukankah sebaiknya lebih kritis dalam menyikapinya? pertanyaan yg dilontarkan kemudian: 1. apakah mekanisme hukum sudah ditegakkan dengan baik oleh institusi yg bertanggung jawab?

kita tahu, org2 dalam institusi penegakan hukum jauh lebih banyak yg mempersulit drpd membantu proses penanganan. kalaupun akhirnya diproses, penyintas harus melalui mekanisme yg rumit & bahkan menjalani kembali (reliving) trauma mereka untuk membuktikan mereka benar2 mengalami.

belum lagi, pelaku yg akhirnya didakwa belum tentu juga jera ketika masuk penjara dan/atau bayar denda. hukuman yg mereka terima bukannya bersifat rehabilitatif, memulihkan & menyadarkan, tapi malah bikin trauma baru. bukannya jadi sadar, malah jadi ikutan troubled juga
makanya, melihat hal di atas, bukannya udah seharusnya kita bertanya lagi: 2. apakah hukuman, dan tindakan menghukum, apapun bentuknya, benar-benar bisa memberi efek jera pada pelaku & efektif mencegah kasus-kasus yg lain?
keadilan transformatif (KT) menolak adanya bentuk hukuman itu, karena hukuman adalah sebuah bentuk KEKERASAN juga. KT ingin merespon kekerasan tanpa menciptakan kekerasan yg lain lagi, dan bercita2 membangun sistem yg bisa menciptakan keadilan seutuhnya dlm & bagi masyarakat.

gak usah bergantung sama negara. bangun komunitas aja. rakyat bantu rakyat, saling edukasi dan belajar dari sesama, tanam & pupuk nilai keadilan di lingkungan. gak butuh yang namanya konsep hukuman ataupun “policing”.
ini alternatif masuk akal.. t-tapi masi kepikiran gimana seenaknya pelaku melenggang bebas grgr negara ga ada ngasih sanksi pidana yg tegas. mngkn akhirnya yg bisa kita lakukan adala berusaha melindungi dan mengusahakan ruang aman buat penyintas..

pelaku perkosaan, atau “kejahatan” apapun, punya dimensi yg lbh deep-rooted dari sekedar perbuatannya. komunitas hadir u/ ngeaddress masalah2 akar. ga ngerti consent? tanam nilai2 feminis. masalah psikologis/psikososial? bangun community-based mental health solutions. & sterusnya

institusi negara, realitanya, tidak pernah hadir untuk melindungi warga negara. mau seideal apapun konseptualisasi institusi negara (kontrak sosial, pelindung warga negara dll) pemusatan kuasa ke sebuah institusi tunggal ky gitu akan selalu rentan abuse of power
**
KEADILAN TRANSFORMATIF

Yuk belajar bareng-bareng soal abolisi & keadilan transformatif! Buat yg terbiasa mengidamkan keadilan restoratif, istilah keadilan transformatif ini termasuk baru bagi saya tapi jauh lebih bisa diandalkan dibanding negara & institusi kepolisian

"Hah mana bisa ngejar keadilan tanpa kepolisian?" Bisa. Beberapa gerakan sudah membuktikannya,

"Tetep ga kebayang sih cara kerja abolisi tuh gimana..." Mungkin perbandingan visual bisa membantu:

These charts break down the difference between reformist reforms which continue or expand the reach of policing, and abolitionist steps that work to chip away and reduce its overall impact. As we struggle to decrease the power of policing there are also positive and pro-active investments we can make in community health and well-being.
PDF with full text of image available at the link in the tweet

"Mana bisa ujug-ujug langsung ga ada polisi? Langsung pake keadilan transformatif?" Yaaa ga langsung jg sih. Dengan keadaan skrg pun bukan mustahil kita bisa mulai menerapkan itu di masyarakat. Pelan-pelan melakukan transisi di lingkungan sendiri.

Kalau saya ambil contoh soal kekerasan seksual, kita bisa melihat polemik RUU PKS yg ga kunjung disahkan ini sebagai salah satu wujud putusnya harapan. Tapi di satu sisi, dengan masuknya RUU PKS ke Baleg dan memulai pembahasan draf dari nol
—kita bisa anggap ini sebagai sebuah kesempatan untuk menyempurnakan rancangan sebelumnya. Misal dengan menyertakan rumusan keadilan transformatif juga di dalamnya (di bawah Bab VIII soal Partisipasi Masyarakat tentunya).
Atau, saya membayangkan kita sebagai masyarakat bisa pelan-pelan bangun sistem. Misal pertama, semua (atau sebagian besar) masyarakat bisa mulai belajar DPA (Dukungan Psikologis Awal). Karena (1) ga semua orang punya akses buat cerita ke psikolog/psikiater—
—karena keterbatasan wawasan/biaya; (2) bisa dilakukan siapa saja seawam apa pun orangnya; (3) ketimpangan jumlah psikolog dan psikiater di Indonesia membuat kita seharusnya bisa jadi penyedia pertolongan pertama bagi org-org yg terluka mentalnya karena kekerasan yg dialaminya.
Jadi skenarionya, misal ada korban kekerasan seksual, dia bisa nyaman dan aman dulu cerita ke siapa aja di lingkungannya karena sebagian besar sudah punya bekal ilmu DPA. Terus bisa dirujuk ke psikolog/psikiater itu tadi, atau ke komunitas/NGO


Untuk pelakunya sendiri, karena skenarionya tanpa penjara, bayangan saya adalah kita perlu bangun shelter atau tempat khusus pendampingan atau rehabilitasi pelaku. Atau bukan membangun, bisa jg menyempurnakan, karena fasilitas seperti ini kan sudah ada di masyarakat.

Saya membayangkan pelakunya ini perlu didampingi dan diberi pemahaman mengapa perilakunya salah, bagaimana seharusnya ia bersikap, apa yg harus ia lakukan utk mengubah pola pikir dan perilaku sepenuhnya. Penjara ga memberikan ini semua. Ini yg bikin mantan napi berpotensi—

—mengulangi kekerasan yg pernah dilakukannya. Penjara jg membuat mereka ga punya kesempatan utk berubah karena kuatnya stigma yg melekat pada mereka.
Kita bisa tahu kalau Rivet itu korban perkosaan waktu kecil, lalu ia tumbuh dewasa dan jadi pelaku perkosaan, lalu ia menerima bantuan rehabilitasi yg membuatnya berubah dan kini ia bekerja di fasilitas rehabilitasi utk membantu pelaku-pelaku kekerasan seksual utk berubah jg.

Ini ga menjustifikasi kekerasan seksual yg Rivet lakukan ya. Ia ttp salah. Tapi ini ga menutup kemungkinan bahwa pelaku kekerasan punya kesempatan utk berubah dan memutus rantai tsb tanpa melibatkan penjara, hukuman mati, atau bentuk kekerasan lain.
Selaras jg dgn salah satu implementasi abolisi dan keadilan transformatif di mana para mantan napi yg sudah berubah justru bisa ambil peran dalam mengedukasi pelaku-pelaku kekerasan dan mendampingi mereka jg.

Mantan napi mengedukasi napi lain. Mantan pelaku kekerasan seksual mendampingi pelaku lain. Mungkin sistem seperti ini bisa lebih manusiawi dalam menangani pelaku, dan abolisi serta keadilan transformatif menawarkan hal itu.


TAPI KEMUDIAN JUGA KELUAR PIKIRAN SEKETIKA,
tapi kalau penjahat2 predator2 mikirnya yach nggak apa2, ntar kan cuma direhabilitasi, jadi padha nggak takut bikin salah
tapi kalau ancamannya hukuman mati, orang2 akan mikir2 kalau mau ngaco.

KALAU kata mbak Ninus
saking simpelnya sampai pd bingung akrobat argumen gimana lagi. sesimpel: nggak pernah ada konsekuensi bagi pelaku setotal dan semendalam seperti halnya yg dialami korban kekerasan & pelecehan seksual, itu kenapa kejadiannya berlangsung terus. cuma itu doang
**

FOKUS PADA KORBAN
Yg sulit itu dengerin cerita-cerita penyintas kekerasan seksual tapi ga bisa ngasih tanggapan yg meyakinkan bahwa mereka bakal dpt keadilan. Karena aturan selama ini ga komprehensif, penegak hukumnya jg kadang malah jadi pemicu trauma, & proses penegakan hukumnya:

betapa berat penderitaan yg dialami korban kekerasan seksual sepanjang proses peradilan.

bersemesta menerima cerita-cerita penyintas kekerasan seksual
mulai dari situ sampai skrg jadi banyak yg curhat soal apa aja. Akhirnya coba mendalami DPA (Dukungan Psikologis Awal, Psychological First Aid) supaya ga sebatas dengerin aja.

di DPA, intervensi paling mentok yg bisa diberikan tuh ngasih rujukan ke pencerita.
Ngasih rujukan ini maksudnya menghubungkan pencerita ke sumber informasi dan bantuan yg lebih profesional gitu. Buat cerita-cerita kekerasan seksual, saya biasanya ngerujuk lapor ke kepolisian di paling akhir. Karena... ya... alasan di awal itu tadi.

Rujukan awal biasanya ke P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak) yg ada di tiap kota/kab. Mereka layanannya cukup lengkap: layanan psikologis, medis, rehabilitasi psikososial juga.

Juga LBH. Kalo yg ini udah jelas ya untuk pendampingan hukum bagi penyintas. Juga NGO yang khusus menangani kasus kekerasan seksual, misal Savy Amira (di Surabaya ada, kurang tau di kota lain) atau Rifka Annisa (di Jogja), atau kalo ada yg lain boleh reply


Juga Komnas Perempuan, Yayasan Lentera Sintas, dsb. Intinya ngasih rujukan yg bisa diraih, kalo bisa nemenin juga. Tapi masih ngarep RUU PKS bisa segera sah biar penyintas bisa lebih mudah lapor, trs ga ada lagi ceritanya polisi bingung mau pake pasal apa

Ditambah yg cerita ga cuma cewek aja. Kalo ada yg mikir, "Paling cowoknya feminin," nyatanya ga gitu. Cowok feminin ada, yg maskulin jg ada. Siapa pun bisa jadi korban. Ga berani lapor karena malu. Dan lagi, hukum yg berlaku ga cukup melindungi korban laki-laki.
Tapi ternyata RUU PKS ditarik ulur terus sama dewan yang terhormat. Patah hati bgt lah, apalagi sama wacana kemarin soal RUU PKS mau dicabut dari Prolegnas 2020. Makin hilang kepercayaan sama negara.
Koar-koar soal RUU PKS bakal terus dilakukan, tapi jadi mikir keras gimana kalo beneran ga bakal tembus nih RUU PKS nya. Ga bisa gantungin sepenuhnya ke DPR gitu aja.

Untungnya di timeline banyak yg kasih gambaran solusi. Misal
@anandabadudun ngajak kita berkomunitas main "partai-partaian" terus bikin kebijakan. Yaaa buat persiapan jangka panjang bgt ini sih.
Tapi yg paling membangkitkan harapan: diskursus keadilan transformatif (KT)
Singkatnya, KT fokusnya nanganin kekerasan tanpa melibatkan lebih banyak kekerasan. Berlaku jg di kasus kekerasan seksual.Kenapa membangkitkan harapan? Soalnya, KT ini meniadakan peran polisi yg *ehem* seringnya melanggengkan tindak kekerasan ke pelaku, pdhl tindakan itu cuma berpotensi melahirkan kekerasan-kekerasan lain yg ga ada habisnya
KT menitikberatkan peran masyarakat/komunitas secara kolektif dalam penanganan kekerasan seksual. Tetap mengutamakan korban, tapi jg ga membiarkan pelaku tanpa penanganan.Beda penanganannya adalah, KT memastikan pelaku diberi kesadaran sampai tahap ada perubahan perilaku yg signifikan. Penerapannya oleh kolektif masyarakat bisa dgn bikin infrastruktur khusus rehabilitasi, pendampingan baik untuk pelaku maupun korban, dsb.
Konsep ini ada di RUU PKS jg sebenernya (Bab VIII Partisipasi Masyarakat) meski ga begitu detailAkhir kata, #SahkanRUUPKS dan dorong komunitas utk bergerak secara kolektif menerapkan keadilan transformatif. Kita cuma punya satu sama lain, negara udah ga bisa diandelin~

Mengikuti Perdebatan RUU PKS

Mengikuti Perdebatan RUU PKS Dua hari ini banyak penyintas yang akhirnya speak up. jadi ingat movement #metoo beberapa bulan lalu, tapi ya...

Rabu, 01 Juli 2020

Pengalaman Traveling Pertama






Anak-anakku excited banget ketika diberitahu kalau kami akan ke Bali selama beberapa hari untuk festival UWRF dan sambung dengan jalan-jalan. 

Hari yang ditunggu pun tiba. Dari rumah, kami bertiga naik becak menuju pojok jalan lingkar. Ternyata kami sampainya kepagian. Alias masih seperempat sampai setengah jam lagi bisnya baru dating dari arah Terminal Terboyo Semarang.
Saat anak-anak mulai resah, kubagikan sebuah senjata ampuh dari guru madrasahku jaman dulu.
“Yuk baca laa haula sambil menunggu bis,” ujarku.
“Kenapa memangnya?” tanya anak lanang.
“Apa bisnya jadi datang lebih cepat?” sahut anak wedhok.
“Hmm.. yang jelas kita dapat pahala kan? Dan cerita guru waktu dulu, saat dia menunggu bis atau angkutan sembari membaca ini, eh jadi ada kendaraan lain yang tiba-tiba memberi tumpangan,” aku berbagi kisah yang pernah kudengar.
“Ah tuh mi, ada mobil bagus datang. Siapa tahu dia mau kasih kita tumpangan sampai Bali ya?” sergah Hasan cepat.
“Hussh..” lirihku sembari melirik mobil hitam yang parkir dekat kami.
Pengendaranya mendekati kami dan menawari tumpangan ke arah Kudus. Duh yang kayak gini nih malah bikin takut, ya kan? Berapa banyak berita di Koran dan televise mengenai orang-orang yang pura-pura menawarkan kebaikan padahal aslinya mau merampok dan semacamnya.
“Tidak, pak. Terima kasih,” aku menolak halus dan segera mengalihkan pandangan.
Orang itu kemudian membeli sesuatu di warung tempat kami duduk menunggu. Dan berlalu. Alhamdulillah, desisku dalam hati.


**

Alhamdulillah bis datang tepat waktu. Jam tiga sore, kru kotak besi panjang hitam beroda itu segera mengenali kami. Koper masuk bagasi dan kami bertiga naik satu-satu ke dalam bis yang lega. Untungnya penumpang bis tidak penuh. Jadi anak-anak bahkan bisa punya kursi dan ruang yang luas untuk masing-masing.

Kemacetan pantura ternyata tidak separah yang kami bayangkan. Jadi perjalanan lancar. Bis berhenti untuk menurunkan penumpangnya makan malam di restauran sederhana. Kubangunkan anak-anak supaya mereka mengisi perut agar tidak masuk angin.
Sepanjang jalan kami menikmati pemandangan hutan, rumah-rumah, bahkan juga pantai. Menikmati kota-kota sepanjang pantura. Juga Banyuwangi yang beragam pemandangannya. Ada gunung di sisi kanan, dan pantai yang bisa dilihat dari jendela kaca kiri bis. 
Not just getting new experiences, kids also practice patience, learn about tayamum, sholat safar, sholat jama' qoshor, GPS etc.  Ini antara lain yang kutulis di twitter selagi perjalanan dan menikmati UWRF. Social media memang tak hanya membantu kita membagikan apa yang sedang kita pikirkan dan alami, tetapi juga membantu kita menyicil apa-apa yang akan kita kembangkan dalam tulisan yang lebih panjang.
Traveling menuju dan selama UWRF ini juga mengajarkan anak-anak banyak hal selain memberi mereka liburan dan hiburan. Mereka juga belajar sabar, belajar dan mempraktekkan tayamum (sesuci dengan debu), sholat safar, sholat jama’ qoshor, bagaimana menggunakan GPS dan lain-lain.
Ternyata bis mampir ke pom bensin sebelum matahari terbit. Rupanya kru bis memberi kesempatan pada penumpangnya untuk bisa sholat subuh di musholla. Selain tentu saja pak sopir dan kernetnya juga beribadah yang sama. Kuperhatikan mereka memang khusyu waktu sholat Isya tadi malam dan subuh ini. Membuat hati menjadi sejuk melihatnya. Ini sungguh permata pengalamanku. 
Perjalanan berlanjut lagi menyusuri bumi Banyuwangi yang eksotis. Lumayan lancar meski sudah mulai Nampak barisan kendaraan yang sama-sama menuju penyeberangan. Pemandangan yang juga bisa kita saksikan saat hendak menuju priok di Jakarta ataupun tanah mas di Semarang.
Alhamdulillah bis tiba di pelabuhan Ketapang jam tujuh pagi. Sesuai dengan perkiraanku dan anak-anak. Laut semakin dekat, tampak jelas di pelupuk mata. Dataran pulau Bali sudah semakin dekat. Dengan wajah cerah, anak-anak makin bersemangat  dan menegakkan punggung mereka. Untukku, ini  kunjungan yang kedua setelah sebelumnya pernah ke sana bersama-sama teman kampus untuk KKL waktu itu. 

Pengalaman Traveling Pertama

Pengalaman Traveling Pertama Anak-anakku excited banget ketika diberitahu kalau kami akan ke Bali selama beberapa hari unt...

 

DeMagz © 2015 - Designed by Templateism.com, Distributed By Blogger Templates