colourful journal for beautiful life

Minggu, 05 Juli 2020

Mengikuti Perdebatan RUU PKS


Dua hari ini banyak penyintas yang akhirnya speak up. jadi ingat movement #metoo beberapa bulan lalu, tapi yang barusan ini justru lebih mengalir massif meski tanpa hestek. Kebanyakan orang, terutama perempuan, ternyata mengalami pelecehan sejak dari masa kecilnya, masa kanak-kanaknya. waduh kalau diangkut semua ceritanya ke sini, tidak akan muat. 


Dari semua speak up itu,  beberapa di antaranya ada yang memberikan alternatif-alternatif solusi, platform-platform terkait yang berguna (lembaga/komunitas untuk pengaduan, healing dst) dan riset-riset rujukan.

**
BUTUH UU YANG KOMPREHENSIF
undang2 penghapusan kekerasan seksual adalah yang paling saya tunggu selama ini kalau perlu pemerkosa dihukum mati, pelaku pelecehan dibui, pelaku kekerasan seksual dipenjara sesuai kejahatannya itu jelas yang sekarang jadi polemik adalah ternyata ada yang kurang lengkap dlm RUU itu

contoh nih: kalau sama2 konsen,pelaku tidak bisa kena pasal hey halloooo, banyak wanita yg dimanipulasi, ditipu, di-gas-lighting, di-distorsi lapangan (kalau ikut istilah walter isaacson di biografi steve jobs), shg sbnrnya tdk konsen tapi mjd spt konsen ini juga hrs kena pasal

juga pasal2 yg jadi polemik perdebatan di timeline terkait dg 'interpretasi agama' dan semacamnya. hal2 yg bias atau perlu perbaikan 'redaksional' dll, bisa dirembug, dicari solusi terbaik UU yg melindungi perempuan hrs jadi, dg tetap memerhatikan segala aspek yg komprehensif

Kurasa 89% perempuan pernah mengalami pelecehan, kekerasan seksual dll, bhkn mgkn lebih, 98%? 50% nya pernah kepikiran utk menghabisi peleceh/pelaku kekerasan seksnya. Suasana riuh timeline, sdkt byk membangkitkan kemarahan dan luka2 yg susah payah selama ini disembuhkan

39% nya mungkin pernah kepikiran utk bunuh diri. Pelecehan yg diterima dari masa kanak2 bisa mencengkram sepanjang hidup. Trauma dan kerusakan mental. Ya, hrs ada undang2 utk mencegah tjdnya pelecehan,kekerasan seksual Bbrp ayat yg bias bisa dikaji dan diperbaiki
Banyak predator berkeliaran dan santai berulang kali melakukan kejahatannya karena ya merasa aman, sebab tdk ada undang2 yg bisa menjeratnya. Sdh ada UU aja dilanggar apalagi gak ada UU nya Tapi pertanyaan2 terkait RUU yg dirasa bisa membuat pernikahan ambyar,coba cermati

mungkin ada 67% lelaki bajingan yg menjadi peleceh, predator, pelaku kekerasan seksual? dan mungkin sebagian dari 33% yg beres itu bisa jadi ada yg melindungi dua istri yang menyayangi dan menghormati satu sama lain, berikut anak2 mereka rukun saling membantu.

Itulah paradoks kehidupan. Life Paradox.

**
Sekarang aku sedang menulis novel tentang penyintas gaslighting, manipulasi, pelecehan, kekerasan seksual. Doakan semoga lancar dan bagus ya.
**

BANGUN KOMUNITAS YANG MENDUKUNG PENYINTAS

Nah, di tengah-tengah kemarahan yang dipicu oleh banyak pengakuan para korban yang mengalami trauma dan juga para penyintas ini, semalam aku menemukan sebuah konsep menarik yang ditawarkan oleh sekelompok orang. mengingat bahwa sulitnya Undang-Undang Penghapusan Kekerasan seksual ini ditetapkan, belum lagi kalaupun sudah ada UU -nya, tetap saja orang-orang melanggar, menyuap untuk bisa lolos dari hukuman dan seterusnya. Atau sudah dihukum tapi kambuh dan kumat lagi.

So here it is their alternative solution .

tentu kita berhak marah thd kasus2 kekerasan seksual. tapi bukankah sebaiknya lebih kritis dalam menyikapinya? pertanyaan yg dilontarkan kemudian: 1. apakah mekanisme hukum sudah ditegakkan dengan baik oleh institusi yg bertanggung jawab?

kita tahu, org2 dalam institusi penegakan hukum jauh lebih banyak yg mempersulit drpd membantu proses penanganan. kalaupun akhirnya diproses, penyintas harus melalui mekanisme yg rumit & bahkan menjalani kembali (reliving) trauma mereka untuk membuktikan mereka benar2 mengalami.

belum lagi, pelaku yg akhirnya didakwa belum tentu juga jera ketika masuk penjara dan/atau bayar denda. hukuman yg mereka terima bukannya bersifat rehabilitatif, memulihkan & menyadarkan, tapi malah bikin trauma baru. bukannya jadi sadar, malah jadi ikutan troubled juga
makanya, melihat hal di atas, bukannya udah seharusnya kita bertanya lagi: 2. apakah hukuman, dan tindakan menghukum, apapun bentuknya, benar-benar bisa memberi efek jera pada pelaku & efektif mencegah kasus-kasus yg lain?
keadilan transformatif (KT) menolak adanya bentuk hukuman itu, karena hukuman adalah sebuah bentuk KEKERASAN juga. KT ingin merespon kekerasan tanpa menciptakan kekerasan yg lain lagi, dan bercita2 membangun sistem yg bisa menciptakan keadilan seutuhnya dlm & bagi masyarakat.

gak usah bergantung sama negara. bangun komunitas aja. rakyat bantu rakyat, saling edukasi dan belajar dari sesama, tanam & pupuk nilai keadilan di lingkungan. gak butuh yang namanya konsep hukuman ataupun “policing”.
ini alternatif masuk akal.. t-tapi masi kepikiran gimana seenaknya pelaku melenggang bebas grgr negara ga ada ngasih sanksi pidana yg tegas. mngkn akhirnya yg bisa kita lakukan adala berusaha melindungi dan mengusahakan ruang aman buat penyintas..

pelaku perkosaan, atau “kejahatan” apapun, punya dimensi yg lbh deep-rooted dari sekedar perbuatannya. komunitas hadir u/ ngeaddress masalah2 akar. ga ngerti consent? tanam nilai2 feminis. masalah psikologis/psikososial? bangun community-based mental health solutions. & sterusnya

institusi negara, realitanya, tidak pernah hadir untuk melindungi warga negara. mau seideal apapun konseptualisasi institusi negara (kontrak sosial, pelindung warga negara dll) pemusatan kuasa ke sebuah institusi tunggal ky gitu akan selalu rentan abuse of power
**
KEADILAN TRANSFORMATIF

Yuk belajar bareng-bareng soal abolisi & keadilan transformatif! Buat yg terbiasa mengidamkan keadilan restoratif, istilah keadilan transformatif ini termasuk baru bagi saya tapi jauh lebih bisa diandalkan dibanding negara & institusi kepolisian

"Hah mana bisa ngejar keadilan tanpa kepolisian?" Bisa. Beberapa gerakan sudah membuktikannya,

"Tetep ga kebayang sih cara kerja abolisi tuh gimana..." Mungkin perbandingan visual bisa membantu:

These charts break down the difference between reformist reforms which continue or expand the reach of policing, and abolitionist steps that work to chip away and reduce its overall impact. As we struggle to decrease the power of policing there are also positive and pro-active investments we can make in community health and well-being.
PDF with full text of image available at the link in the tweet

"Mana bisa ujug-ujug langsung ga ada polisi? Langsung pake keadilan transformatif?" Yaaa ga langsung jg sih. Dengan keadaan skrg pun bukan mustahil kita bisa mulai menerapkan itu di masyarakat. Pelan-pelan melakukan transisi di lingkungan sendiri.

Kalau saya ambil contoh soal kekerasan seksual, kita bisa melihat polemik RUU PKS yg ga kunjung disahkan ini sebagai salah satu wujud putusnya harapan. Tapi di satu sisi, dengan masuknya RUU PKS ke Baleg dan memulai pembahasan draf dari nol
—kita bisa anggap ini sebagai sebuah kesempatan untuk menyempurnakan rancangan sebelumnya. Misal dengan menyertakan rumusan keadilan transformatif juga di dalamnya (di bawah Bab VIII soal Partisipasi Masyarakat tentunya).
Atau, saya membayangkan kita sebagai masyarakat bisa pelan-pelan bangun sistem. Misal pertama, semua (atau sebagian besar) masyarakat bisa mulai belajar DPA (Dukungan Psikologis Awal). Karena (1) ga semua orang punya akses buat cerita ke psikolog/psikiater—
—karena keterbatasan wawasan/biaya; (2) bisa dilakukan siapa saja seawam apa pun orangnya; (3) ketimpangan jumlah psikolog dan psikiater di Indonesia membuat kita seharusnya bisa jadi penyedia pertolongan pertama bagi org-org yg terluka mentalnya karena kekerasan yg dialaminya.
Jadi skenarionya, misal ada korban kekerasan seksual, dia bisa nyaman dan aman dulu cerita ke siapa aja di lingkungannya karena sebagian besar sudah punya bekal ilmu DPA. Terus bisa dirujuk ke psikolog/psikiater itu tadi, atau ke komunitas/NGO


Untuk pelakunya sendiri, karena skenarionya tanpa penjara, bayangan saya adalah kita perlu bangun shelter atau tempat khusus pendampingan atau rehabilitasi pelaku. Atau bukan membangun, bisa jg menyempurnakan, karena fasilitas seperti ini kan sudah ada di masyarakat.

Saya membayangkan pelakunya ini perlu didampingi dan diberi pemahaman mengapa perilakunya salah, bagaimana seharusnya ia bersikap, apa yg harus ia lakukan utk mengubah pola pikir dan perilaku sepenuhnya. Penjara ga memberikan ini semua. Ini yg bikin mantan napi berpotensi—

—mengulangi kekerasan yg pernah dilakukannya. Penjara jg membuat mereka ga punya kesempatan utk berubah karena kuatnya stigma yg melekat pada mereka.
Kita bisa tahu kalau Rivet itu korban perkosaan waktu kecil, lalu ia tumbuh dewasa dan jadi pelaku perkosaan, lalu ia menerima bantuan rehabilitasi yg membuatnya berubah dan kini ia bekerja di fasilitas rehabilitasi utk membantu pelaku-pelaku kekerasan seksual utk berubah jg.

Ini ga menjustifikasi kekerasan seksual yg Rivet lakukan ya. Ia ttp salah. Tapi ini ga menutup kemungkinan bahwa pelaku kekerasan punya kesempatan utk berubah dan memutus rantai tsb tanpa melibatkan penjara, hukuman mati, atau bentuk kekerasan lain.
Selaras jg dgn salah satu implementasi abolisi dan keadilan transformatif di mana para mantan napi yg sudah berubah justru bisa ambil peran dalam mengedukasi pelaku-pelaku kekerasan dan mendampingi mereka jg.

Mantan napi mengedukasi napi lain. Mantan pelaku kekerasan seksual mendampingi pelaku lain. Mungkin sistem seperti ini bisa lebih manusiawi dalam menangani pelaku, dan abolisi serta keadilan transformatif menawarkan hal itu.


TAPI KEMUDIAN JUGA KELUAR PIKIRAN SEKETIKA,
tapi kalau penjahat2 predator2 mikirnya yach nggak apa2, ntar kan cuma direhabilitasi, jadi padha nggak takut bikin salah
tapi kalau ancamannya hukuman mati, orang2 akan mikir2 kalau mau ngaco.

KALAU kata mbak Ninus
saking simpelnya sampai pd bingung akrobat argumen gimana lagi. sesimpel: nggak pernah ada konsekuensi bagi pelaku setotal dan semendalam seperti halnya yg dialami korban kekerasan & pelecehan seksual, itu kenapa kejadiannya berlangsung terus. cuma itu doang
**

FOKUS PADA KORBAN
Yg sulit itu dengerin cerita-cerita penyintas kekerasan seksual tapi ga bisa ngasih tanggapan yg meyakinkan bahwa mereka bakal dpt keadilan. Karena aturan selama ini ga komprehensif, penegak hukumnya jg kadang malah jadi pemicu trauma, & proses penegakan hukumnya:

betapa berat penderitaan yg dialami korban kekerasan seksual sepanjang proses peradilan.

bersemesta menerima cerita-cerita penyintas kekerasan seksual
mulai dari situ sampai skrg jadi banyak yg curhat soal apa aja. Akhirnya coba mendalami DPA (Dukungan Psikologis Awal, Psychological First Aid) supaya ga sebatas dengerin aja.

di DPA, intervensi paling mentok yg bisa diberikan tuh ngasih rujukan ke pencerita.
Ngasih rujukan ini maksudnya menghubungkan pencerita ke sumber informasi dan bantuan yg lebih profesional gitu. Buat cerita-cerita kekerasan seksual, saya biasanya ngerujuk lapor ke kepolisian di paling akhir. Karena... ya... alasan di awal itu tadi.

Rujukan awal biasanya ke P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak) yg ada di tiap kota/kab. Mereka layanannya cukup lengkap: layanan psikologis, medis, rehabilitasi psikososial juga.

Juga LBH. Kalo yg ini udah jelas ya untuk pendampingan hukum bagi penyintas. Juga NGO yang khusus menangani kasus kekerasan seksual, misal Savy Amira (di Surabaya ada, kurang tau di kota lain) atau Rifka Annisa (di Jogja), atau kalo ada yg lain boleh reply


Juga Komnas Perempuan, Yayasan Lentera Sintas, dsb. Intinya ngasih rujukan yg bisa diraih, kalo bisa nemenin juga. Tapi masih ngarep RUU PKS bisa segera sah biar penyintas bisa lebih mudah lapor, trs ga ada lagi ceritanya polisi bingung mau pake pasal apa

Ditambah yg cerita ga cuma cewek aja. Kalo ada yg mikir, "Paling cowoknya feminin," nyatanya ga gitu. Cowok feminin ada, yg maskulin jg ada. Siapa pun bisa jadi korban. Ga berani lapor karena malu. Dan lagi, hukum yg berlaku ga cukup melindungi korban laki-laki.
Tapi ternyata RUU PKS ditarik ulur terus sama dewan yang terhormat. Patah hati bgt lah, apalagi sama wacana kemarin soal RUU PKS mau dicabut dari Prolegnas 2020. Makin hilang kepercayaan sama negara.
Koar-koar soal RUU PKS bakal terus dilakukan, tapi jadi mikir keras gimana kalo beneran ga bakal tembus nih RUU PKS nya. Ga bisa gantungin sepenuhnya ke DPR gitu aja.

Untungnya di timeline banyak yg kasih gambaran solusi. Misal
@anandabadudun ngajak kita berkomunitas main "partai-partaian" terus bikin kebijakan. Yaaa buat persiapan jangka panjang bgt ini sih.
Tapi yg paling membangkitkan harapan: diskursus keadilan transformatif (KT)
Singkatnya, KT fokusnya nanganin kekerasan tanpa melibatkan lebih banyak kekerasan. Berlaku jg di kasus kekerasan seksual.Kenapa membangkitkan harapan? Soalnya, KT ini meniadakan peran polisi yg *ehem* seringnya melanggengkan tindak kekerasan ke pelaku, pdhl tindakan itu cuma berpotensi melahirkan kekerasan-kekerasan lain yg ga ada habisnya
KT menitikberatkan peran masyarakat/komunitas secara kolektif dalam penanganan kekerasan seksual. Tetap mengutamakan korban, tapi jg ga membiarkan pelaku tanpa penanganan.Beda penanganannya adalah, KT memastikan pelaku diberi kesadaran sampai tahap ada perubahan perilaku yg signifikan. Penerapannya oleh kolektif masyarakat bisa dgn bikin infrastruktur khusus rehabilitasi, pendampingan baik untuk pelaku maupun korban, dsb.
Konsep ini ada di RUU PKS jg sebenernya (Bab VIII Partisipasi Masyarakat) meski ga begitu detailAkhir kata, #SahkanRUUPKS dan dorong komunitas utk bergerak secara kolektif menerapkan keadilan transformatif. Kita cuma punya satu sama lain, negara udah ga bisa diandelin~

Mengikuti Perdebatan RUU PKS

Mengikuti Perdebatan RUU PKS Dua hari ini banyak penyintas yang akhirnya speak up. jadi ingat movement #metoo beberapa bulan lalu, tapi ya...

Rabu, 01 Juli 2020

Pengalaman Traveling Pertama






Anak-anakku excited banget ketika diberitahu kalau kami akan ke Bali selama beberapa hari untuk festival UWRF dan sambung dengan jalan-jalan. 

Hari yang ditunggu pun tiba. Dari rumah, kami bertiga naik becak menuju pojok jalan lingkar. Ternyata kami sampainya kepagian. Alias masih seperempat sampai setengah jam lagi bisnya baru dating dari arah Terminal Terboyo Semarang.
Saat anak-anak mulai resah, kubagikan sebuah senjata ampuh dari guru madrasahku jaman dulu.
“Yuk baca laa haula sambil menunggu bis,” ujarku.
“Kenapa memangnya?” tanya anak lanang.
“Apa bisnya jadi datang lebih cepat?” sahut anak wedhok.
“Hmm.. yang jelas kita dapat pahala kan? Dan cerita guru waktu dulu, saat dia menunggu bis atau angkutan sembari membaca ini, eh jadi ada kendaraan lain yang tiba-tiba memberi tumpangan,” aku berbagi kisah yang pernah kudengar.
“Ah tuh mi, ada mobil bagus datang. Siapa tahu dia mau kasih kita tumpangan sampai Bali ya?” sergah Hasan cepat.
“Hussh..” lirihku sembari melirik mobil hitam yang parkir dekat kami.
Pengendaranya mendekati kami dan menawari tumpangan ke arah Kudus. Duh yang kayak gini nih malah bikin takut, ya kan? Berapa banyak berita di Koran dan televise mengenai orang-orang yang pura-pura menawarkan kebaikan padahal aslinya mau merampok dan semacamnya.
“Tidak, pak. Terima kasih,” aku menolak halus dan segera mengalihkan pandangan.
Orang itu kemudian membeli sesuatu di warung tempat kami duduk menunggu. Dan berlalu. Alhamdulillah, desisku dalam hati.


**

Alhamdulillah bis datang tepat waktu. Jam tiga sore, kru kotak besi panjang hitam beroda itu segera mengenali kami. Koper masuk bagasi dan kami bertiga naik satu-satu ke dalam bis yang lega. Untungnya penumpang bis tidak penuh. Jadi anak-anak bahkan bisa punya kursi dan ruang yang luas untuk masing-masing.

Kemacetan pantura ternyata tidak separah yang kami bayangkan. Jadi perjalanan lancar. Bis berhenti untuk menurunkan penumpangnya makan malam di restauran sederhana. Kubangunkan anak-anak supaya mereka mengisi perut agar tidak masuk angin.
Sepanjang jalan kami menikmati pemandangan hutan, rumah-rumah, bahkan juga pantai. Menikmati kota-kota sepanjang pantura. Juga Banyuwangi yang beragam pemandangannya. Ada gunung di sisi kanan, dan pantai yang bisa dilihat dari jendela kaca kiri bis. 
Not just getting new experiences, kids also practice patience, learn about tayamum, sholat safar, sholat jama' qoshor, GPS etc.  Ini antara lain yang kutulis di twitter selagi perjalanan dan menikmati UWRF. Social media memang tak hanya membantu kita membagikan apa yang sedang kita pikirkan dan alami, tetapi juga membantu kita menyicil apa-apa yang akan kita kembangkan dalam tulisan yang lebih panjang.
Traveling menuju dan selama UWRF ini juga mengajarkan anak-anak banyak hal selain memberi mereka liburan dan hiburan. Mereka juga belajar sabar, belajar dan mempraktekkan tayamum (sesuci dengan debu), sholat safar, sholat jama’ qoshor, bagaimana menggunakan GPS dan lain-lain.
Ternyata bis mampir ke pom bensin sebelum matahari terbit. Rupanya kru bis memberi kesempatan pada penumpangnya untuk bisa sholat subuh di musholla. Selain tentu saja pak sopir dan kernetnya juga beribadah yang sama. Kuperhatikan mereka memang khusyu waktu sholat Isya tadi malam dan subuh ini. Membuat hati menjadi sejuk melihatnya. Ini sungguh permata pengalamanku. 
Perjalanan berlanjut lagi menyusuri bumi Banyuwangi yang eksotis. Lumayan lancar meski sudah mulai Nampak barisan kendaraan yang sama-sama menuju penyeberangan. Pemandangan yang juga bisa kita saksikan saat hendak menuju priok di Jakarta ataupun tanah mas di Semarang.
Alhamdulillah bis tiba di pelabuhan Ketapang jam tujuh pagi. Sesuai dengan perkiraanku dan anak-anak. Laut semakin dekat, tampak jelas di pelupuk mata. Dataran pulau Bali sudah semakin dekat. Dengan wajah cerah, anak-anak makin bersemangat  dan menegakkan punggung mereka. Untukku, ini  kunjungan yang kedua setelah sebelumnya pernah ke sana bersama-sama teman kampus untuk KKL waktu itu. 

Pengalaman Traveling Pertama

Pengalaman Traveling Pertama Anak-anakku excited banget ketika diberitahu kalau kami akan ke Bali selama beberapa hari unt...

Jumat, 26 Juni 2020

Nangis Dleweran karena Terlanjur Mencinta




Versi mana yang lebih kamu sukai dari lagu #TerlanjurMencinta ciptaan Yovie Widianto yang barusan rilis hari ini?

Versi Lyodra Ginting, juara satu Indonesian Idol?
Atau versi Tiara Andini yang manis santun?
Atau versi Ziva Magnolya yang imut menggemaskan?


Semuanya bagus. Punya gaya dan  karakter masing-masing yang khas.



Video liriknya lyodra juga lebih ngena banget ama lagunya. ternyata yg membuat video liriknya, meski sama-sama memakai ilustrasi gambar, beda2 semua. ada 3 juga. cara lyodra nyanyinya juga greget banget, di setiap suku katanya bahkan. kayak gak ada yg ngulang dari awal sampai akhir


Perhatikan saat dia sampai di kata 'kuduuugaaa' egh...itu kena banget. tarikan antara nafas dan nggak nafasnya lyodra, bikin lagu ini bikin kita nggak bernafas paling klimaks, saat lyodra ngejerit 'cintaaa' trus ada 'hhharus menghindar' yg di bagian belakang, hhhh-nya wew

Sampai 5 kali mendengarkan ulang, masih ikutan nangis yg sampai menganga nggak keluar suara (saking pedihnya) muter lagi berulang2, belum bosan juga








Ini dia lirik lagunya.

"Maafkan Aku #TerlanjurMencinta"


Aku t'lah tahu kita memang tak mungkin
Tapi mengapa kita selalu bertemu
Aku tlah tahu hati ini harus menghindar
Namun kenyataan ku tak bisa
Maafkan aku, terlanjur mencinta

Senyuman itu
Hanyalah menunda luka
Yang tak pernah ku duga
Dan bila akhirnya kau harus dengannya
Mengapa kau dekati aku

Kau membuat semuanya indah, seolah takkan terpisah

Aku t'lah tahu kita memang tak mungkin
Tapi mengapa kita selalu bertemu
Aku tlah tahu hati ini harus menghindar
Namun kenyataan ku tak bisa
Maafkan aku, terlanjur mencinta

Bila memang hatimu untuk aku
Salahkah ku berharap, berharap kau memilih diriku cinta

Tapi mengapa kita selalu bertemu
Aku tlah tahu hati ini harus menghindar
Namun kenyataan ku tak bisa
Maafkan aku, terlanjur mencinta

Aku t'lah tahu kita memang tak mungkin
Tapi mengapa kita selalu bertemu dan bertemu
Aku tlah tahu hati ini harus menghindar
Namun kenyataan ku tak bisa
Maafkan aku, terlanjur mencinta
Ternyata hati, tak sanggup melupa




Mas Yovie Widianto memang jago banget bikin lirik dan lagu. 
Maestro!

Nangis Dleweran karena Terlanjur Mencinta

Nangis Dleweran karena Terlanjur Mencinta Versi mana yang lebih kamu sukai d ari lagu #TerlanjurMencinta ciptaan Yovie Widianto yang barusa...

Kamis, 25 Juni 2020


Masakan Italia Yang Mengundang Selera

Kemarin saat di salah satu diskusi tentang kepenulisan ada yang menyebut tentang Saltimbocca, otomatis langsung browsing dan searching dong. Dan ternyata itu nama masakan Italia.

Saltimbocca adalah hidangan Italia klasik yang jika diterjemahkan menjadi "melompat di dalam mulut". Makanan ini biasanya dibuat dengan daging sapi muda namun saltimbocca juga dapat dibuat menggunakan daging ayam dengan cara yang serupa. Hasilnya adalah hidangan yang sangat penuh dan kaya rasa dan dapat dimakan bersama dengan pasta, salad atau gnocchi

Bahan:

6 potong daging steik sapi muda/dada ayam
6 lembar daun sage
6 iris prosciutto (irisan daging ham tipis dan berbumbu khas Italia)
125 gram tepung terigu serba guna
2 sdm mentega tawar
1 siung bawang putih
1 sdm daun peterseli gepeng cincang
2 sdm kaldu ayam dan sayuran
Dry white wine (anggur putih kering atau tidak manis)/sari perasan lemon
Garam
Lada

Ini Cara Masaknya ya.
1
Mempersiapkan Daging Sapi Muda
Belilah daging steik sapi muda bagian girello. Bagian ini adalah potongan dari bagian belakang kaki sapi. Satu daging steak girello ukuran besar dapat dipotong secara mendatar untuk menghasilkan enam steik saltimbocca Anda. Anda juga dapat mengganti irisan daging ini dengan enam daging dada ayam.

2
Letakkan keenam daging steik atau dada ayam Anda di atas talenan. Gepengkan potongan-potongan daging tersebut secara merata dengan palu daging hingga ketebalannya mencapai 0,6 cm.


3
Letakkan selembar daun sage di atas setiap potongan daging.

4
Letakkan seiris prosciutto di atas setiap daun-daun sage tadi. Pukul-pukul kembali potongan daging tersebut beberapa kali untuk memantapkan posisi irisan prosciutto dan daun sage pada potongan daging itu.




Memasak Saltimbocca
1
Panaskan mentega dalam wajan di atas api sedang. Anda dapat mengganti mentega dengan minyak zaitun, namun dalam hidangan tradisional, saltimbocca dimasak menggunakan mentega.


2
Tuangkan tepung ke dalam piring ceper. Taburi bagian atas tepung dengan garam dan lada yang banyak. Aduk hingga semuanya tercampur rata dengan garpu.


3
Tunggu hingga menteganya panas. Kemudian, secara hati-hati baluri bagian depan dan belakang potongan daging sapi muda tadi dengan lapisan tepung.


4
Masukkan potongan daging yang sudah dibalut tepung ke dalam wajan dengan sisi yang diberi prosciutto menghadap ke bawah.


5
Goreng sisi pertama daging itu hingga renyah, selama tiga menit. Kemudian balik setiap potongan daging tersebut. Tumis sisi kedua daging selama dua menit.


6
Cacah bawang putih dan peterseli. Taburkan keduanya di atas potongan-potongan daging tersebut dan kemudian balik daging-daging itu sekali lagi.


Membuat Saus
1
Tuang kaldu ayam atau kaldu sayur kesukaan Anda ke dalam panci.


2
Tambahkan sedikit anggur putih. Anda juga dapat menambahkan sedikit sari perasan lemon sebagai ganti anggur putih, atau memasukkan keduanya.

3
Biarkan masakan tersebut mendidih di atas api kecil hingga sausnya berkurang sepertiga dari jumlah awalnya.


4
Angkat daging dari wajan dan letakkan di piring Anda. Tuangkan sausnya dengan sendok di atas daging tersebut.


Tips
Jika ayam atau potongan daging sapi muda nampak terlalu besar untuk bisa muat dalam wajan, kita bisa menggulung potongan-potongan daging, mengencangkannya dengan tusuk gigi agar bisa dimasak.


Ada aneka jenis masakan Italia lainnya. Ini nih di antaranya:

Gnocchi merupakan makanan sejenis pangsit yang terbuat dari tepung terigu. Agar terlihat lebih menarik hati oara pecinta kuliner, makanan khas yang satu ini disajikan dalam bermacam rasa dan juga gaya.



Ravioli terbuat dari ayam , ada ricottanya. biasa dihidangkan dalam porsi kecil, sehingga cocok bagi mereka yang sedang menjalankan program diet.



pasta Carbonara memiliki ciri-ciri krim kental sehingga membuat pasta ini memiliki rasa yang khas.




Tiramisu disajikan sebagai hidangan penutup, memiliki cita rasa coklat, vanila, serta kopi yang dipadukan menjadi satu sehingga rasanya manis manis pahit.




gelato merupakan es krim khas Italia yang terkenal memiliki tekstur padat dan tentunya es krim ini merupakan es krim yang rendah lemak.






Pizza Margherita Khas Italia

Spaghetti merupakan salah satu menu makanan terfavorit yang berbentuk mie. Makanan ini biasanya disajikan dengan berbagai toping seperti Spaghetti Saus Tomat, Saus Bolognese dll




Linguine Alle Vongole, sejenis pasta yang diberi saus dari campuran kerang dan bumbu khusus





Lasagna terbuat dari campuran tepung terigu yang biasanya di dalamnya diisi dengan keju, daging, sosis, mozzarella, sayuran, makanan laut, dll






Ayam Parmigiana berbahan dasar ayam yang di masak dengan cara digoreng dan diberi tambahan saus serta keju. biasanya dihidangkan bersama dengan spaghetti.



Fettucini Alfredo merupakan salah satu jenis makanan pasta yang dihidangkan dengan tambahan saus krim





Veal Marsala berbahan dasar daging sapi, daging sirloin yang lembut.
atau daging ayam. Marsala ini merupakan saus anggur khas Italia yang telah dicampur dengan jamur dan daun bawang.



Pasta Primavera cocok bagi mereka yang vegetarian. mengkombinasikan sayuran segar dengan pasta dan tak lupa tambahan saus berwarna cerah






shrimp Fra Diavolo. Menu makanan yang satu ini merupakan salah satu makanan yang terbuat dari bahan dasar udang yang dimasak dengan menggunakan campuran pasta serta saus dengan merica dan bawang putih sebagai bumbu tambahannya.




Penne alla Vodka terbuat dari pasta dengan krim kental dan tambahan bawang, tomat, daging atau sosis. Saus terbuat dari krim, marinara, vodka, dan kemangi



Risotto berbahan dasar beras. menggunakan bawang putih, anggur, daging, keju

Tortellini berjenis pasta. di dalamnya campuran keju serta daging. disajikan dengan kuah kental yang terbuat dari kaldu sapi.





Panini sandwich diisi dengan ham, keju, serta daging asap







Panna Cotta dimasak dengan bahan dasar susu, krim, gula, dan gelatin yang dididihkan lalu didinginkan dalam mesin pendingin. dihidangkan dengan buah-buahan.




makanan pembuka hampir mirip dengan sosis berukuran besar, terbuat dari campuran  daging sapi. ada juga yang daging babi.



Ayo kapan kita ke  Italia? :))

Masakan Italia Yang Mengundang Selera

Masakan Italia Yang Mengundang Selera Kemarin saat di salah satu diskusi tentang kepenulisa n ada yang menyebut tentang Saltimbocca, otomati...

Selasa, 23 Juni 2020

3 Ciri Pemimpin Hebat


Para pemimpin besar meninggalkan dunia dengan mempersembahkan sesuatu yang  lebih baik daripada yang mereka dulu temukan. Ini menyiratkan bahwa mereka mengambil tanggung jawab dan komitmen dalam segala hal yang mereka lakukan. Mereka membuat dampak positif dan bermakna dalam kehidupan orang-orang karena mereka memahami bahwa kepemimpinan adalah tentang orang dan untuk orang. 

Para pemimpin hebat memperhatikan kepentingan dan kesejahteraan orang lain - itu adalah bagian dari DNA mereka. Mereka memimpin dengan hati dan pikiran. Sebagai hasilnya, mereka dapat mempengaruhi orang dengan cara yang mengagumkan dan terhormat. Para pemimpin hebat ini memiliki kualitas yang membuat mereka tak terlupakan.

 Mereka juga jenis pemimpin hebat yang menciptakan warisan berharga yang bertahan selamanya. Kutipan oleh Maya Angelou ini mewujudkan semangat para pemimpin besar di mana-mana: "Saya telah belajar bahwa orang akan melupakan apa yang Anda katakan, orang akan melupakan apa yang Anda lakukan, tetapi orang tidak akan pernah melupakan bagaimana Anda membuat mereka merasa." 

1. Mereka menghormati orang. 

Hal pertama yang membuat para pemimpin hebat menjadi tak terlupakan adalah rasa hormat yang mereka berikan kepada orang lain. Mereka memahami bahwa semua manusia pantas dihormati, apa pun yang terjadi. Sementara mereka mungkin tidak setuju dengan orang-orang di kali, mereka tidak setuju dengan cara yang hormat. Filosofi seorang pemimpin yang hebat berakar pada rasa hormat karena mereka percaya itu adalah dasar untuk semua hubungan dalam bisnis dan dalam kehidupan. Mereka tahu bahwa rasa hormat membuka jalan untuk mendapatkan kepercayaan. 

2. Mereka berempati dengan orang-orang. 

Pemimpin hebat dapat terhubung dengan orang-orang secara emosional. Ini adalah kualitas lain yang membuat mereka tak terlupakan. Mereka mendengarkan dan mencoba melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain; dengan kata lain, mereka menempatkan diri pada posisi seseorang untuk membayangkan bagaimana rasanya berada dalam situasi mereka. Para pemimpin hebat sangat pandai mengenali emosi orang lain. Tujuan mereka adalah untuk menumbuhkan lingkungan keterbukaan dan pemahaman tanpa menghakimi. 

3. Mereka peduli dengan orang lain.
Sangat penting bagi para pemimpin hebat untuk menyediakan alat dan dukungan bagi orang lain untuk melakukan pekerjaan mereka secara efisien. Mereka menunjukkan minat yang tulus dalam membuat hidup orang lebih memuaskan. Memedulikan orang lain adalah tindakan mulia yang dilakukan pemimpin yang hebat dan tak terlupakan dengan penuh sukacita. 

Para pemimpin besar memenuhi janji-janji mereka dengan menepati janji mereka. Kata-kata mereka selaras dengan tindakan mereka. Mereka menghargai orang dan berkontribusi untuk membuat mereka sukses


UPCOMING EVENT

Workshop atau kelas webinar Writerpreneurship di Era New Normal 29 Juni 2020  





3 Ciri Pemimpin Hebat

3 Ciri Pemimpin Hebat Para pemimpin besar meninggalkan dunia dengan mempersembahkan sesuatu yang  lebih baik daripada yang mereka du...

Senin, 22 Juni 2020

Tips Nulis Ala Neil Gaiman
Aku kenal nama Neil Gaiman dari salah satu guru menulisku.
Sejak itu aku hobby banget baca tulisan Neil Gaiman yang memang bagus-bagus. Juga mengikuti tips-tipsnya. Berikut di antaranya. Cekidot.

1. Tulis.
2. Susun kata demi kata. Cari kosakata yang paling tepat lalu tuliskan.
3. Selesaikan apa yang kamu tulis. Apa pun yang harus kamu lakukan agar tulisan tersebut selesai.
4. Sisihkan naskah yang sudah selesai. Lalu baca seolah-olah belum pernah kamu baca sebelumnya. Tunjukkan pada teman-teman yang kamu hargai pendapatnya, dan orang-orang yang mungkin akan menyukai bacaan semacam itu.
5. Ketika seseorang memberitahumu ada yang janggal atau aneh menurut mereka, mereka hampir selalu benar. Ketika mereka memberitahumu bagian mana yang salah dan bagaimana cara membenahinya, mereka hampir selalu salah.
6. Perbaiki kesalahanmu. Cepat atau lambat sebelum naskah itu mencapai kesempurnaan, kamu harus melepasnya dan memulai menulis yang baru. Mencari kesempurnaan itu seperti mengejar batas langit, maka teruslah bergerak.
7. Tertawalah pada leluconmu sendiri.
8. Peraturan utama dari menulis adalah jika kamu mengerjakannya dengan kepercayaan tinggi, kamu dibolehkan melakukan apa pun dengan caramu sendiri. Jadi, tulislah ceritamu selayaknya kisah tersebut harus tertulis. Tulis dengan jujur dan berikan usaha terbaikmu.

Neil Gaiman Terbitkan Buku Anak soal Bajak Laut PERPUSTAKAAN, MEMBACA, IMAJINASI
Baca juga nih pandangan Neil Gaiman tentang Mengapa Masa Depan Kita Bergantung Pada Perpustakaan, Membaca, dan Lamunan


Membaca fiksi atau membaca untuk kesenangan adalah salah satu hal penting yang bisa dilakukan.

Selama tiga puluh tahun, saya mencari penghasilan melalui kata-kata, Kebanyakan tentang membuat hal-hal dan menuliskannya. Tentu saja, saya ingin agar orang-orang membaca; melahirkan perpustakaan dan pustakawan; atau membantu menumbuhkan kecintaan terhadap membaca dan tempat-tempat membaca.

Semuanya berubah ketika kita membaca.
Saya ingin menceritakan tentang apa yang bisa dilakukan dengan membaca dan apa manfaatnya. Suatu ketika saat saya berada di New York dan mendengarkan pembicaraan tentang pembangunan penjara oleh pihak swasta,-- perlu diketahui, penjara adalah sebuah industri yang bertumbuh pesat di Amerika. Industri penjara tersebut membutuhkan rencana pertumbuhan masa depannya--berapa banyak sel yang mereka butuhkan? Berapa banyak tahanan yang akan ada 15 tahun dari sekarang? Rencana–rencana pertumbuhan ini membutuhkan kemampuan prediksi yang baik, dan ternyata mereka memprediksinya dengan mudah. Menggunakan perhitungan sederhana, dengan pertanyaan berapa banyak anak usia 10 dan 11 tahun yang buta huruf pada sebuah daerah. Dan tentu saja, termasuk mereka yang tidak terbiasa membaca atau membaca tidak menjadi sebuah kebiasaan yang menyenangkan.
Hal ini tidak berarti bahwa masyarakat literasi tidak melakukan tindakan kriminal. Tetapi, kedua hal tersebut betul-betul memiliki korelasi yang nyata. Beberapa dari korelasi tersebut datang dari sesuatu yang sangat sederhana: masyarakat melek huruf yang membaca fiksi. 

Fiksi memiliki dua kegunaan. Pertama, gerbang untuk kecanduan membaca. Dorongan untuk mengetahui kejadian berikutnya, keinginan membalik halaman, kebutuhan untuk melanjutkan, walaupun hal itu sulit, karena seseorang dalam masalah dan kita harus tahu bagaimana akhirnya, hal itu adalah dorongan yang nyata untuk terus terpaku dan tak sabar membuka halaman demi halaman. Hal itu mendorongmu untuk mempelajari kosa kata baru, gagasan baru, untuk tetap melanjutkan dan menemukan bahwa membaca adalah hal yang menyenangkan. Sekali kita mempelajarinya, kita berada di jalan untuk membaca segalanya.
Membaca adalah kunci. Beberapa tahun lalu, hadir wacana bahwa kita hidup di dunia pasca-literasi, di mana kemampuan untuk membuat kata-kata yang masuk akal sangat berlebihan. Tetapi, itu sudah jauh terlewati. Kata-kata kini lebih penting dari yang pernah ada. Kita menjejaki dunia dengan kata-kata, dan karena dunia tergelincir ke media digital, kita perlu mengikuti, untuk berkomunikasi dan memahami apa yang kita baca. Orang-orang yang tidak bisa mengerti satu sama lain tidak mampu bertukar gagasan, tidak bisa berkomunikasi.
Cara yang paling sederhana untuk memastikan peningkatan jumlah anak-anak melek huruf adalah mengajari mereka membaca, dan menunjukkan bahwa membaca adalah kegiatan yang menyenangkan. Secara sederhana berarti menemukan buku yang mereka sukai, memberikan akses untuk itu, dan membiarkan mereka membacanya.

 Saya berpikir tidak ada buku yang buruk untuk anak-anak. Sekarang dan nanti, hal itu menjadi tren di antara orang-orang dewasa untuk menjadi bagian dari buku anak-anak. Entah itu genre atau seorang penulis. Lalu, mereka memberitahukan tentang buku yang buruk atau buku yang seharusnya tidak dibaca anak-anak. Saya menyaksikannya beberapa kali; Enid Blyton dikatakan sebagai penulis yang buruk, juga RL Stine, dan beberapa lainnya. Komik dicela sebagai pendorong buta huruf. Omong kosong. Hal itu adalah keangkuhan dan kebodohan. 


Tidak ada penulis yang jelek bagi anak-anak, karena setiap anak berbeda. Mereka bisa menemukan cerita yang mereka butuhkan, dan membawa diri mereka ke dalamnya. Ide lama tidak basi dan usang, sebab banyak cerita yang menjadi pengalaman pertama bagi mereka. Jangan menakut-nakuti anak-anak untuk membaca hanya karena merasa mereka membaca hal yang salah. Bacaan yang kita benci bisa jadi adalah jalan menemukan buku yang kita sukai. 
Dan, semua orang punya selera yang berbeda, bukan?
Pemahaman orang dewasa bisa dengan mudah menghancurkan kesenangan membaca anak-anak: menghentikan mereka membaca hal-hal yang mereka senangi atau memberi bacaan-bacaan yang kita suka-bacaan layak tetapi membosankan. Kalau ini terjadi, anak–anak berakhir dengan meyakini bahwa membaca itu tidak keren, buruk, dan tidak menyenangkan.
Kita butuh anak-anak kita untuk menaiki jenjang membaca, atau punya kemampuan membaca yang baik; apapun bacaan yang mereka nikmati akan memajukan mereka, tangga demi anak tangga, dalam literasi. 

Hal kedua yang fiksi lakukan adalah membangun empati. Ketika kita menonton TV atau film, kita melihat hal-hal yang terjadi pada orang lain. Prosa fiksi adalah sesuatu yang kita bangun dari 26 huruf dan sekumpulan tanda baca, dan masing-masing dari kita, menggunakan imajinasi sendiri, menciptakan dunia dan mengisinya dengan orang-orang dan melihat melalui mata orang lain. 
Kita kemudian merasakan sesuatu, mengunjungi tempat-tempat dan dunia yang tidak pernah kita ketahui. Kita belajar bahwa semua orang di luar sana adalah diri kita sendiri, tentu saja. Kita menjadi orang lain, dan ketika berputar kembali ke dunia sendiri, kita tiba-tiba saja berubah.
Empati adalah alat untuk membangun orang-orang dalam kelompok agar kita lebih dari sebuah obsesi diri sendiri. Kita juga menemukan sesuatu yang penting untuk membuat jalan bagi diri sendiri. Misalnya dunia tidak semestinya seperti ini, semua hal bisa atau mungkin harus berubah.
Pada tahun 2007 saat berada di China untuk mengikuti seminar tentang fiksi-ilmiah dan fantasi. Seminar atau konvensi tersebut adalah untuk pertama kalinya dalam sejarah China. Pada satu titik, saya bertanya pada seorang pejabat, Mengapa? Bukankah Fiksi-ilmiah telah lama tidak disetujui di China ? Apa yang berubah?
Sederhana saja, katanya. Orang-orang Cina sangat brilian membuat hal-hal yang sudah direncanakan oleh orang lain. Tetapi mereka tidak berinovasi dan menciptakan, mereka hanya mengerjakan. Mereka tidak berimajinasi. Itu sebabnya China mengirimkan delegasi ke Amerika Serikat, mengunjungi Apple, Microsoft, Google dan mereka menanyai orang-orang di sana yang menciptakan masa depan. Mereka menemukan bahwa mereka semua membaca fiksi-ilmiah ketika remaja.

Fiksi mampu menunjukkan dunia yang lain. Hal itu bisa membawa ke tempat-tempat yang tidak pernah kita kunjungi. Sekali mengunjungi dunia lain, kita seperti memakan buah ajaib. Kita tidak akan pernah lagi hanya menjadi bagian dari dunia tempat kita tumbuh. Kita mungkin akan kecewa. Namun, perasaan kecewa adalah hal yang baik. Orang-orang yang kecewa mampu memodifikasi dan mengimprovisasi dunia mereka: membuatnya lebih baik, membuatnya berbeda.
Selagi kita berada dalam pokok persoalan ini, saya ingin mengatakan beberapa hal tentang eskapisme. Saya mendengar istilah itu dilarang seperti hal itu adalah hal buruk. Jika saja fiksi-eskapis adalah candu yang murahan digunakan oleh pengacau, orang bodoh, dan penipu. Lalu fiksi yang berharga, untuk orang dewasa dan anak-anak, hanya fiksi yang meniru-niru saja, bercermin pada yang paling buruk di dunia ini ditemukan pembaca dalam diri mereka sendiri.
Jika kita terperangkap dalam situasi yang mustahil, di tempat yang tidak menyenangkan, dengan orang yang tidak kita senangi, lalu seseorang datang mengajak ke tempat pelarian sementara, mengapa kita tidak menerimanya? 


Dan fiksi-eskapis adalah fiksi yang membuka pintu, menunjukkan cahaya matahari di luar sana, memberikan tempat di mana kita terkendali, bersama orang-orang yang kita inginkan (dan buku adalah tempat yang nyata, jangan membuat kesalahan dengan itu); dan yang paling penting, selama pelarian tersebut, buku juga bisa memberi kita pengetahuan tentang dunia dan keadaan yang sulit, memberi senjata, pelindung diri: hal nyata yang bisa kita ambil kembali ke dalam penjara. Keahlian, pengetahuan, dan alat yang bisa kita gunakan untuk pelarian yang sebenarnya.
Sebagaimana JRR Tolkien mengingatkan kita, satu-satunya orang yang menentang pelarian adalah sipir.

Cara lain untuk menghancurkan kecintaan anak membaca, tentu saja, adalah memastikan tidak ada buku apa pun di sekitarnya, tidak ada tempat untuk mereka membaca buku-buku itu. 
Saya beruntung. Saya memiliki perpustakaan lokal yang luar biasa hidup. Saya memiliki orang tua yang dapat dibujuk untuk menurunkan saya di perpustakaan dalam perjalanan mereka untuk bekerja di liburan musim panas, dan di sana ada jenis pustakawan yang tidak mempermasalahkan anak kecil tanpa pendamping yang kembali ke perpustakaan anak-anak setiap pagi dan bekerja melalui katalog kartu, mencari buku dengan genre hantu atau sihir atau roket di dalamnya, mencari vampir atau detektif atau penyihir atau keajaiban. Dan ketika saya selesai membaca perpustakaan anak-anak, saya mulai membaca buku-buku dewasa.

Mereka pustakawan yang baik, menyukai buku dan terlebih suka pada buku-buku yang sedang dibaca. Mereka mengajari saya cara memesan buku dari perpustakaan lain dan tentang pinjaman antar perpustakaan. Mereka tidak punya keangkuhan tentang apa pun yang saya baca. Mereka sepertinya menyukai bahwa ada bocah lelaki bermata lebar yang suka membaca, dan akan berbicara dengan saya tentang buku-buku yang saya baca, mereka akan memberitahukan saya buku-buku lain dalam seri, mereka akan membantu. Mereka memperlakukan saya sebagai pembaca lain - tidak kurang atau lebih - yang berarti mereka memperlakukan saya dengan hormat. Saya tidak terbiasa diperlakukan dengan hormat sebagai seorang anak berusia delapan tahun.
Tetapi perpustakaan adalah tentang kebebasan. Kebebasan untuk membaca, kebebasan ide, kebebasan berkomunikasi. Mereka adalah tentang pendidikan (yang berarti pendidikan tidak selesai begitu kita lulus dari sekolah, kampus), tentang hiburan, tentang membuat ruang yang aman, dan tentang akses ke informasi.
Saya khawatir bahwa di sini di abad 21 orang salah paham apa perpustakaan dan tujuan mereka. Jika Anda menganggap perpustakaan sebagai rak buku, mungkin tampak kuno atau ketinggalan jaman di dunia di mana sebagian besar, tapi tidak semua, buku-buku di cetak ada secara digital. Tapi itu kehilangan intinya.

Saya pikir itu ada hubungannya dengan sifat informasi. Informasi memiliki nilai, dan informasi yang tepat memiliki nilai yang sangat besar. Untuk semua sejarah manusia, kita telah hidup di zaman kelangkaan informasi, dan memiliki informasi yang dibutuhkan selalu penting, dan selalu bernilai sesuatu: kapan menanam tanaman, di mana menemukan hal-hal, peta dan sejarah dan cerita - mereka selalu baik untuk makan dan perusahaan. Informasi adalah hal yang berharga, dan mereka yang memilikinya atau dapat memperolehnya dapat mengenakan biaya untuk layanan itu.
Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah beralih dari ekonomi berbasis informasi yang langka menuju yang didorong oleh kelebihan informasi. Menurut Eric Schmidt dari Google, sekarang ini, setiap dua hari, umat manusia menciptakan sebanyak mungkin informasi yang kita peroleh dari fajar peradaban sampai 2003. Itu sekitar lima exobytes data per hari. 
Tantangannya menjadi, tidak menemukan bahwa tanaman langka tumbuh di padang pasir, tetapi menemukan tanaman tertentu yang tumbuh di hutan. Kami akan membutuhkan bantuan untuk menavigasi informasi tersebut untuk menemukan hal yang benar-benar kami butuhkan.




Perpustakaan adalah tempat yang dikunjungi orang untuk mendapatkan informasi. Buku hanyalah puncak dari gunung es informasi: mereka ada di sana, dan perpustakaan dapat memberikan Anda secara bebas dan legal dengan buku-buku. 
Lebih banyak anak meminjam buku dari perpustakaan daripada sebelumnya - buku-buku dari segala jenis: kertas dan digital dan audio. Tetapi perpustakaan juga, misalnya, menempatkan orang-orang, yang mungkin tidak memiliki komputer, yang mungkin tidak memiliki koneksi internet, dapat online tanpa membayar apa pun: sangat penting ketika cara Anda mencari tahu tentang pekerjaan, melamar pekerjaan atau mengajukan permohonan untuk manfaat semakin bermigrasi secara eksklusif online. Pustakawan dapat membantu orang-orang ini menavigasi dunia itu.
The Ocean at the End of the Lane By Gaiman, Neil,, - OpenTrolley ...
Saya tidak percaya bahwa semua buku akan atau harus bermigrasi menjadi digital : seperti yang pernah ditunjukkan oleh Douglas Adams kepada saya, lebih dari 20 tahun sebelum Kindle muncul, buku fisik seperti hiu. Hiu sudah tua: ada hiu di lautan sebelum dinosaurus. Dan alasan mengapa hiu masih ada adalah hiu lebih baik menjadi hiu daripada yang lain. Buku-buku fisik sulit, sulit dihancurkan, nyaman di tangan Anda: buku-buku itu bagus untuk menjadi buku, dan akan selalu ada tempat bagi mereka. Mereka termasuk dalam perpustakaan, sama seperti perpustakaan telah menjadi tempat Anda dapat pergi untuk mendapatkan akses ke ebook, dan audiobook dan DVD dan konten web.
Perpustakaan adalah tempat yang merupakan tempat penyimpanan informasi dan memberikan setiap warga negara akses yang sama untuk itu. Itu termasuk informasi kesehatan. Dan informasi kesehatan mental. Ini adalah ruang komunitas. Itu adalah tempat yang aman, tempat berlindung dari dunia. Ini adalah tempat dengan pustakawan di dalamnya. Seperti apa perpustakaan masa depan itu adalah sesuatu yang harus kita bayangkan sekarang.

Literasi sekarang ini menjadi lebih penting daripada sebelumnya, di dunia teks dan email ini, dunia informasi tertulis. Kita perlu membaca dan menulis, kita membutuhkan warga global yang dapat membaca dengan nyaman, memahami apa yang mereka baca, memahami nuansa, dan membuat diri mereka dipahami. Perpustakaan adalah gerbang ke masa depan. Jadi sangat disayangkan bahwa, di seluruh dunia, kami mengamati otoritas lokal mengambil kesempatan untuk menutup perpustakaan sebagai cara mudah untuk menghemat uang, tanpa menyadari bahwa mereka mencuri dari masa depan untuk membayar hari ini. Mereka menutup gerbang yang harus dibuka.


Menurut sebuah studi baru-baru ini oleh Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan, Inggris adalah "satu-satunya negara di mana kelompok usia tertua memiliki kemahiran yang lebih tinggi dalam melek huruf dan berhitung daripada kelompok termuda, setelah faktor-faktor lain, seperti jenis kelamin, latar belakang sosial-ekonomi dan jenis pekerjaan diperhitungkan ”. Atau dengan kata lain, anak-anak kita dan cucu kita kurang bisa membaca dan kurang berhitung dibandingkan kita.
Mereka kurang mampu menavigasi dunia, memahaminya untuk menyelesaikan masalah. Mereka dapat lebih mudah dibohongi dan disesatkan, akan kurang mampu mengubah dunia di mana mereka menemukan diri mereka sendiri, kurang bisa dipekerjakan.
Semua ini. Dan sebagai sebuah negara, Inggris akan tertinggal di belakang negara-negara maju lainnya karena tidak akan memiliki tenaga kerja yang terampil. Buku adalah cara kita berkomunikasi dengan orang mati. Cara kita belajar dari orang-orang yang tidak lagi bersama kita, bahwa manusia telah membangun dirinya sendiri, berkembang, membuat pengetahuan bertambah daripada sesuatu yang harus dipelajari kembali, berulang kali. Ada cerita-cerita yang lebih tua dari kebanyakan negara, kisah-kisah yang telah lama mengungguli budaya dan bangunan di mana mereka pertama kali diberitahu.


Saya pikir kita memiliki tanggung jawab untuk masa depan. Tanggung jawab dan kewajiban kepada anak-anak, bagi orang dewasa anak-anak itu akan menjadi, bagi dunia mereka akan menemukan diri mereka hidup. Kita semua - sebagai pembaca, sebagai penulis, sebagai warga negara - memiliki kewajiban. Saya pikir saya akan mencoba dan menguraikan beberapa kewajiban ini di sini. Saya percaya kita memiliki kewajiban untuk membaca untuk kesenangan, secara pribadi dan di tempat umum. Jika kita membaca untuk kesenangan, jika orang lain melihat kita membaca, maka kita belajar, kita melatih imajinasi kita. Kita menunjukkan kepada orang lain bahwa membaca adalah hal yang baik.
Kita memiliki kewajiban untuk mendukung perpustakaan. Untuk menggunakannya, mendorong orang lain berkunjung ke perpustakaan dan memprotes penutupan perpustakaan. Jika Anda tidak menghargai perpustakaan maka Anda tidak menghargai informasi atau budaya atau kebijaksanaan. Anda membungkam suara masa lalu dan Anda merusak masa depan.
Kita memiliki kewajiban untuk membacakan kepada anak-anak kita. Untuk membaca hal-hal yang mereka sukai. Untuk membacakan cerita bagi mereka walau kita sudah bosan mendengar cerita tersebut. Untuk menjadi sebuah suara, membuat membaca menjadi menarik dan tidak berhenti membaca kepada mereka hanya karena mereka belajar membaca untuk diri mereka sendiri. Gunakan waktu membaca nyaring sebagai ruang ikatan antara kita dan anak, saat tak ada pesan dan panggilan pada ponsel yang perlu diperiksa, dan ketika kita memilih mengenyampingkan gangguan dunia demi : membaca.
Kita memiliki kewajiban untuk menggunakan bahasa. Untuk mendorong diri sendiri: untuk mencari tahu arti kata-kata dan cara menerapkannya, untuk berkomunikasi dengan jelas, untuk mengatakan apa yang kita maksud. Kita tidak boleh mencoba membekukan bahasa, atau berpura-pura itu adalah hal mati yang harus dihormati, tetapi kita harus menggunakannya sebagai makhluk hidup, yang mengalir, yang meminjam kata-kata, yang memungkinkan makna dan lafal berubah seiring waktu.


Kita para penulis - dan terutama penulis untuk anak-anak, untuk semua penulis - memiliki kewajiban kepada pembaca: adalah kewajiban untuk menulis hal-hal yang benar, terutama penting ketika kita membuat cerita tentang orang-orang yang tidak ada di tempat-tempat yang tidak pernah ada - untuk memahami bahwa Kebenaran tidak dalam apa yang terjadi tetapi apa yang memberitahu kita tentang siapa kita. 

Fiksi adalah kebohongan yang mengatakan kebenaran, bagaimanapun juga. Kita memiliki kewajiban untuk tidak membuat pembaca bosan, tetapi untuk membuat mereka perlu membalik halaman. Salah satu obat terbaik untuk pembaca yang enggan, bagaimanapun juga, adalah sebuah kisah yang tidak dapat mereka hentikan dari membaca. Dan sementara kita harus memberi tahu para pembaca kita hal-hal yang benar dan memberi mereka senjata dan memberi mereka baju besi dan meneruskan kebijaksanaan apa pun yang kita kumpulkan dari masa tinggal kita yang singkat di dunia hijau ini, kita memiliki kewajiban untuk tidak berkhotbah, bukan untuk memberi ceramah, untuk tidak memaksa orang yang sudah dicernakan moral dan pesan-pesan di leher pembaca kita seperti burung dewasa memberi makan bayi-bayi mereka. Dan kita memiliki kewajiban tidak pernah, dalam keadaan apa pun, untuk menulis apa pun untuk anak-anak yang tidak ingin kita baca sendiri.
Kita berkewajiban untuk memahami dan mengakui bahwa sebagai penulis untuk anak-anak kita melakukan pekerjaan penting, karena jika kita mengacaukannya dan menulis buku-buku membosankan yang membuat anak-anak menjauh dari membaca dan dari buku, kita telah mengurangi masa depan kita sendiri dan mereka .
Kita semua - orang dewasa dan anak-anak, penulis dan pembaca - memiliki kewajiban untuk melamun dan berimajinasi. Kita memiliki kewajiban untuk membayangkan. Sangat mudah untuk berpura-pura bahwa tidak ada yang dapat mengubah apa pun, bahwa kita berada di dunia di mana masyarakat sangat besar dan individu kurang dari tidak ada: sebuah atom di dinding, sebutir beras di sawah. Tetapi kenyataannya adalah, individu mengubah dunia mereka berulang-ulang, individu membuat masa depan, dan mereka melakukannya dengan membayangkan bahwa hal-hal dapat berbeda.



Lihatlah di sekeliling Anda: Saya bersungguh-sungguh. Jeda, sejenak dan lihat sekeliling ruangan tempat Anda berada. Saya akan menunjukkan sesuatu yang sangat jelas sehingga cenderung terlupakan. Ini adalah: bahwa semua yang dapat Anda lihat, termasuk dinding, pada suatu titik, dibayangkan. Seseorang memutuskan lebih mudah duduk di kursi daripada di tanah dan membayangkan kursi itu. Seseorang harus membayangkan bagaimana saya bisa berbicara dengan Anda di London sekarang tanpa kita semua kehujanan. Ruangan ini dan barang-barang di dalamnya, dan semua hal lain di gedung ini, kota ini, ada karena, berulang-ulang dan lebih, orang-orang membayangkan hal-hal.

Kita memiliki kewajiban untuk membuat semuanya menjadi indah. Bukan untuk meninggalkan dunia yang lebih buruk daripada yang kita temukan, bukan untuk mengosongkan lautan, tidak meninggalkan masalah kita untuk generasi berikutnya. Kita berkewajiban untuk membersihkan diri kita sendiri, dan tidak meninggalkan anak-anak kita dengan dunia yang telah kita pahami dengan kepanikan, singkat, dan pincang.
Kita memiliki kewajiban untuk memberi tahu politisi, apa yang kita inginkan, untuk memilih melawan politisi dari pihak mana pun yang tidak memahami nilai membaca dalam menciptakan warga negara yang layak, yang tidak ingin bertindak untuk melestarikan dan melindungi pengetahuan dan mendorong keaksaraan. Ini bukan masalah politik partai. Ini adalah masalah kemanusiaan biasa.
Albert Einstein suatu ketika diberi sebuah pertanyaan, bagaimana kita bisa membuat anak-anak kita cerdas ? 
Jawabannya sederhana dan bijaksana. "Jika Anda ingin anak-anak Anda menjadi cerdas," katanya, "bacakanlah dongeng. Jika Anda ingin mereka menjadi lebih cerdas, bacalah lebih banyak dongeng. ”
Dia mengerti nilai membaca, dan membayangkan. 
Saya berharap kita dapat memberi anak-anak kita sebuah dunia di mana mereka akan membaca, membayangkan, dan memahami.

UPCOMING EVENT


Oh ya, insya Allah juga akan ada workshop atau kelas webinar Writerpreneurship di Era New Normal 29 Juni 2020 nanti. 





Selamat menikmati perjalanan menulismu!

Tips Nulis Ala Neil Gaiman

Tips Nulis Ala Neil Gaiman Aku kenal nama Neil Gaiman dari salah satu guru menulisku. Sejak itu aku hobby banget baca tulisan Neil Gaima...

 

DeMagz © 2015 - Designed by Templateism.com, Distributed By Blogger Templates