Colourful Journal for Beautiful Life

beautiful journal for colourful life

Senin, 20 Juli 2020

Refleksi Webinar Arsitektur Masjid Demak

Refleksi Webinar Arsitektur Masjid Demak


Alhamdulillah Sabtu kemarin Refleksi Webinar Arsitektur Masjid Agung Demak berlangsung sukses. Kali ini di webinar series yang pertama dari seri webinar promo buku Arsitektur Masjid Agung Demak  yang ditulis oleh dua belas orang penulis, aku kebagian sampur menjadi moderator.

12 Penulis Buku Arsitektur Masjid Agung Demak:

▪️Prof. Totok Roesmanto, M.Eng
▪️Dian Nafi, ST
▪️Prof. Dr. Ir. A. A. Ayu Oka Saraswati, MT
▪️Rosalia Rachma Rihadiani, S.T., M.Ars.
▪️Salmina Wati Ginting, ST, MT.
▪️Rusfina Widayati S.T., M.Sc
▪️Ir. Tri Wahyu Handayani, MT.
▪️Dr. Didit Widiatmoko Suwardikun, MDs
▪️Ir. Handajani Asriningpuri, M.T.
▪️Dr. Mohhamad Kusyanto, ST, MT.
Dwi Lindarto HadiNugroho


Universitas Mulawarman Kalimantan Timur menjadi tuan rumah pada webinar kali ini. Host-nya dari Unmul, Co-host nya pak Dwi Lindarto. Beliau juga membacakan puisinya di tengah-tengah antara beberapa sesi dari nara sumber.





Empat narasumber webinar kali ini mendedah arsitektur masjid agung Demak dari sisi struktur konstruksi, landscape, kenyamanam thermal dan desain visualnya.

Dr. Mohamad Kusyanto, ST MT
lahir di Demak 30 September 1973.
S1 dan S2 di Arsitektur, Universitas Diponegoro, Semarang
S3 di Program Doktor Arsitektur Institut Teknologi Bandung tahun 2019. Tahun 1998 bekerja di kontraktor CV. Erisa Banjarnegara. Tahun 2002 bekerja di pengembang PT. Tiga Paku Raja Semarang dan pada tahun 2004 bekerja sebagai dosen tetap di Jurusan Arsitektur Universitas Sultan Fatah Demak sampai sekarang.
Riset interest: struktur dan kontruksi, sains dan teknologi bangunan

Tulisan di buku berjudul:
Digitalisasi arsitektur demakan
Belajar Dari Saka Tatal


Rusfina Widayati, ST. MT
 lahir di Surabaya pada 26 januari 1978. Saat ini merupakan dosen aktif di Universitas Mulawarman di Samarinda Kalimantan Timur.  Menempuh pendidikan sarjana Arsitektur pada Universitas Brawijaya, Malang dan Magister Arsitektur pada Universitas Gadjahmada, Yogyakarta. Pernah menjadi awardee Pre-Doctoral Bridging Program dari Ristekdikti di Coventry University dan Short Course Program di University of Twente dari IsDB Project 4in1. 
Fokus penelitian yang dilakukan di bidang Arsitektur Vernakular dan pelestarian arsitektur, heritage.

Judul: adaptasi elemen lanskap di kawasan MAD terhadap konsep sustainability


Rosalia Rachma Rihadiani, ST. M Ars
lahir di Semarang pada 25 Oktober 1974. Berprofesi sebagai praktisi arsitek dan interior. Menempuh pendidikan  sarjana arsitektur di Unika Soegijapranta dan Magister di kampus yang sama. Mempunyai pengalaman di bidang organisasi terutama di Ikatan Arsitek Indonesia Jawa Tengah juga di Himpunan Desainer Interior Indonesia Cabang Semarang. Pengalaman dalam berprofesi membawa untuk mengabdikan diri dengan mengajar sebagai Dosen Tetap Terbatas di Unika Soegijapranata. Thesis Magisternya yang bertema ”Kenyamanan Thermal pada Bangunan Gereja dengan Status Cagar Budaya”  merupakan sebuah wujud kepedulian terhadap manusia dan alam ciptaan,  hal ini konsisten diangkat dalam buku Masjid Agung Demak

Judul: Kenyamanan Termal Arsitektur Masjid



Dr. Didit Widiatmoko Soewardikoen, MDs

 lahir di Malang tahun 1957, pendidikan S1 Desain Grafis Seni Rupa Institut Teknologi Bandung, lulus tahun 1983. Setelah 20 tahun di industri pesawat terbang menangani exhibition design & airshow, kembali melanjutkan studi magister desain ITB lulus tahun 2002, kemudian doktor ilmu seni rupa dan desain di ITB selesai tahun 2012. Sekarang berprofesi sebagai dosen pada Program Studi DKV Universitas Telkom. Buku-buku yang telah diterbitkan ‘Metodologi Penelitian Visual’ tahun 2013, ‘Visualisasi Iklan Indonesia Era 1950-1957’ tahun 2015, dan ‘Metodologi Penelitian Desain Komunikasi Visual’ tahun 2019, buku bunga rampai ‘Arsitektur Masjid Agung Demak’ tahun 2020.


Judul: Lambang Bulus di Masjid Agung Demak


Ini beberapa pertanyaan yang masuk
From Irwin Ramsyah to Everyone:  10:18 AM
mohon info dimana bisa dapatkan buku yg ditulis bersama ttg masjid Demak ini

From Christophorus Koesmartadi to Everyone:  10:22 AM
Bapak Kusyanto paparannya sangat menarik, semakin banyak ahli struktur yang semakin eksis di seminar

From Mhd Alifudin to Everyone:  10:24 AM
mantabh..

From josef prijotomo to Everyone:  10:24 AM
atap tajug itu apakah aslinya mempunyai ander, mengingat di Bali ada bentukan tajug yang tak memakai ander. di bangunan meru, memangg ada batang kayu yang digantung dari puncak atap, demi gempa. dengan meyakini sebagai ander, maka tajug ini sudah tidak asli lagi, tetapi sudah versi Belanda. Ini seepenuhnya analisis arsitektur saya, bukan analisis sejarah dan kebudayaan.

From Try Shalim to Everyone:  10:25 AM
pak Kus, ini menarik. luar biasa..
pertanyaannya material saka gatal didapati dari mana?
*tatal
dan apakah material saat ini yang masih berdiri apakah belum mengalami renovasi?

From Yulsi Munir to Everyone:  10:31 AM
walaupun saya tidak mengerti semua, tapi puisinya bagus sekali...

From Kalih_UNG to Everyone:  10:32 AM
Untuk pak Kus.....yang menjadi pertanyaan untuk ke empat kolom (saka guru)  yang tingginya 11m + 6 m (saka tatal) bagaimana untuk pondasi yang menompang langsung kolom tersebut yang diinformasikan bahwa kedalaman kolom berbeda-beda....disini terlihat maha karya dari sunan kalijaga untuk konstruksi pondasinya (ketinggian kolom 17 meter = kolom bangunan 4 lantai)

From Try Shalim to Everyone:  10:32 AM
pertanyaannya bagaiamana inovasi pada sistem laminasi yang dilakukan dan juga pada sambungan pak Kus?

From kotak han to Everyone:  10:32 AM
Sri Handjajanti - Universitas Trisakti Hadir

From Prof. Dr. Ir. Anak Agung Ayu Oka Saraswati, MT. to Everyone:  10:32 AM
keren puisi nya Pak Dwi Lindarto .... selain Kak Kus  .... pak Lendi juga punya talenta yg lain

From Ni Made Yudantini-UNUD to Everyone:  10:35 AM
Mbak Rosalia: Kenapa pake granit ya halamannya?

From AHMAD SANUSI - Telkom University to Everyone:  10:35 AM
https://www.youtube.com/watch?v=RhEZKAewql8

From Akhmadi Akhmadi to Everyone:  10:36 AM
perkenalkan saya Akhmadi dari Desain Interior-FIK-Telkom University Bandung..

From josef prijotomo to Everyone:  10:38 AM
untuk ibu Rosalia, mohon dapat dibuktikan bahwa masjid Demak dulu tidak memperhatikan kenyamanan. salah, bu. Yang benar, dulu sudah ada perhatian terhadap kenyamanan termal. karena adanya perubahan ruangan luar dan perkembangan tetangga yang semakin memadat, maka menyusutlah kenyamanan di dalam masjid.

From Prasetyo Wahyudie, ITS to Everyone:  10:38 AM
lha , kapan hari sy ke masjid ini ternyata sdh dipasang AC

From Christophorus Koesmartadi to Everyone:  10:39 AM
Mbak Rosalia suskses meski terburu buru ke bandara dan membuat lapak webinar di Bandara, suskses webinartraveling
From Ahmad Dinawan to Everyone:  10:39 AM
bu Rosalia mau kemana?  Koq di bandara?


From Akhmadi Akhmadi to Everyone:  10:39 AM
mohon maaf itu slide nya sedkit tertutup sama bagian aplikasi zoom host/yang bagian share screen nya, jdi layarnya ga bisa melihat screen scara full..

From Puji Darmanto_TNG to Everyone:  10:39 AM
ada ac nya to ya adem ya

From Irina Mildawani to Everyone:  10:39 AM
selamat traveling Bu Emma.. have a safe flight dan stay healthy ya

From Christophorus Koesmartadi to Everyone:  10:39 AM
Situasi yang sulit tapi itulah kunci kesuksesan Mbak Rosalia

From Augustina Ika _UNTAR to Everyone:  10:41 AM
ngayemke itu apa bu Emma? ๐Ÿ˜

From Syafruddin Syarif.... Unhas to Everyone:  10:41 AM
Perlu juga dipikirkan dan didesain pe gat

From josef prijotomo to Everyone:  10:41 AM
untuk ibu Rosalia, dengan pelataran masjid yang diolah sangat bersuasana urban, dan dominasinya bukan rumput, bukan hanya kenyamanan menjadi buruk tetapi kekuatan sebagai banguan heritage menjadi lenyap. renovasi di era Soeharto mengubah demikian besar, yakni dari masjid Demak yang Jawa dan warisan lama, menjadi mesjid Demak yang urban dan kekinian.


From Puji Darmanto_TNG to Everyone:  10:42 AM
tajuk ditutup guna pasang ac

From Syafruddin Syarif.... Unhas to Everyone:  10:42 AM
pengaturan cahayanya dengan teknologi iluminasi.

From . aditya W fitrianto _ IAI to Everyone:  10:46 AM
keren.. mba Emma, bahas hal lain terkait Masjid...

From Mhd Alifudin to Everyone:  10:48 AM
yg trbayang dalam benak saya, apakah halaman masjid agung demak mengacu pada halaman masjidil harom? yg secara iklim jelas berbeda jika dicopaskan dengan iklim indonesia

From Irwin Ramsyah to Everyone:  10:49 AM
ibu Rosalina : saya irwin...mau bertanya , kenapa lantai halaman harus pakai granit putih ? tidak menggunakan batu alam ...bukankah Lbh alami dan mengurangi dampak panas halaman masjid ?

From rosalia450489 to Everyone:  10:52 AM
Pak Irwin : Ini juga pertanyaan saya … mungkin secara fungsi sebagai masjid agung ketika hari raya

From endang setyowati to Everyone:  10:52 AM
kalua di masjid Gedhe Yogyakarta, unsur air atau parit yang disebut Jagang terkait dengan fungsinya sebagai pertahanan pada waktu itu yang sering ada serangan dari Belanda. Apakah di masjid Demak ada konsep lansekap yg terkait dengan budaya/tradisi atau konsep apa? atau mungkin konsep arsitektur masjid ? atau arsitektur Islam ?

From rosalia450489 to Everyone:  10:56 AM
Prof Josef : Terimkasih informasinya Prof ...

Prof Josef : Justru jaman dulu sangat memperhatikan kenyamanan thermal dengan mengandalkan bentuk bukaan untuk membuang panas di dalam , dan lingkungan alam sekitar mendukung penciptaan kenyamanan thermal

From josef prijotomo to Everyone:  10:56 AM
untuk bu Rustina, setujukah ibu bila dikatakan bahwa kompleks masjid Demak ini sudah merupakan lingkungan urban a la Jakarta, bukan masjid Demak yang adalah kekunoan yang dijaga kelestariannya

From Mirza Fuady to Everyone:  11:34 AM
bidang lantai perkerasan sangat luas, kalau hujan ada kemungkinan genangan air atau banjir? bagaimana dengan ruang utk resapan air? ke mana air hujan dialirkan?

From Kalih_UNG to Everyone:  10:57 AM
saya Kalih dari Universitas Negeri Gorontalo, Pertanyaan untuk ibu Rusfina......dengan kondisi landscape yang ada sekarang apakah desain landscape tersebut melihat suatu kebutuhan semata untuk menyiapkan sebuah lapangan bagi para wisatawan atau desain tersebut memperhatikan keterkaitan antara ruang dalam dengan ruang luar sehingga keterkaitannya sangat erat sebagai tempat ibadah, terima kasih


From Christophorus Koesmartadi to Everyone:  11:06 AM
Pembicaranya sangat menarik semuanya, tayangannya sangatjelas dan cepat dimengerti
Sepengetahuan saya Masjid Demak merupakan tombak pertama sebagai arsitektur dengan karya asli Nusantara, ternyata didalamnya ada campur tangan Belanda.

From Dr. Ir. Widiastuti, MT. to Everyone:  11:09 AM
Menarik...di Masjid ada simbol binatang. Kalau saat renovasi elemen yang lain bias dimodifikasi, mengapa kura-kura ini dibiarkan?? Apakah ada pertimbangan tertentu??

From . aditya W fitrianto _ IAI to Everyone:  11:09 AM
champa di vietnam selatan ๐Ÿ™๐Ÿป

From Ema Yunita_UB to Everyone:  11:16 AM
Apakah sama makna kura-kura / bulus yg td dijelaskan? Bgmn makna kura-kura mnrt filosofi jawa, islam-masjid, dan hindu/pra Islam?

masjid, bila lihat awalRasulullah di madinah, dibuat Rasulullah lbh berkonsep ‘multi space / function’, sebagai community center. Menariknya Masjid Demak, Masjid Gede Jogja, mengakomodasi konsep ini dg ada fungsi2 lain termasuk ada courtyard terbuka maupun tertutup (pendopo) selain ruang utama utk sholat, jadi Masjid bukan sekedar tempat sholat, tapi berkonsep urban... dan bersifat sosial kemasyarakatan . ๐Ÿ™๐ŸปDaripadaribut2 menafsirkan makna simbol2 tertentu, libatkanlah orang yang berkompeten, Arkeolog misalnya

From Prasetyo Wahyudie, ITS to Everyone:  11:36 AM
Desain lansekap tentunya mempunyai tujuan dan konsep. konsep apa yg dipilih oleh pengelola masjid demak ?

From josef prijotomo to Everyone:  11:20 AM
menyaksikan kehadiran masjid demak di hari ini, saya mengettahui bahwa masjid ini sudah hadir menjadi masjid masa kini, dan bersuasana urban sekali. Sayang sekali, masjid ini telah kehilangan 'ruh-nya.

From Ahmad Dinawan to Everyone:  11:38 AM
Bangunan sakral tua yang mencoba berusaha adaptasi (bermetamorfosa?) menjadi kekinian, yang sayangnya sedikit mengabaikan makna 'kesakralan'  yang sarat dengan elements/unsur² lama/leluhur..

From . aditya W fitrianto _ IAI to Everyone:  11:39 AM
masjid demak, masjid gede jogja, juga mengambil simbol konsep ke-ilaihi-an ajaran lokal (leluhur) : sedulur papat, limo pancer... ๐Ÿ™๐Ÿป

Adrian Widisono - Universitas Brawijaya. Berdasarkan Babad Demak terdapat Candrasengkala "lawang trus gunaning janma" terdapat dimanakah candrasengkala tersebut ataukah pada elemen masjid? maturnuwun

gunung radjiman
​mohon bhn tayangan bsa dishare ut peserta diskusi, tks

About the Author

dian nafi

Author & Editor

lulusan arsitektur yang suka jalan-jalan, menulis fiksi dan non fiksi.

0 komentar:

Posting Komentar

 

DeMagz © 2015 - Designed by Templateism.com, Distributed By Blogger Templates