Sehat Dan Banyak Duit

 Sehat dan Banyak Duit


Sehat dan banyak duit tentu menjadi impian banyak orang. Betul nggak?


Oleh karena itu belakangan ini banyak orang yang makin sadar untuk menjaga kesehatannya. Apalagi dengan adanya pandemi covid-19 yang terjadi beberapa bulan ini. Bahkan mereka yang sudah disiplin menjaga protokol covid-19 aja masih terpapar juga. Pokoknya demi menjaga imunitas tubuh menghadapi pandemi yang belum tahu kapan berakhirnya ini, memang akan lebih bijaksana kalau kita terus meningkatkan kesehatan.


Caranya antara lain cukup istirahat. Usahakan tidur selama delapan jam. Ada yang bilang  tidak harus dalam bentuk tidur malam berturutan delapan jamnya itu. Misal tidur malamnya hanya bisa selama lima jam. Maka bayar tiga jamnya di waktu lain, misal jelang siang yang sering dikenal sebagai qoilulah itu, atau siang bakda dhuhur sampai sore gitu.


Lalu asupan makanan bergizi yang berimbang juga harus diperhatikan. Gimana cara mengatur duit supaya cukup untuk dapat makanan sehat ini. 

Nah, banyak orang kini menempuh beberapa cara yang unik. Karena untuk bergerak pun dibatasi sebab ada PSBB dan semacamnya alias semi lockdown sehingga tidak leluasa berbelanja, plus kalau misal pekerjaannya tidak memungkinkan WFH (working from home) sehingga pemasukan berkurang.  Maka ada banyak orang membuat semacam ternak lele dan sekaligus berkebun sayur yang mudah dan murah. Tidak butuh kolam luas ataupun kebun yang memakan lahan. Hanya memanfaatkan tong ember plastik besar, mereka bisa menanam kangkung sekaligus beternak lele. Keren kan.


Jadi kebutuhan protein dan mineral bisa mereka dapatkan dari hasil panen mereka sendiri. 


Duit yang semestinya dipakai untuk membeli ikan dan sayur bisa ditabung. Kalau ternak lele dan tanam sayurnya berhasil, malah bisa sekalian dijual juga. Nah, kan jadi tambah banyak duit tuh dapat penghasilan dari usaha sampingan ini. Yeay!

Oh ya, selain mengirit pengeluaran dan menambah penghasilan dari usaha sampingan, kita juga harus membuat catatan catatan keuangan jika diperlukan. Begitu yang dulu guruku sekolah pernah ajarkan. Kalau perlu sediakan amplop amplop khusus untuk uang uang tersebut. Misal nih kita anggarkan untuk belanja harian selama sebulan sebesar x, tidak boleh lebih.  Untung kalau bisa ada sisa buat ditabung. Terus ada amplop untuk iuran arisan atau jimpitan RT dan semacamnya. Ada anggaran untuk SPP anak anak. Dan seterusnya.  Oh ya, hindari hutang, kredit dan semacamnya supaya kita tidak repot di kemudian hari.

Gizi berimbang ini akan menjadi berarti jika kita juga melakukan gerak minimal empat puluh lima menit dalam sehari. Bisa jalan kaki, olah raga seperti pilates, atau yoga atau senam lainnya.  Gerak ini di luar kegiatan kita mengerjakan pekerjaan rumah tangga sehari hari seperti menyapu, mengepel, mencuci, memasak dan lainnya lho ya.


Untuk menjaga kesehatan, kita juga musti mengkonsumsi banyak air putih. Kalau bisa dua liter sehari. Lebih baik lagi tiga liter per harinya. Karena air putih dan olah raga itu yang menjaga kerja metabolisme tubuh berjalan dengan baik dan lancar.


Insya Allah kalau kita sehat, tentu tidak banyak uang yang harus dikeluarkan untuk membeli obat, perawatan di rumah sakit dan lain-lain pengeluaran terkait.


Selain kesehatan fisik, kita juga harus menjaga kesehatan mental. Karena kalau tidak sehat mental bisa bahaya juga, bisa menghabiskan banyak uang juga untuk pergi ke psikolog, psikiater dan lain-lain


Cara menjaga kesehatan mental dengan mengkonsumsi hal-hal positif dalam hidup. Sebisa mungkin hindari hal-hal yang berpengaruh buruk pada mental kita. Gitu cara sederhananya. Lebih lengkapnya scrolling saja di daftar list postingan blog ini untuk cari tahu lebih lanjut dan detail bagaimana menjaga kesehatan mental. Kayaknya sudah pernah kubahas panjang lebar.


Yuk jaga kesehatan kita terus!

Kalau kamu, gimana caramu menjaga kesehatan dan gimana juga caramu mengatur duit?

Memiliki Resiko DM? Tanya Dokter Diabetes Mengetahuinya dan Lakukan Ini untuk Pencegahannya

Memiliki Resiko DM? Tanya Dokter Diabetes Mengetahuinya dan Lakukan Ini untuk Pencegahannya

Penyakit diabetes melitus sekarang ini menjadi salah satu penyakit kronis yang banyak diderita oleh masyarakat Indonesia. Disebabkan oleh tingginya kadar gula dalam darah yang mengakibatkan masalah kesehatan lainnya. DM menjadi penyebab banyak jenis penyakit seperti serangan jantung, gangguan pembuluh darah hingga kondisi luka yang tidak mudah disembuhkan serta kebutaan. Penyebab diabetes melitus sendiri adalah gaya hidup yang kurang sehat dengan terlalu banyak mengkonsumsi makanan manis atau mengandung gula. Selain itu, beberapa orang memiliki resiko lebih tinggi terkena DM dibandingkan orang lain karena faktor keturunan dan obesitas. Jika Anda termasuk di antara orang dengan resiko tinggi DM, langsung saja tanya dokter diabetes untuk mengetahuinya dan lakukan tips berikut ini sebagai upaya pencegahan:

Menjaga pola makan.
Pola makan sehari-hari sangat menentukan seseorang terkena diabetes melitus atau tidak. bukan hanya makanan namun juga minuman juga perlu diperhatikan. Seseorang bisa terkena DM jika mengkonsumsi makanan yang mengandung gula hingga membuat kadarnya terlalu tinggi di dalam darah. Kadar gula sebenarnya dibutuhkan sebagai pengganti lemak untuk sumber kalori, namun jika berlebihan, akan menumpuk hingga di dalam pembuluh darah yang disebut diabetes melitus. Bukan hanya pada makanan yang manis, namun gula juga bisa terdapat pada makanan yang umum dikonsumsi seperti nasi. Jika Anda sudah positif memiliki DM, sebaiknya mengganti nasi putih menjadi nasi merah yang mengandung kadar gula lebih rendah.

Rajin berolahraga.
Olahraga ditujukan untuk membakar lemak berlebih serta kandungan gula dalam darah. Mereka yang rajin berolahraga akan memiliki resiko yang lebih rendah terkena penyakit gangguan pembuluh darah dan jantung yang juga merupakan penyakit komplikasi dari DM.

Gali informasi.
Untuk mencegah diabetes melitus, tentu Anda harus mengetahui terlebih dahulu apa itu DM. Informasi yang Anda butuhkan antara lain penyebab terjadinya DM, faktor yang menyebabkan seseorang memiliki resiko tinggi terkena DM, dan komplikasi DM yang bisa terjadi. Untuk informasi yang terpercaya, Anda dapat tanya dokter ini melalui aplikasi Halodoc.

Memiliki berat badan normal.
Obesitas merupakan salah satu faktor mengapa seseorang memiliki resiko terkena dm. Cara pencegahannya adalah dengan memiliki berat badan normal baik dengan melakukan olahraga penurunan berat badan ataupun dengan melakukan diet.

Konsumsi buah dan sayur.
Mineral sangat penting untuk menjaga tubuh melakukan metabolisme agar pembakaran lemak dan darah berjalan optimal. Selain itu fungsi ginjal untuk mengeluarkan kotoran atau zat sisa dalam tubuh juga akan lebih mudah jika kebutuhan nutrisinya terpenuhi. Sayur dan buah yang mengandung banyak serat akan membantu proses menurunkan berat badan yang dianjurkan untuk para pasien dm.

Sarapan.
Meski Anda melakukan diet, namun sarapan jangan dilupakan. Sarapan pagi merupakan hal yang penting dan bermanfaat untuk memberikan sumber tenaga pada tubuh dalam melakukan aktivitasnya.

Berbagai tips di atas akan menjauhkan Anda dari diabetes melitus meski Anda memiliki faktor resikonya. Jika perlu, tanya dokter diabetes cara pencegahan yang lebih spesifik hingga obat untuk menurunkan kadar gula dalam darah. Menjaga pola hidup sehat merupakan cara pencegahan yang paling efektif untuk Anda pemilik resiko tinggi diabetes. Meski tidak semua pemilik dm memiliki berat badan berlebihan, namun menjaga berat badan agar tetap ideal juga akan baik untuk kesehatan Anda secara umum terutama untuk kesehatan jantung.

KURANGI RESIKO PIKUN DARI SEKARANG DENGAN MEMPERBANYAK AKTIVITAS SOSIAL

KURANGI RESIKO PIKUN DARI SEKARANG DENGAN MEMPERBANYAK
AKTIVITAS SOSIAL

by Fahrizal 
- DeMagz -



Dalam fase hidup manusia, ada fase dimana manusia menjadi tua/lanjut usia (lansia). Fase tersebut adalah fase yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia. Proses penuaan akan dialami oleh setiap manusia. Setiap lansia memiliki impian untuk tetap sehat dan produktif di hari tua. Berbagai upaya dilakukan agar tetap sehat dan tehindar dari berbagai macam penyakit.
Lanjut usia (Lansia) adalah orang yang telah mencapai usia 60 Tahun ke atas yang mempunyai hak yang sama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara (UU RI Nomor 13, (1998). Jumlah lanjut usia di Indonesia mencapai 20,24 juta jiwa, setara dengan 8,03 persen dari seluruh penduduk Indonesia Tahun 2014 (BPS,2014) dalam Husmiati (2016). Sedangkan menurut UNDESA Population Division (2013), pada Tahun 2014, sebanyak 868 juta penduduk berusia 60+ atau mencapai 12% seluruh penduduk dunia, dan pada Tahun 2050 yang akan datang, ada dua milyar penduduk berusia 60+ atau 21% penduduk dunia. Masih menurut UNDESA (2012), pada Tahun 1990, baru 107,000 orang berusia 100+ di seluruh dunia, namun pada Tahun 2050 diprediksi akan mencapai 3,4 juta orang berusia 100+ di dunia. Sementara itu 54% penduduk berusia 60 Tahun dan lebih adalah wanita, dan 46% laki-laki. Perbandingan lanjut usia wanita dan laki yang berusia 80 Tahun atau lebih menunjukkan 62% adalah wanita sementara 38% adalah laki-laki (UNDESA, 2013). Setiap dua menit, seseorang di dunia mencapai usia 60 Tahun (UNDESA, 2013).
Lansia rawan dengan berbagai penyakit yang timbul akibat dari proses penuaan. Akan tetapi faktor psikologis juga sangat berpengaruh, depresi adalah salah satu pengaruh timbulnya berbagai penyakit pada lansia. Merasa tidak tahu apa-apa, disia-siakan, disampingkan oleh keluarga dan teman dekatnya. Merasa seperti hidup sendiri dalam keramaian, sebatangkara tanpa adanya pasangan hidup membuat hidup semakin serasa tak berguna. Salah satu penyakit yang menimpa banyak lansia adalah demensia. Berdasarkan hasil diagnostic and statistical manual of mental disorder (DSM-5) dan The classification of mental and behavioural Disorders (ICD-10) jadi demensia dapat berarti sebagai suatu ‘‘Loss of intelenctual abilities of sufficient severity to interfere with social or accupational fuctioning. Deficits should be multifaceted: memory, judgement, abstract, thinking...’’, apabila Cox (2007) dalam Husmiati (2016) mengartikan demensia sebagai bukan peyakit, melainkan sekumpulan simptom (gejala) yang berat dan yang mempengaruhi kemampuan intelenktual yang menyebabkan fungsi berpikir, mengingat dan pemikiran terganggu sehingga individu kesulitan menjalani aktivitas kehidupan secara normal.
Aktivitas sosial telah dibuktikan mampu memperlambat proses penuaan pada fungsi otak. Dalam menjalin hubungan sosial, seseorang harus bisa berkomunikasi dengan baik kepada orang lain. Di samping menyediakan lingkungan yang baik yang mmenuntut daya kognitif, hubungan sosial juga dapat menjadi hal yang bersifat positif bagi keluarga, kelompok, teman, masyarakat. Sisi positif lain adalah dukungan sosial dari istri tercinta, anak, dan sahabat.
Penelitian yang telah dilakukan oleh Bryan D. James dkk terhadap lansia sebanyak 2.812 selama 12 tahun menunjukkan bahwasannya lansia yang tidak adanya ikatan sosial 2 kali lebih besar mengalami penurunan fungsi otak, jika dibandingkan dengan lansia yang aktif mengikuti kegiatan sosial. Skala tersebut dinilai berdasarkan indikator: kehadiran pasangan hidup, kontak dengan keluarga atau teman, keikutsertaan dalam pelayanan agama, aktivitas dalam kegiatan kelompok, dan aktivitas sosial rutin.
Dalam penelitiannya, Bryan D. James dkk meneliti tentang hubungan antara aktivitas sosial dan penurunan fungsi otak terhadap 1138 responden yang tidak demensia dan berusia rerata 79 tahun, yang diikuti hingga 12 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwasannya proses punurunan fungsi otak dapat diperlambat dengan adanya aktivitas sosial. Frekuensi aktivitas sosial dinilai berdasarkan skala yang bertanya tentang seberapa seringkah responden mengkuti kegiatan ke dalam enam jenis tipe aktivitas yang menyangkut aktivitas sosial: (1) pergi ke restoran, acara olahraga ataupun bermain bingo; (2) wisata harian; (3) acara sosial non-profit; (4) mengunjungi rumah kerabat ataupun teman; (5) berpartisipasi dalam kelompok, seperti pusat lansia; (6) menghadiri tempat ibadah atau pelayanan keagamaan.
Dari penelitian yang dilakukan oleh Bryan D. James dkk dapat disimpulkan bahwasannya aktivias sosial dapat menjadi kegiatan yang sangat bermanfaat bagi lansia dan membuat mereka memiliki tujuan dalam hari-hari tua mereka. Aktivitas sosial bisa menjadi sarana mereka untuk mengisi kekosongan, berbagi cerita masa muda, memperlambat penurunan fungsi otak serta dapat mencegah kepikukan yang beranjak ke demensia alzheimer. Dimana penyakit demensia alzheimer membuat penuaan pada otak bertambah lebih cepat. Otak mengeriput jauh lebih cepat. Struktur otak akan mengecil, fungsi otak-pun turut menurun sehingga pada awalnya penderita alzheimer menjadi pelupa dan pada akhirnya berpengaruh juga terhadap perilaku sehari-hari, bahkan sampai berhalusinasi yang seolah-olah melihat sesuatu yang ‘‘tidak nyata/ada’’. 
Penyakit ini membuat kita menjadi seolah-olah tidak tahu apa-apa, membuat kita jadi tidak berdaya dan mengganggu aktivitas keseharian kita. Penyakit ini juga membuat si penderita mengalami kebingungan mengingat hal-hal yang hanya diketahuinya sendiri, seperti nomor pin ATM, sandi brangkas, sandi akun pribadi, dll. Ia membuat orang lain kesal. Bagaimana tidak?, ia menanyakan hal yang sama berulang kali, lupa jalan menuju pulang, mengompol di celana saat tersesat menuju ke WC dan Kamar mandi yang padahal digunakan setiap hari selama 45 tahun. Penderita penyakit alzheimer menjadi lupa dengan anak-anak tercinta, istri-nya, tetangga-nya, dan teman-teman seperjuangan. Ia merasa seperti hidup dalam keterasingan, sendirian, takberdaya, dan tak tahu apa-apa. Dan ironinya penyakit ini belum ditemukan obatnya.
DAFTAR PUSTAKA
Turana Y. (2016). Investasikan Oatk Anda! Agar Otak Tetap Sehat, Cerdas, & Produktif Di Masa Depan. PT Gramedia pustaka utama, Jakarta.
Husmiati. (2016). Dementia In The Elderly And Social Intervention. Pusat Penelitian Dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial Kementerian Sosial RI. Jakarta Timur.
Republik Indonesia. (1998). Undang-Undang RI Nomor 13 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia.
Population Ageing and Development. (2012). Population Division. UNDESA.
Population Ageing and Development. (2013). Population Division. UNDESA.


 **

Untuk kerjasama  dengan DeMagz
For reservation,  review and any other collaboration, please do not hesitate to contact at 085701591957 (sms/wa) 
DM twitter @DeMagz_
Line: diannafi57 
Email: demagzcie@gmail.com


Menu