Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label budaya

Bulus dan Ekologi: Menyelamatkan Alam, Menyelami Makna

 Bulus dan Ekologi: Menyelamatkan Alam, Menyelami Makna Di tengah derasnya arus modernisasi dan pembangunan yang seringkali melupakan keseimbangan alam, Dian Nafi menghadirkan buku “Bulus dan Ekologi” sebagai ajakan untuk kembali menyadari hubungan sakral antara manusia dan lingkungan. Bulus — hewan air tawar yang sering dianggap biasa, bahkan diremehkan — dalam buku ini justru menjadi simbol kearifan lokal dan daya tahan alam. Ia menjadi cermin bagi manusia untuk belajar tentang kesabaran, ketahanan, dan keterhubungan dengan ekosistem . 🌿 Dari Mitologi ke Gerakan Ekologi Buku ini tidak sekadar menceritakan kisah tentang bulus. Ia menggali makna budaya, mitos, dan spiritualitas di balik keberadaan bulus dalam kehidupan masyarakat pesisir dan pedalaman Jawa. Melalui pendekatan antropologis dan ekologis, Dian Nafi mengajak pembaca memahami bahwa ekologi bukan hanya urusan lingkungan , melainkan juga tentang etika hidup dan hubungan antar makhluk. “Menjaga bulus berarti menjaga ke...

Menulis dari Akar: Pelatihan Artikel dan Esai Bersama Dian Nafi, Menggali Kekuatan Budaya Lokal

 Menulis dari Akar: Pelatihan Artikel dan Esai Bersama Dian Nafi, Menggali Kekuatan Budaya Lokal “Menulis itu bukan hanya soal merangkai kata, tapi juga membumikan nilai.” Kalimat itu menjadi pembuka dari Dian Nafiatul Awaliyah—akrab disapa Dian Nafi—saat mengisi sesi pelatihan penulisan artikel dan esai yang berakar pada budaya lokal. Dalam pelatihan yang dihadiri berbagai kalangan—dari mahasiswa, dosen, guru, penulis muda, hingga pegiat komunitas—Dian mengajak peserta menyelami ulang tempat berpijak mereka. “Seringkali kita terpesona oleh budaya luar, padahal tanah tempat kita berdiri penuh kisah dan kearifan,” ujarnya. Sebagai penulis yang produktif sekaligus arsitek dan peneliti, Dian tidak hanya berbicara soal teknik menulis. Ia membagi pengalaman riset lapangan, proses mengubah temuan budaya menjadi narasi yang menggugah, dan pentingnya menjaga konteks lokal dalam setiap tulisan. Sesi pelatihan ini mengalir seperti obrolan di beranda rumah: hangat, reflektif, dan membangk...

Temu Pegiat Komunitas Gusdurian Jawa Tengah

 Temu Pegiat Komunitas Gusdurian Jawa Tengah Selama tiga  hari, Jumat Sabtu Minggu tengah Juni lalu diselenggarakan Temu Pegiat Komunitas Gusdurian Jawa Tengah dengan agenda workshop penguatan kapasitas komunitas Gusdurian jawa Tengah. Dihadiri oleh empat puluhan para penggerak dan pegiat komunitas Gusdurian Jawa Tengah, acara ini semakin mengakrabkan dan menambah semangat para pegiat.  Sekaligus dalam peningkatan kapasitas ini, para pegiat merumuskan sendiri arah tujuan komunitas masing-maisng di daerahnya. Sehingga mereka menyediakan kegiatan-kegiatan dan program yang sesuai dengan permasalahan serta potensi yang khas di tiap daerah yang berbeda.  Insya Allah Temu Pegiat Komunitas Gusdurian selanjutnya akan diselenggarakan sekitar bulan Agustus yang mempertemukan seluruh pegiat dari segenap penjuru Indonesia. 

Upcoming Book dari Dian Nafi dkk: Cerita-Cerita Lokal Demak

  Upcoming Book dari Dian Nafi dkk:  Cerita-Cerita Lokal Demak Akhir tahun kemarin, sebenarnya seleksi tulisan untuk calon antologi cerita-cerita lokal Demak ini sudah digelar. Komite Sastra Dewan Kesenian Daerah Demak bersama  Sektor Penerbitan dan Publikasi Komite Ekonomi Kreatif Demak mencari cerita-cerita dari daerah-daerah di Demak, baik asal-usul nama desa, kampung, dusun, cerita-cerita lokal, budaya-budaya dan tradisi-tradisi lokal berikut local wisdomnya.  Karena ada banyak sekali potensi cerita-cerita lokal Demak (jumlah desanya saja ada 254 desa, belum lagi jumlah kampung dll nya), maka antologi cerita-cerita lokal Demak ini akan dibuat berseri. Seri pertamanya insya Allah segera digodhog. Berikut alternatif beberapa covernya. Kalian lebih cenderung suka cover yang mana? Btw, buat teman-teman yang juga mau urun mengirim tulisan terkait local wisdom Demak, silakan kirim ke hasfagroup@gmail.com dengan judul email: local wisdom demak. 2- 8 halaman A4 Times new...

Sarasehan Dewan Kesenian Daerah Demak

 Sarasehan Dewan Kesenian Daerah Demak Agus Riyanto, SE MM kepala dinpar Dinpar hanya bawa nomenklatur pariwisata sejak 2017 Dulu pariwisata dan kebudayaan Skrg kebudayaan gabung dinbud Shg bisa menginduk dikbud sesuai tupoksinya Dulu dkd dekat pariwisata Jamgan sampai ada kesan dinpar dianggap merebut lahan opd lain Siapapun minta bantuan ke dinpar, asal utk masyarakat, tdk masalah Shg kemarin saat minta fasilitasi sk bupati, dinpar bantu Tapi utk pengukuhan, mohon pendekatan ke dikbud Krn seni masuk ekraf di dinpar Kalau pengukuhan di pendopo  tdk memungkinkan, bisa di panggung kesenian tembiring Ada sound system, dll Kalau mau kegiatan kesenian, bisa di sana Kalau ada kegiatan temporer tiap minggu, latihan2, bisa pakai juga Alternatif sekretariat, rumah dinas jl bayangkara, sebelah intel Atau di kompleks inspektorat, sebelah pemadam kebakaran Merapat ke bidang aset, bpkad. Ikuti mekanisme pengajuan dana FDK adakan kegiatan non APBD Tanya2 dan kolaborasi  Kegiatan 2023 ...

Cultural Landscape Lanskap Budaya dalam Arsitektur

Cultural Landscape Lanskap Budaya dalam Arsitektur baca juga perjalanan mengenal arsitektur indonesia sebelumnya: arsitektur rumah kampung adat GuruSina arsitektur kampung adat di jawa bagian barat yori antar: arsitektur nusantara prof joseph: arsitektur mengkini dan menanti arsitektur Lasem   Lasem 2   Lasem 3   Lasem 4 arsitektur masjid agung demak riset arsitektur baluwarti kraton cirebon Sore ini kita jalan-jalan ke Minahasa ya Pusaka indonesia: pusaka alam, budaya cipta rasa karsa karya, saujana: gabungan pusaka alam dan budaya yg menyatu. Tangible dan intangible Saujana: sejauh mata memandang Tanpa batas alam dan waktu Ada 9 suku di minahasa yg berkembang dr 4 suku. Di tengah ada danau tondan Ciri lokalitas/local genus: pandabgan hidup berakar ratusan tahun. Hbgn dg tuhan, makhluk, alam Ada bbrp varian rumah minahasa. Usianya ratusan tahun. Banyak simbol penuh makna Ada loteng untuk lumbung juga perputaran udara Apakah umum bahwa rumah2 Minaha...

Tips Menulis Memoir (2)

Tips Menulis Memoir (2) Baca juga :  Tips Menulis Memoir (1)  Tips Menulis Memoir (3) Ini lanjutannya ya.. 7)  Ingat bahwa memoir, seperti novel, dibaca untuk hiburan Memoir bukan non fiksi, tapi butuh ketrampilan kreativitas penulis. Selalu ingat  pembacamu. Jangan fabrikasi, buat sesuatu yang unik, menarik, dan relevan dengan premis-mu. Bagus untuk fair terhadap semua orang dan kejadian dalam hidup,  tapi saat menulis untuk publkikasi bukanitu yang penting. Satu-satunya yang harus diperlakukan dengan fair/adil adalah pembacamu.  Jika pembaca tidak tertarik membaca dua bab tentang pamanmu, jangan taruh itu di buku.  8) jangan abaikan media sosial Ada banyak grup online tentang banyak hal hari-hari ini.  Ada ratusan grup facebook yang juga baca buku yang sama dengan kita, atau tertarik dengan memoir sejenis yang kita tulis.   Untuk penyakit atau trauma tertentu, ada banyak support grup. cari dan bikin kontak, terhubun...

Peran Santri Dalam Film

Peran Santri Dalam Film tadi sore karena barengan antara zoom rentang lasem oleh GNI dengan zoom peran santri dalam film oleh futuhiyah, jadi baru sempat nonton rekamannya sekarang. sineas nurman hakim lagi2 kalau nyontohin ya film masterpiece-nya 3doa 3 cinta, padahal ada film2nya yg lain juga. kang nurman hakim ngritik, dulu mondok di al anwar, punya radio saja gak boleh. untung gus dur dorong serta memberi contoh pada para santri untuk berkesenian dan berkebudayaan UU pesantren punya 3 area: dakwah, pendidikan dan pemberdayaan. film bisa menjadi media dakwah, pendidikan sekaligus pemberdayaan. apalagi bbrp ulama sepuh melihat manfaat film Jejak Langkah Dua Ulama, KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asyari, bagi para santri santri perlu diedukasi, bukan hanya apresiasi tapi juga making film santri harus bisa menyerap perubahan,agar tidak dilindas oleh jaman. nilai2 lama tdk akan mudah hilang, tergantikan dg nilai2 baru. apalagi jika santri bisa mentransformasikan nil...

Megengan: Bincang Budaya RRI dan Dian Nafi

Megengan: Bincang Budaya RRI dan Dian Nafi Tanggal 7 Mei 2020 jam 16.00 WIB sampai selesai, ada topik tentang Megengan saat acara  Bincang Budaya RRI dan Dian Nafi Megengan tradisi masyarakat jawa pada umumnya khususnya di jawa tengah, jawa timur, dan yogyakarta dalam menyambut bulan Ramadhan, megengan diambil dari bahasa Jawa yang artinya menahan. Ini merupakan suatu peringatan bahwa sebentar lagi akan memasuki bulan Ramadhan Megeng berarti menahan diri. Mengenali jati diri. Terkendali di jalan Ilahi. Megengan wujud syukur menyambut bulan Ramadhan suci, dg silaturahim & memaafkan. Tersimbol dalam ritus kue ‘afwan. Lisan Jawa jd apem Tiap menjelang Ramadan ada tradisi ‘punggahan’ atau ‘megengan’. Tiap rumah bawa makanan ke masjid/musholla buat didoain bareng.  Megengan ala covid-19. Didongani sendiri, diantar ke tetangga satu per satu. biasane cukup dibawa ke musala... Kue apem merupakan simbol permohonan ampun untuk segala dosa & kesalahan yg pernah ...