Kamis, 07 November 2019

Amunisi Luar Dalam

Amunisi Luar Dalam
Mau baca bagian lain dari Novel Sprint Master by dian nafi  juga?
Baca Bagian 1
Baca Bagian 2
Baca Bagian 3


Di kelas cerpen barusan, aku salah tingkah krn kok padha lihatin aku sambil senyum2 kenapa. Kuperbaiki sikap dudukku. Dari arah selatan ada yg senyum2 lagi sambil lihatin. Kuluruskan rokku. Pas dari arah utara ada yg senyum2 sambil nylethuk kacamatanya lucu. Aku baru sadar mrk memperhatikan kacamata yg kupermainkan di tangan. Kecil karena bisa ditekuk2 sampai tinggal seukuran lensa.

Seusai kelas cerpen, mrk tak beranjak dan terus mengajukan berbagai pertanyaan dan konsultasi. Now i know, ngobrol. adalah salah satu bagian menarik dan mungkin yg paling ditunggu sebagian peserta dlm sesi coaching. Krn mrk bisa talking about their spesific story n problem case

Sampai salah satu peserta (anak smp) terpancing dan menyampaikan sbnrnya dia ingin menulis peristiwa trauma yg dialaminya, tp merasa gak akan kuat menuangkannya. Pelupuk matanya merebak, & 17 org lain tercekat. Ya Allah, kelas menulis aja bisa seemosionil,gmn ntar Life Coaching

Kusampaikan,writing is healing. Menulis bs jd media menyembuhkan. Kuceritakan ada traumaku puluhan thn lalu, alhamdulillah sembuh stlh kutuangkan dlm novel. Teman2nya lgs mendukungnya. Ayo tulis, kamu bisa. Tulis aja utk dirimu sendiri, kataku, gak usah dikumpulkn klo itu rhsia

Jd mmg hrs siapkan amunisi mental, energi, spiritual, doa dst selain strategi utk siap dlm sesi life coaching ya. Wallahul musta'an. Laa haula wa laa quwwata illaa billahil aliyyil adzim. Hasbunallah wa ni'mal wakil ni'mal maulaa wa ni'mannashiir. Bismillah bismillah


Kemarin saat akhirnya aku upload flyer sosmed ke instagram tentang sesi coaching beberapa minggu lagi, guru nulis pertamaku komen mau daftar. Entah berapa kali dia pernah komen ke IG ataupun twitterku, tapi tidak pernah aku balas lagi sejak kesalahan yang dia lakukan pada salah satu teman yang kukenal via dunia maya juga. Tapi komen guru nulis pertamaku kemarin itu aku balas. Mungkin sebagai seorang coach, memang sudah seharusnya berdamai dengan apapun. Termasuk berdamai dengan perasaan memusuhi. Karena yang kita musuhi adalah kelakuannya. Dan setiap manusia yang pernah melakukan kesalahan, sebesar apapun, punya kesempatan untuk bertaubat dan memperbaiki diri. Apa kita mau mendahului dan melebihi Tuhan dalam menghakimi dan menghukum seseorang, sementara Dia saja Maha Pengampun.

Lalu seketika diriku flash back, menoleh ke belakang, ke masa dulu. Guru menulis pertamaku yang usainya sepuluh tahun lebih tua dariku, menjadi mentor dan coach-ku sepuluh tahun lalu. Maka jika hari ini aku menjadi mentor dan coach, berarti aku menjadi seperti dirinya di masa itu. Apakah aku sudah sebaik dirinya di kala itu. Mengeluarkan potensi terbaik untuk mendukung mentee dan coachee agar mampu mengoptimalkan talenta dan hidden power mereka. Itu yang menjadi PR ku kini.

Kebutuhan untuk tidak saja memiliki strategi terbaik namun juga harus sedia dengan energi melimpah demi tetap bisa utuh dan contentful, membuatku semakin sadar untuk mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, berdoa sebanyak-banyaknya, tawakal se-pol polnya. Bismillah bismillah. Seperti seorang sprint master yang kudu full tank dengan amunisi luar dalam.

**
MAU BACA DRAFT NOVEL LAINNYA?
Teman-teman bisa ikut membaca Man Behind The Microphone dan 27 bagiannya di sini

dian nafi

writer & blogger

dian nafi. arsitek yang suka jalan-jalan serta menulis fiksi dan non fiksi

0 komentar:

Posting Komentar