Jumat, 08 November 2019

Mana Sprint Masterku

Mana Sprint Masterku

Tadinya kupikir cowok gempal yang ada di depan membuka sesi hacksprint pagi ini hanya memberi pengantar, lalu memanggil sprintmaster yg mirip kamu itu untuk maju ke depan memberi materi spt biasanya. Eh ternyata tidak. Dia terus bicara lebih tepatnya menggumam sih .menyampaikan materi hari ini. Duh, kirain hari ini sprint masterku yang bakal mengisi lagi.

Kepalaku menengok ke kanan kiri, depan belakang. Memutari seluruh ruangan besar di lantai tujuh universitas ini dengan mata nanar. Setidaknya kalaupun dia tidak ada di depan menjadi.. pemateri, keberadaannya di ruangan ini saja sudahlah cukup untuk memberikan energi hidup buatku. Tapi dia tidak ada.

Terdengar dengusan pendek dekat telingaku. Dengusanku sendiri. Kepalaku tertunduk layu. Apalagi dua rekan tim startup ku juga belum datang. Pdhl hari ini....waktunya presentasi dan Pitching. Sementara draft aplikasi, prototype dan mock up nya dia yang buat dan bawa. Makin lemas deh. Ditambah pemateri di depan ini sungguh membosankan dan tidak bisa mendeliver materi dg baik. Beda jauh dengan gaya penyampaian sprint masterku. Semakin membuatku mengagumi sprint master ganteng kharismatik yang mirip kamu itu. Eaaaa..


"Si Rizal lama sekali nih. Dia mau datang gak sih?" aku mulai gusar.
"Tenang, tenang. Dia on the way kok," tangan Rais memberi isyarat, menyuruhku kalem. Satu tangannya lagi mengacungkan hape ke arahku, tanda bahwa Rizal sudah memberitahu update posisinya via whatsapp.

"Oh, alhamdulillah. Palingan dia musti antar anaknya kelilingan dulu kali ya," tebakku ngasal.
Rais mengangguk-angguk sambil menyunggingkan senyum miringnya yang khas. Dia sebenarnya masih single alias jomblo, tapi mungkin karena sering berinteraksi dan bergaul dengan Rizal, jadi gayanya sudah kayak bapak-bapak muda gitu. Rais sebenarnya manis lho. Tapi karena ada sprint master yang kehadirannya bareng dengan perkenalan pertamaku dengan Rais, membuat pesona Rais jadi terhalang. Istilahnya keduluan. Eh by the way, aku sebenarnya sudah pernah ketemu sprint master sebelumnya dink. Waktu di coworking space kota lama, saat aku hadir di workshop yang diselenggarakan female tech atau girl developer squad gitu. Ketua panitianya memperkenalkan aku pada sprint master waktu aku tanya tanya masalah start up. Tapi saat itu aku belum sadar kalau sprint master mirip kamu, jadi belum terpesona. B aja gitu perasaannya. Baru setelah ketemu lagi di universitas saat dia menyampaikan materi start up dan menjadi sprint master untuk design sprint, barulah aku merasakan getar-getar simpati dan kekaguman. Eaaa. Ugh sayangnya hari ini dia tidak datang. Sebel banget gak sih.

Aku kembali berusaha keras memperhatikan lagi paparan cowok gempal brewokan di depan. Sambil membayangkan kalau materi ini disampaikan oleh sprint masterku yang kayak kamu itu. Hadeuh...malah makin tersiksa tho kalau mikir seandainya seandainya gini.

Baiklah, mari kita fokus.

"Haiii..."
Alhamdulillah Rizal, ketua tim akhirnya datang.

"Sorry, aku harus nganterin anakku muter-muter kampung dulu," Rizal mengambil posisi duduk di hadapanku.

"Aku tadi juga menduga begitu," nada suaraku tak bisa menutupi kegembiraanku karena akhirnya Rizal datang dan rencana pitching siang ini berarti lancar. Walaupun ternyata beberapa jam kemudian aku tahu tidak semudah itu.

Beberapa saat kemudian, Fidi juga datang. Kalau dia jelas tidak momong anak dulu karena masih jomblo. Mungkin melembur kerjaan coding, proyeknya sendiri atau kerjaan dari klien.

Eh, jangan-jangan sprint masterku juga lagi momong anaknya nih? Ah, tapi kan dia masih belum punya anak. Perawakannya kelihatan masih single gitu, masih jomblo.



Mau baca bagian lain dari Novel Sprint Master by dian nafi  juga?
Baca Bagian 1
Baca Bagian 2
Baca Bagian 3

Baca Bagian 4

dian nafi

writer & blogger

dian nafi. arsitek yang suka jalan-jalan serta menulis fiksi dan non fiksi

0 komentar:

Posting Komentar