Langsung ke konten utama

Postingan

Berjalan Menembus Batas di KICK ANDY

Andy F Noya memegang buku Berjalan Menembus Batas dalam episode MAN JADDA WAJADA, KICK ANDY SHOW MetroTV. Buku ini dibagikan untuk audience di studio. Juga dibagikan untuk yang mengikuti kuis buku gratis yang diadakan Kick Andy di webnya. ** Tentang Buku Berjalan Menembus Batas yang ditulis Dian Nafi bersama Ahmad Fuady dkk Keterbatasan, baik fisik, materi, maupun lingkungan terkadang menjadi dalih untuk tidak dapat meraih impian. Padahal, man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil! Kesungguhan menumbuhkan harapan, sikap positif, dan memperbesar peluang berhasil bagi yang melakukannya. Cerita-cerita inspiratif dalam buku ini membuktikan kebenaran pepatah Arab tersebut. Kekurangan menjadi suatu kekuatan, dan keterbatasan bukanlah halangan dalam meraih keberhasilan. Ditulis langsung dari pengalaman nyata para tokoh, buku ini menularkan ruh penuh semangat untuk bangkit menembus batas. Ayo, tularkan semangat berusaha dan berjuang semaksimal mungkin....

info buku baru : PETITAH : Perjalanan Menuju Awal

PETITAH  Perjalanan Menuju Awal ramadhanan  Penulis: a[rt]gus faizal Penerbit: Hasfa Publisher HADIR DI TB GRAMEDIA  bisa dibeli online. Rp 15rb, bebas ongkir.  silakan inbox @Hasfa Publisher/ Hasfa Publisher Dua utk pemesanan atau sms 081914032201 Ramadlan memang harus berakhir dengan Lebaran. Namun ramadhanan tidak boleh selesai di batas lebaran. Justru dengan datangnya Lebaran perjalanannya baru saja dimulai dan itu tidak pernah tahu sampai dimana akhirnya. Lebaran 1432H memang sudah berakhir, dan berakhir dengan ketentuan penetapan waktu yang bercabang. Padahal mungkin Tuhan tidak ambil pusing kapan tibanya Lebaran. Bisa saja Tuhan lebih peduli bagaimana umat bersatu dalam berlebaran. Sehingga menjadi sebuah konser akbar beserta semesta raya alam. Bahkan mungkin Tuhan lebih tertarik, bagaimana Ramadhan diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari setelah berlebaran.  Buku ini inginnya menjadi sebuah ramadhanan yang sempit dituliskan. Tidak ingin menjadi se...

Event Pameran Buku

21-27 Mei 2012 Pameran Buku di Gedung Koni KotaWali Pameran Buku, Oase Bagi Minat Baca Buku Yang Mengering Hasil penelitian Program for Internasional Student Assessment (PISA) 2009 sebagaimana dikutip Editorial  Kompasiana  (Kompas 24 Mei 2012) menunjukkan bahwa minat masyarakat Indonesia dalam membaca buku masih rendah. Indonesia berada di posisi sembilan terbawah, atau peringkat 57 dari 65 negara yang berpartisipasi dalam penelitian. Di Demak hal itu bisa kita buktikan dalam kehidupan sehari-hari, jarang kita temui aktivitas orang membaca buku di ruang publik, saat menunggu, atau dalam perjalanan. Bahkan yang berseragam sekolah atau mahasiswa sekalipun jarang kedapatan membaca buku. Sedikitnya jumlah dan ragam buku berkualitas yang  up to date , serta akses buku yang sulit dan mahal, kerap menjadi kendala yang ditemui di daerah. Tradisi bertutur lisan dalam menyebarkan dan menggali informasi, ditambah maraknya budaya komunikasi non-lisan melalui...

Info Buku Baru

Review by Fitri Ragil Kuning SEGITIGA – Sebuah Novel Duet   Judul : Segitiga Penulis : Dian Nafi & Nessa Kartika Penerbit : Hasfa Publishing Terbit : Mei 2012 Halaman : vi + 120 halaman Sudah menjadi sifat manusia bahwa dia akan melakukan apapun demi kepuasan dirinya sendiri. Tak peduli apakah keinginan itu merugikan orang lain atau tidak. Untuk itu, tak heran rasanya jika semakin hari semakin banyak kita temukan tangan-tangan jahil yang memanfaatkan kekuasaannya untuk mendapatkan keuntungan. Yang dirugikan, justru orang-orang awam yang tak mengerti sama sekali. Sebut saja korupsi, misalnya. Seperti yang dikisahkan dalam novel duet ini, bahwa kekuasaan mampu membungkam mulut siapa saja, termasuk anggota-anggota LSM yang seharusnya bisa mewakili aspirasi masyarakat. Yang benar menjadi salah, yang salah pun terkesan dibenarkan. Berbagai negosiasi dan ‘main belakang’ selalu menjadi cara kerjanya. Novel yang berbau permainan politik ini tidak terkesan kaku karena ...

Di Terminal Kedatangan

Meski belum bisa menghubungi Wida, kami tak mau ambil pusing. Keputusan yang diambil, lebih baik kami berkorban menunggu beberapa jam di bandara daripada Wida datang jauh-jauh dari Mesir tanpa seorangpun tampak menjemputnya. Karenanya kami bergegas masuk mobil dan Amand dengan lincahnya mengendarai melewati segala kemacetan. Sehingga kami tiba di bandara jam enam lebih sedikit. Langit telah menenggelamkan mentari dan lampu-lampu merkuri memandikan jalan raya, pepohonan perdu dan rerumputan di taman jalan juga mobil-mobil yang terparkir berjajar di depan bandara. Rayhan –sulungku tujuh tahun- dan adiknya Nayla berlarian sepanjang koridor. Mereka sudah hafal ke mana harus duduk menunggu jika tujuannya adalah menjemput. Di terminal kedatangan. “Masih belum bisa dihubungi bu?” tanyaku pada ibu karena aku juga belum berhasil  menghubungi Wida-adikku yang rencananya datang malam ini dari Mesir setelah empat tahun masa studi di Al Azhar. “Belum. Kita tunggulah” jawab ibu sambil duduk di...

Kiat Menulis Dengan Scamper

Kiat Menulis Dengan Scamper Seorang penulis yang baik adalah penulis yang tidak terpaku pada ide yang pertama kali keluar. Baginya, ide adalah sesuatu yang bisa terus bergerak, berubah. Bahkan sebenarnya, ide pertama yang keluar dalam benaknya adalah ide yang paling biasa-biasa saja, kurang orisinal. Mengapa/ Karena otak kita biasa melakukan asosiasi terdekat. Semakin lama kita memikirkan ide tersebut, kita akan mencari sesuatu yang asosiasinya tidak dekat. Lama-lama kita akan menemukan sesuatu yang lebih orisinil dibandingkan ide pertama kita. Salah satu cara untuk mengolah ide tersebut adalah dengan menggunakan sistem Scamper. Scamper adalah sembilan prinsip berpikir kreatif yang diciptakan oleh Alex Osborn dan emudian disusun ulang oleh Bob Eberle.  Kesembilan prinsip berpikir itu adalah: S (Substitute) = Mengganti C (Combine) = Kombinasi A (Adapt) = Menyesuaikan M (Magnify/Modify) = Memperbesar/Memodifikasi P (Put to other use) = Memanfaatkan untuk kegunaan lain E (...

PELUKITARO

PELUKITARO Oleh Dian Nafi Menatap tajam ke arahku, Hendrik menyelusupkan rasa dan getar yang tak biasa. Aku ketakutan. Kami sedang berteduh di bawah jembatan tol. Hujan mulai rintik dan kami memutuskan untuk berteduh sembari beristirahat setelah seharian mengamen dari kampung ke kampung. Hendrik memetik gitarnya lalu dengan lembut melantunkan lagu Kitaro. Children without father. Titik air mataku tak tertahan, tak urung aku luruh dan hanyut bersama hujan dan suara emas Hendrik. Luruh dan jatuh ke pelukannya. Pelukan Kitaro-ku.             Kami telah sama-sama menggelandang sejak puluhan tahun lalu, saat kami sama-sama kehilangan ayah kami yang terkena bencana alam di masa negeri berselimut kalut kekacauan korupsi dan berbagai macam mafia. Kuedarkan pandangan dan berakhir saat menatap beton jembatan tol di atas kami. Kami sekeras baja, Kitaro-ku –Hendrik- tak pernah melepaskan aku dari ‘pelukan’nya. Dia yang selalu ...