Langsung ke konten utama

Di Terminal Kedatangan

Meski belum bisa menghubungi Wida, kami tak mau ambil pusing. Keputusan yang diambil, lebih baik kami berkorban menunggu beberapa jam di bandara daripada Wida datang jauh-jauh dari Mesir tanpa seorangpun tampak menjemputnya. Karenanya kami bergegas masuk mobil dan Amand dengan lincahnya mengendarai melewati segala kemacetan. Sehingga kami tiba di bandara jam enam lebih sedikit. Langit telah menenggelamkan mentari dan lampu-lampu merkuri memandikan jalan raya, pepohonan perdu dan rerumputan di taman jalan juga mobil-mobil yang terparkir berjajar di depan bandara.

Rayhan –sulungku tujuh tahun- dan adiknya Nayla berlarian sepanjang koridor. Mereka sudah hafal ke mana harus duduk menunggu jika tujuannya adalah menjemput. Di terminal kedatangan.

“Masih belum bisa dihubungi bu?” tanyaku pada ibu karena aku juga belum berhasil  menghubungi Wida-adikku yang rencananya datang malam ini dari Mesir setelah empat tahun masa studi di Al Azhar.

“Belum. Kita tunggulah” jawab ibu sambil duduk di kursi panjang berbahan metal berwarna silver yang sudah mulai korosi di sana sini, terlalu sering diduduki.

Untunglah Rayhan dan Nayla menikmati acara menunggu ini dengan tanpa rasa terbebani. Aku berhasil menyuapi mereka makan malam yang telah kubawa dari rumah dalam sebuah wadah yang menjaga makanan tetap hangat.

Ponselku berdering pendek. Sebuah pesan singkat dari adik lelakiku –Kamal.

Wida sudah datang belum, mbak? Aku berangkat langsung dari Solo. Sekarang baru sampai tugu muda.

 Kamal belajar spesialis penyakit dalam di Solo setahun ini.  Meski waktunya sempit karena jam tiga dini hari nanti ia harus kembali lagi ke Solo untuk jaga sebagai residen, ia selalu menyempatkan datang untuk acara penting seperti ini.

Belum datang. Aku dan ibu masih di bandara kok.

Pesan singkatku sebagai jawaban tak lama kemudian terjawab dengan kehadirannya. Satu-satunya lelaki di antara kami empat bersaudara. Dia mencium punggung tangan ibu dan milikku dengan takdzim. Masih tidak berubah sejak dulu. Dua krucilku menyambutnya dengan hangat.

 “Bagaimana? Coba kamu tanyakan ke konter-konter itu. Supaya jelas ada nama adikmu tidak di daftar penumpang mereka?” ibu mulai cemas. Dan aku berlari ke konter-konter tiket pesawat yang ada di ujung lain dari bandara ini. Mencari tahu tapi ternyata tidak ada nama adikku di daftar penumpang pesawat manapun.

Ketika aku kembali ke terminal kedatangan, menemui ibu di bangku panjang tempatnya dua jam ini menunggu tanpa kejelasan, ibu sedang mengakhiri perbincangan di ponselnya.

“Adikmu masih di bandara Soeta. Tidak terkejar naik pesawat ke Semarang malam ini. Kemungkinan besok pagi baru bisa terbang. Kita pulang. Besok ke sini lagi” ibu bangkit dari tempat duduknya. Tampak lelah sekali.

“Wah sayang sekali. Aku jam tiga dinihari ini harus balik lagi ke Solo” gerutu adik lelakiku. Ah, ternyata dia menyempatkan diri hadir di bandara ini di tengah waktunya yang sempit harus jaga bangsal dan pasien rumah sakit sebagai bagian dari pendidikan spesialisnya.

“Iya, nggak apa. Besok ibu sama kakakmu saja lagi yang menjemput. Mana Rayhan dan Nayla?” ibu bahkan masih mengkhawatirkan cucu-cucunya.  

Dua balitaku berlari mendekat ke nenek mereka. Seolah mengerti isyarat mataku kepada mereka yang berlari-larian di area dekat televisi besar yang tergantung di terminal kedatangan ini. Kami semua meninggalkan bandara malam itu dengan rencana kembali besok hari setelah ada kabar dari Wida mengenai jadual terbangnya dari Jakarta.

**

 Jam dua belas siang kami kembali berada di terminal kedatangan. Ibu kelelahan sebenarnya  karena tiga hari  ini berkutat dengan persiapan banyak acara dan tiga hari ke depan juga akan melakukan beberapa kegiatan penting dan juga perjalanan, termasuk reuni dengan teman-teman kampusnya dulu. Tapi ibu tak mungkin melewatkan acara penting ini. Anak bungsunya, satu-satunya yang studi sampai keluar negeri akan pulang hari ini setelah empat tahun tinggal di Kairo.

Di terminal kedatangan kali ini suasananya lebih ramai. Aku menikmatinya sambil menunggu kedatangan adikku. Pemandangan orang – orang yang gelisah menunggu, hilir mudik petugas yang membersihkan lantai, ada yang membantu mereka yang mencari taksi, orang-orang  yang saling berpelukan ketika bertemu dengan yang dijemput.

Seorang bule dan perempuan muda agak jauh dari terminal kedatangan, berdiri berhadapan dengan senda gurau dan tertawa – tawa kecil meski tak bisa menutupi raut murung di wajah mereka. Ekspresi perpisahan yang berat namun harus terjadi. Mengingatkan diriku sendiri ketika melepas Alexander Kudzierko kembali ke Inggris setelah setahun bersamaku memegang kendali marketing di sebuah perusahaan eksportir furniture.

Sambil terus mengawasi dua anakku, mataku bergeser ke pintu terminal kedatangan karena beberapa orang keluar dari sana. Seorang lelaki tinggi berkaca mata membawa tas ransel di punggungnya dengan satu koper besar beroda, mencium punggung tangan seorang perempuan setengah baya berjilbab. Mungkin ibunya. Lalu mencium punggung tangan seorang lelaki beruban berwajah simpatik, mungkin ayahnya. Si anak yang membanggakan itu mungkin seperti adikku. Baru saja menyelesaikan studinya di luar negeri dan membawa pulang kemenangan berikut harapan-harapan baru.

Serombongan orang berseragam batik ungu tampak keluar dari pintu terminal kedatangan. Terbaca tulisan pada emblem di seragam bagian dada kirinya. Sebuah perusahaan tour umroh haji yang terkenal di Semarang. Rupanya mereka pulang umroh.

“Berapa jumlah rombongan bu? berapa hari bu umrohnya?” aku bertanya dengan seorang perempuan di antara mereka yang terdekat denganku.

“Ada Sembilan puluh orang. Umrohnya sembilan hari sudah termasuk perjalanan. Tiga hari di Mekkah, tiga hari di Medinah” jawabnya lengkap seperti tahu persis seperti apa jawaban yang kuinginkan darinya.

Para jamaah tampak dijemput keluarganya masing-masing. Mengharukan sekali. Saat kucium punggung tangan beberapa ibu jamaah umroh itu, seakan aroma Makkah Madinah tercium olehku. Hatiku haru oleh kerinduan. Tiga tahun lalu tepatnya aku Alhamdulillah pergi berhaji. Dan selalu hatiku menangis dan berharap ingin ke sana lagi setiap kali melihat rombongan umroh atau haji.

Sekejap kemudian aku sadar mungkin sekali Wida ada dalam pesawat yang sama dengan rombongan umroh ini. Mataku bergegas gerilya mencari sosok mungil adikku itu. Empat tahun yang panjang bagi ibuku tentu saja. Dengan segala carut marut dan kekisruhan di bumi kinanah itu. Pertemuan ini akan menjadi penawar setelah lelah penantian. Dan obat bagi keletihannya sebagai orang tua tunggal bagi kami. Nhah itu dia Wida!

“Ibu! Itu Wida, bu!” aku berteriak girang membayangkan ibu juga mengalami euphoria sepertiku. Kepala dan jilbabku bergoyang ke sana kemari mencari-cari sosok ibu di antara deretan penjemput yang berdiri di sepanjang pagar batas di depan pintu terminal kedatangan.

Seorang perempuan tua yang pucat dan lesu terjatuh di pojok sana, jauh dari tempatku berdiri. Seorang lelaki sigap menangkap tubuhnya yang terkulai. Aku berlari mendekat ke arahnya dan mengabaikan Wida yang entah melihatku atau belum.

Perempuan tua itu, ibu, yang segenap jiwa raganya ia berikan untuk kami, anak-anaknya. Tuhan menjemputnya terlebih dulu sebelum beliau berhasil menjemput anak bungsu terkasihnya di hari ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

lessons from euro trip

lessons from euro trip   Some great inspiring values/lessons that I get from eurotrip: - dress well or go home - love walking -love bike -we responsible to our own garbage -on time -respect others -not judging -contribution for society -cooking by themselves -healthy lifestyle -enjoy life There's no compromise. Even one second. Bus will go on time. Train door will be closed on time. I am almost pinched by metro door. Fortunately there are some people succed to pull the door again to let me in. I still can feel that door on my face & cheek right now. I almost dead Just before metro comes, Ning ask me to take her pict. As usual, she isn't satisfied. She want me to take another shoot. Then I have not enough time to reach the metro. Ning puts me in trouble many times.But I'm trained to be managed by scorpio's flaws,so I survive Walking with spoiled girl is actually not my preference.There're some occasions where I have opportunity to hang out ...

Makna Lirik Folklore Taylor Swift

Makna Lirik Folklore Taylor Swift Taylor Swift mengeluarkan album Folklore yang berisi 16 lagu. Dia menciptanya selama pandemic covid-19 ini. Semua lagu di album ini bagus banget. Masterpiece dari seorang legenda. Taylor Swift is music industry, gitu menurut orang-orang. Menulis adalah cara Taylor Swift  melarikan diri ke dalam fantasi, sejarah, dan ingatan. Dia menceritakan kisah-kisah ini dengan kemampuan terbaiknya dengan seluruh cinta, keajaiban, dan imajinasi. urutan lagu dalam album the 1 cardigan the last great american dynasty exile my tears ricochet mirrorball seven august this is me trying illicit affairs invisible string mad woman epiphany betty peace hoax (bonus the lakes) Berikut lirik dan makna album ini dari berbagai sumber. the 1 Swift merefleksikan tentang kehilangan cinta dari orang yang sudah dianggap sebagai belahan jiwa. Ia juga mempertanyakan kalau saja situasi berbeda, apakah mereka masih bersama. [Ver...

Kurangi Porsi Nasi Putih

Kurangi Porsi Nasi Putih Belakangan tubuh rasanya makin berasa kurang nyaman. Berat badan memang naik sih. Lumayan jauh dari berat badan ideal. Dari tahun ke tahun sebenarnya aku selalu melakukan checking ulang terhadap kebugaran tubuh dan melakukan diet yang berbeda beda karena memang ingin mencoba model.diet yang berlainan.  Seringnya kulakukan di bulan bulan awal tahun. Hasilnya lumayan banget lho. Ada yang pernah dalam dua minggu turun enam kilogram. Ada yang pernah turun dua belas kilogram dalam dua bulan.   Ada juga yang lernah turun delapan kilogram dalam satu bulan. Signifikan sekali kan. Jadi sesuai anjuran dokter, pakar kesehatan, kebugaran juga diet, aku selalu menggabungkan antara diet mengurangi porsi makan dan memilih makanan tertentu serta berolah raga. Entah itu lari, yoga ataupun pilates. Semua versi diet yang aku lakukan itu punya banyak kesamaan. Antara lain perbanyak minum air putih, kurangi makan minuman manis dan garam, penuhi kebutuhan tid...