Langsung ke konten utama

Postingan

Bertumbuh Tidak Hanya Untuk Diri Sendiri, Tapi Untuk Komunitas

Bertumbuh Tidak Hanya Untuk Diri Sendiri, Tapi Untuk Komunitas Kita hidup di masyarakat yang penuh interaksi, harapan, dan ekspektasi. Seringkali, kita terlalu fokus “menjadi versi terbaik” untuk orang lain: menjadi anak yang membanggakan, teman yang selalu hadir, atau anggota tim yang tak tergantikan. Tapi, di tengah semua itu, bagaimana dengan hubungan kita dengan diri sendiri? Mengapa Healing Penting untuk Society Komunitas bisa menjadi sumber kekuatan, tapi juga tekanan. Ketika kita tidak memberi ruang untuk menyembuhkan diri sendiri, luka yang tak terlihat bisa terbawa ke dalam hubungan dengan orang lain. Bertumbuh bukan sekadar memenuhi harapan sosial. Bertumbuh berarti kita cukup sehat secara emosional untuk hadir bagi orang lain. Ketika kita belajar menghargai proses pribadi, menetapkan batas, dan berdamai dengan masa lalu, dampaknya tidak hanya terasa pada diri sendiri, tapi juga pada komunitas kita. Membaca Diri Agar Bisa Bersama Setiap interaksi sosial membawa energi. Tanpa ...

Perisai Diri: Cerita Tentang Perempuan, Luka Sunyi, dan Keberanian untuk Melindungi Diri

Perisai Diri: Cerita Tentang Perempuan, Luka Sunyi, dan Keberanian untuk Melindungi Diri Oleh Dian Nafi Ada seorang perempuan yang selalu terlihat baik-baik saja. Senang membantu orang lain, selalu tersenyum, tidak pernah ingin merepotkan siapa pun. Ia menjalani hidup dengan hati-hati—seakan dunia bisa pecah jika ia membuat kesalahan kecil. Orang-orang bilang dia kuat. Tapi jauh di dalam dirinya, ia sering merasa bingung: “Kenapa aku lelah sekali? Kenapa aku tidak bahagia, padahal tidak terjadi apa-apa?” Yang tidak ia sadari, ia lama hidup dalam tekanan yang tak berbentuk. Kalimat-kalimat manipulatif yang dibungkus perhatian. Permintaan yang terdengar masuk akal, tapi perlahan menguras hatinya. Batas-batas diri yang tipis, lama-lama hilang. Cerita itu, sayangnya, bukan milik satu orang. Ini adalah cerita banyak perempuan. Lalu lahirlah buku ini: Perisai Diri . Dian Nafi menulisnya bukan untuk menggurui. Tidak untuk memberi kuliah panjang tentang psikologi atau teori re...

Akhir Tahun, Menyembuhkan Pelan-pelan, dan Buku yang Menjadi Ruang Aman

 Akhir Tahun, Menyembuhkan Pelan-pelan, dan Buku yang Menjadi Ruang Aman Ada masa-masa ketika dunia terasa terlalu cepat. Terlalu bising. Terlalu menuntut banyak hal dari hati yang sedang belajar pulih. Dan setiap akhir tahun, semesta seperti memberi jeda kecil— sebuah ruang sunyi tempat kita boleh berhenti sebentar, menutup mata, dan menarik napas panjang. Dalam ruang sunyi itulah buku sering menjadi teman terbaik. Bukan untuk memberi jawaban, tapi untuk menemani proses pulih yang tidak pernah tergesa. Karena itu, sepanjang 1–31 Desember 2025 , seluruh buku Dian Nafi hadir hanya Rp15.000 , agar setiap orang bisa punya ruang aman untuk menyembuhkan diri melalui tulisan, ide, dan renungan. Untuk Hati yang Sedang Belajar Tenang Tidak semua luka tampak dari luar. Tidak semua rasa lelah bisa diceritakan. Tapi buku—dengan cara yang lembut—dapat menyentuh bagian-bagian batin yang ingin didengar. Ada halaman yang seakan berkata: "Kamu boleh istirahat." Ada bab yang ...

Membaca Arsitektur Seperti Membaca Teks – Mengapa Kita Perlu Metodologi Semiotika-Hibrida

 Membaca Arsitektur Seperti Membaca Teks – Mengapa Kita Perlu Metodologi Semiotika-Hibrida Arsitektur selalu lebih dari sekadar bentuk. Ia adalah bahasa —bahasa ruang, bahan, bunyi, arah, cahaya, hingga ritual yang menghidupinya. Tetapi selama ini, banyak pembacaan arsitektur hanya berhenti pada level visual: bentuk, gaya, proporsi. Padahal dalam tradisi Nusantara, makna ruang tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari kosmologi , mitos , memori sejarah , dan gestur tubuh manusia dalam ruang itu sendiri. Untuk menjembatani kompleksitas tersebut, buku ini memperkenalkan Metodologi Semiotika-Hibrida —sebuah pendekatan yang menggabungkan: Semiotika Peircean dan Saussurean Fenomenologi Merleau-Ponty dan Heidegger Antropologi ruang Kosmologi lokal Nusantara Narasi kultural dan memori kolektif Dari pendekatan itu, lahirlah sebuah alat baca baru: Kerangka Analisis 9-Lapisan , mulai dari ikon dasar hingga pengalaman eksistensial. Di dalamnya, peneliti diajak melih...

Menenun Cahaya dari Benang Kehidupan: Kisah Srikandi Penenun Asa dari Kampung Ntobo

Menenun Cahaya dari Benang Kehidupan: Kisah Srikandi Penenun Asa dari Kampung Ntobo Di Kampung Ntobo, Bima, suara alam berpadu dengan denting alat tenun. Suara kayu bergesekan pelan, berirama seperti napas bumi. Di tengah ruangan sederhana, seorang perempuan duduk dengan punggung tegak dan pandangan tenang. Tangannya cekatan, menganyam benang warna-warni menjadi sehelai kain indah. Namanya Yuyun Ahdiyanti,  perempuan yang menenun bukan hanya kain, tetapi juga asa dan martabat bagi banyak perempuan di desanya. Kisahnya dimulai dari keprihatinan sederhana: banyak perempuan di Ntobo yang kehilangan ruang untuk berkarya. Mereka terjebak antara tuntutan ekonomi dan minimnya akses untuk bekerja layak. Yuyun melihat itu, merasakan getirnya, dan memilih untuk bertindak. Dengan modal kecil dan semangat besar, ia mendirikan komunitas tenun perempuan . Tujuannya bukan hanya untuk menghidupkan tradisi, tapi untuk menghidupkan kembali jiwa perempuan yang hampir padam oleh kerasnya hid...

Bulus dan Ekologi: Menyelamatkan Alam, Menyelami Makna

 Bulus dan Ekologi: Menyelamatkan Alam, Menyelami Makna Di tengah derasnya arus modernisasi dan pembangunan yang seringkali melupakan keseimbangan alam, Dian Nafi menghadirkan buku “Bulus dan Ekologi” sebagai ajakan untuk kembali menyadari hubungan sakral antara manusia dan lingkungan. Bulus — hewan air tawar yang sering dianggap biasa, bahkan diremehkan — dalam buku ini justru menjadi simbol kearifan lokal dan daya tahan alam. Ia menjadi cermin bagi manusia untuk belajar tentang kesabaran, ketahanan, dan keterhubungan dengan ekosistem . 🌿 Dari Mitologi ke Gerakan Ekologi Buku ini tidak sekadar menceritakan kisah tentang bulus. Ia menggali makna budaya, mitos, dan spiritualitas di balik keberadaan bulus dalam kehidupan masyarakat pesisir dan pedalaman Jawa. Melalui pendekatan antropologis dan ekologis, Dian Nafi mengajak pembaca memahami bahwa ekologi bukan hanya urusan lingkungan , melainkan juga tentang etika hidup dan hubungan antar makhluk. “Menjaga bulus berarti menjaga ke...

Mengatasi Penyakit Procrastination: Menjemput Hidup, Menjemput Waktu

 Mengatasi Penyakit Procrastination: Menjemput Hidup, Menjemput Waktu Pernahkah kita merasa hari-hari penuh kesibukan, tetapi ketika malam tiba, hati justru bertanya: “Hari ini sebenarnya aku sudah menyelesaikan apa?” Di tengah derasnya distraksi dunia digital, kebiasaan menunda atau procrastination menjadi “penyakit” yang diam-diam merampas hidup kita. Ia tidak datang dengan suara bising, melainkan dengan bisikan lembut: “Nanti saja… besok bisa… tunggu mood lebih baik…” Hingga akhirnya waktu berlalu tanpa hasil, dan kita hanya menyisakan penyesalan. 📖 Tentang Buku Dalam bukunya yang terbaru, Mengatasi Penyakit Procrastination , Dian Nafi menyingkap akar-akar terdalam dari penundaan. Mengapa kita menunda? Apakah hanya karena malas? Atau justru karena ketakutan, perfeksionisme, bahkan luka emosional yang tak kita sadari? Buku ini bukan sekadar kumpulan tips manajemen waktu. Ia adalah perjalanan reflektif yang menyentuh banyak dimensi: ✨ Psikologis — memahami pola pikir yan...

Joy Leading: Seni Memimpin dengan Sukacita

  Joy Leading: Seni Memimpin dengan Sukacita Banyak orang menganggap kepemimpinan sebagai beban: penuh tekanan, tanggung jawab besar, dan tuntutan yang tidak pernah berhenti. Tidak jarang, pemimpin merasa lelah bahkan sebelum sampai pada garis akhir. Namun, ada cara lain untuk memimpin—cara yang lebih ringan, lebih bermakna, dan lebih membahagiakan. Inilah yang disebut Joy Leading . Joy Leading bukan sekadar metode, tetapi mindset . Sebuah cara pandang yang meyakini bahwa kepemimpinan bisa menjadi sumber energi positif, bukan sumber stres. Pemimpin joyful hadir bukan untuk mengendalikan, tetapi untuk menginspirasi. Ia tidak menekan timnya dengan rasa takut, tetapi menyalakan mereka dengan semangat sukacita. Apa rahasianya? Mindset Positif Pemimpin joyful percaya bahwa setiap tantangan adalah peluang. Ia melihat masalah bukan sebagai tembok, melainkan sebagai jembatan menuju inovasi. Komunikasi yang Hangat Kepemimpinan penuh sukacita lahir dari percakapan yang tulus, men...

Joy Team Working: Rahasia Tim Bahagia dan Produktif

Joy Team Working: Rahasia Tim Bahagia dan Produktif Setiap tim pasti menghadapi tantangan: deadline yang ketat, ide berbeda, target tinggi, dan tekanan kerja yang tak terhindarkan. Banyak organisasi fokus pada produktivitas semata, namun seringkali melupakan satu hal penting: kebahagiaan tim . Padahal, tim yang bahagia bukan hanya lebih kreatif, tetapi juga lebih tangguh, inovatif, dan berkelanjutan. Buku Joy Team Working karya Dian Nafi hadir sebagai panduan lengkap untuk membangun tim yang efektif sekaligus bahagia . Buku ini tidak hanya teori, tetapi dipenuhi dengan contoh nyata, latihan praktis, dan toolkit yang bisa langsung diterapkan . LINK BUKU JOY TEAMWORKING Apa yang Akan Anda Pelajari Joy Collaboration – Kolaborasi yang Membahagiakan Pelajari bagaimana setiap anggota tim dapat berkontribusi secara maksimal tanpa kompetisi yang merusak hubungan. Kolaborasi bukan sekadar membagi tugas, tapi menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab bersama. Joy Communication – Be...

Wirai dan Wirang: Dari Kemasygulan Menuju Keinsyafan

 Wirai dan Wirang: Dari Kemasygulan Menuju Keinsyafan Setiap orang pernah merasakan kegagalan. Ada yang cepat bangkit, ada pula yang terjebak lama dalam kecewa. Saya sendiri pernah mengalami titik itu—ketika gagal lolos seleksi beasiswa doktoral, padahal sudah sampai tahap wawancara. Rasa masygul muncul: kecewa, bingung, sekaligus menyesali hal-hal kecil yang saya abaikan. Dari situ saya mulai merenung. Mungkin kegagalan ini bukan semata soal persaingan ketat, tetapi juga soal bagaimana saya menjalani hidup sehari-hari. Tentang undangan yang tidak saya hadiri, doa yang penuh keraguan, kejujuran yang tertahan saat wawancara, bahkan hal-hal remeh seperti tidak mengembalikan pena kafe. Dalam renungan itu saya teringat pada istilah pesantren: wirai dan wirang . Wirai berarti berhati-hati, menjauhi yang meragukan, bahkan dalam perkara kecil. Wirang berarti rasa malu—bukan malu karena dipermalukan, melainkan malu pada diri sendiri dan pada Allah jika sampai berbuat buruk. Dari ...

Kenapa Kita Kadang Berdoa dengan Ragu-ragu

  Pernahkah kamu menutup mata, merangkai kata dalam hati, lalu memanjatkan doa… tapi di dalam dada ada rasa ganjil? Rasa itu bisa berupa ragu—apakah Tuhan mendengar? Apakah aku layak meminta ini? Atau malah takut, bagaimana jika doa ini terkabul tapi ternyata aku belum siap menerimanya? Keraguan dalam doa adalah pengalaman yang sangat manusiawi. Ia bisa muncul dari rasa rendah diri, luka masa lalu, atau bahkan kebingungan tentang apa yang benar-benar kita harapkan. Tapi yang jarang kita sadari, ragu itu bukan penghalang doa. Ia justru bisa menjadi pintu masuk untuk kita mengenal diri sendiri lebih dalam, memahami hati, dan mendekat pada Tuhan dengan cara yang lebih tulus. Buku Kenapa Kita Kadang Berdoa dengan Ragu-ragu karya Dian Nafi mengajak kita menelusuri perjalanan batin ini. Dengan bahasa yang hangat dan jujur, Dian mengurai mengapa keraguan hadir, bagaimana mengelolanya, dan bagaimana mengubahnya menjadi keyakinan. Buku ini bukan sekadar bacaan, tapi teman yang menema...

Menulis Memoar dan Biografi yang Menggugah

 Menulis Memoar dan Biografi yang Menggugah: Bukan Soal Terkenal, Tapi Soal Bermakna Apa yang membuat sebuah memoar membekas dalam hati pembaca? Bukan karena tokoh utamanya selebritas. Tapi karena kisahnya jujur, menyentuh, dan ditulis dengan nyawa. Menulis memoar atau biografi bukan hanya tentang kronologi peristiwa. Ini tentang memaknai luka, merayakan tawa, dan menyulam waktu menjadi kisah yang menyala. Lewat buku "Menulis Memoar dan Biografi" , Dian Nafi mengajak kita menyelami teknik, pendekatan, dan cara pandang baru dalam menulis memoar dan biografi. Bukan dengan gaya kaku atau datar, melainkan dengan alur yang reflektif, menyentuh, dan orisinal. Di dalamnya, kita akan belajar: Bagaimana mengenali momen-momen yang layak ditulis Bagaimana menulis dengan gaya naratif yang hidup Bagaimana mengolah luka dan perenungan menjadi kekuatan tulisan Dan bagaimana menghindari jebakan cerita yang membosankan Memoar dan biografi bukan hanya untuk orang terkenal. Mereka ...

Buku Baru Dian Nafi di Kampung Heritage Kajoetangan

Buku Baru Dian Nafi di Kampung Heritage Kajoetangan Pagi itu saya berjalan pelan di lorong sempit Kampung Heritage Kajoetangan, jantung warisan tua di tengah kota Malang. Udara masih dingin, aroma kopi hitam menembus celah pintu rumah bata, suara radio Jawa terdengar dari beranda. Di sinilah, di antara tembok-tembok bata peninggalan kolonial, saya memulai naskah buku ini: Memoir Perjalanan dan Arsitektur. Sebuah upaya kecil menulis ulang percakapan saya dengan rumah-rumah tua dan orang-orang yang menjaganya. Kajoetangan bukan sekadar gang-gang sempit. Ia saksi bagaimana Malang tumbuh di tangan orang biasa: warga lokal, keluarga kampung, para penjual di warung sudut gang, bapak tua penjahit yang menempati rumah bergaya Indis peninggalan zaman Hindia Belanda. Dulu, kawasan ini adalah permukiman elite Eropa — banyak rumah dirancang dengan sentuhan perencana seperti Thomas Karsten , arsitek legendaris yang menanam ide “kota taman” di Malang. Dinding bata yang tebal, jendela lebar, ven...

Menulis dari Akar: Pelatihan Artikel dan Esai Bersama Dian Nafi, Menggali Kekuatan Budaya Lokal

 Menulis dari Akar: Pelatihan Artikel dan Esai Bersama Dian Nafi, Menggali Kekuatan Budaya Lokal “Menulis itu bukan hanya soal merangkai kata, tapi juga membumikan nilai.” Kalimat itu menjadi pembuka dari Dian Nafiatul Awaliyah—akrab disapa Dian Nafi—saat mengisi sesi pelatihan penulisan artikel dan esai yang berakar pada budaya lokal. Dalam pelatihan yang dihadiri berbagai kalangan—dari mahasiswa, dosen, guru, penulis muda, hingga pegiat komunitas—Dian mengajak peserta menyelami ulang tempat berpijak mereka. “Seringkali kita terpesona oleh budaya luar, padahal tanah tempat kita berdiri penuh kisah dan kearifan,” ujarnya. Sebagai penulis yang produktif sekaligus arsitek dan peneliti, Dian tidak hanya berbicara soal teknik menulis. Ia membagi pengalaman riset lapangan, proses mengubah temuan budaya menjadi narasi yang menggugah, dan pentingnya menjaga konteks lokal dalam setiap tulisan. Sesi pelatihan ini mengalir seperti obrolan di beranda rumah: hangat, reflektif, dan membangk...

Surveyor dan Enumerator, Apa Bedanya?

Surveyor dan Enumerator, Apa Bedanya? Dulu aku pernah menjadi surveyor di perusahaan AC Nielsen selama beberapa tahun. Lumayan banget sih pengalaman ini, tidak menyangka akan menjadi pijakan yang berharga dalam karirku sebagai peneliti (yang baru kusesap belasan tahun berikutnya). Pernah diminta tolong oleh Muslimat NU juga untuk menjadi enumerator dalam proyek riset yang dibuat oleh Badan Anti Terorisme.  Nah! Pasti ada juga yang bertanya-tanya, apa sih bedanya surveyor dan enumerator? Surveyor dan enumerator memiliki peran yang berbeda dalam proses penelitian atau survei, meskipun keduanya sering bekerja bersama dalam pengumpulan data. Berikut perbedaannya: Surveyor Peran Utama: Bertanggung jawab atas perencanaan dan pengawasan survei. Tugas: Merancang kuesioner atau instrumen penelitian. Menentukan metode dan teknik pengambilan sampel. Mengawasi dan melatih enumerator dalam pengumpulan data. Melakukan validasi dan pengecekan kualitas data yang dikumpulkan. Tingkat K...

Magnet Energi: Rahasia Menarik Kehidupan yang Selaras dengan Frekuensimu

Magnet Energi: Rahasia Menarik Kehidupan yang Selaras dengan Frekuensimu Pernahkah kamu merasa seperti menarik orang-orang atau kejadian tertentu ke dalam hidupmu, seolah-olah ada pola yang berulang? Mungkin kamu sering bertemu dengan orang-orang yang mendukung impianmu, atau justru sebaliknya—bertemu dengan mereka yang hanya membawa energi negatif. Semua ini bukan kebetulan. Setiap interaksi, setiap hubungan, bahkan setiap peluang yang datang adalah refleksi dari energi yang kita pancarkan. Jika ingin kehidupan yang lebih baik, bukankah sudah saatnya kita mengubah energi kita? "Magnet Energi" bukan sekadar buku, tetapi peta perjalanan menuju kesadaran yang lebih tinggi tentang bagaimana energi bekerja dalam hidup kita. Dengan menggabungkan sains, psikologi, dan spiritualitas, buku ini akan membuka mata kita tentang bagaimana pikiran, emosi, dan lingkungan membentuk realitas yang kita alami. Kamu akan menemukan konsep hukum ketertarikan energi , bagaimana synchronicity men...

Menembus Batas: Menghadapi Gatekeeper dan Membangun Jalan Sendiri

  Menembus Batas: Menghadapi Gatekeeper dan Membangun Jalan Sendiri Di setiap industri—penerbitan, akademik, seni, hiburan, bahkan pemerintahan— gatekeeper selalu ada. Mereka adalah pihak yang menentukan siapa yang boleh masuk dan siapa yang harus tersingkir. Idealnya, mereka menjaga standar dan kualitas. Namun, di tangan yang salah, gatekeeping bisa menjadi alat untuk mempertahankan kekuasaan, menguntungkan kelompok tertentu, dan menekan mereka yang berbakat tapi tidak punya "jalur dalam." Lalu, bagaimana cara menghadapi mereka? Ketika Akses Dikendalikan oleh Segelintir Orang Bayangkan seseorang dengan ide brilian, tetapi setiap kali ia mencoba menembus industri yang ia geluti, pintu selalu tertutup. Ia tidak diberi kesempatan karena tidak berasal dari lingkungan "yang tepat," tidak punya jaringan, atau dianggap ancaman oleh mereka yang ingin mempertahankan posisi. Ini bukan sekadar kebetulan. Banyak sistem dibuat untuk menyulitkan orang-orang berbakat yang t...

Hybrid Paradox: Seni di Persimpangan Tradisi dan Globalisasi

Hybrid Paradox: Seni di Persimpangan Tradisi dan Globalisasi Mengapa Seni Selalu Berada di Persimpangan? Di era globalisasi yang serba cepat, seni mengalami perubahan yang signifikan. Ia tidak lagi terbatas pada batas-batas geografis atau identitas tunggal, melainkan menjadi ruang negosiasi yang dinamis antara tradisi dan inovasi, lokalitas dan globalisasi, serta ekspresi personal dan kepentingan kolektif. Inilah yang saya sebut sebagai Hybrid Paradox —konsep yang mengangkat ketegangan antara dua kutub yang tampaknya bertentangan, tetapi justru melahirkan kreativitas baru yang unik dan relevan dengan zaman. Tentang Buku Ini Buku Hybrid Paradox: Seni di Persimpangan Tradisi dan Globalisasi lahir dari pengamatan, pengalaman, serta penelitian saya sebagai akademisi, seniman, dan aktivis budaya. Buku ini mengeksplorasi bagaimana seni berkembang dalam lanskap digital, bagaimana media sosial membentuk identitas seniman dan komunitasnya, serta bagaimana seni berperan sebagai alat refle...

Hybrid Paradox dalam Pengalaman Immersive: Menjelajahi Dunia Nyata dan Virtual

  Hybrid Paradox dalam Pengalaman Immersive: Menjelajahi Dunia Nyata dan Virtual Di era digital yang terus berkembang, pengalaman manusia semakin didominasi oleh teknologi immersive seperti Virtual Reality (VR), Augmented Reality (AR), dan Mixed Reality (MR) . Kita dapat menjelajahi dunia virtual seolah-olah nyata, berinteraksi dengan lingkungan digital yang semakin realistis, dan bahkan bekerja atau belajar di ruang hybrid yang menggabungkan elemen fisik dan digital. Namun, seiring dengan kemajuan ini, muncul Hybrid Paradox —sebuah dilema antara keterlibatan penuh dalam pengalaman digital dan keterasingan dari realitas fisik. Apa Itu Hybrid Paradox? Hybrid Paradox menggambarkan kontradiksi yang muncul ketika dua aspek yang tampaknya bertentangan—realitas dan virtualitas—saling bertautan dalam kehidupan manusia. Kita ingin terlibat sepenuhnya dalam dunia digital yang menarik, tetapi di sisi lain, semakin terbenam dalam ruang virtual juga dapat menjauhkan kita dari interaksi sosi...

Ketika Masyarakat Menjadi Pahlawan dalam Perubahan Iklim

  Ketika Masyarakat Menjadi Pahlawan dalam Perubahan Iklim Pernahkah Anda mendengar tentang sebuah desa kecil di kaki gunung yang bertahan dari banjir besar karena warganya bersatu untuk membuat bendungan sederhana? Atau tentang sebuah komunitas pesisir yang menanam ribuan pohon mangrove untuk melindungi mereka dari gelombang pasang? Kisah-kisah seperti ini sering kali tidak diberitakan, tetapi mereka adalah bukti nyata bahwa masyarakat memegang peran penting dalam adaptasi terhadap perubahan iklim. Buku saya, The Role of Society in Climate Change Adaptation , lahir dari inspirasi seperti itu—dari orang-orang biasa yang melakukan hal luar biasa. Saya selalu percaya bahwa masyarakat bukan hanya penerima dampak, tetapi juga aktor utama dalam membangun ketahanan. Saat saya memulai riset untuk buku ini, saya bertemu dengan begitu banyak individu dan komunitas yang tidak menyerah pada keadaan. Ada petani di sebuah daerah kering yang menemukan cara menanam tanaman tahan kekeringan, ne...