Menjadi juri esai dari jarak jauh
Menjadi juri dari jarak jauh awalnya terasa praktis.
Tidak perlu datang ke satu tempat, tidak perlu menyesuaikan jadwal terlalu banyak. Kami hanya perlu sepakat di awal—tentang kriteria, tentang alur penilaian, tentang tenggat waktu. Selebihnya, masing-masing kembali ke ruangnya sendiri.
Kami sempat bertemu di layar. Wajah-wajah muncul dalam kotak-kotak kecil. Ada yang sambil tersenyum, ada yang terlihat lelah, ada juga yang lebih banyak diam. Percakapan berlangsung seperlunya. Tidak terlalu lama, tapi cukup untuk membuat kami merasa “pernah bersama” sebelum akhirnya benar-benar bekerja sendiri-sendiri.
Setelah itu, semuanya berjalan dalam sunyi yang berbeda-beda.
Esai-esai mulai dibagikan. File demi file. Tanpa nama, tanpa cerita tentang siapa penulisnya. Hanya teks yang harus dibaca, dipahami, lalu dinilai.
Aku membukanya di waktu-waktu yang tidak selalu ideal.
Kadang pagi, sebelum hari benar-benar dimulai. Kadang siang, di sela pekerjaan lain yang belum selesai. Kadang malam, ketika suasana sudah lebih tenang, tapi tubuh justru mulai lelah.
Tidak semua esai langsung bisa “masuk”. Ada yang harus dibaca dua kali, bahkan tiga kali. Ada yang terasa rapi tapi kosong, ada juga yang tidak terlalu rapi tapi justru menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan.
Di momen seperti itu, aku sering berhenti sejenak.
Bukan untuk mencari jawaban, tapi untuk memberi ruang pada pikiranku sendiri. Supaya yang kubaca tidak hanya lewat, tapi benar-benar dipertimbangkan.
Koordinasi dengan juri lain berlangsung sederhana. Pesan singkat. Komentar pendek. Kadang hanya satu kalimat.
“Ada yang menarik di bagian tengah.”
“Atau coba lihat lagi argumennya.”
Tidak ada diskusi panjang yang saling menyela. Tidak ada perdebatan langsung yang membuat suasana jadi panas. Semuanya berjalan pelan, seperti masing-masing sedang menjaga jaraknya sendiri.
Dan mungkin justru di situ tantangannya.
Karena ketika kita bekerja sendiri, kita lebih mudah merasa sudah cukup. Padahal belum tentu.
Penilaian akhirnya dikirim melalui form. Kolom-kolom itu terasa sempit untuk sesuatu yang sebenarnya luas. Angka harus dipilih. Komentar harus diringkas. Tidak semua hal bisa dituliskan.
Aku mengisi satu per satu.
Lalu berhenti.
Ada beberapa esai yang masih tertinggal di kepala. Bukan karena paling sempurna, tapi karena terasa lebih lama tinggal. Seperti belum benar-benar selesai dibaca, meskipun secara teknis sudah.
Aku kembali membuka satu di antaranya.
Membaca ulang, pelan.
Bukan untuk mengubah nilai, tapi untuk memastikan bahwa aku tidak sedang terburu-buru memahami sesuatu yang seharusnya diberi waktu lebih.
Ketika akhirnya semua selesai dan tombol kirim ditekan, tidak ada perasaan benar-benar lega.
Yang ada justru semacam kesadaran kecil—
bahwa pekerjaan ini tidak berhenti di angka yang sudah dikumpulkan.
Ada proses diam-diam yang ikut terjadi.
Tentang bagaimana kita belajar membaca lebih hati-hati. Tentang bagaimana kita mencoba adil, meskipun tidak pernah benar-benar bisa sempurna. Dan tentang bagaimana kita mengakui bahwa di balik setiap tulisan, selalu ada seseorang yang sudah berusaha lebih dari yang terlihat.
Koordinasi kami mungkin terpisah jarak, waktu, dan rutinitas yang berbeda-beda.
Tapi di tengah semua itu, aku merasa kami dipertemukan oleh satu hal yang sama—
keinginan untuk memahami,
meskipun hanya lewat kata-kata yang tidak pernah benar-benar kita dengar suaranya.
**
Baca seri Beyond Success by dian nafi di sini >> https://play.google.com/store/books/series?id=HVOMHAAAABCQTM

Komentar
Posting Komentar