Colourful Journal for Beautiful Life

beautiful journal for colourful life

Senin, 01 Juni 2020

Self Love and Support System

Self Love and Support System


Ada masa di mana kadang kadang kita merasa goyah, gak yakin tentang hidup, dan segala sesuatu yang melingkupinya. Bahkan mungkin sepo, tidak bisa merasakan apapun. Berjalan seperti zombie, mayat hidup yang tak punya arah. Mati tak mau, hidup segan.

Orang orang acapkali menasihatkan hal yang serupa. Kembalilah pada agama, berdzikir, wirid, ingat pada Allah, berdoa, ibadah, sholat, mengaji dan seterusnya.
Dan beberapa kita kadang menerjemahkan pesan dan nasihat ini secara leterleks, mengaji, berdoa dan sholat. Padahal di dalam kandungan anjuran itu, hakikatnya ada sesuatu yang lebih dalam yang harus kita gali.

Kembali kepada Allah, juga berarti kembali kepada diri sendiri.

Man arofa nafsahu fa qod arofa robbahu. Barang siapa mengenal dirinya sendiri, maka ia akan mengenal Tuhannya.

Dan bagaimana mungkin kita bisa mengenal diri kita sendiri dengan baik, jika kita tidak mencintai diri sendiri.  Self love

Tanpa mencintai diri sendiri, akan terjadi neglect pengabaian, denial penyangkalan, dan bahkan hatred pembencian.

Kenapa sebagian orang lupa melakukannya?
Mungkin karena belum sampai padanya pengetahuan tentang pentingnya hal ini
Kenapa sebagian orang sulit melakukannya?
Mungkin karena dia belum tahu caranya.

Mencintai diri sendiri berarti menerima diri apa adanya.
Kekuatannya, kelemahannya, potensimya, halamgamnya, keterbatasanmya, dan juga bahkan support system yang dia punya.  Yang bersama support system itu, dia bisa terbantu melewati masa masa sulit dalam kehidupannya, menyembuhkan luka lukanya, memdapatkan kembali semangatmya, menetapkan ulang tujuan hidupnya, dan pelan pelan  bangkit lagi lalu melangkah menapaki jalur kehidupannya yang khas dan unik, yang tidak bisa dobandingkan dengan jalur orang lain, melalui rintangan rintangan yang ada, untuk mencapai tujuan tujuan yang telah dia tetapkan kali ini dengan puguh, yakin dalam lindungan hidayah inayah pertolongan Allah  sampai akhirnya mencapai kebahagiaan kesuksesan keberkahan dunia akhirat.

Support system bisa berupa keluarga, teman teman, sahabat, saudara, pasangan, bahkan anak anak kita. Komunitas, perkumpulan, peer group, lingkungan kerja, maupun  lingkungan lainnya bisa menjadi support system yang berarti

kadang di persimpangan, kita kerapkali mengalami kekecewaan justru yang berasal dari diri sendiri maupun support system yang kita kira mendukung kita. saat saat kebimbangan ini meminta kita duduk, berhenti sebentar, re-orientasi diri lingkungan dan hidup. apakah memang ada toxic racun dalam diri kita yang perlu dikeluarkan, apakah ada toxic racun dalam support system kita yang perlu kita tinggalkan.

Tentu saja sulit rasanya jika kita harus melepaskan hal hal yang mengandung banyak kenangan indah dan harapan harapan tinggi. Namun hidup harus memilih karena hidup adalah pilihan. apakah kita akan  bertahan selamanya dalam situasi yang menyesakkan dan diam diam malah menghancurkan kita dari dalam.  ataukah kita dengan ikhlas merelakan dan melepaskan hal hal yang tidak lagi ada dalam jangkauan kita, tak bisa lagi kita kendalikan, untuk kembali pergi menemukan muara mereka  sendiri, senyampang itu kita pergi demi membuat diri kita menemukan muara kita sendiri yang penuh love kecintaan, compassion kasih sayang, dignity  keprawiraan,  respect kehormatan, dan mungkin support system baru yang lebih energizing meningkatkan energi baik dan positif kita, mendukung dengan ikhlas tanpa menggunting dalam lipatan,

pada akhirnya diri dan kehidupan kita akan melalui berbagai tahapan dari waktu ke waktu. sebuah keniscayaan yang tak bisa lagi kita hindari.  dengan self love dan support system, kita insya Allah akan bisa melewati semuanya dengan lebih ringan dan mudah.


About the Author

dian nafi

Author & Editor

lulusan arsitektur yang suka jalan-jalan, menulis fiksi dan non fiksi.

2 komentar:

  1. Sepakat dengan supportdarinoramg-orangbterdekat. Seringkali dari anak sih. Mencintai diri sendiri malah yang kadang absurd menurutku. Eh aku kemana-mana ik hihihi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang absurd itu justru yang menantang
      #eaaaa

      Hapus

 

DeMagz © 2015 - Designed by Templateism.com, Distributed By Blogger Templates