Langsung ke konten utama

Postingan

Perisai Diri: Cerita Tentang Perempuan, Luka Sunyi, dan Keberanian untuk Melindungi Diri

Perisai Diri: Cerita Tentang Perempuan, Luka Sunyi, dan Keberanian untuk Melindungi Diri Oleh Dian Nafi Ada seorang perempuan yang selalu terlihat baik-baik saja. Senang membantu orang lain, selalu tersenyum, tidak pernah ingin merepotkan siapa pun. Ia menjalani hidup dengan hati-hati—seakan dunia bisa pecah jika ia membuat kesalahan kecil. Orang-orang bilang dia kuat. Tapi jauh di dalam dirinya, ia sering merasa bingung: “Kenapa aku lelah sekali? Kenapa aku tidak bahagia, padahal tidak terjadi apa-apa?” Yang tidak ia sadari, ia lama hidup dalam tekanan yang tak berbentuk. Kalimat-kalimat manipulatif yang dibungkus perhatian. Permintaan yang terdengar masuk akal, tapi perlahan menguras hatinya. Batas-batas diri yang tipis, lama-lama hilang. Cerita itu, sayangnya, bukan milik satu orang. Ini adalah cerita banyak perempuan. Lalu lahirlah buku ini: Perisai Diri . Dian Nafi menulisnya bukan untuk menggurui. Tidak untuk memberi kuliah panjang tentang psikologi atau teori re...

Akhir Tahun, Menyembuhkan Pelan-pelan, dan Buku yang Menjadi Ruang Aman

 Akhir Tahun, Menyembuhkan Pelan-pelan, dan Buku yang Menjadi Ruang Aman Ada masa-masa ketika dunia terasa terlalu cepat. Terlalu bising. Terlalu menuntut banyak hal dari hati yang sedang belajar pulih. Dan setiap akhir tahun, semesta seperti memberi jeda kecil— sebuah ruang sunyi tempat kita boleh berhenti sebentar, menutup mata, dan menarik napas panjang. Dalam ruang sunyi itulah buku sering menjadi teman terbaik. Bukan untuk memberi jawaban, tapi untuk menemani proses pulih yang tidak pernah tergesa. Karena itu, sepanjang 1–31 Desember 2025 , seluruh buku Dian Nafi hadir hanya Rp15.000 , agar setiap orang bisa punya ruang aman untuk menyembuhkan diri melalui tulisan, ide, dan renungan. Untuk Hati yang Sedang Belajar Tenang Tidak semua luka tampak dari luar. Tidak semua rasa lelah bisa diceritakan. Tapi buku—dengan cara yang lembut—dapat menyentuh bagian-bagian batin yang ingin didengar. Ada halaman yang seakan berkata: "Kamu boleh istirahat." Ada bab yang ...

Membaca Arsitektur Seperti Membaca Teks – Mengapa Kita Perlu Metodologi Semiotika-Hibrida

 Membaca Arsitektur Seperti Membaca Teks – Mengapa Kita Perlu Metodologi Semiotika-Hibrida Arsitektur selalu lebih dari sekadar bentuk. Ia adalah bahasa —bahasa ruang, bahan, bunyi, arah, cahaya, hingga ritual yang menghidupinya. Tetapi selama ini, banyak pembacaan arsitektur hanya berhenti pada level visual: bentuk, gaya, proporsi. Padahal dalam tradisi Nusantara, makna ruang tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari kosmologi , mitos , memori sejarah , dan gestur tubuh manusia dalam ruang itu sendiri. Untuk menjembatani kompleksitas tersebut, buku ini memperkenalkan Metodologi Semiotika-Hibrida —sebuah pendekatan yang menggabungkan: Semiotika Peircean dan Saussurean Fenomenologi Merleau-Ponty dan Heidegger Antropologi ruang Kosmologi lokal Nusantara Narasi kultural dan memori kolektif Dari pendekatan itu, lahirlah sebuah alat baca baru: Kerangka Analisis 9-Lapisan , mulai dari ikon dasar hingga pengalaman eksistensial. Di dalamnya, peneliti diajak melih...

Menenun Cahaya dari Benang Kehidupan: Kisah Srikandi Penenun Asa dari Kampung Ntobo

Menenun Cahaya dari Benang Kehidupan: Kisah Srikandi Penenun Asa dari Kampung Ntobo Di Kampung Ntobo, Bima, suara alam berpadu dengan denting alat tenun. Suara kayu bergesekan pelan, berirama seperti napas bumi. Di tengah ruangan sederhana, seorang perempuan duduk dengan punggung tegak dan pandangan tenang. Tangannya cekatan, menganyam benang warna-warni menjadi sehelai kain indah. Namanya Yuyun Ahdiyanti,  perempuan yang menenun bukan hanya kain, tetapi juga asa dan martabat bagi banyak perempuan di desanya. Kisahnya dimulai dari keprihatinan sederhana: banyak perempuan di Ntobo yang kehilangan ruang untuk berkarya. Mereka terjebak antara tuntutan ekonomi dan minimnya akses untuk bekerja layak. Yuyun melihat itu, merasakan getirnya, dan memilih untuk bertindak. Dengan modal kecil dan semangat besar, ia mendirikan komunitas tenun perempuan . Tujuannya bukan hanya untuk menghidupkan tradisi, tapi untuk menghidupkan kembali jiwa perempuan yang hampir padam oleh kerasnya hid...

Bulus dan Ekologi: Menyelamatkan Alam, Menyelami Makna

 Bulus dan Ekologi: Menyelamatkan Alam, Menyelami Makna Di tengah derasnya arus modernisasi dan pembangunan yang seringkali melupakan keseimbangan alam, Dian Nafi menghadirkan buku “Bulus dan Ekologi” sebagai ajakan untuk kembali menyadari hubungan sakral antara manusia dan lingkungan. Bulus — hewan air tawar yang sering dianggap biasa, bahkan diremehkan — dalam buku ini justru menjadi simbol kearifan lokal dan daya tahan alam. Ia menjadi cermin bagi manusia untuk belajar tentang kesabaran, ketahanan, dan keterhubungan dengan ekosistem . 🌿 Dari Mitologi ke Gerakan Ekologi Buku ini tidak sekadar menceritakan kisah tentang bulus. Ia menggali makna budaya, mitos, dan spiritualitas di balik keberadaan bulus dalam kehidupan masyarakat pesisir dan pedalaman Jawa. Melalui pendekatan antropologis dan ekologis, Dian Nafi mengajak pembaca memahami bahwa ekologi bukan hanya urusan lingkungan , melainkan juga tentang etika hidup dan hubungan antar makhluk. “Menjaga bulus berarti menjaga ke...

Mengatasi Penyakit Procrastination: Menjemput Hidup, Menjemput Waktu

 Mengatasi Penyakit Procrastination: Menjemput Hidup, Menjemput Waktu Pernahkah kita merasa hari-hari penuh kesibukan, tetapi ketika malam tiba, hati justru bertanya: “Hari ini sebenarnya aku sudah menyelesaikan apa?” Di tengah derasnya distraksi dunia digital, kebiasaan menunda atau procrastination menjadi “penyakit” yang diam-diam merampas hidup kita. Ia tidak datang dengan suara bising, melainkan dengan bisikan lembut: “Nanti saja… besok bisa… tunggu mood lebih baik…” Hingga akhirnya waktu berlalu tanpa hasil, dan kita hanya menyisakan penyesalan. 📖 Tentang Buku Dalam bukunya yang terbaru, Mengatasi Penyakit Procrastination , Dian Nafi menyingkap akar-akar terdalam dari penundaan. Mengapa kita menunda? Apakah hanya karena malas? Atau justru karena ketakutan, perfeksionisme, bahkan luka emosional yang tak kita sadari? Buku ini bukan sekadar kumpulan tips manajemen waktu. Ia adalah perjalanan reflektif yang menyentuh banyak dimensi: ✨ Psikologis — memahami pola pikir yan...

Joy Leading: Seni Memimpin dengan Sukacita

  Joy Leading: Seni Memimpin dengan Sukacita Banyak orang menganggap kepemimpinan sebagai beban: penuh tekanan, tanggung jawab besar, dan tuntutan yang tidak pernah berhenti. Tidak jarang, pemimpin merasa lelah bahkan sebelum sampai pada garis akhir. Namun, ada cara lain untuk memimpin—cara yang lebih ringan, lebih bermakna, dan lebih membahagiakan. Inilah yang disebut Joy Leading . Joy Leading bukan sekadar metode, tetapi mindset . Sebuah cara pandang yang meyakini bahwa kepemimpinan bisa menjadi sumber energi positif, bukan sumber stres. Pemimpin joyful hadir bukan untuk mengendalikan, tetapi untuk menginspirasi. Ia tidak menekan timnya dengan rasa takut, tetapi menyalakan mereka dengan semangat sukacita. Apa rahasianya? Mindset Positif Pemimpin joyful percaya bahwa setiap tantangan adalah peluang. Ia melihat masalah bukan sebagai tembok, melainkan sebagai jembatan menuju inovasi. Komunikasi yang Hangat Kepemimpinan penuh sukacita lahir dari percakapan yang tulus, men...