Langsung ke konten utama

Postingan

Membaca Arsitektur Seperti Membaca Teks – Mengapa Kita Perlu Metodologi Semiotika-Hibrida

 Membaca Arsitektur Seperti Membaca Teks – Mengapa Kita Perlu Metodologi Semiotika-Hibrida Arsitektur selalu lebih dari sekadar bentuk. Ia adalah bahasa —bahasa ruang, bahan, bunyi, arah, cahaya, hingga ritual yang menghidupinya. Tetapi selama ini, banyak pembacaan arsitektur hanya berhenti pada level visual: bentuk, gaya, proporsi. Padahal dalam tradisi Nusantara, makna ruang tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari kosmologi , mitos , memori sejarah , dan gestur tubuh manusia dalam ruang itu sendiri. Untuk menjembatani kompleksitas tersebut, buku ini memperkenalkan Metodologi Semiotika-Hibrida —sebuah pendekatan yang menggabungkan: Semiotika Peircean dan Saussurean Fenomenologi Merleau-Ponty dan Heidegger Antropologi ruang Kosmologi lokal Nusantara Narasi kultural dan memori kolektif Dari pendekatan itu, lahirlah sebuah alat baca baru: Kerangka Analisis 9-Lapisan , mulai dari ikon dasar hingga pengalaman eksistensial. Di dalamnya, peneliti diajak melih...

Menenun Cahaya dari Benang Kehidupan: Kisah Srikandi Penenun Asa dari Kampung Ntobo

Menenun Cahaya dari Benang Kehidupan: Kisah Srikandi Penenun Asa dari Kampung Ntobo Di Kampung Ntobo, Bima, suara alam berpadu dengan denting alat tenun. Suara kayu bergesekan pelan, berirama seperti napas bumi. Di tengah ruangan sederhana, seorang perempuan duduk dengan punggung tegak dan pandangan tenang. Tangannya cekatan, menganyam benang warna-warni menjadi sehelai kain indah. Namanya Yuyun Ahdiyanti,  perempuan yang menenun bukan hanya kain, tetapi juga asa dan martabat bagi banyak perempuan di desanya. Kisahnya dimulai dari keprihatinan sederhana: banyak perempuan di Ntobo yang kehilangan ruang untuk berkarya. Mereka terjebak antara tuntutan ekonomi dan minimnya akses untuk bekerja layak. Yuyun melihat itu, merasakan getirnya, dan memilih untuk bertindak. Dengan modal kecil dan semangat besar, ia mendirikan komunitas tenun perempuan . Tujuannya bukan hanya untuk menghidupkan tradisi, tapi untuk menghidupkan kembali jiwa perempuan yang hampir padam oleh kerasnya hid...

Bulus dan Ekologi: Menyelamatkan Alam, Menyelami Makna

 Bulus dan Ekologi: Menyelamatkan Alam, Menyelami Makna Di tengah derasnya arus modernisasi dan pembangunan yang seringkali melupakan keseimbangan alam, Dian Nafi menghadirkan buku “Bulus dan Ekologi” sebagai ajakan untuk kembali menyadari hubungan sakral antara manusia dan lingkungan. Bulus — hewan air tawar yang sering dianggap biasa, bahkan diremehkan — dalam buku ini justru menjadi simbol kearifan lokal dan daya tahan alam. Ia menjadi cermin bagi manusia untuk belajar tentang kesabaran, ketahanan, dan keterhubungan dengan ekosistem . 🌿 Dari Mitologi ke Gerakan Ekologi Buku ini tidak sekadar menceritakan kisah tentang bulus. Ia menggali makna budaya, mitos, dan spiritualitas di balik keberadaan bulus dalam kehidupan masyarakat pesisir dan pedalaman Jawa. Melalui pendekatan antropologis dan ekologis, Dian Nafi mengajak pembaca memahami bahwa ekologi bukan hanya urusan lingkungan , melainkan juga tentang etika hidup dan hubungan antar makhluk. “Menjaga bulus berarti menjaga ke...

Mengatasi Penyakit Procrastination: Menjemput Hidup, Menjemput Waktu

 Mengatasi Penyakit Procrastination: Menjemput Hidup, Menjemput Waktu Pernahkah kita merasa hari-hari penuh kesibukan, tetapi ketika malam tiba, hati justru bertanya: “Hari ini sebenarnya aku sudah menyelesaikan apa?” Di tengah derasnya distraksi dunia digital, kebiasaan menunda atau procrastination menjadi “penyakit” yang diam-diam merampas hidup kita. Ia tidak datang dengan suara bising, melainkan dengan bisikan lembut: “Nanti saja… besok bisa… tunggu mood lebih baik…” Hingga akhirnya waktu berlalu tanpa hasil, dan kita hanya menyisakan penyesalan. 📖 Tentang Buku Dalam bukunya yang terbaru, Mengatasi Penyakit Procrastination , Dian Nafi menyingkap akar-akar terdalam dari penundaan. Mengapa kita menunda? Apakah hanya karena malas? Atau justru karena ketakutan, perfeksionisme, bahkan luka emosional yang tak kita sadari? Buku ini bukan sekadar kumpulan tips manajemen waktu. Ia adalah perjalanan reflektif yang menyentuh banyak dimensi: ✨ Psikologis — memahami pola pikir yan...

Joy Leading: Seni Memimpin dengan Sukacita

  Joy Leading: Seni Memimpin dengan Sukacita Banyak orang menganggap kepemimpinan sebagai beban: penuh tekanan, tanggung jawab besar, dan tuntutan yang tidak pernah berhenti. Tidak jarang, pemimpin merasa lelah bahkan sebelum sampai pada garis akhir. Namun, ada cara lain untuk memimpin—cara yang lebih ringan, lebih bermakna, dan lebih membahagiakan. Inilah yang disebut Joy Leading . Joy Leading bukan sekadar metode, tetapi mindset . Sebuah cara pandang yang meyakini bahwa kepemimpinan bisa menjadi sumber energi positif, bukan sumber stres. Pemimpin joyful hadir bukan untuk mengendalikan, tetapi untuk menginspirasi. Ia tidak menekan timnya dengan rasa takut, tetapi menyalakan mereka dengan semangat sukacita. Apa rahasianya? Mindset Positif Pemimpin joyful percaya bahwa setiap tantangan adalah peluang. Ia melihat masalah bukan sebagai tembok, melainkan sebagai jembatan menuju inovasi. Komunikasi yang Hangat Kepemimpinan penuh sukacita lahir dari percakapan yang tulus, men...

Joy Team Working: Rahasia Tim Bahagia dan Produktif

Joy Team Working: Rahasia Tim Bahagia dan Produktif Setiap tim pasti menghadapi tantangan: deadline yang ketat, ide berbeda, target tinggi, dan tekanan kerja yang tak terhindarkan. Banyak organisasi fokus pada produktivitas semata, namun seringkali melupakan satu hal penting: kebahagiaan tim . Padahal, tim yang bahagia bukan hanya lebih kreatif, tetapi juga lebih tangguh, inovatif, dan berkelanjutan. Buku Joy Team Working karya Dian Nafi hadir sebagai panduan lengkap untuk membangun tim yang efektif sekaligus bahagia . Buku ini tidak hanya teori, tetapi dipenuhi dengan contoh nyata, latihan praktis, dan toolkit yang bisa langsung diterapkan . LINK BUKU JOY TEAMWORKING Apa yang Akan Anda Pelajari Joy Collaboration – Kolaborasi yang Membahagiakan Pelajari bagaimana setiap anggota tim dapat berkontribusi secara maksimal tanpa kompetisi yang merusak hubungan. Kolaborasi bukan sekadar membagi tugas, tapi menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab bersama. Joy Communication – Be...

Wirai dan Wirang: Dari Kemasygulan Menuju Keinsyafan

 Wirai dan Wirang: Dari Kemasygulan Menuju Keinsyafan Setiap orang pernah merasakan kegagalan. Ada yang cepat bangkit, ada pula yang terjebak lama dalam kecewa. Saya sendiri pernah mengalami titik itu—ketika gagal lolos seleksi beasiswa doktoral, padahal sudah sampai tahap wawancara. Rasa masygul muncul: kecewa, bingung, sekaligus menyesali hal-hal kecil yang saya abaikan. Dari situ saya mulai merenung. Mungkin kegagalan ini bukan semata soal persaingan ketat, tetapi juga soal bagaimana saya menjalani hidup sehari-hari. Tentang undangan yang tidak saya hadiri, doa yang penuh keraguan, kejujuran yang tertahan saat wawancara, bahkan hal-hal remeh seperti tidak mengembalikan pena kafe. Dalam renungan itu saya teringat pada istilah pesantren: wirai dan wirang . Wirai berarti berhati-hati, menjauhi yang meragukan, bahkan dalam perkara kecil. Wirang berarti rasa malu—bukan malu karena dipermalukan, melainkan malu pada diri sendiri dan pada Allah jika sampai berbuat buruk. Dari ...