Membaca Arsitektur Seperti Membaca Teks – Mengapa Kita Perlu Metodologi Semiotika-Hibrida Arsitektur selalu lebih dari sekadar bentuk. Ia adalah bahasa —bahasa ruang, bahan, bunyi, arah, cahaya, hingga ritual yang menghidupinya. Tetapi selama ini, banyak pembacaan arsitektur hanya berhenti pada level visual: bentuk, gaya, proporsi. Padahal dalam tradisi Nusantara, makna ruang tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari kosmologi , mitos , memori sejarah , dan gestur tubuh manusia dalam ruang itu sendiri. Untuk menjembatani kompleksitas tersebut, buku ini memperkenalkan Metodologi Semiotika-Hibrida —sebuah pendekatan yang menggabungkan: Semiotika Peircean dan Saussurean Fenomenologi Merleau-Ponty dan Heidegger Antropologi ruang Kosmologi lokal Nusantara Narasi kultural dan memori kolektif Dari pendekatan itu, lahirlah sebuah alat baca baru: Kerangka Analisis 9-Lapisan , mulai dari ikon dasar hingga pengalaman eksistensial. Di dalamnya, peneliti diajak melih...
People DEvelopment MAGaZine