Langsung ke konten utama

Postingan

Mengatasi Penyakit Procrastination: Menjemput Hidup, Menjemput Waktu

 Mengatasi Penyakit Procrastination: Menjemput Hidup, Menjemput Waktu Pernahkah kita merasa hari-hari penuh kesibukan, tetapi ketika malam tiba, hati justru bertanya: “Hari ini sebenarnya aku sudah menyelesaikan apa?” Di tengah derasnya distraksi dunia digital, kebiasaan menunda atau procrastination menjadi “penyakit” yang diam-diam merampas hidup kita. Ia tidak datang dengan suara bising, melainkan dengan bisikan lembut: “Nanti saja… besok bisa… tunggu mood lebih baik…” Hingga akhirnya waktu berlalu tanpa hasil, dan kita hanya menyisakan penyesalan. 📖 Tentang Buku Dalam bukunya yang terbaru, Mengatasi Penyakit Procrastination , Dian Nafi menyingkap akar-akar terdalam dari penundaan. Mengapa kita menunda? Apakah hanya karena malas? Atau justru karena ketakutan, perfeksionisme, bahkan luka emosional yang tak kita sadari? Buku ini bukan sekadar kumpulan tips manajemen waktu. Ia adalah perjalanan reflektif yang menyentuh banyak dimensi: ✨ Psikologis — memahami pola pikir yan...

Joy Leading: Seni Memimpin dengan Sukacita

  Joy Leading: Seni Memimpin dengan Sukacita Banyak orang menganggap kepemimpinan sebagai beban: penuh tekanan, tanggung jawab besar, dan tuntutan yang tidak pernah berhenti. Tidak jarang, pemimpin merasa lelah bahkan sebelum sampai pada garis akhir. Namun, ada cara lain untuk memimpin—cara yang lebih ringan, lebih bermakna, dan lebih membahagiakan. Inilah yang disebut Joy Leading . Joy Leading bukan sekadar metode, tetapi mindset . Sebuah cara pandang yang meyakini bahwa kepemimpinan bisa menjadi sumber energi positif, bukan sumber stres. Pemimpin joyful hadir bukan untuk mengendalikan, tetapi untuk menginspirasi. Ia tidak menekan timnya dengan rasa takut, tetapi menyalakan mereka dengan semangat sukacita. Apa rahasianya? Mindset Positif Pemimpin joyful percaya bahwa setiap tantangan adalah peluang. Ia melihat masalah bukan sebagai tembok, melainkan sebagai jembatan menuju inovasi. Komunikasi yang Hangat Kepemimpinan penuh sukacita lahir dari percakapan yang tulus, men...

Joy Team Working: Rahasia Tim Bahagia dan Produktif

Joy Team Working: Rahasia Tim Bahagia dan Produktif Setiap tim pasti menghadapi tantangan: deadline yang ketat, ide berbeda, target tinggi, dan tekanan kerja yang tak terhindarkan. Banyak organisasi fokus pada produktivitas semata, namun seringkali melupakan satu hal penting: kebahagiaan tim . Padahal, tim yang bahagia bukan hanya lebih kreatif, tetapi juga lebih tangguh, inovatif, dan berkelanjutan. Buku Joy Team Working karya Dian Nafi hadir sebagai panduan lengkap untuk membangun tim yang efektif sekaligus bahagia . Buku ini tidak hanya teori, tetapi dipenuhi dengan contoh nyata, latihan praktis, dan toolkit yang bisa langsung diterapkan . LINK BUKU JOY TEAMWORKING Apa yang Akan Anda Pelajari Joy Collaboration – Kolaborasi yang Membahagiakan Pelajari bagaimana setiap anggota tim dapat berkontribusi secara maksimal tanpa kompetisi yang merusak hubungan. Kolaborasi bukan sekadar membagi tugas, tapi menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab bersama. Joy Communication – Be...

Wirai dan Wirang: Dari Kemasygulan Menuju Keinsyafan

 Wirai dan Wirang: Dari Kemasygulan Menuju Keinsyafan Setiap orang pernah merasakan kegagalan. Ada yang cepat bangkit, ada pula yang terjebak lama dalam kecewa. Saya sendiri pernah mengalami titik itu—ketika gagal lolos seleksi beasiswa doktoral, padahal sudah sampai tahap wawancara. Rasa masygul muncul: kecewa, bingung, sekaligus menyesali hal-hal kecil yang saya abaikan. Dari situ saya mulai merenung. Mungkin kegagalan ini bukan semata soal persaingan ketat, tetapi juga soal bagaimana saya menjalani hidup sehari-hari. Tentang undangan yang tidak saya hadiri, doa yang penuh keraguan, kejujuran yang tertahan saat wawancara, bahkan hal-hal remeh seperti tidak mengembalikan pena kafe. Dalam renungan itu saya teringat pada istilah pesantren: wirai dan wirang . Wirai berarti berhati-hati, menjauhi yang meragukan, bahkan dalam perkara kecil. Wirang berarti rasa malu—bukan malu karena dipermalukan, melainkan malu pada diri sendiri dan pada Allah jika sampai berbuat buruk. Dari ...

Kenapa Kita Kadang Berdoa dengan Ragu-ragu

  Pernahkah kamu menutup mata, merangkai kata dalam hati, lalu memanjatkan doa… tapi di dalam dada ada rasa ganjil? Rasa itu bisa berupa ragu—apakah Tuhan mendengar? Apakah aku layak meminta ini? Atau malah takut, bagaimana jika doa ini terkabul tapi ternyata aku belum siap menerimanya? Keraguan dalam doa adalah pengalaman yang sangat manusiawi. Ia bisa muncul dari rasa rendah diri, luka masa lalu, atau bahkan kebingungan tentang apa yang benar-benar kita harapkan. Tapi yang jarang kita sadari, ragu itu bukan penghalang doa. Ia justru bisa menjadi pintu masuk untuk kita mengenal diri sendiri lebih dalam, memahami hati, dan mendekat pada Tuhan dengan cara yang lebih tulus. Buku Kenapa Kita Kadang Berdoa dengan Ragu-ragu karya Dian Nafi mengajak kita menelusuri perjalanan batin ini. Dengan bahasa yang hangat dan jujur, Dian mengurai mengapa keraguan hadir, bagaimana mengelolanya, dan bagaimana mengubahnya menjadi keyakinan. Buku ini bukan sekadar bacaan, tapi teman yang menema...

Menulis Memoar dan Biografi yang Menggugah

 Menulis Memoar dan Biografi yang Menggugah: Bukan Soal Terkenal, Tapi Soal Bermakna Apa yang membuat sebuah memoar membekas dalam hati pembaca? Bukan karena tokoh utamanya selebritas. Tapi karena kisahnya jujur, menyentuh, dan ditulis dengan nyawa. Menulis memoar atau biografi bukan hanya tentang kronologi peristiwa. Ini tentang memaknai luka, merayakan tawa, dan menyulam waktu menjadi kisah yang menyala. Lewat buku "Menulis Memoar dan Biografi" , Dian Nafi mengajak kita menyelami teknik, pendekatan, dan cara pandang baru dalam menulis memoar dan biografi. Bukan dengan gaya kaku atau datar, melainkan dengan alur yang reflektif, menyentuh, dan orisinal. Di dalamnya, kita akan belajar: Bagaimana mengenali momen-momen yang layak ditulis Bagaimana menulis dengan gaya naratif yang hidup Bagaimana mengolah luka dan perenungan menjadi kekuatan tulisan Dan bagaimana menghindari jebakan cerita yang membosankan Memoar dan biografi bukan hanya untuk orang terkenal. Mereka ...

Buku Baru Dian Nafi di Kampung Heritage Kajoetangan

Buku Baru Dian Nafi di Kampung Heritage Kajoetangan Pagi itu saya berjalan pelan di lorong sempit Kampung Heritage Kajoetangan, jantung warisan tua di tengah kota Malang. Udara masih dingin, aroma kopi hitam menembus celah pintu rumah bata, suara radio Jawa terdengar dari beranda. Di sinilah, di antara tembok-tembok bata peninggalan kolonial, saya memulai naskah buku ini: Memoir Perjalanan dan Arsitektur. Sebuah upaya kecil menulis ulang percakapan saya dengan rumah-rumah tua dan orang-orang yang menjaganya. Kajoetangan bukan sekadar gang-gang sempit. Ia saksi bagaimana Malang tumbuh di tangan orang biasa: warga lokal, keluarga kampung, para penjual di warung sudut gang, bapak tua penjahit yang menempati rumah bergaya Indis peninggalan zaman Hindia Belanda. Dulu, kawasan ini adalah permukiman elite Eropa — banyak rumah dirancang dengan sentuhan perencana seperti Thomas Karsten , arsitek legendaris yang menanam ide “kota taman” di Malang. Dinding bata yang tebal, jendela lebar, ven...