Wirai dan Wirang: Dari Kemasygulan Menuju Keinsyafan

 Wirai dan Wirang: Dari Kemasygulan Menuju Keinsyafan


Setiap orang pernah merasakan kegagalan. Ada yang cepat bangkit, ada pula yang terjebak lama dalam kecewa. Saya sendiri pernah mengalami titik itu—ketika gagal lolos seleksi beasiswa doktoral, padahal sudah sampai tahap wawancara. Rasa masygul muncul: kecewa, bingung, sekaligus menyesali hal-hal kecil yang saya abaikan.

Dari situ saya mulai merenung. Mungkin kegagalan ini bukan semata soal persaingan ketat, tetapi juga soal bagaimana saya menjalani hidup sehari-hari. Tentang undangan yang tidak saya hadiri, doa yang penuh keraguan, kejujuran yang tertahan saat wawancara, bahkan hal-hal remeh seperti tidak mengembalikan pena kafe.

Dalam renungan itu saya teringat pada istilah pesantren: wirai dan wirang.

  • Wirai berarti berhati-hati, menjauhi yang meragukan, bahkan dalam perkara kecil.

  • Wirang berarti rasa malu—bukan malu karena dipermalukan, melainkan malu pada diri sendiri dan pada Allah jika sampai berbuat buruk.

Dari kegagalan itu, saya belajar bahwa hidup memang harus dijalani dengan hati-hati (wirai), agar tumbuh rasa malu yang menjaga kita dari keburukan (wirang). Dan justru dari masygul itu lahir keinsyafan, sebuah kesadaran baru bahwa setiap langkah kecil punya arti besar.

Buku “Wirai dan Wirang: Dari Kemasygulan Menuju Keinsyafan” lahir dari perjalanan batin ini. Isinya bukan teori, melainkan refleksi pribadi tentang bagaimana kegagalan bisa berubah menjadi pintu menuju kebijaksanaan.

Saya berharap, siapa pun yang membaca buku ini akan menemukan sesuatu: mungkin keberanian untuk jujur pada diri sendiri, mungkin ketenangan dalam menghadapi kecewa, atau mungkin sekadar pengingat bahwa hidup harus dijalani dengan penuh hati-hati.

Karena pada akhirnya, kegagalan hanyalah satu bab dalam hidup. Masih banyak bab lain yang menunggu untuk kita tulis—dengan wirai, dengan wirang, dan dengan hati yang lebih jernih.


Beli bukunya di sini

https://play.google.com/store/books/details?id=BER-EQAAQBAJ

http://books.google.com/books/about?id=BER-EQAAQBAJ


Kenapa Kita Kadang Berdoa dengan Ragu-ragu

 



Pernahkah kamu menutup mata, merangkai kata dalam hati, lalu memanjatkan doa… tapi di dalam dada ada rasa ganjil?

Rasa itu bisa berupa ragu—apakah Tuhan mendengar? Apakah aku layak meminta ini? Atau malah takut, bagaimana jika doa ini terkabul tapi ternyata aku belum siap menerimanya?

Keraguan dalam doa adalah pengalaman yang sangat manusiawi. Ia bisa muncul dari rasa rendah diri, luka masa lalu, atau bahkan kebingungan tentang apa yang benar-benar kita harapkan.
Tapi yang jarang kita sadari, ragu itu bukan penghalang doa. Ia justru bisa menjadi pintu masuk untuk kita mengenal diri sendiri lebih dalam, memahami hati, dan mendekat pada Tuhan dengan cara yang lebih tulus.

Buku Kenapa Kita Kadang Berdoa dengan Ragu-ragu karya Dian Nafi mengajak kita menelusuri perjalanan batin ini. Dengan bahasa yang hangat dan jujur, Dian mengurai mengapa keraguan hadir, bagaimana mengelolanya, dan bagaimana mengubahnya menjadi keyakinan.

Buku ini bukan sekadar bacaan, tapi teman yang menemani kita menapaki perjalanan spiritual. Membisikkan bahwa tak apa jika kadang kita ragu. Yang penting, kita tetap datang, tetap berbicara, tetap membuka hati.


Baca di sini 

https://play.google.com/store/books/details?id=yM99EQAAQBAJ

dan di sini

http://books.google.com/books/about?id=yM99EQAAQBAJ

Menulis Memoar dan Biografi yang Menggugah

 Menulis Memoar dan Biografi yang Menggugah: Bukan Soal Terkenal, Tapi Soal Bermakna


Apa yang membuat sebuah memoar membekas dalam hati pembaca? Bukan karena tokoh utamanya selebritas. Tapi karena kisahnya jujur, menyentuh, dan ditulis dengan nyawa.

Menulis memoar atau biografi bukan hanya tentang kronologi peristiwa. Ini tentang memaknai luka, merayakan tawa, dan menyulam waktu menjadi kisah yang menyala.

Lewat buku "Menulis Memoar dan Biografi", Dian Nafi mengajak kita menyelami teknik, pendekatan, dan cara pandang baru dalam menulis memoar dan biografi. Bukan dengan gaya kaku atau datar, melainkan dengan alur yang reflektif, menyentuh, dan orisinal.

Di dalamnya, kita akan belajar:

  • Bagaimana mengenali momen-momen yang layak ditulis

  • Bagaimana menulis dengan gaya naratif yang hidup

  • Bagaimana mengolah luka dan perenungan menjadi kekuatan tulisan

  • Dan bagaimana menghindari jebakan cerita yang membosankan

Memoar dan biografi bukan hanya untuk orang terkenal. Mereka adalah warisan rasa dan makna, untuk diri sendiri dan generasi berikutnya.

Menulislah. Bukan untuk dikenang, tapi untuk memaknai.

📖 Temukan panduannya di buku ini.

https://play.google.com/store/books/details?id=Opx3EQAAQBAJ

http://books.google.com/books/about?id=Opx3EQAAQBAJ


Buku Baru Dian Nafi di Kampung Heritage Kajoetangan

Buku Baru Dian Nafi di Kampung Heritage Kajoetangan






Pagi itu saya berjalan pelan di lorong sempit Kampung Heritage Kajoetangan, jantung warisan tua di tengah kota Malang. Udara masih dingin, aroma kopi hitam menembus celah pintu rumah bata, suara radio Jawa terdengar dari beranda.

Di sinilah, di antara tembok-tembok bata peninggalan kolonial, saya memulai naskah buku ini:
Memoir Perjalanan dan Arsitektur.

Sebuah upaya kecil menulis ulang percakapan saya dengan rumah-rumah tua dan orang-orang yang menjaganya.

Kajoetangan bukan sekadar gang-gang sempit. Ia saksi bagaimana Malang tumbuh di tangan orang biasa: warga lokal, keluarga kampung, para penjual di warung sudut gang, bapak tua penjahit yang menempati rumah bergaya Indis peninggalan zaman Hindia Belanda.

Dulu, kawasan ini adalah permukiman elite Eropa — banyak rumah dirancang dengan sentuhan perencana seperti Thomas Karsten, arsitek legendaris yang menanam ide “kota taman” di Malang. Dinding bata yang tebal, jendela lebar, ventilasi tinggi — semua dibuat untuk memeluk iklim tropis, tapi tetap membawa rasa Eropa.

Sekarang, rumah-rumah itu diwarisi warga lokal Malang. Mereka bukan bangsawan kolonial, bukan tuan kebun — mereka orang kampung kota, yang tiap pagi menyapu teras, menjemur pakaian di halaman, membuka pintu lebar kalau tetangga butuh singgah.

Saya berbincang dengan ibu-ibu di beranda, mendengar cerita tentang kakek-nenek mereka yang dulu bekerja di rumah-rumah besar ini. Tentang bagaimana generasi sekarang merawat tembok-tembok yang catnya mulai rapuh, tapi tak pernah mereka relakan roboh. Tentang bagaimana kampung ini berubah jadi Kampung Wisata Heritage, di mana turis berjalan kaki menyusuri gang, memotret ornamen jendela, menengok mural sejarah, dan mampir minum teh di rumah warga.

Lewat buku ini, saya merangkai sketsa, foto, dan narasi pendek — semacam album jalan kaki — agar siapa pun bisa merasakan denyut Kajoetangan. Bahwa di balik tembok bata tebal itu, bukan hanya sejarah kolonial yang hidup, tapi juga semangat orang kampung untuk merawat warisan.

Di Kajoetangan, saya belajar arsitektur bukan hanya soal bentuk, tapi juga cara ruang bercerita. Rumah-rumah di sini bicara pelan — tentang adaptasi tropis, tentang politik ras di masa lalu, tentang ekonomi kota, juga tentang keberanian warga mempertahankan warisan meski zaman terus menekan.

Kalau kelak kau singgah ke Malang, jangan hanya mampir ke alun-alun. Sisihkan satu jam, berjalanlah di gang-gang Kajoetangan. Sapalah orang-orang kampung, tengok pintu kayu jati mereka yang masih berdiri di dinding bata, dan rasakan sendiri: di sini, kenangan masih bernafas di setiap tembok.

Dan semoga lewat buku ini, kita semua ingat — merawat bangunan tua, berarti merawat ingatan siapa kita.

Dian Nafi

Bisa dibeli di google play book atau google book

bit.ly/DNkayutangan

Menulis dari Akar: Pelatihan Artikel dan Esai Bersama Dian Nafi, Menggali Kekuatan Budaya Lokal

 Menulis dari Akar: Pelatihan Artikel dan Esai Bersama Dian Nafi, Menggali Kekuatan Budaya Lokal



“Menulis itu bukan hanya soal merangkai kata, tapi juga membumikan nilai.” Kalimat itu menjadi pembuka dari Dian Nafiatul Awaliyah—akrab disapa Dian Nafi—saat mengisi sesi pelatihan penulisan artikel dan esai yang berakar pada budaya lokal.

Dalam pelatihan yang dihadiri berbagai kalangan—dari mahasiswa, dosen, guru, penulis muda, hingga pegiat komunitas—Dian mengajak peserta menyelami ulang tempat berpijak mereka. “Seringkali kita terpesona oleh budaya luar, padahal tanah tempat kita berdiri penuh kisah dan kearifan,” ujarnya.

Sebagai penulis yang produktif sekaligus arsitek dan peneliti, Dian tidak hanya berbicara soal teknik menulis. Ia membagi pengalaman riset lapangan, proses mengubah temuan budaya menjadi narasi yang menggugah, dan pentingnya menjaga konteks lokal dalam setiap tulisan.

Sesi pelatihan ini mengalir seperti obrolan di beranda rumah: hangat, reflektif, dan membangkitkan rasa memiliki. Para peserta diajak menemukan kembali cerita-cerita kecil di sekeliling mereka—tentang pasar pagi di kota tua, tradisi sedekah laut, relief candi yang menyimpan simbol alam, atau rumah-rumah tua yang bicara diam-diam lewat arsitekturnya.

Dian juga membimbing peserta menulis secara langsung. Dalam worksheet yang dibagikan, peserta menuliskan memori, pengamatan, dan nilai-nilai yang mereka anggap penting dari budaya tempat tinggal mereka. Tak sedikit yang terharu ketika menyadari bahwa cerita nenek, kebiasaan warga kampung, atau filosofi bangunan tempat mereka tumbuh bisa menjadi bahan tulisan yang kuat.

Yang menarik, pelatihan ini bukan hanya soal menulis untuk diterbitkan, tapi juga menulis untuk mengingat, memahami, dan merawat. Sebab menurut Dian, “Menulis adalah bentuk konservasi yang paling personal.”

Di akhir sesi, peserta pulang membawa lebih dari sekadar catatan—mereka pulang dengan semangat baru untuk menulis dari akar, menulis dari hati, dan menulis dari budaya sendiri. Karena di setiap lokalitas, tersimpan universalitas. Dan di setiap kisah yang jujur, ada kekuatan yang bisa menyentuh dunia.


Surveyor dan Enumerator, Apa Bedanya?

Surveyor dan Enumerator, Apa Bedanya?



Dulu aku pernah menjadi surveyor di perusahaan AC Nielsen selama beberapa tahun. Lumayan banget sih pengalaman ini, tidak menyangka akan menjadi pijakan yang berharga dalam karirku sebagai peneliti (yang baru kusesap belasan tahun berikutnya). Pernah diminta tolong oleh Muslimat NU juga untuk menjadi enumerator dalam proyek riset yang dibuat oleh Badan Anti Terorisme. 

Nah! Pasti ada juga yang bertanya-tanya, apa sih bedanya surveyor dan enumerator?

Surveyor dan enumerator memiliki peran yang berbeda dalam proses penelitian atau survei, meskipun keduanya sering bekerja bersama dalam pengumpulan data. Berikut perbedaannya:

Surveyor

  1. Peran Utama: Bertanggung jawab atas perencanaan dan pengawasan survei.
  2. Tugas:
    • Merancang kuesioner atau instrumen penelitian.
    • Menentukan metode dan teknik pengambilan sampel.
    • Mengawasi dan melatih enumerator dalam pengumpulan data.
    • Melakukan validasi dan pengecekan kualitas data yang dikumpulkan.
  3. Tingkat Keahlian: Biasanya memiliki pemahaman mendalam tentang metodologi penelitian dan statistik.
  4. Posisi dalam Tim: Biasanya berperan sebagai supervisor atau koordinator dalam survei.

Enumerator

  1. Peran Utama: Bertugas mengumpulkan data langsung dari responden di lapangan.
  2. Tugas:
    • Melakukan wawancara atau observasi berdasarkan kuesioner yang telah disiapkan.
    • Mencatat jawaban responden secara akurat.
    • Menjaga hubungan baik dengan responden agar data yang diperoleh valid.
  3. Tingkat Keahlian: Memerlukan keterampilan komunikasi yang baik dan ketelitian dalam pencatatan data.
  4. Posisi dalam Tim: Berada di tingkat operasional sebagai pelaksana survei.

Kesimpulan

  • Surveyor lebih fokus pada perencanaan, pengawasan, dan analisis data.
  • Enumerator lebih berperan dalam pelaksanaan dan pengumpulan data langsung di lapangan.

Dalam proyek besar, surveyor bertanggung jawab atas strategi dan kualitas data, sementara enumerator memastikan data dikumpulkan dengan benar sesuai prosedur.

Magnet Energi: Rahasia Menarik Kehidupan yang Selaras dengan Frekuensimu

Magnet Energi: Rahasia Menarik Kehidupan yang Selaras dengan Frekuensimu



Pernahkah kamu merasa seperti menarik orang-orang atau kejadian tertentu ke dalam hidupmu, seolah-olah ada pola yang berulang? Mungkin kamu sering bertemu dengan orang-orang yang mendukung impianmu, atau justru sebaliknya—bertemu dengan mereka yang hanya membawa energi negatif. Semua ini bukan kebetulan. Setiap interaksi, setiap hubungan, bahkan setiap peluang yang datang adalah refleksi dari energi yang kita pancarkan. Jika ingin kehidupan yang lebih baik, bukankah sudah saatnya kita mengubah energi kita?

"Magnet Energi" bukan sekadar buku, tetapi peta perjalanan menuju kesadaran yang lebih tinggi tentang bagaimana energi bekerja dalam hidup kita. Dengan menggabungkan sains, psikologi, dan spiritualitas, buku ini akan membuka mata kita tentang bagaimana pikiran, emosi, dan lingkungan membentuk realitas yang kita alami. Kamu akan menemukan konsep hukum ketertarikan energi, bagaimana synchronicity menghubungkan kita dengan kejadian-kejadian bermakna, hingga peran mirror neurons dalam membangun resonansi dengan orang lain. Semua ini dikemas dalam kisah-kisah inspiratif yang menyentuh, membuat kita tidak hanya memahami teori, tetapi juga merasakannya secara emosional.

Bayangkan jika kamu bisa menjadi magnet bagi segala kebaikan dalam hidup—bertemu dengan orang-orang yang mendukung pertumbuhanmu, mendapatkan peluang yang selaras dengan impianmu, dan merasakan ketenangan dalam setiap langkah yang kamu ambil. Bukan hal yang mustahil. Dengan memahami bagaimana energi bekerja dan menerapkan strategi praktis dalam buku ini, kamu bisa mulai menarik kehidupan yang benar-benar kamu inginkan.

Hidup bukan sekadar kebetulan, tetapi hasil dari frekuensi yang kita pancarkan. Jika kamu merasa siap untuk bertransformasi, untuk membuka pintu menuju realitas yang lebih selaras dengan dirimu, maka "Magnet Energi" adalah buku yang tepat untuk menemani perjalananmu. Sudah saatnya kita bukan hanya menjalani hidup, tetapi menciptakan kehidupan yang kita impikan. 🌟

Menembus Batas: Menghadapi Gatekeeper dan Membangun Jalan Sendiri

 Menembus Batas: Menghadapi Gatekeeper dan Membangun Jalan Sendiri



Di setiap industri—penerbitan, akademik, seni, hiburan, bahkan pemerintahan—gatekeeper selalu ada. Mereka adalah pihak yang menentukan siapa yang boleh masuk dan siapa yang harus tersingkir. Idealnya, mereka menjaga standar dan kualitas. Namun, di tangan yang salah, gatekeeping bisa menjadi alat untuk mempertahankan kekuasaan, menguntungkan kelompok tertentu, dan menekan mereka yang berbakat tapi tidak punya "jalur dalam."

Lalu, bagaimana cara menghadapi mereka?

Ketika Akses Dikendalikan oleh Segelintir Orang

Bayangkan seseorang dengan ide brilian, tetapi setiap kali ia mencoba menembus industri yang ia geluti, pintu selalu tertutup. Ia tidak diberi kesempatan karena tidak berasal dari lingkungan "yang tepat," tidak punya jaringan, atau dianggap ancaman oleh mereka yang ingin mempertahankan posisi.

Ini bukan sekadar kebetulan. Banyak sistem dibuat untuk menyulitkan orang-orang berbakat yang tidak memiliki privilege tertentu. Ilusi meritokrasi sering dipakai untuk menutupi nepotisme dan permainan kotor di balik layar.

Bagaimana Mereka Bekerja?

Gatekeeper culas bisa dikenali dari beberapa pola:

🚧 Menentukan siapa yang boleh masuk & siapa yang harus tersingkir
🚧 Menggunakan aturan yang berubah-ubah untuk menjegal pesaing
🚧 Memanipulasi sistem demi keuntungan pribadi & kelompoknya
🚧 Mengeksploitasi tenaga & karya tanpa kompensasi yang layak
🚧 Menjual janji palsu & harapan kosong

Dampaknya? Banyak individu berbakat akhirnya terhambat, kelelahan, atau bahkan menyerah.

Saatnya #BypassGatekeeper

Tapi jangan khawatir. Ada cara untuk menavigasi sistem tanpa tunduk pada permainan mereka!

Membangun jaringan & komunitas yang suportif
Menggunakan platform independen & teknologi untuk bypass gatekeeper
Menentukan kapan kompromi itu bijak & kapan harus melawan
Menciptakan ruang sendiri: membangun bisnis, media, atau jalur distribusi alternatif
Mendorong transparansi & menekan sistem agar lebih adil

Buku Ini untuk Kamu yang Ingin Melawan & Berkembang

📖 Buku ini bukan sekadar analisis tentang gatekeeping, tetapi juga peta strategi untuk bertahan, melawan, dan berkembang. Berisi kisah nyata dari berbagai industri, serta langkah-langkah praktis untuk menciptakan peluang tanpa harus tunduk pada sistem yang tidak adil.

🚀 Karena kita tidak harus meminta izin untuk sukses. Kita bisa menciptakan jalan kita sendiri!

🔗 Baca sekarang & mulai perjalananmu menembus batas! 


Link untuk mendapatkan bukunya:

di google play books

https://play.google.com/store/books/details?id=V2FMEQAAQBAJ

di google books

http://books.google.com/books/about?id=V2FMEQAAQBAJ

#AntiGatekeeping #BangunJalanSendiri

Hybrid Paradox: Seni di Persimpangan Tradisi dan Globalisasi

Hybrid Paradox: Seni di Persimpangan Tradisi dan Globalisasi



Mengapa Seni Selalu Berada di Persimpangan?

Di era globalisasi yang serba cepat, seni mengalami perubahan yang signifikan. Ia tidak lagi terbatas pada batas-batas geografis atau identitas tunggal, melainkan menjadi ruang negosiasi yang dinamis antara tradisi dan inovasi, lokalitas dan globalisasi, serta ekspresi personal dan kepentingan kolektif.

Inilah yang saya sebut sebagai Hybrid Paradox—konsep yang mengangkat ketegangan antara dua kutub yang tampaknya bertentangan, tetapi justru melahirkan kreativitas baru yang unik dan relevan dengan zaman.

Tentang Buku Ini

Buku Hybrid Paradox: Seni di Persimpangan Tradisi dan Globalisasi lahir dari pengamatan, pengalaman, serta penelitian saya sebagai akademisi, seniman, dan aktivis budaya. Buku ini mengeksplorasi bagaimana seni berkembang dalam lanskap digital, bagaimana media sosial membentuk identitas seniman dan komunitasnya, serta bagaimana seni berperan sebagai alat refleksi sosial dan aktivisme budaya.

Beberapa tema utama dalam buku ini meliputi:
Seni dalam Lanskap Digital – Bagaimana teknologi mengubah cara kita mencipta dan mengapresiasi seni?
Identitas Personal dan Kolektif – Di mana posisi kita dalam dinamika budaya global?
Seni sebagai Sarana Perlawanan Sosial – Bagaimana seni dapat menjadi medium untuk menyuarakan isu-isu sosial?
Pergeseran Estetika dalam Era Globalisasi – Apakah seni tradisional masih relevan?
Refleksi dan Harapan Masa Depan – Ke mana arah seni dan budaya di masa mendatang?

Untuk Siapa Buku Ini?

📌 Seniman dan kreator yang ingin memahami dinamika seni di era digital
📌 Akademisi dan peneliti budaya yang tertarik dengan konsep hybrid paradox
📌 Aktivis dan penggerak budaya yang ingin memanfaatkan seni sebagai alat perubahan
📌 Semua orang yang mencintai seni dan ingin memahami bagaimana ia beradaptasi dengan dunia modern

Mengapa Anda Harus Membaca Hybrid Paradox?

Buku ini bukan hanya sekadar analisis teoretis, tetapi juga refleksi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Di dalamnya, saya berbagi pengalaman pribadi dalam berkarya dan mengadvokasi seni sebagai bagian dari identitas sosial serta perjuangan budaya.

Bagi saya, seni bukan sekadar estetika. Ia adalah jendela dunia, tempat kita memahami perbedaan, merayakan keberagaman, dan mencari makna di tengah perubahan zaman.

Mari menjelajahi dunia Hybrid Paradox bersama! 🚀✨

📖 Segera dapatkan bukunya dan temukan perspektif baru dalam melihat seni!

#HybridParadox #SeniBudaya #DianNafi #TradisiVsModernitas #SeniUntukPerubahan

LInk bukunya di google play book dan google book

https://play.google.com/store/books/details?id=GjZJEQAAQBAJ

http://books.google.com/books/about?id=GjZJEQAAQBAJ



Hybrid Paradox dalam Pengalaman Immersive: Menjelajahi Dunia Nyata dan Virtual

 

Hybrid Paradox dalam Pengalaman Immersive: Menjelajahi Dunia Nyata dan Virtual



Di era digital yang terus berkembang, pengalaman manusia semakin didominasi oleh teknologi immersive seperti Virtual Reality (VR), Augmented Reality (AR), dan Mixed Reality (MR). Kita dapat menjelajahi dunia virtual seolah-olah nyata, berinteraksi dengan lingkungan digital yang semakin realistis, dan bahkan bekerja atau belajar di ruang hybrid yang menggabungkan elemen fisik dan digital. Namun, seiring dengan kemajuan ini, muncul Hybrid Paradox—sebuah dilema antara keterlibatan penuh dalam pengalaman digital dan keterasingan dari realitas fisik.

Apa Itu Hybrid Paradox?

Hybrid Paradox menggambarkan kontradiksi yang muncul ketika dua aspek yang tampaknya bertentangan—realitas dan virtualitas—saling bertautan dalam kehidupan manusia. Kita ingin terlibat sepenuhnya dalam dunia digital yang menarik, tetapi di sisi lain, semakin terbenam dalam ruang virtual juga dapat menjauhkan kita dari interaksi sosial yang autentik di dunia nyata.

Buku "Hybrid Paradox dalam Pengalaman Immersive" mengeksplorasi bagaimana teknologi immersive mempengaruhi persepsi manusia, desain ruang, pendidikan, serta aspek sosial dan budaya. Dengan pendekatan multidisipliner dan studi kasus dari berbagai bidang, buku ini menjawab pertanyaan penting:

  • Apakah dunia virtual dapat menggantikan pengalaman nyata?
  • Bagaimana VR dan AR membentuk cara kita belajar, bekerja, dan bersosialisasi?
  • Sejauh mana kecerdasan buatan dan sensorik mempengaruhi keterlibatan pengguna?
  • Bagaimana masa depan teknologi immersive dalam kehidupan sehari-hari?

Mengapa Buku Ini Penting?

Buku ini bukan hanya membahas teknologi di balik pengalaman immersive, tetapi juga dampak psikologis dan sosialnya terhadap pengguna. Apakah kita benar-benar lebih "hadir" dalam dunia digital? Ataukah justru semakin terasing dari dunia nyata?

Dian Nafiatul Awaliyah, seorang akademisi dan peneliti yang berpengalaman di bidang arsitektur, teknologi, dan interaksi manusia, membahas topik ini dengan pendekatan kritis namun tetap mudah dipahami.

Dapatkan Bukunya Sekarang!

📖 Jangan lewatkan kesempatan untuk memahami Hybrid Paradox dalam era digital ini! Segera dapatkan buku ini dan jelajahi lebih dalam hubungan antara dunia nyata dan virtual.

Ada di google play book

https://play.google.com/store/books/details?id=SjZJEQAAQBAJ

tersedia juga di google book

http://books.google.com/books/about?id=SjZJEQAAQBAJ

#HybridParadox #ImmersiveTech #VR #AR #Metaverse #FutureTech

Menu