Colourful Journal for Beautiful Life

beautiful journal for colourful life

Senin, 22 Juni 2020

Tips Nulis Ala Neil Gaiman

Tips Nulis Ala Neil Gaiman
Aku kenal nama Neil Gaiman dari salah satu guru menulisku.
Sejak itu aku hobby banget baca tulisan Neil Gaiman yang memang bagus-bagus. Juga mengikuti tips-tipsnya. Berikut di antaranya. Cekidot.

1. Tulis.
2. Susun kata demi kata. Cari kosakata yang paling tepat lalu tuliskan.
3. Selesaikan apa yang kamu tulis. Apa pun yang harus kamu lakukan agar tulisan tersebut selesai.
4. Sisihkan naskah yang sudah selesai. Lalu baca seolah-olah belum pernah kamu baca sebelumnya. Tunjukkan pada teman-teman yang kamu hargai pendapatnya, dan orang-orang yang mungkin akan menyukai bacaan semacam itu.
5. Ketika seseorang memberitahumu ada yang janggal atau aneh menurut mereka, mereka hampir selalu benar. Ketika mereka memberitahumu bagian mana yang salah dan bagaimana cara membenahinya, mereka hampir selalu salah.
6. Perbaiki kesalahanmu. Cepat atau lambat sebelum naskah itu mencapai kesempurnaan, kamu harus melepasnya dan memulai menulis yang baru. Mencari kesempurnaan itu seperti mengejar batas langit, maka teruslah bergerak.
7. Tertawalah pada leluconmu sendiri.
8. Peraturan utama dari menulis adalah jika kamu mengerjakannya dengan kepercayaan tinggi, kamu dibolehkan melakukan apa pun dengan caramu sendiri. Jadi, tulislah ceritamu selayaknya kisah tersebut harus tertulis. Tulis dengan jujur dan berikan usaha terbaikmu.

Neil Gaiman Terbitkan Buku Anak soal Bajak Laut PERPUSTAKAAN, MEMBACA, IMAJINASI
Baca juga nih pandangan Neil Gaiman tentang Mengapa Masa Depan Kita Bergantung Pada Perpustakaan, Membaca, dan Lamunan


Membaca fiksi atau membaca untuk kesenangan adalah salah satu hal penting yang bisa dilakukan.

Selama tiga puluh tahun, saya mencari penghasilan melalui kata-kata, Kebanyakan tentang membuat hal-hal dan menuliskannya. Tentu saja, saya ingin agar orang-orang membaca; melahirkan perpustakaan dan pustakawan; atau membantu menumbuhkan kecintaan terhadap membaca dan tempat-tempat membaca.

Semuanya berubah ketika kita membaca.
Saya ingin menceritakan tentang apa yang bisa dilakukan dengan membaca dan apa manfaatnya. Suatu ketika saat saya berada di New York dan mendengarkan pembicaraan tentang pembangunan penjara oleh pihak swasta,-- perlu diketahui, penjara adalah sebuah industri yang bertumbuh pesat di Amerika. Industri penjara tersebut membutuhkan rencana pertumbuhan masa depannya--berapa banyak sel yang mereka butuhkan? Berapa banyak tahanan yang akan ada 15 tahun dari sekarang? Rencana–rencana pertumbuhan ini membutuhkan kemampuan prediksi yang baik, dan ternyata mereka memprediksinya dengan mudah. Menggunakan perhitungan sederhana, dengan pertanyaan berapa banyak anak usia 10 dan 11 tahun yang buta huruf pada sebuah daerah. Dan tentu saja, termasuk mereka yang tidak terbiasa membaca atau membaca tidak menjadi sebuah kebiasaan yang menyenangkan.
Hal ini tidak berarti bahwa masyarakat literasi tidak melakukan tindakan kriminal. Tetapi, kedua hal tersebut betul-betul memiliki korelasi yang nyata. Beberapa dari korelasi tersebut datang dari sesuatu yang sangat sederhana: masyarakat melek huruf yang membaca fiksi. 

Fiksi memiliki dua kegunaan. Pertama, gerbang untuk kecanduan membaca. Dorongan untuk mengetahui kejadian berikutnya, keinginan membalik halaman, kebutuhan untuk melanjutkan, walaupun hal itu sulit, karena seseorang dalam masalah dan kita harus tahu bagaimana akhirnya, hal itu adalah dorongan yang nyata untuk terus terpaku dan tak sabar membuka halaman demi halaman. Hal itu mendorongmu untuk mempelajari kosa kata baru, gagasan baru, untuk tetap melanjutkan dan menemukan bahwa membaca adalah hal yang menyenangkan. Sekali kita mempelajarinya, kita berada di jalan untuk membaca segalanya.
Membaca adalah kunci. Beberapa tahun lalu, hadir wacana bahwa kita hidup di dunia pasca-literasi, di mana kemampuan untuk membuat kata-kata yang masuk akal sangat berlebihan. Tetapi, itu sudah jauh terlewati. Kata-kata kini lebih penting dari yang pernah ada. Kita menjejaki dunia dengan kata-kata, dan karena dunia tergelincir ke media digital, kita perlu mengikuti, untuk berkomunikasi dan memahami apa yang kita baca. Orang-orang yang tidak bisa mengerti satu sama lain tidak mampu bertukar gagasan, tidak bisa berkomunikasi.
Cara yang paling sederhana untuk memastikan peningkatan jumlah anak-anak melek huruf adalah mengajari mereka membaca, dan menunjukkan bahwa membaca adalah kegiatan yang menyenangkan. Secara sederhana berarti menemukan buku yang mereka sukai, memberikan akses untuk itu, dan membiarkan mereka membacanya.

 Saya berpikir tidak ada buku yang buruk untuk anak-anak. Sekarang dan nanti, hal itu menjadi tren di antara orang-orang dewasa untuk menjadi bagian dari buku anak-anak. Entah itu genre atau seorang penulis. Lalu, mereka memberitahukan tentang buku yang buruk atau buku yang seharusnya tidak dibaca anak-anak. Saya menyaksikannya beberapa kali; Enid Blyton dikatakan sebagai penulis yang buruk, juga RL Stine, dan beberapa lainnya. Komik dicela sebagai pendorong buta huruf. Omong kosong. Hal itu adalah keangkuhan dan kebodohan. 


Tidak ada penulis yang jelek bagi anak-anak, karena setiap anak berbeda. Mereka bisa menemukan cerita yang mereka butuhkan, dan membawa diri mereka ke dalamnya. Ide lama tidak basi dan usang, sebab banyak cerita yang menjadi pengalaman pertama bagi mereka. Jangan menakut-nakuti anak-anak untuk membaca hanya karena merasa mereka membaca hal yang salah. Bacaan yang kita benci bisa jadi adalah jalan menemukan buku yang kita sukai. 
Dan, semua orang punya selera yang berbeda, bukan?
Pemahaman orang dewasa bisa dengan mudah menghancurkan kesenangan membaca anak-anak: menghentikan mereka membaca hal-hal yang mereka senangi atau memberi bacaan-bacaan yang kita suka-bacaan layak tetapi membosankan. Kalau ini terjadi, anak–anak berakhir dengan meyakini bahwa membaca itu tidak keren, buruk, dan tidak menyenangkan.
Kita butuh anak-anak kita untuk menaiki jenjang membaca, atau punya kemampuan membaca yang baik; apapun bacaan yang mereka nikmati akan memajukan mereka, tangga demi anak tangga, dalam literasi. 

Hal kedua yang fiksi lakukan adalah membangun empati. Ketika kita menonton TV atau film, kita melihat hal-hal yang terjadi pada orang lain. Prosa fiksi adalah sesuatu yang kita bangun dari 26 huruf dan sekumpulan tanda baca, dan masing-masing dari kita, menggunakan imajinasi sendiri, menciptakan dunia dan mengisinya dengan orang-orang dan melihat melalui mata orang lain. 
Kita kemudian merasakan sesuatu, mengunjungi tempat-tempat dan dunia yang tidak pernah kita ketahui. Kita belajar bahwa semua orang di luar sana adalah diri kita sendiri, tentu saja. Kita menjadi orang lain, dan ketika berputar kembali ke dunia sendiri, kita tiba-tiba saja berubah.
Empati adalah alat untuk membangun orang-orang dalam kelompok agar kita lebih dari sebuah obsesi diri sendiri. Kita juga menemukan sesuatu yang penting untuk membuat jalan bagi diri sendiri. Misalnya dunia tidak semestinya seperti ini, semua hal bisa atau mungkin harus berubah.
Pada tahun 2007 saat berada di China untuk mengikuti seminar tentang fiksi-ilmiah dan fantasi. Seminar atau konvensi tersebut adalah untuk pertama kalinya dalam sejarah China. Pada satu titik, saya bertanya pada seorang pejabat, Mengapa? Bukankah Fiksi-ilmiah telah lama tidak disetujui di China ? Apa yang berubah?
Sederhana saja, katanya. Orang-orang Cina sangat brilian membuat hal-hal yang sudah direncanakan oleh orang lain. Tetapi mereka tidak berinovasi dan menciptakan, mereka hanya mengerjakan. Mereka tidak berimajinasi. Itu sebabnya China mengirimkan delegasi ke Amerika Serikat, mengunjungi Apple, Microsoft, Google dan mereka menanyai orang-orang di sana yang menciptakan masa depan. Mereka menemukan bahwa mereka semua membaca fiksi-ilmiah ketika remaja.

Fiksi mampu menunjukkan dunia yang lain. Hal itu bisa membawa ke tempat-tempat yang tidak pernah kita kunjungi. Sekali mengunjungi dunia lain, kita seperti memakan buah ajaib. Kita tidak akan pernah lagi hanya menjadi bagian dari dunia tempat kita tumbuh. Kita mungkin akan kecewa. Namun, perasaan kecewa adalah hal yang baik. Orang-orang yang kecewa mampu memodifikasi dan mengimprovisasi dunia mereka: membuatnya lebih baik, membuatnya berbeda.
Selagi kita berada dalam pokok persoalan ini, saya ingin mengatakan beberapa hal tentang eskapisme. Saya mendengar istilah itu dilarang seperti hal itu adalah hal buruk. Jika saja fiksi-eskapis adalah candu yang murahan digunakan oleh pengacau, orang bodoh, dan penipu. Lalu fiksi yang berharga, untuk orang dewasa dan anak-anak, hanya fiksi yang meniru-niru saja, bercermin pada yang paling buruk di dunia ini ditemukan pembaca dalam diri mereka sendiri.
Jika kita terperangkap dalam situasi yang mustahil, di tempat yang tidak menyenangkan, dengan orang yang tidak kita senangi, lalu seseorang datang mengajak ke tempat pelarian sementara, mengapa kita tidak menerimanya? 


Dan fiksi-eskapis adalah fiksi yang membuka pintu, menunjukkan cahaya matahari di luar sana, memberikan tempat di mana kita terkendali, bersama orang-orang yang kita inginkan (dan buku adalah tempat yang nyata, jangan membuat kesalahan dengan itu); dan yang paling penting, selama pelarian tersebut, buku juga bisa memberi kita pengetahuan tentang dunia dan keadaan yang sulit, memberi senjata, pelindung diri: hal nyata yang bisa kita ambil kembali ke dalam penjara. Keahlian, pengetahuan, dan alat yang bisa kita gunakan untuk pelarian yang sebenarnya.
Sebagaimana JRR Tolkien mengingatkan kita, satu-satunya orang yang menentang pelarian adalah sipir.

Cara lain untuk menghancurkan kecintaan anak membaca, tentu saja, adalah memastikan tidak ada buku apa pun di sekitarnya, tidak ada tempat untuk mereka membaca buku-buku itu. 
Saya beruntung. Saya memiliki perpustakaan lokal yang luar biasa hidup. Saya memiliki orang tua yang dapat dibujuk untuk menurunkan saya di perpustakaan dalam perjalanan mereka untuk bekerja di liburan musim panas, dan di sana ada jenis pustakawan yang tidak mempermasalahkan anak kecil tanpa pendamping yang kembali ke perpustakaan anak-anak setiap pagi dan bekerja melalui katalog kartu, mencari buku dengan genre hantu atau sihir atau roket di dalamnya, mencari vampir atau detektif atau penyihir atau keajaiban. Dan ketika saya selesai membaca perpustakaan anak-anak, saya mulai membaca buku-buku dewasa.

Mereka pustakawan yang baik, menyukai buku dan terlebih suka pada buku-buku yang sedang dibaca. Mereka mengajari saya cara memesan buku dari perpustakaan lain dan tentang pinjaman antar perpustakaan. Mereka tidak punya keangkuhan tentang apa pun yang saya baca. Mereka sepertinya menyukai bahwa ada bocah lelaki bermata lebar yang suka membaca, dan akan berbicara dengan saya tentang buku-buku yang saya baca, mereka akan memberitahukan saya buku-buku lain dalam seri, mereka akan membantu. Mereka memperlakukan saya sebagai pembaca lain - tidak kurang atau lebih - yang berarti mereka memperlakukan saya dengan hormat. Saya tidak terbiasa diperlakukan dengan hormat sebagai seorang anak berusia delapan tahun.
Tetapi perpustakaan adalah tentang kebebasan. Kebebasan untuk membaca, kebebasan ide, kebebasan berkomunikasi. Mereka adalah tentang pendidikan (yang berarti pendidikan tidak selesai begitu kita lulus dari sekolah, kampus), tentang hiburan, tentang membuat ruang yang aman, dan tentang akses ke informasi.
Saya khawatir bahwa di sini di abad 21 orang salah paham apa perpustakaan dan tujuan mereka. Jika Anda menganggap perpustakaan sebagai rak buku, mungkin tampak kuno atau ketinggalan jaman di dunia di mana sebagian besar, tapi tidak semua, buku-buku di cetak ada secara digital. Tapi itu kehilangan intinya.

Saya pikir itu ada hubungannya dengan sifat informasi. Informasi memiliki nilai, dan informasi yang tepat memiliki nilai yang sangat besar. Untuk semua sejarah manusia, kita telah hidup di zaman kelangkaan informasi, dan memiliki informasi yang dibutuhkan selalu penting, dan selalu bernilai sesuatu: kapan menanam tanaman, di mana menemukan hal-hal, peta dan sejarah dan cerita - mereka selalu baik untuk makan dan perusahaan. Informasi adalah hal yang berharga, dan mereka yang memilikinya atau dapat memperolehnya dapat mengenakan biaya untuk layanan itu.
Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah beralih dari ekonomi berbasis informasi yang langka menuju yang didorong oleh kelebihan informasi. Menurut Eric Schmidt dari Google, sekarang ini, setiap dua hari, umat manusia menciptakan sebanyak mungkin informasi yang kita peroleh dari fajar peradaban sampai 2003. Itu sekitar lima exobytes data per hari. 
Tantangannya menjadi, tidak menemukan bahwa tanaman langka tumbuh di padang pasir, tetapi menemukan tanaman tertentu yang tumbuh di hutan. Kami akan membutuhkan bantuan untuk menavigasi informasi tersebut untuk menemukan hal yang benar-benar kami butuhkan.




Perpustakaan adalah tempat yang dikunjungi orang untuk mendapatkan informasi. Buku hanyalah puncak dari gunung es informasi: mereka ada di sana, dan perpustakaan dapat memberikan Anda secara bebas dan legal dengan buku-buku. 
Lebih banyak anak meminjam buku dari perpustakaan daripada sebelumnya - buku-buku dari segala jenis: kertas dan digital dan audio. Tetapi perpustakaan juga, misalnya, menempatkan orang-orang, yang mungkin tidak memiliki komputer, yang mungkin tidak memiliki koneksi internet, dapat online tanpa membayar apa pun: sangat penting ketika cara Anda mencari tahu tentang pekerjaan, melamar pekerjaan atau mengajukan permohonan untuk manfaat semakin bermigrasi secara eksklusif online. Pustakawan dapat membantu orang-orang ini menavigasi dunia itu.
The Ocean at the End of the Lane By Gaiman, Neil,, - OpenTrolley ...
Saya tidak percaya bahwa semua buku akan atau harus bermigrasi menjadi digital : seperti yang pernah ditunjukkan oleh Douglas Adams kepada saya, lebih dari 20 tahun sebelum Kindle muncul, buku fisik seperti hiu. Hiu sudah tua: ada hiu di lautan sebelum dinosaurus. Dan alasan mengapa hiu masih ada adalah hiu lebih baik menjadi hiu daripada yang lain. Buku-buku fisik sulit, sulit dihancurkan, nyaman di tangan Anda: buku-buku itu bagus untuk menjadi buku, dan akan selalu ada tempat bagi mereka. Mereka termasuk dalam perpustakaan, sama seperti perpustakaan telah menjadi tempat Anda dapat pergi untuk mendapatkan akses ke ebook, dan audiobook dan DVD dan konten web.
Perpustakaan adalah tempat yang merupakan tempat penyimpanan informasi dan memberikan setiap warga negara akses yang sama untuk itu. Itu termasuk informasi kesehatan. Dan informasi kesehatan mental. Ini adalah ruang komunitas. Itu adalah tempat yang aman, tempat berlindung dari dunia. Ini adalah tempat dengan pustakawan di dalamnya. Seperti apa perpustakaan masa depan itu adalah sesuatu yang harus kita bayangkan sekarang.

Literasi sekarang ini menjadi lebih penting daripada sebelumnya, di dunia teks dan email ini, dunia informasi tertulis. Kita perlu membaca dan menulis, kita membutuhkan warga global yang dapat membaca dengan nyaman, memahami apa yang mereka baca, memahami nuansa, dan membuat diri mereka dipahami. Perpustakaan adalah gerbang ke masa depan. Jadi sangat disayangkan bahwa, di seluruh dunia, kami mengamati otoritas lokal mengambil kesempatan untuk menutup perpustakaan sebagai cara mudah untuk menghemat uang, tanpa menyadari bahwa mereka mencuri dari masa depan untuk membayar hari ini. Mereka menutup gerbang yang harus dibuka.


Menurut sebuah studi baru-baru ini oleh Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan, Inggris adalah "satu-satunya negara di mana kelompok usia tertua memiliki kemahiran yang lebih tinggi dalam melek huruf dan berhitung daripada kelompok termuda, setelah faktor-faktor lain, seperti jenis kelamin, latar belakang sosial-ekonomi dan jenis pekerjaan diperhitungkan ”. Atau dengan kata lain, anak-anak kita dan cucu kita kurang bisa membaca dan kurang berhitung dibandingkan kita.
Mereka kurang mampu menavigasi dunia, memahaminya untuk menyelesaikan masalah. Mereka dapat lebih mudah dibohongi dan disesatkan, akan kurang mampu mengubah dunia di mana mereka menemukan diri mereka sendiri, kurang bisa dipekerjakan.
Semua ini. Dan sebagai sebuah negara, Inggris akan tertinggal di belakang negara-negara maju lainnya karena tidak akan memiliki tenaga kerja yang terampil. Buku adalah cara kita berkomunikasi dengan orang mati. Cara kita belajar dari orang-orang yang tidak lagi bersama kita, bahwa manusia telah membangun dirinya sendiri, berkembang, membuat pengetahuan bertambah daripada sesuatu yang harus dipelajari kembali, berulang kali. Ada cerita-cerita yang lebih tua dari kebanyakan negara, kisah-kisah yang telah lama mengungguli budaya dan bangunan di mana mereka pertama kali diberitahu.


Saya pikir kita memiliki tanggung jawab untuk masa depan. Tanggung jawab dan kewajiban kepada anak-anak, bagi orang dewasa anak-anak itu akan menjadi, bagi dunia mereka akan menemukan diri mereka hidup. Kita semua - sebagai pembaca, sebagai penulis, sebagai warga negara - memiliki kewajiban. Saya pikir saya akan mencoba dan menguraikan beberapa kewajiban ini di sini. Saya percaya kita memiliki kewajiban untuk membaca untuk kesenangan, secara pribadi dan di tempat umum. Jika kita membaca untuk kesenangan, jika orang lain melihat kita membaca, maka kita belajar, kita melatih imajinasi kita. Kita menunjukkan kepada orang lain bahwa membaca adalah hal yang baik.
Kita memiliki kewajiban untuk mendukung perpustakaan. Untuk menggunakannya, mendorong orang lain berkunjung ke perpustakaan dan memprotes penutupan perpustakaan. Jika Anda tidak menghargai perpustakaan maka Anda tidak menghargai informasi atau budaya atau kebijaksanaan. Anda membungkam suara masa lalu dan Anda merusak masa depan.
Kita memiliki kewajiban untuk membacakan kepada anak-anak kita. Untuk membaca hal-hal yang mereka sukai. Untuk membacakan cerita bagi mereka walau kita sudah bosan mendengar cerita tersebut. Untuk menjadi sebuah suara, membuat membaca menjadi menarik dan tidak berhenti membaca kepada mereka hanya karena mereka belajar membaca untuk diri mereka sendiri. Gunakan waktu membaca nyaring sebagai ruang ikatan antara kita dan anak, saat tak ada pesan dan panggilan pada ponsel yang perlu diperiksa, dan ketika kita memilih mengenyampingkan gangguan dunia demi : membaca.
Kita memiliki kewajiban untuk menggunakan bahasa. Untuk mendorong diri sendiri: untuk mencari tahu arti kata-kata dan cara menerapkannya, untuk berkomunikasi dengan jelas, untuk mengatakan apa yang kita maksud. Kita tidak boleh mencoba membekukan bahasa, atau berpura-pura itu adalah hal mati yang harus dihormati, tetapi kita harus menggunakannya sebagai makhluk hidup, yang mengalir, yang meminjam kata-kata, yang memungkinkan makna dan lafal berubah seiring waktu.


Kita para penulis - dan terutama penulis untuk anak-anak, untuk semua penulis - memiliki kewajiban kepada pembaca: adalah kewajiban untuk menulis hal-hal yang benar, terutama penting ketika kita membuat cerita tentang orang-orang yang tidak ada di tempat-tempat yang tidak pernah ada - untuk memahami bahwa Kebenaran tidak dalam apa yang terjadi tetapi apa yang memberitahu kita tentang siapa kita. 

Fiksi adalah kebohongan yang mengatakan kebenaran, bagaimanapun juga. Kita memiliki kewajiban untuk tidak membuat pembaca bosan, tetapi untuk membuat mereka perlu membalik halaman. Salah satu obat terbaik untuk pembaca yang enggan, bagaimanapun juga, adalah sebuah kisah yang tidak dapat mereka hentikan dari membaca. Dan sementara kita harus memberi tahu para pembaca kita hal-hal yang benar dan memberi mereka senjata dan memberi mereka baju besi dan meneruskan kebijaksanaan apa pun yang kita kumpulkan dari masa tinggal kita yang singkat di dunia hijau ini, kita memiliki kewajiban untuk tidak berkhotbah, bukan untuk memberi ceramah, untuk tidak memaksa orang yang sudah dicernakan moral dan pesan-pesan di leher pembaca kita seperti burung dewasa memberi makan bayi-bayi mereka. Dan kita memiliki kewajiban tidak pernah, dalam keadaan apa pun, untuk menulis apa pun untuk anak-anak yang tidak ingin kita baca sendiri.
Kita berkewajiban untuk memahami dan mengakui bahwa sebagai penulis untuk anak-anak kita melakukan pekerjaan penting, karena jika kita mengacaukannya dan menulis buku-buku membosankan yang membuat anak-anak menjauh dari membaca dan dari buku, kita telah mengurangi masa depan kita sendiri dan mereka .
Kita semua - orang dewasa dan anak-anak, penulis dan pembaca - memiliki kewajiban untuk melamun dan berimajinasi. Kita memiliki kewajiban untuk membayangkan. Sangat mudah untuk berpura-pura bahwa tidak ada yang dapat mengubah apa pun, bahwa kita berada di dunia di mana masyarakat sangat besar dan individu kurang dari tidak ada: sebuah atom di dinding, sebutir beras di sawah. Tetapi kenyataannya adalah, individu mengubah dunia mereka berulang-ulang, individu membuat masa depan, dan mereka melakukannya dengan membayangkan bahwa hal-hal dapat berbeda.



Lihatlah di sekeliling Anda: Saya bersungguh-sungguh. Jeda, sejenak dan lihat sekeliling ruangan tempat Anda berada. Saya akan menunjukkan sesuatu yang sangat jelas sehingga cenderung terlupakan. Ini adalah: bahwa semua yang dapat Anda lihat, termasuk dinding, pada suatu titik, dibayangkan. Seseorang memutuskan lebih mudah duduk di kursi daripada di tanah dan membayangkan kursi itu. Seseorang harus membayangkan bagaimana saya bisa berbicara dengan Anda di London sekarang tanpa kita semua kehujanan. Ruangan ini dan barang-barang di dalamnya, dan semua hal lain di gedung ini, kota ini, ada karena, berulang-ulang dan lebih, orang-orang membayangkan hal-hal.

Kita memiliki kewajiban untuk membuat semuanya menjadi indah. Bukan untuk meninggalkan dunia yang lebih buruk daripada yang kita temukan, bukan untuk mengosongkan lautan, tidak meninggalkan masalah kita untuk generasi berikutnya. Kita berkewajiban untuk membersihkan diri kita sendiri, dan tidak meninggalkan anak-anak kita dengan dunia yang telah kita pahami dengan kepanikan, singkat, dan pincang.
Kita memiliki kewajiban untuk memberi tahu politisi, apa yang kita inginkan, untuk memilih melawan politisi dari pihak mana pun yang tidak memahami nilai membaca dalam menciptakan warga negara yang layak, yang tidak ingin bertindak untuk melestarikan dan melindungi pengetahuan dan mendorong keaksaraan. Ini bukan masalah politik partai. Ini adalah masalah kemanusiaan biasa.
Albert Einstein suatu ketika diberi sebuah pertanyaan, bagaimana kita bisa membuat anak-anak kita cerdas ? 
Jawabannya sederhana dan bijaksana. "Jika Anda ingin anak-anak Anda menjadi cerdas," katanya, "bacakanlah dongeng. Jika Anda ingin mereka menjadi lebih cerdas, bacalah lebih banyak dongeng. ”
Dia mengerti nilai membaca, dan membayangkan. 
Saya berharap kita dapat memberi anak-anak kita sebuah dunia di mana mereka akan membaca, membayangkan, dan memahami.

UPCOMING EVENT


Oh ya, insya Allah juga akan ada workshop atau kelas webinar Writerpreneurship di Era New Normal 29 Juni 2020 nanti. 





Selamat menikmati perjalanan menulismu!

About the Author

dian nafi

Author & Editor

lulusan arsitektur yang suka jalan-jalan, menulis fiksi dan non fiksi.

0 komentar:

Posting Komentar

 

DeMagz © 2015 - Designed by Templateism.com, Distributed By Blogger Templates