Minggu, 04 November 2012


Cara Cari Muka # 1  : branding your program/activity as a critical part for company’s success. Desain dan kembangkan program yang kredibel dan inovatif (ini saja sudah memerlukan kompetensi). Namun yang tak kalah penting : branding program itu secara komunikatif (kalau perlu diresmikan dalam company event biar lebih ngejreng). Pastikan dalam keseluruhan proses itu, peran Anda “menonjol dan kelihatan” (dan memang ditopang oleh kecakapan).
Siasat diatas akan secara dramatis melambungkan nama Anda sebagai “rising star” – apalagi jika memang program/inisiatif itu bisa dijalankan dengan sukses.
Cara Cari Muka # 2 : bergiatlah secara aktif dalam company-wide initiatives (yang bersifat lintas departemen); misal seperti projek penerapan six sigma initiative, projek penerapan 5S atau balanced scorecard; atau projek pengembangan market baru.
Dan pastikan dalam inisiatif yang lintas bagian itu, Anda punya peran yang menonjol (entah sebagai team leader, atau sekedar aktif mengajukan solusi ide dalam meeting-meeting projek). Peran aktif Anda dalam inisiative seperti ini merupakan sarana ampuh to market yourself (ingat, personal branding).
Dibanyak perusahaan, orang yang aktif dalam company wide initiatives semacam diatas, cenderung lebih cepat dipromosikan. Ndak percaya? Coba saja sendiri.
Cara Cari Muka # 3  atau yang terakhir : bangunlah network internal dan posisikan Anda/departemen Anda sebagai good partner yang helpful. Selama ini di banyak organisasi, acap terjadi konflik antar departemen lantaran ego sektoral dan perbedaan kepentingan/prioritas. Koordinasi jadi macet.
Jangan ulangi kesalahan semacam itu. Posisikan tim Anda sebagai partner yang selalu gigih mencari win-win solution. Teruslah bergerak tanpa lelah ke setiap bagian/departemen, bangun komunikasi yang konstruktif, dan tawarkan aksi konkrit untuk memajukan kinerja bersama.
Cara yang ketiga ini niscaya akan membuat nama Anda menjadi “harum mewangi” dalam setiap sudut bangunan kantor Anda bekerja. Because, yes, you are a really good partner who drives performance.
Demikianlah tiga cara elegan untuk mempraktekkan impression management. Apply these impression skills; and your career will be moving forward. Ignore them, and your career will be dead in the middle of nowhere.

cara cari muka

Cara Cari Muka # 1   : branding your program/activity as a critical part for company’s success. Desain dan kembangkan program yang kredibe...

Rabu, 12 September 2012


Ikuti event foto komen 
novel lelaki :kutunggu lelakumu
atau novel segitiga :setiap sudutnya punya cerita
atau buku petitah.

Caranya : upload posemu beserta buku, atau foto bukunya,sertakan komenmu. Tag teman teman dan hasfa publisher.

Bagi yang upload di blog, beritahukan linknya ke inbox fb atau email hasfapublishing@yahoo.com.

Bagi yang upload di twitter, mention @hasfapublishing.
Deadline sesi ke 2 foto komen :10 oktober 2012

Hadiah total senilai 1,5jt untuk 5 orang terpilih (@Paket buku senilai 300rb)

Dapatkan buku -buku  tsb di toko buku Gramedia.

EVEN FOTO KOMEN

Ikuti event foto komen  novel lelaki :kutunggu lelakumu atau novel segitiga :setiap sudutnya punya cerita atau buku petitah. Caranya :...

Sabtu, 28 Juli 2012


Andy F Noya memegang buku Berjalan Menembus Batas dalam episode MAN JADDA WAJADA, KICK ANDY SHOW MetroTV.
Buku ini dibagikan untuk audience di studio. Juga dibagikan untuk yang mengikuti kuis buku gratis yang diadakan Kick Andy di webnya.

Berjalan Menembus Batas di KICK ANDY

Andy F Noya  memegang buku Berjalan Menembus Batas dalam episode MAN JADDA WAJADA,  KICK ANDY SHOW  MetroTV. Buku ini dibagikan untuk audi...
PETITAH 
Perjalanan Menuju Awal
ramadhanan 
Penulis: a[rt]gus faizal
Penerbit: Hasfa Publisher
HADIR DI TB GRAMEDIA 

bisa dibeli online. Rp 15rb, bebas ongkir. 
silakan inbox @Hasfa Publisher/ Hasfa Publisher Dua utk pemesanan atau sms 081914032201

Ramadlan memang harus berakhir dengan Lebaran.
Namun ramadhanan tidak boleh selesai di batas lebaran. Justru dengan datangnya Lebaran perjalanannya baru saja dimulai dan itu tidak pernah tahu sampai dimana akhirnya. Lebaran 1432H memang sudah berakhir, dan berakhir dengan ketentuan penetapan waktu yang bercabang. Padahal mungkin Tuhan tidak ambil pusing kapan tibanya Lebaran. Bisa saja Tuhan lebih peduli bagaimana umat bersatu dalam berlebaran. Sehingga menjadi sebuah konser akbar beserta semesta raya alam. Bahkan mungkin Tuhan lebih tertarik, bagaimana Ramadhan diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari setelah berlebaran. 

Buku ini inginnya menjadi sebuah ramadhanan yang sempit dituliskan. Tidak ingin menjadi sebuah kenangan, karena akan menjadi Flamboyan yang disemboyankan. Tetapi ingin menjadi sebilah pedang, karena sebilah pedang tidak dibuat dengan belaian lembut, tapi oleh tempaan palu dan api. Karena hidup adalah perjuangan, bagi setiap ksatria.

info buku baru : PETITAH : Perjalanan Menuju Awal

PETITAH  Perjalanan Menuju Awal ramadhanan  Penulis: a[rt]gus faizal Penerbit: Hasfa Publisher HADIR DI TB GRAMEDIA  bisa dibeli online. R...
21-27 Mei 2012 Pameran Buku di Gedung Koni KotaWali

Pameran Buku, Oase Bagi Minat Baca Buku Yang Mengering


Hasil penelitian Program for Internasional Student Assessment (PISA) 2009 sebagaimana dikutip Editorial Kompasiana (Kompas 24 Mei 2012) menunjukkan bahwa minat masyarakat Indonesia dalam membaca buku masih rendah. Indonesia berada di posisi sembilan terbawah, atau peringkat 57 dari 65 negara yang berpartisipasi dalam penelitian.

Di Demak hal itu bisa kita buktikan dalam kehidupan sehari-hari, jarang kita temui aktivitas orang membaca buku di ruang publik, saat menunggu, atau dalam perjalanan. Bahkan yang berseragam sekolah atau mahasiswa sekalipun jarang kedapatan membaca buku.


Sedikitnya jumlah dan ragam buku berkualitas yang up to date, serta akses buku yang sulit dan mahal, kerap menjadi kendala yang ditemui di daerah. Tradisi bertutur lisan dalam menyebarkan dan menggali informasi, ditambah maraknya budaya komunikasi non-lisan melalui gadget (sms,googling, media sosial) semakin sirnalah kebiasaan membaca buku.

Untuk itu perlu upaya menumbuhkan budaya membaca buku di masyarakat. Salah satunya adalah menghadirkan beragam jenis buku berkualitas dengan harga murah dalam jumlah banyak. Pemkab Demak pada tanggal 21 - 27 Mei 2012 menyelenggarakan Pesta Sejuta Buku guna menghadirkan buku-buku murah dan berkualitas. Pameran buku ini diharapkan menjadi oase bagi minat baca yang selama ini mengering. Beragam jenis buku berkualitas menjadi sumber penawar yang mengobati dahaga kebutuhan informasi warga. Kebutuhan informasi dan ilmu pengetahuan dalam mengatasi permasalahan kehidupan yang makin rumit, diharapkan dapat dipenuhi dari buku-buku tersebut. Sehingga masyarakat menjadi tertarik menggali ilmu dari buku.

Upaya meningkatkan tradisi membaca buku lewat pameran buku tersebut ternyata tidak mudah, hal ini terlihat dari animo berkunjung masyarakat yang kurang memuaskan. Hingga hari kelima, pameran yang diselenggarakan oleh pemkab Demak di gedung KONI ini jumlah pengunjungnya masih sedikit. Kalah ramai dari pengunjung pasar malam, gerebek besar, atau bazar sembako. Juga jika dibandingkan dengan pameran-pameran buku di kota - kota lainnya. 

Kondisi demikian perlu dievaluasi agar penyelenggaraan event berikutnya bisa lebih memuaskan. Sebagai saran bagi penyelengara: acara pendudung perlu dikemas lebih menghibur, menambahkan unsur-unsur lokal, menggabungkan konsep pasar malam gerebek besar dan pameran2 lainnya yang telah sukses dihelat.

Publikasi yang kurang greget pada acara ini perlu mendapat perhatian agar acara berikutnya gaungnya lebih terdengar meriah. Konsep publikasi yang dilakukan penyelenggara pasar malam gerebek besar bisa diadaptasi, seperti memenuhi titik-titik ramai dan dijalan-jalan utama dengan spanduk/baliho, menggandeng radio suara kota wali atau media masa, serta menyelenggarakan event pendahuluan atau saat pameran yang menyedot perhatian masa sangat banyak seperti acara jalan sehat berhadiah motor, hadiah itu tiap hari diarak keliling dari kampung ke kampung. Jika publikasi dirasa mahal dan menyedot anggaran besar panitia bisa menggandeng sponsor atau donasi dari CSR  perusahaan yang selama ini peduli terhadap pendidikan.

Pemilihan tanggal penyelenggaraan dirasa penting, penyelenggaran pameran di tanggal tua bisa menyebabkan  masyarakat malas mengunjungi pameran. Hal ini sangat dimaklumi karena mayoritas masyarakat yang berpenghasilan bulanan, anggaran belanja nya (termasuk anggaran beli buku) telah ditunaikan jauh-jauh hari di tanggal muda. Sehingga pada tanggal tua, menyisakan uang yang hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, dan sedikit untuk ditabung. Oleh karena itu penyelenggaraan pameran sebaiknya diselenggarakan antara tanggal 28 hingga tanggal 4 bulan berikutnya.

Peran Penerbit dan Toko Buku

Selain pemerintah yang wajib mendorong masyarakat untuk meningkatkan budaya membaca buku, penerbit dan toko buku juga dituntut turut serta melakukan peran yang sama. Mereka perlu mengedukasi masyarakat dan mengambil perhatian masyarakat terhadap buku.

Jika kita melihat produsen rokok, barang elektronik, consumer goods, dan industri perbankan gencar melakukan promo dan iklan, baik melalui above the line maupun bellow the line  guna mencuci otak masyarakat agar berminat terhadap produk mereka, maka sudah seharusnya penerbit dan toko buku melakukan usaha yang sama, bahkan lebih, untuk mengambil hati masyarakat agar tertarik pada buku. Terlebih upaya ini punya sisi yang mulia yaitu mencerdaskan masyarakat. Kesediaan penerbit dan Toko buku menjemput bola, berpartisipasi dalam Pesta Sejuta Buku patut diacungi jempol.

Kita sebagai masyarakat, seberapa besar 'budaya membaca buku' kita? Kita berharap upaya mentradisikan membaca buku mendapat dukungan dari berbagai pihak dan bisa sukses.

Event Pameran Buku

21-27 Mei 2012 Pameran Buku di Gedung Koni KotaWali Pameran Buku, Oase Bagi Minat Baca Buku Yang Mengering Hasil penelitian ...

Review by Fitri Ragil Kuning
SEGITIGA – Sebuah Novel Duet 

Judul : Segitiga
Penulis : Dian Nafi & Nessa Kartika
Penerbit : Hasfa Publishing
Terbit : Mei 2012
Halaman : vi + 120 halaman

Sudah menjadi sifat manusia bahwa dia akan melakukan apapun demi kepuasan dirinya sendiri. Tak peduli apakah keinginan itu merugikan orang lain atau tidak. Untuk itu, tak heran rasanya jika semakin hari semakin banyak kita temukan tangan-tangan jahil yang memanfaatkan kekuasaannya untuk mendapatkan keuntungan. Yang dirugikan, justru orang-orang awam yang tak mengerti sama sekali. Sebut saja korupsi, misalnya.

Seperti yang dikisahkan dalam novel duet ini, bahwa kekuasaan mampu membungkam mulut siapa saja, termasuk anggota-anggota LSM yang seharusnya bisa mewakili aspirasi masyarakat. Yang benar menjadi salah, yang salah pun terkesan dibenarkan. Berbagai negosiasi dan ‘main belakang’ selalu menjadi cara kerjanya.

Novel yang berbau permainan politik ini tidak terkesan kaku karena di dalamnya terselip kisah-kisah cinta yang bahkan bisa dikata mendominasi bagian dari novel duet ini. Segitiga, lebih tepatnya saya pribadi menyebutnya segitiga cinta. Ada tiga titik terhubung yang mencoba untuk meraih satu tujuan, yaitu cinta. Cinta antara Nuning, Ryan, dan Faisal. Meski pada akhirnya cinta pula yang membuat Nuning mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya untuk membatalkan pernikahan demi kembali pada cinta yang dia rasakan lebih pantas untuk dimiliki. 

Novel karya Dian Nafi dan Nessa Kartika ini juga kental dalam penyajian setting dan tokoh-tokohnya. Pembaca akan digiring memasuki kawasan Yogyakarta yang memang sengaja diciptakan sebagai setting utama. 

Cover depan yang fresh dengan color orange sangat menarik siapa saja untuk memiliki novel ini. Ditambah dengan ilustrasi yang keren tapi tidak terkesan glamour membuat novel ini terlihat elegan. 

Namun di novel ini juga banyak ditemukan paragraf yang mengandung kalimat-kalimat kiasan yang membuat pembaca harus berpikir ulang untuk mencernanya. Apalagi ditambah dengan loncatan plot yang kadang terasa sangat cepat.

Selebihnya, Anda perlu memiliki novel ini segera. Ada pesan-pesan moral yang ingin dituturkan oleh kedua penulis tanpa bermaksud menggurui. Bahwasanya hukum di negara kita ternyata masih terlalu kerdil untuk mengatasi seorang koruptor, bahkan seorang pengusaha kaya yang dikelilingi oleh antek-anteknya.

Selamat membaca 
Description: https://s-static.ak.facebook.com/images/blank.gif

Info Buku Baru

Review by Fitri Ragil Kuning SEGITIGA – Sebuah Novel Duet   Judul : Segitiga Penulis : Dian Nafi & Nessa Kartika Penerbit : Ha...
Meski belum bisa menghubungi Wida, kami tak mau ambil pusing. Keputusan yang diambil, lebih baik kami berkorban menunggu beberapa jam di bandara daripada Wida datang jauh-jauh dari Mesir tanpa seorangpun tampak menjemputnya. Karenanya kami bergegas masuk mobil dan Amand dengan lincahnya mengendarai melewati segala kemacetan. Sehingga kami tiba di bandara jam enam lebih sedikit. Langit telah menenggelamkan mentari dan lampu-lampu merkuri memandikan jalan raya, pepohonan perdu dan rerumputan di taman jalan juga mobil-mobil yang terparkir berjajar di depan bandara.

Rayhan –sulungku tujuh tahun- dan adiknya Nayla berlarian sepanjang koridor. Mereka sudah hafal ke mana harus duduk menunggu jika tujuannya adalah menjemput. Di terminal kedatangan.

“Masih belum bisa dihubungi bu?” tanyaku pada ibu karena aku juga belum berhasil  menghubungi Wida-adikku yang rencananya datang malam ini dari Mesir setelah empat tahun masa studi di Al Azhar.

“Belum. Kita tunggulah” jawab ibu sambil duduk di kursi panjang berbahan metal berwarna silver yang sudah mulai korosi di sana sini, terlalu sering diduduki.

Untunglah Rayhan dan Nayla menikmati acara menunggu ini dengan tanpa rasa terbebani. Aku berhasil menyuapi mereka makan malam yang telah kubawa dari rumah dalam sebuah wadah yang menjaga makanan tetap hangat.

Ponselku berdering pendek. Sebuah pesan singkat dari adik lelakiku –Kamal.

Wida sudah datang belum, mbak? Aku berangkat langsung dari Solo. Sekarang baru sampai tugu muda.

 Kamal belajar spesialis penyakit dalam di Solo setahun ini.  Meski waktunya sempit karena jam tiga dini hari nanti ia harus kembali lagi ke Solo untuk jaga sebagai residen, ia selalu menyempatkan datang untuk acara penting seperti ini.

Belum datang. Aku dan ibu masih di bandara kok.

Pesan singkatku sebagai jawaban tak lama kemudian terjawab dengan kehadirannya. Satu-satunya lelaki di antara kami empat bersaudara. Dia mencium punggung tangan ibu dan milikku dengan takdzim. Masih tidak berubah sejak dulu. Dua krucilku menyambutnya dengan hangat.

 “Bagaimana? Coba kamu tanyakan ke konter-konter itu. Supaya jelas ada nama adikmu tidak di daftar penumpang mereka?” ibu mulai cemas. Dan aku berlari ke konter-konter tiket pesawat yang ada di ujung lain dari bandara ini. Mencari tahu tapi ternyata tidak ada nama adikku di daftar penumpang pesawat manapun.

Ketika aku kembali ke terminal kedatangan, menemui ibu di bangku panjang tempatnya dua jam ini menunggu tanpa kejelasan, ibu sedang mengakhiri perbincangan di ponselnya.

“Adikmu masih di bandara Soeta. Tidak terkejar naik pesawat ke Semarang malam ini. Kemungkinan besok pagi baru bisa terbang. Kita pulang. Besok ke sini lagi” ibu bangkit dari tempat duduknya. Tampak lelah sekali.

“Wah sayang sekali. Aku jam tiga dinihari ini harus balik lagi ke Solo” gerutu adik lelakiku. Ah, ternyata dia menyempatkan diri hadir di bandara ini di tengah waktunya yang sempit harus jaga bangsal dan pasien rumah sakit sebagai bagian dari pendidikan spesialisnya.

“Iya, nggak apa. Besok ibu sama kakakmu saja lagi yang menjemput. Mana Rayhan dan Nayla?” ibu bahkan masih mengkhawatirkan cucu-cucunya.  

Dua balitaku berlari mendekat ke nenek mereka. Seolah mengerti isyarat mataku kepada mereka yang berlari-larian di area dekat televisi besar yang tergantung di terminal kedatangan ini. Kami semua meninggalkan bandara malam itu dengan rencana kembali besok hari setelah ada kabar dari Wida mengenai jadual terbangnya dari Jakarta.

**

 Jam dua belas siang kami kembali berada di terminal kedatangan. Ibu kelelahan sebenarnya  karena tiga hari  ini berkutat dengan persiapan banyak acara dan tiga hari ke depan juga akan melakukan beberapa kegiatan penting dan juga perjalanan, termasuk reuni dengan teman-teman kampusnya dulu. Tapi ibu tak mungkin melewatkan acara penting ini. Anak bungsunya, satu-satunya yang studi sampai keluar negeri akan pulang hari ini setelah empat tahun tinggal di Kairo.

Di terminal kedatangan kali ini suasananya lebih ramai. Aku menikmatinya sambil menunggu kedatangan adikku. Pemandangan orang – orang yang gelisah menunggu, hilir mudik petugas yang membersihkan lantai, ada yang membantu mereka yang mencari taksi, orang-orang  yang saling berpelukan ketika bertemu dengan yang dijemput.

Seorang bule dan perempuan muda agak jauh dari terminal kedatangan, berdiri berhadapan dengan senda gurau dan tertawa – tawa kecil meski tak bisa menutupi raut murung di wajah mereka. Ekspresi perpisahan yang berat namun harus terjadi. Mengingatkan diriku sendiri ketika melepas Alexander Kudzierko kembali ke Inggris setelah setahun bersamaku memegang kendali marketing di sebuah perusahaan eksportir furniture.

Sambil terus mengawasi dua anakku, mataku bergeser ke pintu terminal kedatangan karena beberapa orang keluar dari sana. Seorang lelaki tinggi berkaca mata membawa tas ransel di punggungnya dengan satu koper besar beroda, mencium punggung tangan seorang perempuan setengah baya berjilbab. Mungkin ibunya. Lalu mencium punggung tangan seorang lelaki beruban berwajah simpatik, mungkin ayahnya. Si anak yang membanggakan itu mungkin seperti adikku. Baru saja menyelesaikan studinya di luar negeri dan membawa pulang kemenangan berikut harapan-harapan baru.

Serombongan orang berseragam batik ungu tampak keluar dari pintu terminal kedatangan. Terbaca tulisan pada emblem di seragam bagian dada kirinya. Sebuah perusahaan tour umroh haji yang terkenal di Semarang. Rupanya mereka pulang umroh.

“Berapa jumlah rombongan bu? berapa hari bu umrohnya?” aku bertanya dengan seorang perempuan di antara mereka yang terdekat denganku.

“Ada Sembilan puluh orang. Umrohnya sembilan hari sudah termasuk perjalanan. Tiga hari di Mekkah, tiga hari di Medinah” jawabnya lengkap seperti tahu persis seperti apa jawaban yang kuinginkan darinya.

Para jamaah tampak dijemput keluarganya masing-masing. Mengharukan sekali. Saat kucium punggung tangan beberapa ibu jamaah umroh itu, seakan aroma Makkah Madinah tercium olehku. Hatiku haru oleh kerinduan. Tiga tahun lalu tepatnya aku Alhamdulillah pergi berhaji. Dan selalu hatiku menangis dan berharap ingin ke sana lagi setiap kali melihat rombongan umroh atau haji.

Sekejap kemudian aku sadar mungkin sekali Wida ada dalam pesawat yang sama dengan rombongan umroh ini. Mataku bergegas gerilya mencari sosok mungil adikku itu. Empat tahun yang panjang bagi ibuku tentu saja. Dengan segala carut marut dan kekisruhan di bumi kinanah itu. Pertemuan ini akan menjadi penawar setelah lelah penantian. Dan obat bagi keletihannya sebagai orang tua tunggal bagi kami. Nhah itu dia Wida!

“Ibu! Itu Wida, bu!” aku berteriak girang membayangkan ibu juga mengalami euphoria sepertiku. Kepala dan jilbabku bergoyang ke sana kemari mencari-cari sosok ibu di antara deretan penjemput yang berdiri di sepanjang pagar batas di depan pintu terminal kedatangan.

Seorang perempuan tua yang pucat dan lesu terjatuh di pojok sana, jauh dari tempatku berdiri. Seorang lelaki sigap menangkap tubuhnya yang terkulai. Aku berlari mendekat ke arahnya dan mengabaikan Wida yang entah melihatku atau belum.

Perempuan tua itu, ibu, yang segenap jiwa raganya ia berikan untuk kami, anak-anaknya. Tuhan menjemputnya terlebih dulu sebelum beliau berhasil menjemput anak bungsu terkasihnya di hari ini.

Di Terminal Kedatangan

Meski belum bisa menghubungi Wida, kami tak mau ambil pusing. Keputusan yang diambil, lebih baik kami berkorban menunggu beberapa jam di b...


Oleh Dian Nafi

Memasuki kota tua ini, bayangan wajahnya semakin lekat dalam benak dan bahkan tampak nyata dalam pandangan mataku yang terpejam. Lesung pipitnya yang dalam, senyum yang khas dengan gigi gingsulnya, lengan kukuh dengan jemari lentiknya, bulu lembut di kulit coklatnya, kepasrahannya akan lekukanku yang luwes tiap pagi yang dingin dan senja yang meluruh. Lelaki muda itu, kukira aku yang mematahkan hatinya. Namun saat ini bisa kurasakan, akulah yang terbenam dalam ketidakadilan rekayasa ini. Aku yang terbujur kaku dalam kenangan yang tak mau sembunyi. Kental dan semakin mencengkeram kuat ketika diriku berada seinchi demi seinchi lagi memasuki kampung tempat tinggalnya, tempat aku pernah setahun menghisap kehangatan dan keluguannya.

**

“Apa artinya ini, mbak?”

Matanya yang sendu dan sayu mencari jawab dari rengkuhanku yang tiba-tiba begitu saja mengalun di bawah langit biru kota paling eksotik yang kukenal.

“Bukan apa-apa”

Tak mungkin menyembunyikan semburat malu di pipi karena bagaimanapun aku adalah perempuan. Meskipun usiaku lebih tua darinya empat tahun. Tapi bukan aku namanya jika tak mampu menutupi kebusukan  ‘gejolak muda berangkat dewasaku ‘.

Dia hanya mendesah. Mungkin menikmati. Mungkin merasa berdosa. Atau entah apalagi yang dipikirkannya, aku tak tahu. Dan karenanya segera kulepas rengkuhanku tapi ia malah menarik tanganku kembali.

“Mbak keberatan?” tanyanya takut-takut.

“Sudah siang. Aku masuk dulu ya. Kamu juga harus ke kampus kan? Jangan sampai terlambat. Terima kasih ya sudah mengantarku.”

Aku tetap menarik tanganku, bahkan turun dari boncengan motor gedenya dan mengusirnya secara halus. Garis wajahnya terbaca sekali, kecewa dan murung. Tapi ia bergegas melibasnya dengan senyuman manisnya.

“Aku yang terima kasih. Nanti sore mau dijemput jam berapa?”

Oh. Anak yang manis dan tawaran yang juga manis sekali.

“Tidak. Terima kasih. Aku pulang sendiri saja. Hati-hati di jalan ya”

Kulambaikan tanganku dan berharap ia segera pergi dan berlalu. Aku tak mau ia membaca isi kepalaku kalau aku hanya memanfaatkannya saja. Bagaimanapun ia anak yang sangat baik, lugu. Dan entahlah, membaca sikapnya, bisa kupastikan  mungkin aku wanita dewasa pertama dalam kehidupannya. Mungkin ia dulu hanya pernah mengalami cinta monyet saja karena aku pernah mendengar dari sepupuku yang tetangganya – aku tinggal bersama sepupuku ini- bahwa Radindra-nama cowok itu- pernah punya pacar yang tetangganya juga.

Radindra punya kriteria cowok yang aku sukai kecuali satu, ia terlalu muda. Dan jelas-jelas tidak masuk criteria bagi ibuku yang konservatif. Dan aku, tak pernah sekalipun menggugat ibuku dan aturan-aturannya karena aku gadis puritan. Di dalam diriku yang Nampak lincah, bebas, merdeka dan berpikiran moderat, sesungguhnya aku ada di garda depan pendukung pikiran –pikiran kuno perempuan ini. Yang kepadanya aku berhutang banyak, yang di telapak kakinya tersimpan surgaku.

**

Kuhirup udara kota tua yang tak pernah tidur ini. Dari setiap sudutnya, setiap jalan yang kulalui, setiap pohon dan kafe –kafe itu, semua kenanganku akannya tersembul menggoda. Padahal aku datang kembali bukan untuknya. Kami datang untuk acara buka bersama di rumah nenek yang kutinggali bersama sepupuku sewaktu aku bekerja di kota ini.

Aku beserta seluruh keluargaku menempuh jarak tujuh puluh kilometer untuk buka puasa bersama keluarga besar. Hal yang mulai ditradisikan agar ikatan kekeluargaan tetap terjalin meski kami tinggal berjauhan. Biasanya kami datang hanya pada acara-acara penting saja. Seperti setahun yang lalu, saat pemakaman nenekku.

Saat itu lelaki muda yang pernah kukelabui perasaannya- Radindra- juga hadir. Ia yang tinggal bersama ayah ibunya di rumah yang hanya selisih delapan rumah dari rumah nenekku bahkan ikut sibuk dalam upacara penghormatan sampai pemakaman. Aku bisa menangkap kerinduan di matanya ketika tak sengaja kami sesaat bersirobok pandang. Namun hanya luruh yang mungkin dirasakannya karena aku  duduk bersama seorang pria yang tak kalah tampan darinya. Gery, tunanganku.

Ia, lelaki muda yang lembut hatinya itu, merasa terkelabui sekali lagi.

Yang untung lagi-lagi aku. Karena  Gery memperlakukanku  begitu istimewa setelah ia tahu ada seorang muda ganteng yang begitu menggilaiku. Sepupuku-Lily- yang menceritakannya setelah tunanganku itu mempertanyakan keganjilan yang ia tangkap dari bahasa tubuh dan sorot mata seorang lelaki muda di tengah kedukaan hari itu.

**

Tapi siapa yang tahu jalan takdir. Gery  yang menyayangiku sepenuh hatinya malah pergi tanpa pamit. Ditinggalkan Gery begitu saja, tak ayal membuatku limbung. Aku gadis penakluk dan pematah hati. Jadi kepergian Gery sama sekali jauh dari dugaan dan perkiraanku. Kami hanya tinggal beberapa minggu menuju pelaminan. Tapi Tuhan merengkuhnya sebelum aku.

Tak harus memakan waktu lama untuk menyembuhkan luka ternyata. Berkunjung kembali ke kota tua ini tiba-tiba sebersit harapan timbul. Secercah cahaya menyinari relung kalbuku yang gelap beberapa waktu lalu. Aku masih punya Radindra. Radindra yang menggilaiku. Ia mungkin menungguku untuk kembali padanya.

**

Seusai berbuka bersama, langkah kakiku ringan menuju masjid di seberang rumah nenek. Sholat berjamaah maghrib dilanjut sampai Isya dan tarawih di masjid AlFurqon akan menyenangkan sekali kurasa. Karena semuanya lagi-lagi akan membawa kembali kenanganku bersamanya.

Ia yang rajin mengajar TPQ di masjid ini, menjadi muadzin yang paling rajin, dari kompor semangatnya para remaja rajin berjamaah dan meramaikan masjid dengan berbagai acara. Burdah  tiap malam jumah, latihan khitobah bergantian setiap jumat malam, majalah dinding, diskusi juga kajian rohani dan latihan rebana setiap minggu pagi setelah kerja bakti bersih-bersih lingkungan masjid.

**

Remaja masjid yang dipelopori Radindra mengadakan rihlah di suatu akhir pekan saat aku masih anyar tinggal di lokasi ini. Ia yang menjadi teman pertamaku di tempat baru mengajakku ikut serta dan aku tak kuasa menolak. Radindra telah dengan baik hati mengantarku ke kantor beberapa kali. Kadang dengan vespa tuanya, kadang dengan motor gedenya.

Di pantai Baron Yogya, aku tak bisa menahan keliaran-keliaranku. Berjalan berdua dengannya di tepi pantai yang indah dan langit biru yang cerah, mungkin itulah penyebabnya.

“Belum pernah ke sini, mbak? Indah kan?” tanyanya lugu.

“Belum. Memang indah sekali. Seandainya aku datang ke sini dengan seorang kekasih, betapa lebih indahnya” jawabku spontan.

Satu komentar kecil nakalku itulah yang kukira membangkitkan sesuatu yang tidur dalam dirinya. Aku bisa menangkap dari bahasa tubuhnya yang tak mau jauh-jauh dariku padahal teman-temannya yang sama-sama muda mengajak berlarian, bermain dan beraktifitas lainnya. Ia memilih duduk denganku yang paling tua dalam rombongan ini, di atas pasir putih dengan pemandangan pantai serta laut yang eksotik, membincangkan apa saja dari yang remeh temeh sampai hal-hal yang agak berat.

Bisa ditebak gunjingan teman-temannya sepulang rekreasi itu. Si jangkung idola sekampung berwajah manis serupa artis itu kepincut hatinya dengan seorang pendatang baru di kampung mereka yang usianya lebih tua dan dari lagak perempuan dewasa itu bisa menarik sekaligus beberapa pria. Itu karena ketika perjalanan rekreasi sampai di Malioboro, Radindra kehilangan jejakku dan aku berhasil ditemani Divo yang tinggi besar dan seorang pemain band. Berburu batik, souvenir dan bakpia pathok. Waktu singgah di pantai Kukup, adik lelaki Radindra- Yahya- yang menemaninya mencari kerang dan kerakal yang bagus-bagus untuk dibawa pulang.

Efek dari akhir pekan kontroversial itu langsung terwujud Senin ketika ia mengantarku ke kantor. Pagi itu ia seperti seorang penderita obsesif kompulsif, menghujaniku dengan banyak pertanyaan aneh, mempertanyakan kedirian dan kemauanku, ke mana arah anginku. Dan aku tak bisa menjawab kecuali dengan rengkuhan dari arah punggungnya. Mungkin hanya untuk menutup mulutnya yang tiba-tiba ceriwis dan menggangguku, mungkin juga karena tiupan dingin angin pagi yang menampar wajah dan tubuhku di boncengan motor gedenya yang melaju di bawah langit biru kota tua yang eksotis.

**

“Aku harus pulang”

Kusentakkan lembut tangannya yang mencoba menghalangiku pergi. Ibuku membutuhkanku di kampung halamanku sendiri sepeninggal ayahku yang terenggut bersama penyakit jantungnya.

Radindra menatapku perih. Aku resign dari kantor secara tiba-tiba dan melepasnya begitu saja dari rutinitasnya mengantar-jemputku tiap pagi dan sore karena kampusnya searah dengan kantorku. Ia akan kehilangan momen-momen bersama tanpa kejelasan hubungan yang pasti. Dan aku bahkan seperti menemukan jalan untuk melarikan diri.

**

“Mbak, aku sudah sampai depan rumah”

Suara dari seberang telpon yang kuangkat siang itu kukenali dengan mudah. Suara resah mendesah pemilik lelaki muda yang tak pernah lelah menjamah angkuhku yang jengah. Rumah siapa? Pikirku. Lalu kudengar suara ketukan di pintu rumahku.

Oh!

“Radindra!” teriakku kecil.

Ia yang basah kuyup oleh hujan berdiri dengan tegap di hadapanku. Setelah telpon dan sms-nya tak pernah kujawab. Aku baru akan mengucapkan kalimat pengusiran halus tetapi kalah cepat oleh suara ibuku.

“Radindra! Masuk, nak. Kok hujan-hujanan begitu? Sendirian?”

Ibu yang mengenalinya sebagai  tetangga nenek di kota tua, menyuruhnya masuk. Mengambilkannya handuk, membuatkannya teh hangat, menyuruhnya mandi dan berganti baju yang disiapkan ibu, menemaninya duduk dan bercakap. Bahkan memintanya menginap.

Apa –apaan ibu? Pikirku. Bukankah ibu menjodohkan aku dengan Gery? Meski aku belum sepenuhnya setuju dengan pilihan ibu karena aku yang terbiasa seperti elang terbang di lautan bebas belum siap untuk berdiam dalam satu sarang.

  Lalu kenapa ibu sedemikian baik dengan Radindra? Padahal ibu tahu persis cerita dari sepupuku Lily dan juga sedikit bocoran dariku bahwa Radindra sangat mungkin sekali menaruh hati denganku.

“Radindra tahu apa yang harus dipersiapkan untuk menuju pernikahan?” tanya ibu sampai pada suatu paragraph setelah berbanyak busa antaranya dan Radindra, lelaki muda yang sedang berjuang mencari dan mengambil hati orang tua di depannya.

“Saya akan lulus tahun depan dan segera mencari pekerjaan” jawabnya mantap. Aku hanya mengangkat bahu di samping ibuku yang tersenyum. Entah apa arti senyumnya. Karena pagi harinya, sesaat setelah lelaki muda itu berpamitan, ibu masih tetap dalam keputusannya untuk menjodohkan aku dengan Gery. Dan aku terpaksa menuruti ibu untuk memutuskan semua kontak dengan Radindra. Ganti nomer ponsel sesudah secara jelas dan tegas menyampaikan fakta  kepadanya bahwa aku sudah dijodohkan dengan orang lain sehingga tak ada peluang untuknya mendekatiku lagi.

**

Sudah lama berlalu tetapi tatapan penuh kerinduan miliknya masih kusimpan erat dalam ingatanku. Dengan Ulin-sepupuku yang lain- yang tinggal di kota tua ini aku berbincang menjelang berbuka bersama di sudut kamar tamu. Aku mencoba mencari tahu kabar Radindra. Hanya sedikit-sedikit saja sentilanku di antara percakapan hal lainnya karena kuatir dicurigai dan diledek. Itupun ternyata tertangkap Ulin dan ia akhirnya meledek juga.

“Aku kirimkan salam untuk dia ya mbak” godanya sambil cengengesan.

“Eh…jangan…jangan…” malu hati juga aku. Tapi aku tahu Ulin hanya bercanda. Ia cuma meledekku.

**

Seusai sholat maghrib, mataku berkeliling mencari sosoknya yang sangat kukenal. Biasanya dulu dia yang mengumandangkan adzan dan iqomah. Mungkin setelah berlalunya waktu ada banyak mereka yang lebih muda yang menggantikannya. Jarak antara jamaah pria dan wanita agak jauh. Meski demikian pandangan bebas karena terpisah oleh pintu kaca full dari ambang atas sampai bawah.

Aku berusaha tenang dalam dudukku yang gelisah. Tetapi mataku tetap bergerilya. Ada banyak wajah-wajah lama. Nenek –nenek tua yang selalu kami hormati dengan mencium punggung tangannya. Wajah-wajah baru bermunculan termasuk seorang gadis cantik yang duduk di dekatku. Aku dulu belum pernah melihatnya di lingkungan ini. Mungkin sama sepertiku dia sedang berlibur di rumah neneknya untuk suatu acara atau apa. Tampaknya ia sangat pendiam sehingga aku tak mengajaknya berbincang. Apalagi orang-orang tampak khusyu dan alasan lainnya adalah aku akhirnya melihat sosok yang kucari. Radindra. Masih setampan dulu, setegap dulu. Aku bisa mencium bau tubuhnya dari jarak yang jauh dan terhalang pintu pintu kaca itu. Terendus begitu saja. Hanya tampak samping belakang, tapi cukup mengobati kerinduanku. Astaganaga, apa kubilang? Nhah! Ternyata aku juga merindukannya.

Dia sekarang harapanku. Setelah pernikahan yang gagal dengan Gery, setelah limbungku, tak ada salahnya kembali pada Radindra. Peduli amat dengan peraturan ibu tentang suami yang harus lebih tua dari istri. Aku mungkin akan menentangnya kali ini. Kebahagiaan akan tercapai jika kita menikah dengan orang yang mencintai kita, begitu kata-kata bijak yang sering kita dengar.

**

Turun dari jamaah sholat tarawih, aku berjalan pelan. Dan benar seperti dugaanku, Radindra menemukanku.

“Mbak. Apa kabar?” tanyanya menghentikan langkahku. Kini kami berdiri  berhadapan di depan teras rumah nenek yang berseberangan dengan masjid.

“Alhamdulillah, baik. Kamu apa kabar?” aku menyembunyikan getar di balik suaraku yang menahan kerinduan.

“Alhamdulillah sehat. Kapan datang, mbak?”

“Tadi sore.”

Hening. Kami seperti tercekam, terseret kenangan saat-saat kami bersama.

“Masih sering nyinom ?” tanyaku memecah kebisuan. Dulu ia biasa memimpin remaja masjid dan juga remaja kampung untuk menjadi tim pramusaji di acara kondangan dan perhelatan pesta yang banyak digelar di kota tua ini. Sungguh anak muda yang berdedikasi tinggi. Pekerjaan yang sering dianggap rendahan itu dikerjakannya dengan rapi dan penuh senyum keramahan. Dikerjakannya penuh cinta, seolah nyinom melayani menghidangkan sajian bagi tamu-tamu ini seperti sebuah pekerjaan seni yang agung.

“Alhamdulillah, masih. Tapi seringnya hanya berada di balik layar dan meja, mbak. Teman-teman bisa dilepas sendiri, saya mengatur jadwal dan lobi-lobi saja” jawabnya santun, khas dirinya. Rendah hati.

Rupanya ia sudah naik pangkat jadi manajer dan mungkin kantornya sendiri dengan armada tim yang kompak karena telah ia pimpin dan kelola sejak ia masih mahasiswa. Ini berita bagus buatku.  Akan jadi poin tambahan jika aku mengajukannya nanti di hadapan ibu.

“Eh, Yahya juga kebetulan pas pulang. Ia kerja di Jakarta. Itu dia..” telunjuknya yang lentik menunjuk ke  seorang pemuda, tampak siluet  Yahya di lorong jalan kampung yang gelap pada beberapa sisi.

“Kupanggilkan ya….” Ia menawarkan sesuatu. Apa ia masih menyimpan cemburunya pada Yahya karena selama setahun waktu di sini dulu diam-diam aku juga sering berboncengan dengan Yahya. Double kencan buatku biasa. Tetapi mengencani dua kakak beradik ini memang pengalaman excited bagiku. Gila benar memang, adrenalin terpacu dan main petak umpet yang nyaris sempurna. Mungkin baru ketahuan setelah aku pergi meninggalkan kota tua ini waktu itu. Mungkin mereka berdua berbagi cerita dan ah, itu pasti menggelikan dan sekaligus tragis.

“Nggak usah ah. Aku senang bertemu kamu lagi” aku langsung menandaskan ini supaya ia tahu bahwa hatiku tetap lebih cenderung padanya disbanding adiknya.

“Aku juga” pendek kalimatnya cukup menghentikan waktu. Seakan dikungkung awan pekat hangat, aku terpaku. Kurasa pipiku memerah, untung tersembunyi di bawah langit gelap karena lampu jalan kampung hanya temaram. Mata dan tatapan kerinduannya menusukku. Harum tubuhnya dalam jarak dekat ini menerbangkanku ke langit ketujuh. Hari –hari indah bersamanya di masa mendatang menggoda jiwa. Radindra. Akhirnya waktu mempertemukan kita kembali.

“Yuli…sini. Ini mbak Fina” cowok itu memanggil seorang gadis yang tampak turun dari masjid, dengan isyarat tangan menyuruhnya mendekat.

Keningku berkerut, dadaku berdegup. Cewek yang mencium punggung tanganku ini ternyata gadis cantik yang duduk di dekatku waktu sholat tarawih tadi. Dari sikapnya kepadaku kini kentara sekali  kalau ia menaruh hormat dan simpati padaku. Entah apa yang diceritakan Radindra tentangku padanya. Dan yang lebih penting lagi, siapakah gadis ini? Sepupunya yang tinggal sementara di rumah keluarga Radindra kah?

“Saya pulang dulu…” gadis yang dipanggil dengan nama Yuli itu berpamitan, terutama kepada Radindra kurasa. Ada sedikit cemburu menyelip di dadaku. Gadis itu cantik, muda. Ia lebih cocok untuk Radindra dibanding aku.

“Yo wis, ya sudah sana….” Jawab Radindra dengan gerakan tangan mengusir gadis itu pergi. Bagus, pikirku. Setengah jam berbincang di pinggir jalan depan rumah nenekku kini bisa berlanjut berdua saja dengan Radindra.

“Siapa itu?” tetap saja keingintahuanku harus terjawab. Aku siap bersaing sehat.

“Siapa? Yuli? Istriku, mbak” jawabnya tanpa dosa, lugu seperti dulu.

Aku segera berpamitan. Meninggalkan Radindra tergugu di tepi jalan karena ia tampak masih ingin melanjutkan obrolan denganku tetapi aku memutuskan pergi sebelum menangis.

Bergegas aku masuk ke dalam rumah nenekku dengan tergesa-gesa. Menghambur ke dalam kamar tamu dan menemukan Ulin masih tiduran di sana.

“Kamu jahat ya Lin. Kenapa tidak bilang kalau ia sudah menikah?” ucapku lirih kuatir terdengar banyak orang.

“Siapa? Siapa yang menikah?” tanya Ulin pura-pura polos. Lalu tersenyum tengil.

“Mbak kan nggak tanya ia sudah menikah atau belum?”

Kutonyo kening sepupuku dengan pelan pura-pura marah sambil menahan tangis dan luka di dadaku. Kota tua ini dan lelaki muda itu, ah perihnya.

THE OLD CITY AND THE YOUNG MAN

Oleh Dian Nafi Memasuki kota tua ini, bayangan wajahnya semakin lekat dalam benak dan bahkan tampak nyata dalam pandangan matak...

Seorang penulis yang baik adalah penulis yang tidak terpaku pada ide yang pertama kali keluar. Baginya, ide adalah sesuatu yang bisa terus bergerak, berubah. Bahkan sebenarnya, ide pertama yang keluar dalam benaknya adalah ide yang paling biasa-biasa saja, kurang orisinal. Mengapa/ Karena otak kita biasa melakukan asosiasi terdekat. Semakin lama kita memikirkan ide tersebut, kita akan mencari sesuatu yang asosiasinya tidak dekat. Lama-lama kita akan menemukan sesuatu yang lebih orisinil dibandingkan ide pertama kita.
Salah satu cara untuk mengolah ide tersebut adalah dengan menggunakan sistem Scamper.
Scamper adalah sembilan prinsip berpikir kreatif yang diciptakan oleh Alex Osborn dan emudian disusun ulang oleh Bob Eberle. Kesembilan prinsip berpikir itu adalah:
S (Substitute) = Mengganti
C (Combine) = Kombinasi
A (Adapt) = Menyesuaikan
M (Magnify/Modify) = Memperbesar/Memodifikasi
P (Put to other use) = Memanfaatkan untuk kegunaan lain
E (Eliminate) = Menghapus
R (Rearrange/Reverse) = Menyusun kembali/Membalik

Scamper disusun berdasarkan pendapat bahwa segala sesuatu yang ‘baru’ sebenarnya adalah penambahan atau modifikasi dari segala sesuatu yang ada. Contohnya, handphone adalah modifikasi dari telepon. Tablet seperti Ipad adalah modifikasi dari komputer. Di dunia kepenulisan, hal yang sama juga berlaku. Kisah Titanic, misalnya, tidak lebih dari versi lain Romeo dan Juliet. Begitu juga dengan cerita Cinderella dan Beauty and The Beast.

Menerapkan Scamper dalam Menulis
S (Substitute) = Mengganti.
Anda boleh mengambil sebuah cerita yang Anda sukai dan mengganti semua hal yang bisa Anda ganti. Ini bukan mencuri, selama orang lain tidak bisa mengenali darimana ‘inspirasi’ cerita Anda. Misalnya Anda mengambil Twilight, tetapi yang manusia adalah cowok, ditemani satu peri cantik dan satu penyihir. Genrenya bukan romantis melainkan komedi. Lokasinya di pedalaman papua. Tetapi plotnya sama persis dengan Twilight.

C (Combine) = Kombinasi
Anda juga bisa menggabungkan beberapa cerita untuk mendapatkan satu cerita yang menarik. Misalnya: Gabungan dari Finding Nemo dan Lord of the Ring, atau  Inception dengan Twilight dan Titanic. Atau Ayat-ayat Cinta dengan Ada Apa dengan Cinta?

A (Adapt) = Menyesuaikan
Sebelum Anda, sudah ada orang-orang yang memikirkan masalah yang mungkin tengah Anda hadapi. Anda bisa memanfaatkan pemikiran ini demi kepentingan Anda. Cara mengolah plot siapa yang Anda Anda bagus? Cara menciptakan tokoh siapa yang bisa saya tiru? Apa yang bisa saya gabungkan dengan ide saya?

M (Magnify/Modify) = Memperbesar/Memodifikasi
Cara lain mendapatkan ide adalah dengan memperbesar atau memperluas ide Anda. Ini, menurut saya adalah salah satu bagian terpenting menjadi penulis. Jika Anda hanya meniru karya penulis lain, Anda tidak memberikan makna baru bagi pembaca. Perempuan jatuh cinta pada lelaki? Sudah banyak sekali. Lalu di mana kelebihan karya Anda? Apakah ada nilai ekstra dalam karya Anda? Bagaimana Anda bisa menciptakan tulisan yang lebih dalam, lebih luas atau lebih bermakna dibandingkan karya yang sudah ada sebelumnya?

P (Put to other use) = Memanfaatkan untuk kegunaan lain
Apakah buku Anda bisa digunakan untuk hal yang lain selain hiburan atau hadiah? Misalnya, buku Anda bisa menjadi buku panduan, inspirasi, dan lain-lain. Dengan demikian, Anda bisa meluaskan lingkup pemasaran buku Anda.

E (Eliminate) = Menghapus
Selain menambahkan ide, Anda juga bisa membuang sebagian dari ide tersebut. Coba perhatikan, bagian mana yang bisa Anda abaikan? Bagaimana kalau buku ini dibagi dua bagian saja? Bagaimana kalau cerita ini dipadatkan? Mana yang perlu? Mana yang tidak perlu?
Proses ini akan Anda hadapi saat Anda mulai mengedit naskah. Mungkin Anda akan merasa sulit karena Anda merasa semua bagian cerita Anda ‘terlihat’ utuh dan tidak boleh diotak-atik. Namun jika Anda bersedia mengotak-atik cerita Anda, bermain dengan ide menghapus dan memadatkan, maka bisa jadi tulisan Anda akan jauh lebih kuat.

R (Rearrange/Reverse) = Menyusun kembali/Membalik
Ide tentang membalik ini sudah dibahas minggu lalu secara spesifik. Tetapi intinya, kita mengubah langkah kita dalam menyusun cerita. Dari yang biasanya menulis dari awal, kita memulai dengan dari belakang.

Kiat Menulis Dengan Scamper

Seorang penulis yang baik adalah penulis yang tidak terpaku pada ide yang pertama kali keluar. Baginya, ide adalah sesuatu yang bisa terus...

Kamis, 05 April 2012


PELUKITARO
Oleh Dian Nafi

Menatap tajam ke arahku, Hendrik menyelusupkan rasa dan getar yang tak biasa. Aku ketakutan. Kami sedang berteduh di bawah jembatan tol. Hujan mulai rintik dan kami memutuskan untuk berteduh sembari beristirahat setelah seharian mengamen dari kampung ke kampung.
Hendrik memetik gitarnya lalu dengan lembut melantunkan lagu Kitaro. Children without father. Titik air mataku tak tertahan, tak urung aku luruh dan hanyut bersama hujan dan suara emas Hendrik. Luruh dan jatuh ke pelukannya. Pelukan Kitaro-ku.
            Kami telah sama-sama menggelandang sejak puluhan tahun lalu, saat kami sama-sama kehilangan ayah kami yang terkena bencana alam di masa negeri berselimut kalut kekacauan korupsi dan berbagai macam mafia.
Kuedarkan pandangan dan berakhir saat menatap beton jembatan tol di atas kami. Kami sekeras baja, Kitaro-ku –Hendrik- tak pernah melepaskan aku dari ‘pelukan’nya. Dia yang selalu ada di dekatku, memahami luka-luka dan rintihanku. Dia menguatkan aku dan yang paling menakjubkan adalah dia selalu menjagaku. Tak terbersit dalam pikirannya sekalipun untuk menodaiku, meski banyak sekali gelandangan, pemulung, pengamen dan anak jalanan di sekitar kami melakukannya. Hendrik serupa malaikatku. Bahkan menyentuhku saja tidak pernah ia lakukan.
“Kita pulang yuk”, ajak Hendrik sambil menggamit lenganku. Kami berjalan bergandengan tangan menyusuri sisa hujan. Aku ketakutan. Getar suaranya tak biasa, tubuhnya hangat  di tengah hujan yang dingin. Aku ketakutan. Hendrik mungkin sekali sakit. Kehilangan dia adalah ketakutanku saat ini.
“Aku lapar……..”, tak bisa kusembunyikan nyanyian perutku.Dan sebenarnya aku mengkhawatirkan Hendrik. Dia harus makan dan minum obat.
“Kita makan sepiring berdua?”, tanyanya. Uang di tangan memang tak seberapa. Aku mengangguk saja, dengan rencana akan makan satu dua suap saja dan meninggalkan sisanya untuk dihabiskan Hendrik. Dia lebih membutuhkan daripada aku.
“Ikhlaskan suamimu”,  suara itu membangunkan lamunanku. Suara Irish, manajer kami yang selama seminggu ini menemaniku dan Hendrik melalui hari-hari berurai air mata di ICU rumahsakit.
Berhasil melalui sepuluh tahun perjuangan kami meniti kesuksesan setelah masa-masa di bawah jembatan tol dan melawan penyakit Hendrik, pada akhirnya perpisahan kami tak terelakkan.
“Aku mencintaimu, Hendrik. Dulu, sekarang, selamanya”, bisikku di telinganya yang kini beku dan dingin. Tangan kananku memeluk Kitaro-ku yang terbujur kaku. Tangan kiriku meraba perutku yang mulai membuncit, a child without father mengalun sepi.

PELUKITARO

PELUKITARO Oleh Dian Nafi Menatap tajam ke arahku, Hendrik menyelusupkan rasa dan getar yang tak biasa. Aku ketakutan. Kami seda...

KAOS KAKI
By Dian Nafi

“Haji itu harus dengan uang yang halal”
Kata-kata itu terngiang di benakku.
Aku memandangi kaos kaki basah yang kuseret dengan hati remuk. Hiks. Adakah ini pertanda ada yang kurang bersih dalam uangku yang kugunakan untuk berhaji.
Airmataku juga meleleh, tak terhindarkan. Aku berjalan antara shofa marwa dengan  perasaan hancur. Adakah aku ini suci dzohir batin ataukah seperti yang kusangkakan pada diriku sendiri, aku setengah bersih setengah kotor. Mungkin seperberapa bersih seperberapa kotor.
Salahku juga tadi tidak membawa kaos kaki cadangan. Sehingga kaos kaki yang kupakai terpaksa basah karena tak kulepas selama aku masih dalam kondisi ihram melakukan umroh ini. Dan kenapa aku ragu kaos kaki ini masih suci atau tidak, karena aku pergi ke hammam / kamar mandi untuk buang air kecil. Hanya di dalam kamar mandi tertutup, aku bisa membuka kaos kaki sebelum melakukan hajat itu. Tetapi selama melewati ruang hammam yang terbuka, aku tidak mungkin melepaskannya. Jadi siapa tahu di lantai ruang hammam yang terbuka itu suci semua, meski petugas kebersihan selalu berusaha membersihkannya. Siapa yang tahu? Siapa tahu tetap ada yang tidak suci sepanjang jalan itu, dan ada yang nyangkut atau meresap di kaos kaki basahku?
Astaghfirullah. Membayangkannya saja, aku meringis, pilu. Bagaimana kalau tahu kenyataannya. Dan hatiku yang sensitive, yang selalu menghubungkan suatu peristiwa dan keadaan dengan tingkah lakuku sendiri, berderak. Hatiku berdecit. Merintih. Astaghfirullah. Ampuni aku ya Allah, atas semua dosa,kesalahan, kekhilafan, keberanian melanggar laranganMu. Ampuni aku ya Allah,ampuni aku.
Aku berjalan sepanjang shofa marwa dengan kaos kaki basah yang entah kesuciannya dengan berlinang air mata. Sa’i yang tak mungkin kubatalkan begitu saja karena ini sa’i dalam umroh wajib yang sedang kulakukan. Tinggal sedikit lagi perjuangan, kemudian tahalul bercukur dan aku baru bebas. Selesai. Paripurna. Dan aku baru bisa melepas kaos kaki itu.
Yang terus berkecamuk dalam kepalaku adalah kemungkinan –kemungkinan tercampurnya uang hajiku dengan penghasilan yang kurang halal sepenuhnya. Hiks.
Dan kaos kaki basah yang entah itu membasahi dan mungkinkah mengotori, astaghfirullahaladziim semoga tidak, rute sepanjang shofa marwa. Apakah itu artinya aku mengotori rumah Allah ini, masjidil haram. Dan membuat beberapa orang yang  berjalan di sepanjang bekas jejak kaos kakiku ikut terkotori,astaghfirullah. Betapa dosa membawa dosa dan menambah dosa di atas dosa. Kotor menularkan kotor, menambah salah di atas salah. Astaghfirullaaaaah……………hatiku remuk redam.
Apakah ada uang yayasan yang dititipkan padaku sebagai bendahara ada yang terlewat pembukuannya, meskipun sedikit? Dan karenanya,uangku sedikit tercampuri? Aku mulai menduga-duga.
Sebenarnya menjadi bendahara yayasan untuk periode lama, karena belum pernah diganti selama empat kali periode, amat berat bagiku. Ada banyak pengeluaran di luar pengeluaran resmi, seperti bensin,waktu dan tenaga yang kugunakan untuk mengambil uang sewa kios – kios milik yayasan setiap bulannya. Sebelumnya tak terbersit tentang hal ini, tetapi hembusan dari ibuku membuatku mengindahkannya. Lalu mulai memasukkan pengeluaran ini sejak entah kapan. Hanya dua ribu rupiah sih per bulan. Tetapi dengan akumulasi sekian lama, beberapa tahun, jumlahnya mungkin jadi tidak sedikit lagi. Apakah itu yang mengotoriku? Mengotori uangku? Termasuk yang kugunakan untuk membayar ongkos haji?
Kepalaku menggeleng-geleng sendiri, menyadari kemungkinan datangnya kotor itu.  Entahlah.
Ataukah karena kadang-kadang aku tidak sepenuhnya merampungkan tugas desain dari klien dengan optimal? Kadang karena diburu deadline atau mengerjakan sesuatu sambil momong anak-anak, aku mengerjakannya asal saja? Apakah yang seperti itu termasuk mengotori ?entahlah.
Aku terus meraba-raba. Tapi sedih, itu yang jelas kurasakan.
Menangis meratap di ujung bukit marwah di akhir perjalanan sa’iku. Bersujud di batu – batuan di sana sambil merintih. Alangkah pilu dan pahitnya  rasa berdosa.
Aku pulang ke maktabku di Hafair dengan masih berlinang air mata. Sembab dan masih dengan hati yang meleleh.
Atau…..ah,aku ingat. Aku ingat kejadian beberapa hari lalu sehubungan dengan kaos kaki. Apakah itu penyebab semua kekacauan dan kegelisahanku ini?
Entahlah
**

 “Wah, nduk. Kaos kakiku bolong”
Mbah Karmi, perempuan tua yang satu kamar denganku di maktab, menunjukkan jempolnya yang keluar nongol dari dalam kaos kakinya.
Aku mengintip sedikit isi tas cangklong biruku yang selalu kubawa ke mana mana selama haji ini.
Ada. Aku masih membawa kaos kaki cadangan. Tetapi ah, aku segan dan ogah meminjamkan kaos kakiku untuk mbah Karmi. Kenapa ya? Kenapa ogah? Mungkin sifat pelitku yang mendarah daging selama tinggal di Indonesia tetap belum mau pergi meski sekarang sedang berhaji di haromain.
“Hmm..gimana ya mbah?”
“Ya…aku tidak bisa thawaf dengan kaos kaki berlubang”
Mbah Karmi menepi,menjauhi ka’bah.
Dan aku?
Aku tak juga punya kesadaran untuk meminjamkan kaos kaki cadanganku kepadanya.
Pelit dan juga sifat-sifat lain yang negative ternyata memang susah sembuhnya.padahal pembekalan waktu sebelum haji jelas sekali dikatakan bahwa shodaqoh kita selama perjalanan haji akan dilipatgandakan. Bahkan sampai puluhan ribu kali lipat. Tapi ya itu, susah saja untuk tidak pelit.
Jadi kebiasaan kita selama hidup akhirnya menentukan akhir dari kehidupan kita, ya seperti itu mungkin kejadiannya. Kita sadar kalau perbuatan ini baik, sikap ini buruk, tetapi bawah sadar kita yang lebih bicara.
**
“Jadi tidak kau pinjamkan kaos kakimu untuk mbah Karmi?”
“Tidak”
“Menyesal?”
“Banget. Apalagi setelah peristiwa kaos kaki basah itu.”
“Kamu menyangka kaos kaki basah itu karena karma tidak meminjamkan kaos kakimu?”
“Iya. Mungkin. Mungkinkah?”
“aku tak tahu”

Malaikat itu terduduk. Memegang sepasang kaos kaki.
“Kamu mungkin lupa kisah itu. Kisah seorang pelacur memberi minum seekor anjing menggunakan sepatunya”
“Aku ingat. Seorang sahabatku mualaf bahkan terus menerus mendengungkan cerita itu padaku. Cerita yang sangat menyentuh hatinya. Menurutnya itu adalah metafora paling hebat. Bayangkan,katanya. Gambarannya adalah seorang pelacur, seseorang yang dianggap hina dina. Kehausan, kondisi yang menyedihkan. Memberi minum pada seekor anjing, binatang yang dianggap najis. Pakai sepatu lagi meminumkannya, sesuatu yang dipakai di kaki, di injak-injak. Sudah total itu super jelek-jelek, tetapi dengan semua itu, ia sang pelacur masuk surga. Subhanallah….. sahabat saya yang mualaf terus- terusan bertasbih dan kagum. Mungkin kisah itu juga yang menariknya hingga ia masuk Islam. Menurutnya metafora air sebagai yang diberikan pelacur kepada anjing artinya adalah kehidupan”
“Kamu tahu kisah itu”
“Dan ikut sekali lagi terkagum-kagum karena sahabat saya yang mualaf membahasnya sedemikian rupa”
“Apa simpulannya?”
“kedermawanan pelacur itu menjadi sebab ia dimasukkan ke surga”
“kamu tahu?”
“Iya.”
“Lalu kenapa tidak memilih menjadi dermawan saja?”
“Iya.kenapa tidak? Lupa.”
“halah! Alasan!”
“Iya, saya pelit. Saya mengaku”
“Hanya untuk kaos kaki”
“Iya”
“Hanya untuk dipinjamkan. Bukan untuk diberikan.”
“Iya”
“Nhah!”

Aku terduduk. Termangu. Menatap sepasang kaos kaki yang dipegang malaikat itu. Penyesalanku semakin dalam. Melebihi penyesalan saat aku harus menyeret kaos kakiku sepanjang shofa marwa kala itu.
Tak ada lagi kesempatan kini kembali untuk merubah semuanya. Takkan ada kesempatan lagi. Aku bahkan tak mampu menangis lagi, meratap lagi. Ini terminal sebelum terminal akhir. Bagaimana nasibku?
“Aku tidak jadi masuk surga? Demikiankah?”
Terlalu lancang pertanyaanku. Tetapi aku penasaran.
“kamu masih ingin masuk surga?”
“tentu saja”
“Kenapa?”
“karena Dia ada di surga kan?”
“Apa Dia tidak ada di neraka? Katamu, Dia ada di mana – mana”
Aku terdiam. Siapalah aku? Aku bahkan tidak mengenal Dia dengan baik,mungkin malaikat ini benar.
“Dia ingin kamu menemuiNya”
“What?!! Beneran? Di neraka ya…?”
Kata terakhirku melemah dengan nada yang sangat sangat putus asa.
“Di mana kamu ingin ketemu?”
“Ya, di surga lah”
“Ya sudah deh.”
“Oh ya?”
Aku hampir berteriak kegirangan, namun urung karena teringat sesuatu……
“Kaos kaki itu?”
Sudut mataku melirik sepasang kaos kaki yang dipegangnya.
“Hmmm… ibu mertuamu, ingat?”
“Ya.kenapa dengan ibu mertuaku?”
“Dia pernah membuang kaos kakimu yang tergeletak sembarangan di rumahnya”
“Oh…? Aku tak tahu itu”
“Memang kamu tak tahu. Ketika ia haji ke Mekkah, penyesalannya karena pernah membuang kaos kakimu tanpa sepengetahuanmu menjadi jadi. Dia kemudian membeli sepuluh lusin kaus kaki di sana dan dia bagikan. Dia sedekahkan atas namamu”
“Oh….Subhanallah….Subhanallah..”
“Di mana ibu mertuaku?”
Tiba-tiba aku kangen beliau. Kadang rasa benci dan cinta bersatu. Memang demikian menantu dan mertua ditakdirkan berhubungan, cara yang aneh.
“sudah di surga, menantikanmu juga. Pergilah ke sana dan berterima kasihlah atas shodaqoh kaos kaki yang dilakukannya untukmu.”
Senyumku mengembang. Sesaat kemudian sempat melirik sepasang kaos kaki yang dibawa malaikat, sebelum kakiku melangkah melewati pintu masuk ke surga.
“Ini kaos kakiku”
Sang malaikat menyeringai mengolok –olok aku. Oh…..
Biodata Penulis.

nafi11

Dian Nafi.  Pecinta purnama, penikmat hujan. Setia dalam pencarian, penjelajahan. Pimred Majalah Digital De Magz. Pemenang Favorit Lomba Cerpen ROHTO 2011. Menang Lomba Menulis Bareng Ahmad Fuadi-penulis Negeri Lima Menara. Dan berbagai lomba menulis lainnya. Penulis Novel Mayasmara dan 8 buku solo-duet serta 47 Antologi lainnya. Di antaranya:  Twinlight (KotaKata) Titik Balik (Leutika), LL Serendipity (IndiePublishing) Be Strong Indonesia (#writers), Para Guru Kehidupan (Gerai Buku) Bicaralah Perempuan (Leu Prio) For The Love of Mom (Etera Imania)Karyawan Gokil (Rumah Ide),Dear Love (Hasfa) Balita Hebat (Jendela-Zikrul Hakim), Man Jadda Wada Series- Berjalan Menembus Batas (Bentang), Storycake for Ramadhan (Gramedia Pustaka Utama) 101 Ide Bisnis Online (GPU), Gado-gado Poligami (Elex Media) Twit@ummihasfa. http://diannafi.blogspot.com; facebook.com/fidianna. kbcahaya@gmail.com. kompasiana.com/ummihasfa;

KAOS KAKI (dimuat di majalah ANNIDA)

KAOS KAKI By Dian Nafi “Haji itu harus dengan uang yang halal” Kata-kata itu terngiang di benakku. Aku memandangi kaos kaki ...

 

DeMagz © 2015 - Designed by Templateism.com, Distributed By Blogger Templates