Membranding ulang DEMAK

Kamis, 05 April 2012

Membranding ulang DEMAK

“lir ilir lir ilir
Tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo
Tak sengguh penganten anyar
Cah angon- cah angon
Penekno blimbing kuwi
Lunyu- lunyu penekno
Kanggo mbasuh dodot iro
Dodot iro- dodot iro kumitir bedah ing pinggir
Dondomono jlumatono
Kanggo sebo mengko sore
Mumpung jembar kalangane, mumpung padhang rembulane
Yo surak’o surak hiyoo”

Lagu itu sangat familier di telinga sebagian masyarakat Indonesia, utamanya penduduk pulau Jawa. Lagu gubahan Sunan Kalijogo yang sarat makna. Salah satunya adalah makna perubahan.
Transformasi diri untuk bergerak aktif, senantiasa bekerja keras, pantang menyerah tak peduli seberapa besar halangan yang menghadang.
“cah angon”, alias pemuda. Sebagaimana diketahui, generasi muda memegang salah satu peran sebagai iron stock alias stok pemimpin masa depan bangsa.
Didadanya lah telah disematkan tanda sebagai agent of change, anashir taghyir, agen perubahan.  Kesadaran akan peran serta kepekaan yang besar terhadap lingkungan sekitarnya melekat erat di sosok pemuda.
Pun demikian di kota Demak tercinta ini. Sangat naif untuk meletakkan tanggung jawab akan lambatnya perkembangan kota ini di tangan para orang tua, para pemangku jabatan, apalagi kepada para sesepuh. Demak selama ini Cuma dipandang sebelah mata. Hanya sebagai daerah perlintasan dari Semarang, menuju Kudus, Jepara, atau bahkan hanya untuk menuju Surabaya lewat pantura. Entah apa jadinya bila Demak tidak berada di pantura, mungkin tidak akan terdengar kiprahnya.
Banyak kalangan muda yang gerah dengan keadaan kota ini, kemudian bertekad keluar dari Demak, menempuh pendidikan tinggi diluar kota, atau bahkan keluar negeri, demi untuk tidak terkungkung dalam deselerasi kota ini. Tidak salah, akan tetapi yang disayangkan adalah efek lanjutannya. Terlalu sering pemuda, yang berstatus sebagai mahasiswa, merasa malu untuk mengakui daerah asalnya, Demak. Bahkan ini tidak berhenti di kalangan mahasiswa saja, para perantau lebih sering mengaku sebagai warga Semarang, atau Kudus, jarang Demak. Entah apa sebabnya.
Apakah mereka, atau bahkan kita, lupa akan betapa besarnya pengaruh Demak dulu, ya DULU. Nostalgia setengah milenium itu seharusnya membuat kita bangga untuk menceritakan daerah asal kita, Demak.
Siapa yang tak kenal Demak Bontoro kala itu ? sebuah daerah rawa bernama Glagahwangi yang kemudian disulap oleh seorang pemimpin visioner, Raden Patah, dengan sokongan Walisongo, menjadi sebuah kasultanan yang menguasai hampir 90% luas pulau Jawa. Yang bahkan pasukan yang dikirimkannya mampu membebaskan Batavia dari cengkeraman Portugis, dan berubah menjadi Jayakarta, atau sekarang Jakarta, ibukota negara ini.
Sebuah kasultanan dengan pabrik galangan kapal terbesar se- Asia Tenggara, dengan produksi mencapai 1000 kapal per bulan dengan kapasitas 1600 ton. Sungguh jumlah yang sangat menakjubkan, sebagai perbandingan, galangan kapal terbesar di Indonesia masa penjajahan Belanda hanya mencapai 6 kapal dengan kapasitas 140 ton/ bulan. ( Parlindungan, buku Tuanku Rao hlm 659)
Kemudian betapa berpengaruhnya keberadaan Masjid Agung Demak, yang kala itu bisa diibaratkan sebagai gedung MPR, dimana rapat dewan Wali selalu dilakukan disini untuk membahas bagaimana perkembangan dakwah Islam selanjutnya.
Tak lupa, betapa posisi strategis Demak yang berada tepat dimuka selat Muria, yang mampu menjadikannya saingan Malaka sebagai pelabuhan tujuan kapal-kapal dagang mancanegara.
Mereka, atau bahkan kita, para pemuda ini, lupa akan hal itu semua.
Adanya kudeta dan pergolakan internal yang mengakibatkan runtuh dan tenggelamnya nama Demak sebagai kasultanan Islam pertama di pulau Jawa, seakan menjadi pembenaran akan acuhnya kita akan nasib perkembangan kota Demak.
Seakan ini merupakan kartu truf untuk terus melepaskan tanggung jawab akan lambannya pertumbuhan ekonomi dan sosiologi kota ini.
Kita seakan lupa akan sindiran yang jelas tersurat di lagu Lir Ilir tersebut.
Tidak pernah ada cerita, syairnya berubah menjadi “…pak angon –pak angon…”. Dulu, sekarang, dan nanti, syairnya akan terus menyebut “..cah angon..”, pemuda.
Lalu bagaimana caranya ? disinilah keunggulan kaum muda. Pergaulan yang dinamis dengan dunia luar, kemudahannya untuk beradaptasi dengan pikiran- pikiran baru yang konstruktif  akan mampu menghasilkan solusi-solusi jitu aplikatif.
Penulis mencoba mengerucutkan pada satu hal saja kali ini, yakni bagaimana kembali membuat nama Demak dikenal di seantero Nusantara.
Kondisi geografis Demak kurang mendukung bagi sektor pariwisata, tidak ada gunung, tidak ada areal perbukitan, pantai pun berombak kecil karena menghadap ke Laut Jawa. Tapi, kita punya Masjid Agung Demak dan makam Sunan Kalijogo di Kadilangu. Sebuah data pernah menyebutkan jumlah wisatawan yang mengunjungi dua obyek ini sekitar 800.000 wisatawan dalam kurun waktu satu tahun, atau sekitar 66.667 per bulan, atau 2000 orang per hari. Jumlah yang sangat fantastis. Memang tidak setiap hari seramai itu, tapi ini adalah angka rata-rata yang sangat besar, sebagai gambaran, jumlah ini hanya kalah dari kunjungan ke Borobudur. 
Apakah kita sadar akan hal ini? Saya rasa tidak. Hanya sebagian saja yang merasakan dampak kunjungan ini. Padahal ini adalah salah satu bukti Demak dikenal oleh banyak orang. Minimal oleh sekitar 800 ribu tadi. Kita, warga Demak, malah mungkin sama sekali tidak tertarik untuk mengelola jumlah tersebut menjadi sebuah keunggulan. Dan sekali lagi kita menyerahkan tanggung jawab pengelolaan kepada pemerintah daerah, para orang tua, sesesepuh, dan pihak lain, tapi tak pernah kita.
Ini salah. Justru dengan otak kreatif yang kita miliki, kita harus bersedia menerima estafet tanggung jawab ini. Dengan cara apa ? cintai Demak dan budayanya.
Pernahkah kita terpikir untuk menyulap andong, dokar dan alat transportasi penghubung areal parkir ke Masjid dan makam menjadi kendaraan wisata yang sarat informasi ? coba bayangkan, jika para kusir tersebut berseragam ala abdi dalem kasultanan Demak tempo dulu, dengan gaya ramah menawarkan tumpangan, kemudian sepanjang perjalanan, para penumpang/ peziarah tersebut diberikan cerita naratif deskriptif tentang kali Tuntang, tentang sejarah pendirian Masjid, tentang siapa-siapa saja yang pernah berkuasa di Demak, yang tentu saja sambil diiringi lagu “lir Ilir” sebagai backsound nya.
Kemudian kita juga mampu menggerakkan masyarakat sekitar jalan yang dilalui para peziarah tersebut menjadi sebuah kampung wisata, kampung cendera mata, atau bahkan sebuah kampung penginapan yang warganya menguasai seluk beluk sejarah Demak. Jadi saat jagong tamu, kita bisa memberikan penjelasan tentang sejarah Demak kepada para wisatawan tersebut. Yang kita jual tak sekedar lancarnya kendaraan, bagus dan uniknya cendera mata, atau hangatnya minuman, tapi sebuah pengalaman tak terlupakan dari sebuah kota bernama Demak.
Masih banyak daerah yang bisa dikelola secara lebih apik, dan menghasilkan kunjungan yang berulang. Morosari, dengan Bedono nya, Gribigan, Cowati, dan Banteng Mati dengan mitos yang melekat disana. Wonosari dengan desa Jambu Lele nya. Mlatiharjo dengan konsep IT nya, atau bahkan Kali Tuntang, sebuah kali bersejarah yang melintasi Demak yang hingga saat ini tak pernah dianggap sebagai aset wisata.
Wah ini sulit, tidak mudah. Benar, bahkan untuk berjalan pun kita perlu belajar berdiri terlebih dulu. Tidak ada yang instan. Seperti halnya perjuangan Raden Patah saat merubah daerah rawa-rawa tersebut menjadi kasultanan besar.
Jadi Cah angon , siapkah kita menek blimbing kuwi ?, meski lunyu, tetep kudu dipenek, kanggo mbasuh dodot iro.

Tetap kreatif dan menginspirasi.



Sahirul Iman
Lahir di semarang 3 juli 1981, dibesarkan di Demak, bersekolah disini, dimulai dari SDN Katonsari 3, berlanjut ke SMPN 1 Demak, dan kemudian ke SMAN 1 Demak.
Sekitar 10 tahun di Jakarta untuk kuliah dan bekerja, tetap tidak bisa membuatnya melupakan kota Demak. Kembali ke kota tercinta ini pada tahun 2010 untuk kemudian membangun sebuah komunitas bernama DEMAKREATIF.
Selalu yakin, bahwa Demak akan segera bangun dan turut memberi warna bagi kehidupan Nusantara.

Tetap kreatif dan menginspirasi
Share

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2015 DeMagz
Distributed By My Blogger Themes | Design By Herdiansyah Hamzah