Minggu, 22 Desember 2019

Opor di Hari Natal

Opor Di Hari Natal


Menjelang natal,  rumah tetangga persis sebelah kanan rumah bacaku (hasfa camp) memutar lagu-lagu kristiani. Beberapa liriknya kadang terlafalkan otomatis begitu saja dari mulutku karena tetangga ibuku sering juga memutarnya semasa aku kecil. Meski tinggal di Demak, kota kecil yang notabene terkenal sebagai kota wali, tetapi keragaman dan kebhinekaan sudah menjadi bagian dari kehidupanku.
Teman sebangku sekaligus tetangga dan sahabat kentalku semasa duduk di bangku sekolah menengah pertama (smp) adalah cewek keturunan tionghoa. Atau yang sering disebut sebagai cina. Jing jing. Rumahnya dekat sekali dengan gereja, sehingga dia menjadi penganut kristen yang taat. Latar belakangku dari keluarga pesantren tidak menghalangiku untuk akrab dengannya. Kami sering belajar dan bermain bersama. Kadang dia ke tempatku atau aku berjam-jam di rumahnya, termasuk di hari-hari menjelang natal, turut mencicipi makanan-makanan di hari spesial itu, kadang bahkan dia bawakan beberapa bingkisan untuk orang-orang di rumahku.
Salah satu guru sekolah dasar yang sangat memperhatikan, menyayangi dan bahkan memberikanku banyak motivasi serta mengembangkan potensiku juga seorang kristiani. Bu Esther namanya. Dia yang pertama-tama menemukan bakat menulisku waktu itu dan mendorongku ikut lomba-lomba. Melihat pohon dan pernak pernik natal di ruang tamunya tidak lagi asing di mataku. Beliau salah satu guru penuh asih yang pernah kukenal.
Salah satu sahabat dekatku di kampus juga kristiani. Cecilia. Dia yang sering mengantarku pulang usai kuliah. Seringkali justru dia yang mengingatkan ketika sudah masuk waktu sholat, dan tahu-tahu motornya menepi ke parkiran masjid untuk memberi kesempatan padaku supaya bisa sholat di awal waktu. Kalau aku lagi belajar atau mengerjakan tugas bersama di rumahnya, dia menyediakan mukena dan sajadah untukku sholat. Juga makanan untuk berbuka puasa. Tentu saja kegembiraannya saat natal menjadi masa-masa menyenangkan juga bagi kami.
Untung dulu jaman tidak seheboh sekarang.  Jadi ada-ada  saja sih kalau meributkan ucapan natal dan semacamnya. Itu makar orang-orang  yang tidak senang kalau orang Indonesia bersatu, hidup rukun dalam semangat toleransi. Karena kalau bersatu, tentu saja Indonesia akan menghebat!
Natal tahun ini, aku berencana pergi ke rumah bulikku yang seorang bu nyai pesantren kampung. Karena ingin menyaksikan langsung dan mungkin merekam dengan video pendek momen istimewa yang terjadi setiap tahun sekali.
Bulikku yang rumahnya menjadi satu kompleks dengan madrasah dan pesantren asuhannya ini selalu mendapat hantaran lontong opor sambel goreng dari tetangga persis depan rumahnya  yang merayakan natal. Tetangganya yang seorang perias pengantin ini bahkan sering menggratiskan riasannya bagi bulikku dan keluarganya, terutama di hari-hari istimewa, pernikahan, wisuda dll.

Tak ayal lagi, memanglah Indonesia kita ini terbukti sebagai Negeri Cinta. Dengan cinta, segala perbedaan tak ada artinya. Yang ada hanya Cinta. Selamat Natal. Selamat merayakan Cinta.



dian nafi

writer & blogger

dian nafi. arsitek yang suka jalan-jalan serta menulis fiksi dan non fiksi

0 komentar:

Posting Komentar