Selasa, 30 Juli 2019

Liputan Aman dengan Insto Dry Eyes

Liputan Aman dengan Insto Dry Eyes


Menjadi bagian dari kru media dan majalah tuh seru seru sedih. Serunya kalau liputan dan tulisan bisa diselesaikan dengan tepat waktu serta bisa diterima baik oleh pembaca, apalagi kalau mendapat tanggapan antusiasme yang heboh.
Sedihnya kalau musti mengejar deadline di tengah tugas-tugas lainnya baik sebagai pelajar ataupun anak manis yang musti menyenangkan orang tua.
Sedih banget tuh kalau misalnya harus liputan di tengah siang hari bolong musim panas alias kemarau demi mendapatkan konten buat majalah dan media yang sudah kita komitmenkan.
Sudah lah panas sekali terik mataharinya. Gerah pula hawanya. Dan cuacanya juga bikin demam karena musim panca roba peralihan panas ke dingin atau dingin ke panas. Ditambah pula dengan polusi udara oleh debu, asap kendaraan dan lain-lain residu yang semakin membuat tak nyaman suasana.
Kadang karena saking panas dan keringnya, mata kita pun tak luput dari imbasnya. Rasanya mata tuh kering dan akhirnya sakit. Sudah berkali-kali mengkerjap kerjapkan mata juga tapi tak berkurang rasa sakitnya.
“Kamu kenapa, Ris?”
“Mataku sakit banget nih,” Risma mengucek ucek matanya. Dia sejenak memandang langit seolah dengan begitu akan ada perubahan.
“Jangan malah kamu ucek lah. Ntar tambah sakit lho,” Dewi memperingatkan sahabatnya.
“Aku pulang ya,” mulai putus asa Risma hendak beranjak pergi.
“Lhoh gimana sih. Kan liputan kita belum selesai nih Kan  arak-arakan prajurit patang puluhannya belum selesai,” Dewi menarik lengan Risma, menahannya untuk tidak jadi pergi.
Yang sebenarnya, dirinya sendiri juga lumayan capek. Semalaman mereka meliput arak-arakan tumpeng songo dari arah pendopo kabupaten ke arah masjid Agung Demak. Berdesak-desakan dengan banyak warga yang berebut tumpeng dari Sembilan tumpeng tersebut.
Siang sebelumnya mereka sudah jalan ke arena tempat Grebeg Besar di Tembiring. Dulu tempatnya di alun-alun depan Masjid Agung persis. Tapi sejak beberapa tahun terakhir lokasinya jadi lebih jauh sehingga mereka harus ekstra energy untuk ke sana.
Di hari-hari menjelang Idul Adha begini, warga makin banyak yang memadati Grebeg Besar sehingga makin penatlah tubuh ketika liputan seperti itu.
Pagi ini mereka ke Grebeg Besar lagi melanjutkan beberapa pengambilan gambar dan makin siang makin kering dan panas.
Kemudian mereka mengikuti arak-arakan Prajurit Patang Puluhan dari arah masjid Agung ke Masjid Kadilangu. Dengan panas dan kering yang makin menjadi-jadi. 







“Mataku masih sakit,” keluh Risma menyerah.
“Wan!” Dewi meneriaki salah seorang kawan yang lewat.
“Kamu biasanya membawa banyak obat di kantong ajaibmu kan?” cegat Dewi sembari menarik Awan mendekat ke arah Risma yang menunduk sambil memejamkan matanya.
“Mata Risma kenapa?” Awan yang peka dan cepat tanggap langsung memeriksa mata Risma, kawan akrabnya juga selain Dewi dan kru majalah mereka lainnya.
“Nih pakai Insto Dry Eyes,” Awan mengambilkan obat dari dalam tasnya.
 “Insto dry eyes bisa membantu  mengurangi pegal di mata, sebab berfungsi seperti air mata buatan,” imbuhnya.
Insto dry eyes  mengandung bahan aktif yang dapat mengatasi kekeringan pada mata dan dapat digunakan sebagai pelumas pada mata. Selain itu juga memiliki bahan aktif yang dapat membunuh bakteri. Obat tetes mata ini tersedia dalam ukuran  7.5 ml. Mata Kering, Mata Sepet, Mata Pegel, Mata Perih, Mata Lelah merupakan gejala mata kering. Solusi pegal, sepet dan perih  pada mata tentu saja Insto Dry Eyes

“Alhamduillah. Makasih ya,” Risma sudah tersenyum sekarang dan bisa melanjutkan liputannya hari ini.


dian nafi

Author & Editor

arsitek yang suka jalan-jalan serta menulis fiksi dan non fiksi

0 komentar:

Posting Komentar