Kamis, 05 April 2012


PELUKITARO
Oleh Dian Nafi

Menatap tajam ke arahku, Hendrik menyelusupkan rasa dan getar yang tak biasa. Aku ketakutan. Kami sedang berteduh di bawah jembatan tol. Hujan mulai rintik dan kami memutuskan untuk berteduh sembari beristirahat setelah seharian mengamen dari kampung ke kampung.
Hendrik memetik gitarnya lalu dengan lembut melantunkan lagu Kitaro. Children without father. Titik air mataku tak tertahan, tak urung aku luruh dan hanyut bersama hujan dan suara emas Hendrik. Luruh dan jatuh ke pelukannya. Pelukan Kitaro-ku.
            Kami telah sama-sama menggelandang sejak puluhan tahun lalu, saat kami sama-sama kehilangan ayah kami yang terkena bencana alam di masa negeri berselimut kalut kekacauan korupsi dan berbagai macam mafia.
Kuedarkan pandangan dan berakhir saat menatap beton jembatan tol di atas kami. Kami sekeras baja, Kitaro-ku –Hendrik- tak pernah melepaskan aku dari ‘pelukan’nya. Dia yang selalu ada di dekatku, memahami luka-luka dan rintihanku. Dia menguatkan aku dan yang paling menakjubkan adalah dia selalu menjagaku. Tak terbersit dalam pikirannya sekalipun untuk menodaiku, meski banyak sekali gelandangan, pemulung, pengamen dan anak jalanan di sekitar kami melakukannya. Hendrik serupa malaikatku. Bahkan menyentuhku saja tidak pernah ia lakukan.
“Kita pulang yuk”, ajak Hendrik sambil menggamit lenganku. Kami berjalan bergandengan tangan menyusuri sisa hujan. Aku ketakutan. Getar suaranya tak biasa, tubuhnya hangat  di tengah hujan yang dingin. Aku ketakutan. Hendrik mungkin sekali sakit. Kehilangan dia adalah ketakutanku saat ini.
“Aku lapar……..”, tak bisa kusembunyikan nyanyian perutku.Dan sebenarnya aku mengkhawatirkan Hendrik. Dia harus makan dan minum obat.
“Kita makan sepiring berdua?”, tanyanya. Uang di tangan memang tak seberapa. Aku mengangguk saja, dengan rencana akan makan satu dua suap saja dan meninggalkan sisanya untuk dihabiskan Hendrik. Dia lebih membutuhkan daripada aku.
“Ikhlaskan suamimu”,  suara itu membangunkan lamunanku. Suara Irish, manajer kami yang selama seminggu ini menemaniku dan Hendrik melalui hari-hari berurai air mata di ICU rumahsakit.
Berhasil melalui sepuluh tahun perjuangan kami meniti kesuksesan setelah masa-masa di bawah jembatan tol dan melawan penyakit Hendrik, pada akhirnya perpisahan kami tak terelakkan.
“Aku mencintaimu, Hendrik. Dulu, sekarang, selamanya”, bisikku di telinganya yang kini beku dan dingin. Tangan kananku memeluk Kitaro-ku yang terbujur kaku. Tangan kiriku meraba perutku yang mulai membuncit, a child without father mengalun sepi.

PELUKITARO

PELUKITARO Oleh Dian Nafi Menatap tajam ke arahku, Hendrik menyelusupkan rasa dan getar yang tak biasa. Aku ketakutan. Kami seda...

KAOS KAKI
By Dian Nafi

“Haji itu harus dengan uang yang halal”
Kata-kata itu terngiang di benakku.
Aku memandangi kaos kaki basah yang kuseret dengan hati remuk. Hiks. Adakah ini pertanda ada yang kurang bersih dalam uangku yang kugunakan untuk berhaji.
Airmataku juga meleleh, tak terhindarkan. Aku berjalan antara shofa marwa dengan  perasaan hancur. Adakah aku ini suci dzohir batin ataukah seperti yang kusangkakan pada diriku sendiri, aku setengah bersih setengah kotor. Mungkin seperberapa bersih seperberapa kotor.
Salahku juga tadi tidak membawa kaos kaki cadangan. Sehingga kaos kaki yang kupakai terpaksa basah karena tak kulepas selama aku masih dalam kondisi ihram melakukan umroh ini. Dan kenapa aku ragu kaos kaki ini masih suci atau tidak, karena aku pergi ke hammam / kamar mandi untuk buang air kecil. Hanya di dalam kamar mandi tertutup, aku bisa membuka kaos kaki sebelum melakukan hajat itu. Tetapi selama melewati ruang hammam yang terbuka, aku tidak mungkin melepaskannya. Jadi siapa tahu di lantai ruang hammam yang terbuka itu suci semua, meski petugas kebersihan selalu berusaha membersihkannya. Siapa yang tahu? Siapa tahu tetap ada yang tidak suci sepanjang jalan itu, dan ada yang nyangkut atau meresap di kaos kaki basahku?
Astaghfirullah. Membayangkannya saja, aku meringis, pilu. Bagaimana kalau tahu kenyataannya. Dan hatiku yang sensitive, yang selalu menghubungkan suatu peristiwa dan keadaan dengan tingkah lakuku sendiri, berderak. Hatiku berdecit. Merintih. Astaghfirullah. Ampuni aku ya Allah, atas semua dosa,kesalahan, kekhilafan, keberanian melanggar laranganMu. Ampuni aku ya Allah,ampuni aku.
Aku berjalan sepanjang shofa marwa dengan kaos kaki basah yang entah kesuciannya dengan berlinang air mata. Sa’i yang tak mungkin kubatalkan begitu saja karena ini sa’i dalam umroh wajib yang sedang kulakukan. Tinggal sedikit lagi perjuangan, kemudian tahalul bercukur dan aku baru bebas. Selesai. Paripurna. Dan aku baru bisa melepas kaos kaki itu.
Yang terus berkecamuk dalam kepalaku adalah kemungkinan –kemungkinan tercampurnya uang hajiku dengan penghasilan yang kurang halal sepenuhnya. Hiks.
Dan kaos kaki basah yang entah itu membasahi dan mungkinkah mengotori, astaghfirullahaladziim semoga tidak, rute sepanjang shofa marwa. Apakah itu artinya aku mengotori rumah Allah ini, masjidil haram. Dan membuat beberapa orang yang  berjalan di sepanjang bekas jejak kaos kakiku ikut terkotori,astaghfirullah. Betapa dosa membawa dosa dan menambah dosa di atas dosa. Kotor menularkan kotor, menambah salah di atas salah. Astaghfirullaaaaah……………hatiku remuk redam.
Apakah ada uang yayasan yang dititipkan padaku sebagai bendahara ada yang terlewat pembukuannya, meskipun sedikit? Dan karenanya,uangku sedikit tercampuri? Aku mulai menduga-duga.
Sebenarnya menjadi bendahara yayasan untuk periode lama, karena belum pernah diganti selama empat kali periode, amat berat bagiku. Ada banyak pengeluaran di luar pengeluaran resmi, seperti bensin,waktu dan tenaga yang kugunakan untuk mengambil uang sewa kios – kios milik yayasan setiap bulannya. Sebelumnya tak terbersit tentang hal ini, tetapi hembusan dari ibuku membuatku mengindahkannya. Lalu mulai memasukkan pengeluaran ini sejak entah kapan. Hanya dua ribu rupiah sih per bulan. Tetapi dengan akumulasi sekian lama, beberapa tahun, jumlahnya mungkin jadi tidak sedikit lagi. Apakah itu yang mengotoriku? Mengotori uangku? Termasuk yang kugunakan untuk membayar ongkos haji?
Kepalaku menggeleng-geleng sendiri, menyadari kemungkinan datangnya kotor itu.  Entahlah.
Ataukah karena kadang-kadang aku tidak sepenuhnya merampungkan tugas desain dari klien dengan optimal? Kadang karena diburu deadline atau mengerjakan sesuatu sambil momong anak-anak, aku mengerjakannya asal saja? Apakah yang seperti itu termasuk mengotori ?entahlah.
Aku terus meraba-raba. Tapi sedih, itu yang jelas kurasakan.
Menangis meratap di ujung bukit marwah di akhir perjalanan sa’iku. Bersujud di batu – batuan di sana sambil merintih. Alangkah pilu dan pahitnya  rasa berdosa.
Aku pulang ke maktabku di Hafair dengan masih berlinang air mata. Sembab dan masih dengan hati yang meleleh.
Atau…..ah,aku ingat. Aku ingat kejadian beberapa hari lalu sehubungan dengan kaos kaki. Apakah itu penyebab semua kekacauan dan kegelisahanku ini?
Entahlah
**

 “Wah, nduk. Kaos kakiku bolong”
Mbah Karmi, perempuan tua yang satu kamar denganku di maktab, menunjukkan jempolnya yang keluar nongol dari dalam kaos kakinya.
Aku mengintip sedikit isi tas cangklong biruku yang selalu kubawa ke mana mana selama haji ini.
Ada. Aku masih membawa kaos kaki cadangan. Tetapi ah, aku segan dan ogah meminjamkan kaos kakiku untuk mbah Karmi. Kenapa ya? Kenapa ogah? Mungkin sifat pelitku yang mendarah daging selama tinggal di Indonesia tetap belum mau pergi meski sekarang sedang berhaji di haromain.
“Hmm..gimana ya mbah?”
“Ya…aku tidak bisa thawaf dengan kaos kaki berlubang”
Mbah Karmi menepi,menjauhi ka’bah.
Dan aku?
Aku tak juga punya kesadaran untuk meminjamkan kaos kaki cadanganku kepadanya.
Pelit dan juga sifat-sifat lain yang negative ternyata memang susah sembuhnya.padahal pembekalan waktu sebelum haji jelas sekali dikatakan bahwa shodaqoh kita selama perjalanan haji akan dilipatgandakan. Bahkan sampai puluhan ribu kali lipat. Tapi ya itu, susah saja untuk tidak pelit.
Jadi kebiasaan kita selama hidup akhirnya menentukan akhir dari kehidupan kita, ya seperti itu mungkin kejadiannya. Kita sadar kalau perbuatan ini baik, sikap ini buruk, tetapi bawah sadar kita yang lebih bicara.
**
“Jadi tidak kau pinjamkan kaos kakimu untuk mbah Karmi?”
“Tidak”
“Menyesal?”
“Banget. Apalagi setelah peristiwa kaos kaki basah itu.”
“Kamu menyangka kaos kaki basah itu karena karma tidak meminjamkan kaos kakimu?”
“Iya. Mungkin. Mungkinkah?”
“aku tak tahu”

Malaikat itu terduduk. Memegang sepasang kaos kaki.
“Kamu mungkin lupa kisah itu. Kisah seorang pelacur memberi minum seekor anjing menggunakan sepatunya”
“Aku ingat. Seorang sahabatku mualaf bahkan terus menerus mendengungkan cerita itu padaku. Cerita yang sangat menyentuh hatinya. Menurutnya itu adalah metafora paling hebat. Bayangkan,katanya. Gambarannya adalah seorang pelacur, seseorang yang dianggap hina dina. Kehausan, kondisi yang menyedihkan. Memberi minum pada seekor anjing, binatang yang dianggap najis. Pakai sepatu lagi meminumkannya, sesuatu yang dipakai di kaki, di injak-injak. Sudah total itu super jelek-jelek, tetapi dengan semua itu, ia sang pelacur masuk surga. Subhanallah….. sahabat saya yang mualaf terus- terusan bertasbih dan kagum. Mungkin kisah itu juga yang menariknya hingga ia masuk Islam. Menurutnya metafora air sebagai yang diberikan pelacur kepada anjing artinya adalah kehidupan”
“Kamu tahu kisah itu”
“Dan ikut sekali lagi terkagum-kagum karena sahabat saya yang mualaf membahasnya sedemikian rupa”
“Apa simpulannya?”
“kedermawanan pelacur itu menjadi sebab ia dimasukkan ke surga”
“kamu tahu?”
“Iya.”
“Lalu kenapa tidak memilih menjadi dermawan saja?”
“Iya.kenapa tidak? Lupa.”
“halah! Alasan!”
“Iya, saya pelit. Saya mengaku”
“Hanya untuk kaos kaki”
“Iya”
“Hanya untuk dipinjamkan. Bukan untuk diberikan.”
“Iya”
“Nhah!”

Aku terduduk. Termangu. Menatap sepasang kaos kaki yang dipegang malaikat itu. Penyesalanku semakin dalam. Melebihi penyesalan saat aku harus menyeret kaos kakiku sepanjang shofa marwa kala itu.
Tak ada lagi kesempatan kini kembali untuk merubah semuanya. Takkan ada kesempatan lagi. Aku bahkan tak mampu menangis lagi, meratap lagi. Ini terminal sebelum terminal akhir. Bagaimana nasibku?
“Aku tidak jadi masuk surga? Demikiankah?”
Terlalu lancang pertanyaanku. Tetapi aku penasaran.
“kamu masih ingin masuk surga?”
“tentu saja”
“Kenapa?”
“karena Dia ada di surga kan?”
“Apa Dia tidak ada di neraka? Katamu, Dia ada di mana – mana”
Aku terdiam. Siapalah aku? Aku bahkan tidak mengenal Dia dengan baik,mungkin malaikat ini benar.
“Dia ingin kamu menemuiNya”
“What?!! Beneran? Di neraka ya…?”
Kata terakhirku melemah dengan nada yang sangat sangat putus asa.
“Di mana kamu ingin ketemu?”
“Ya, di surga lah”
“Ya sudah deh.”
“Oh ya?”
Aku hampir berteriak kegirangan, namun urung karena teringat sesuatu……
“Kaos kaki itu?”
Sudut mataku melirik sepasang kaos kaki yang dipegangnya.
“Hmmm… ibu mertuamu, ingat?”
“Ya.kenapa dengan ibu mertuaku?”
“Dia pernah membuang kaos kakimu yang tergeletak sembarangan di rumahnya”
“Oh…? Aku tak tahu itu”
“Memang kamu tak tahu. Ketika ia haji ke Mekkah, penyesalannya karena pernah membuang kaos kakimu tanpa sepengetahuanmu menjadi jadi. Dia kemudian membeli sepuluh lusin kaus kaki di sana dan dia bagikan. Dia sedekahkan atas namamu”
“Oh….Subhanallah….Subhanallah..”
“Di mana ibu mertuaku?”
Tiba-tiba aku kangen beliau. Kadang rasa benci dan cinta bersatu. Memang demikian menantu dan mertua ditakdirkan berhubungan, cara yang aneh.
“sudah di surga, menantikanmu juga. Pergilah ke sana dan berterima kasihlah atas shodaqoh kaos kaki yang dilakukannya untukmu.”
Senyumku mengembang. Sesaat kemudian sempat melirik sepasang kaos kaki yang dibawa malaikat, sebelum kakiku melangkah melewati pintu masuk ke surga.
“Ini kaos kakiku”
Sang malaikat menyeringai mengolok –olok aku. Oh…..
Biodata Penulis.

nafi11

Dian Nafi.  Pecinta purnama, penikmat hujan. Setia dalam pencarian, penjelajahan. Pimred Majalah Digital De Magz. Pemenang Favorit Lomba Cerpen ROHTO 2011. Menang Lomba Menulis Bareng Ahmad Fuadi-penulis Negeri Lima Menara. Dan berbagai lomba menulis lainnya. Penulis Novel Mayasmara dan 8 buku solo-duet serta 47 Antologi lainnya. Di antaranya:  Twinlight (KotaKata) Titik Balik (Leutika), LL Serendipity (IndiePublishing) Be Strong Indonesia (#writers), Para Guru Kehidupan (Gerai Buku) Bicaralah Perempuan (Leu Prio) For The Love of Mom (Etera Imania)Karyawan Gokil (Rumah Ide),Dear Love (Hasfa) Balita Hebat (Jendela-Zikrul Hakim), Man Jadda Wada Series- Berjalan Menembus Batas (Bentang), Storycake for Ramadhan (Gramedia Pustaka Utama) 101 Ide Bisnis Online (GPU), Gado-gado Poligami (Elex Media) Twit@ummihasfa. http://diannafi.blogspot.com; facebook.com/fidianna. kbcahaya@gmail.com. kompasiana.com/ummihasfa;

KAOS KAKI (dimuat di majalah ANNIDA)

KAOS KAKI By Dian Nafi “Haji itu harus dengan uang yang halal” Kata-kata itu terngiang di benakku. Aku memandangi kaos kaki ...

Cerpen by Dian Nafi

TAPAK TANGAN

Aku tidak mau mengakuinya tapi tampak jelas jika pusat duniaku sesaat , entah berapa lama, berpindah pada  seseorang yang agak gila ini. Dia mengaku sebagai seorang pekerja kreatif. Okelah, mari kita menyebutnya begitu.
 “Ummi jatuh cinta” empat tahun usianya tapi cukup cerdik untuk memahami apa yang terjadi dan cukup berani untuk menyampaikan kejujuran.
“Kata siapa?” seorang pekerja kreatif yang agak gila di depanku bertanya dengan kumisnya yang tersenyum penuh kemenangan. Dia menyentuh  rambut perempuan kecil itu dengan telapak tangannya yang putih.
“Rambut yang bagus” pujian untuk seorang balita yang berada di pihaknya, padahal dia anakku.
 Dia membuka telapak tangannya, mengajak anak perempuanku give him five, give him ten. Dua telapak tangan yang bagus dengan garis –garis tapak tangan yang jelas M nya. Lurus, rapi.
“Bagaimana bisa?” meloncat begitu saja pertanyaanku.
“Apanya?” pekerja kreatif agak gila itu balik bertanya.
“Garis tapak tangan kamu bagus. Kenapa bertemu aku? Garis tapak tanganku tak bagus, karenanya aku boleh melakukan kegilaan.”
Aku menyimpan pedihku karena dia mungkin tidak segila yang aku kira tapi aku mengasumsikannya demikian. Maaf. Bahkan dia lebih muda dari fotonya. Aku menyukai gayanya berpakaian. Muda banget untuk seumuran dia yang sepuluh tahun lebih tua dariku, padahal aku sendiri sudah 34.
“Aku sudah memikirkannya. Kita akan menulis trilogi untuk cerita kita yang kemarin” seperti biasa pekerja kreatif setengah gila itu mengalihkan pembicaraan.
Lalu kami tenggelam dalam genangan ide dan banjir lahar kata-kata dan sejenak melupakan fakta bahwa aku semakin jauh terlibat dengan suami orang.

“Apa ada yang salah dengan selingkuh tulisan?” tanyanya, tanyaku juga.
Selingkuh tetap saja selingkuh. Dan itu tidak sama dengan setia. Tak lagi mempunyai pemahaman atas selingkuh dan setia  membuat kami menikmati sesuatu entah apa. Dan ada rasa bersalah selalu singgah sesudahnya. Tidakkah cukup membuktikan bahwa keterlibatan dan ketenggalaman ini adalah suatu kesalahan yang biasa disebut sebagai dosa.

“Tolong kembali memutar dan drop in lagi ya” tergesa aku menelpon pekerja kreatif setengah gila itu. Dan kukira dia menyambutnya dengan gembira, tentu saja dia senang dengan caraku menahannya pergi. Seperti aku juga seringkali senang dengan caranya selalu kembali dan membuatku tak bisa berpaling.
“Ada yang belum usai?” senyum dengan kumisnya yang menantang benar-benar hampir meruntuhkan duniaku. Dia turun dari mobil yang mengantarnya berputar kembali untuk menemuiku untuk yang kedua kalinya di pertemuan pertama kami, di hari yang satu-satunya ini.
Kami kembali berjalan beriringan, kali ini hanya berdua. Karena aku sudah membawa pulang ke rumah anak perempuan kecilku yang tadi menemani kami berdua. Putri cantikku yang selalu merindukan ayahnya di surga dan selalu senang jika ada pria dewasa di dekatnya, dia sudah banyak membantu tadi. Memecah kekakuan antara kami yang sebelumnya hanya bertemu di maya. Saatnya berdua saja, seperti yang selalu kami tuliskan bersama dalam karya-karya kami.
Dia terus bicara tentang film, tulisan,  konser, tour, buku dan apa saja. Dan aku, perempuan kesepian yang rapuh, sudah cukup nyaman hanya dengan berjalan bersisian dengannya. Kesatuan jiwa seindahnya dipadu dalam ikatan yang sah. Namun  meski dia seseorang yang sangat nyaman untuk dijadikan belahan jiwa , figur yang bisa dijadikan ayah bagi anak-anak siapa saja, tetapi mungkin bukan calon yang ideal menurut  nilai-nilai dalam keluarga besarku.. Kami berbeda di banyak hal, tetapi sebenarnya mirip di banyak hal lainnya. Tapi ada yang bilang jika dua orang berbeda gender saling tertarik dan kemudian  bertemu di masjid kuno dengan tiang dari Majapahit ini, akan menikah pada suatu saatnya nanti. Kalian pernah dengar mitos ini?
**
“Kenapa?” dia bertanya heran melihatku mengambil langkah mundur lalu mengambil tempat disebelah kirinya berjalan setelah sebelumnya berada di sebelah kanannya.
“Ooooo…” ada seorang gila beneran dengan pakaian setengah telanjang berjalan dari arah berlawanan.
“Hehehe..orang gila takut orang gila” aku yang mengaku gila juga menyembunyikan malu di wajahku yang memerah ketika sesaat tadi berada di belakang punggung pekerja kreatif setengah gila yang aku gilai. Nyamannya punggung yang bukan milikku, jadi lupakan untuk bersandar di sana apalagi memeluk pinggangnya.

Oh No!” sekali lagi aku terkejut. Kali ini hendak melarikan diri Karena kami berpapasan dengan serombongan orang yang hendak pergi ke makam untuk kirim doa bagi sesepuh yang dihauli hari ini. Tapi aku mengurungkan niatku. Pekerja kreatif setengah gila ini telah meluangkan waktu dan energinya untuk terbang 45 menit dari kota yang sangat jauh, melalui rangkaian kerja dua hari dua malam  yang melelahkan, balik lagi dari kota sebelah selatan kotaku setelah menempuh dua jam pulang-pergi kembali ke utara untuk bertemu aku, dan aku tidak cukup memberinya penghargaan? Tuan rumah macam apa aku ini? Kekasih macam apa aku ini yang meninggalkan kekasihnya begitu saja karena rasa segan yang terinternalisasi dalam diriku - bagian dari segerombolan manusia yang disebut sebagai keluarga, yang menjunjung tinggi sesuatu yang disebut dengan kehormatan?
Sejurus kemudian tak terhindarkan lagi pertemuan telapak tangan bergaris tapak bagus itu  dengan telapak tangan-tangan  saudara ayahku, anak anak saudara ayahku, saudaraku seayah ibu. Yang kusebut terakhir termasuk yang istimewa. .
“Ini si penulis resep yang juga masih harus berjuang terus demi kesehatan putranya” aku mengenalkannya ketika mereka berjabat tangan.
Pekerja kreatif setengah gila itu akhirnya bertemu dengan orang-orang  yang selama ini juga menjadi bagian dari cerita-ceritaku yang mengalir bersama rasa dan rahasiaku. Terutama mengenai si istimewa itu, karena pekerja kreatif setengah gila itu menaruh perhatian terhadap adik-adik dan juga anak-anakku. Tak perlu meragukannya, dia – si pekerja kreatif setengah gila itu – mungkin diciptakan Tuhan ketika Dia sedang jatuh cinta. Sehingga ia sebenarnya mungkin bukan manusia, tetapi hati. Hati yang punya telapak tangan dengan garis tapak tangan yang bagus.

Tuhan memang baik.
“Keren” kata dia suatu saat ketika kami sedang berdiskusi dan aku mengutip satu ayat yang bahkan secara eksplisit menuliskan ajakan Tuhan agar siapa saja  kembali kepadaNya dan  memasuki rumahNya. penuh dengan rasa kepuasan dan juga kepuasan Tuhan atas seseorang itu. Rodhiyatan Mardhiyah.
“Ya iyalah, keren. Gusti Allah gitu lhoh” aku senang karena tanpa sengaja membawanya dan juga diriku sendiri, pada satu lagi kesadaran bahwa Dia begitu keren dan hebat.
Sehebat skenario-Nya pada hari dimana aku bertemu darat untuk pertama kalinya dengan  guru yang sahabat sekaligus  sephia-ku  bernama pekerja kreatif setengah gila itu. Ternyata aku tak harus tenggelam dalam kegilaan yang lebih jauh seperti bersamanya menikmati perselingkuhan dengan lunch atau dinner yang romantis di sebuah resto, mengobrol panjang tak jelas di suatu lobby hotel tempatnya menginap, di gelap gedung yang memutar film romantis, di rinai hujan di lorong lorong kota lama, di bangku stasiun kereta. Tuhan menyelamatkan aku, karena di hari satu-satunya itu aku harus ada di sekitar rumah saja karena ada acara haul (peringatan hari kematian) sesepuhku.
Sungguh terselamatkan, jauh dari bayangan ketakutanku yang tak beralasan.
 “Aku akan datang ke kota sebelah utara dekat kotamu purnama depan” dibalik telpon terdengar suara baritonnya yang hangat dan selalu membuatku merindu untuk ditelponnya lagi.
“Mungkin malam sebelum aku melanjutkan perjalanan ke kota berikutnya, aku akan menginap di kota sebelah selatan  kotamu” suaranya semakin berat  dan entah kenapa aku hampir lunglai mendengar kalimatnya barusan.
Seperti kelinci hendak diterkam serigala, aku menggigil dan menggelepar-gelepar.
Lalu bayangan akan dua tangan saling menggenggam, berjalan bergandengan di kota lama, mungkin menonton sebuah film yang selalu dia hembus-hembuskan belakangan ini dan berakhir di bangku stasiun menunggu kereta yang akan membawanya jauh ke kota timur kotaku. Dengan kepalaku bersandar di pundaknya, duduk bersisian di bangku yang gambarnya selalu ada di note-ku dan note-nya..
Membayangkannya saja jantungku berdegup tak karuan dan kurasakan aliran hangat menjalar di sekujur pembuluh darah dan semua bagian tubuhku. Aku sejenak pingsan dalam ketakberdayaanku melawan tirani bersembunyi di balik topeng bernama cinta.  Yang tidak bisa aku fahami dan menimbulkan kecemasan lebih lanjut - karena ini mungkin sekali tanda-tanda aku stress - adalah aku terlambat datang bulan selama hampir dua minggu. Oops..belum pernah terjadi sebelumnya kecuali aku hamil. Dan karena tidak terjadi pembuahan karena bertemu saja bahkan belum pernah, jadi ini lebih berbahaya daripada hamil. Aku alami gejala depresi dan ketakutan akan entah apa. 
Duduk bersamanya di tempat suci ini dengan wajah bersihnya dan telapak tangan yang bergaris tapak tangan bagus menghentikan sejenak desir waktu.
 “Malu ah” katanya ketika aku menawarkan supaya dia duduk minum dan makan di rumahku saja. Daripada dia haus dan lapar, karena kami hanya duduk di serambi masjid tanpa hidangan kecuali perbincangan yang hangat tapi ngalor ngidul.
“Iya juga. Ada banyak sekali orang dan keluarga besar datang berkumpul di rumah. Ya sudahlah disini saja”aku menurut saja.
Cuaca cerah, Senin kan ya? Tapi kulihat banyak sekali wisatawan religi di kompleks masjid ini padahal ini bukan hari libur. Kami  tersembunyi di keramaian, bahkan mungkin ada yang mengira kami juga wisatawan dan bukan dua orang gila yang melalui perjalanan dan kisah gila sebelum mendarat bersama di serambi masjid kuno ini.
Kukira pertemuan darat kami menghentikan kegilaan kami di maya. Tapi ternyata tidak. Segalanya masih sama seperti sebelum pertemuan. Kegilaan yang sama.
Aku kadang berada di ruang cemburu dan ragu tiap kali mengingat bahwa ia bukan milikku. Tapi juga di labirin ceria dan hangat mengingat ia tetap setia menelponku dua tiga kali sehari.. Seringkali muncul pertanyaan dalam benakku  sendiri, tapi  tak pernah kutanyakan  padanya, ke mana istrinya. Kenapa bukan istrinya yang menerima kelimpahan perhatian dan kasih sayang ini. Siapa yang tidak normal di antara mereka berdua, istrinya atau pekerja kreatif setengah gila itu. Jangan tanya diriku, kalau aku jelas tidak normal karena mau-maunya terlibat dengan suami orang. Bukan pula untuk bersama dalam pernikahan kedua,hanya untuk bersama menumpahkan kegelisahan dan mengawinkan ide serta tulisan –tulisan kami. Kami menyebutnya sebagai persahabatan.
“Aku mulai capek dengan permainan dan perjalanan yang tak berujung ini” aku menyampaikan keluhan.
“Kamu mau pergi?” pekerja kreatif setengah gila itu bertanya dengan kalimat tertahan seperti menahan pertahananku yang hampir tak bertahan lagi.
Lagu cintaku, cintamu, cinta kita, Nicky Ukur terus menerus diputar melatari percakapan ini. Dari sejumlah novel dan film sering disitir, yang paling disesali bukanlah perpisahan, tapi pertemuan. Kenapa bertemu? Kenapa?
Tak ada jawaban kecuali jerawat yang datang setelah bertahun lamanya tak menyinggahi pipi si perempuan rapuh kesepian. Mungkinkah itu karena ia menyentuh telapak tangan yang garis tapak tangannya bagus ?







Tentang Penulis:
aku bw kcl.jpg

Dian Nafi. Lulusan Arsitektur Undip berlatar belakang keluarga santri. Mencintai buku sejak usia dini. Pecinta purnama, penikmat hujan. Setia dalam pencarian, penjelajahan. Mengelola konsultan arsitektur, penerbitan dan PAUD sambil mengasuh dua yatimnya. Pimred Majalah Digital De Magz. Pemenang Favorit Lomba Cerpen ROHTO 2011. Peserta Terpilih dalam Workshop Kepenulisan Cerita Anak bersama PBA & KPK 2011. Menang Lomba Menulis Bareng Ahmad Fuadi-penulis Negeri Lima Menara. Dan berbagai lomba menulis lainnya. Penulis Novel Mayasmara dan 8 buku solo-duet serta 52 Antologi .Di antaranya:  Twinlight, Titik Balik, LL Serendipity, Be Strong Indonesia, Para Guru Kehidupan, Bicaralah Perempuan, For The Love of Mom, Karyawan Gokil, Dear Love, Balita Hebat, Gado-gado Poligami (ElexMedia) Berjalan Menembus Batas (Bentang), Storycake for Ramadhan (Gramedia Pustaka Utama) 101 Ide Bisnis Online (GPU), Detik Demi Detik (Pena Oren) Twit@ummihasfa. http://diannafi.blogspot.com; facebook.com/fidianna. kbcahaya@gmail.com. kompasiana.com/ummihasfa;



TAPAK TANGAN

Cerpen by Dian Nafi TAPAK TANGAN Aku tidak mau mengakuinya tapi tampak jelas jika pusat duniaku sesaat , entah berapa lama, be...

 

DeMagz © 2015 - Designed by Templateism.com, Distributed By Blogger Templates